Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Bayangan di Depan Pintu
Raka memberi tanda dengan dua jari, bahasa tangan lama yang masih diingat Bara sempurna: aku ke kiri, kau ke kanan. Mereka bergerak dalam kegelapan bengkel tanpa suara, seperti dua predator yang kembali ke habitat aslinya setelah tiga tahun dikandangkan.
Bayangan di depan pintu masih berdiri diam, terlalu lama untuk sekadar orang lewat. Ketika pintu bengkel didorong pelan dari luar, Raka sudah berada tepat di baliknya.
Satu tangan mencengkeram kerah, satu lutut menahan punggung, dan sosok itu terjatuh ke lantai berdebu dengan pisau lipat kecil terpental dari tangannya sebelum sempat digunakan.
"Jangan bunuh aku! Aku cuma disuruh mengawasi, bukan menyerang!" pemuda itu — usianya mungkin baru dua puluh tahunan, gemetar hebat di bawah cengkeraman Raka — berteriak panik, lebih mirip pesuruh murahan daripada agen terlatih.
Bara menyalakan senter kecil, menyorot wajah pemuda itu. "Siapa yang menyuruhmu?"
"Aku... aku cuma disuruh ikuti mobil ini dari bengkel keluarga Pak Handoko, dibayar cash, disuruh foto siapa saja yang datang kemari malam ini." Pemuda itu terisak, jelas bukan pemain besar dalam permainan ini. "Aku nggak tahu apa-apa soal Andratama atau apa pun itu, aku cuma butuh uang!"
Raka melonggarkan cengkeramannya sedikit, menatap Bara dengan tatapan yang saling dipahami: bukan ancaman nyata, tapi tanda peringatan yang jauh lebih berbahaya. "Kalau kau cuma pesuruh, siapa yang membayarmu langsung?"
"Orang yang aku nggak pernah lihat wajahnya. Semua lewat pesan, transfer ke rekening, disuruh kirim foto ke nomor asing." Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar, menunjukkan riwayat percakapan singkat berisi instruksi dan sebuah nomor tanpa nama kontak.
Bara memfoto layar itu cepat. "Nomor ini bisa aku telusuri. Kemungkinan besar hanya perantara, tapi setiap perantara punya jejak."
Raka melepaskan pemuda itu, menyerahkan beberapa lembar uang dari dompetnya sendiri. "Pergi. Jangan ambil pekerjaan seperti ini lagi — orang yang membayarmu tidak segan membuang alat yang sudah tidak berguna."
Pemuda itu berlari keluar tanpa menoleh, menghilang ke dalam gelap gang di belakang bengkel.
"Kau melunak," gumam Bara, setengah bercanda, setengah serius.
"Aku sudah cukup melihat orang tak berdosa jadi korban permainan orang lain," jawab Raka pelan. "Anak itu bukan musuh kita."
Bara mengangguk, lalu wajahnya kembali serius. "Tapi kalau Setiawan sampai menyewa pesuruh murahan untuk mengawasi bengkel ini, artinya dia belum yakin sepenuhnya kau masih hidup — dia cuma mencurigai. Kalau dia sudah yakin, dia tidak akan mengirim anak semuda itu."
"Jadi kita masih punya waktu."
"Sedikit." Bara merapikan folder tipisnya kembali ke jaket. "Aku dengar dari kontakku di dalam Andratama, Setiawan sendiri akan datang langsung ke acara penandatanganan merger minggu depan — bukan cuma perwakilan. Dia ingin memastikan kesepakatan ini berjalan tanpa cela, karena ini akan jadi langkah besar terakhirnya sebelum pensiun kedua kalinya, kali ini dengan gelar terhormat."
Raka merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menjalar di dadanya — bukan ketakutan, melainkan sesuatu yang lebih lama tidak ia rasakan: kesempatan.
"Kalau dia datang sendiri," kata Raka lambat, "itu satu-satunya kesempatan kita untuk berhadapan dengannya langsung, di tempat yang penuh saksi, di mana dia tidak bisa main licik seperti dulu."
"Atau itu jebakan yang lebih besar dari yang kita duga," Bara memperingatkan. "Jangan lupa, Raka — dia mengkhianati seluruh tim kita sekali. Dia tidak akan ragu melakukannya lagi kalau itu berarti menyingkirkanmu untuk selamanya."
Raka menatap ke luar bengkel, ke arah lampu-lampu kota yang jauh berkedip di balik hujan yang mulai reda. "Aku tahu. Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak berencana untuk bersembunyi lagi."
Ketika Raka kembali ke kamar sempit di belakang garasi menjelang subuh, satu pesan singkat sudah menunggu di ponselnya — dari Cinta, dikirim satu jam lalu.
"Aku tahu kamu keluar malam ini. Kita bicara besok pagi, sebelum ayah bangun. Aku ikut, apapun yang kamu sembunyikan dariku.