Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Mahardika dan Amel berjalan meninggalkan panti sambil melambaikan tangannya.
Anak-anak panti yang sudah membaik serta para relawan berdiri di depan gerbang, membalas lambaian tangan itu dengan senyum haru.
Sementara Mahardika tetap menggendong Amel rapat di dadanya.
Mahardika pulang ke rumah lamanya dengan berjalan kaki, karena rasanya kakinya lebih kuat setelah berlatih cukup lama di Gunung Merapi.
Mahardika menunduk, menatap wajah mungil putrinya yang berada dalam pelukannya.
"Amel, Amel rindu nggak sama Papa?" tanya Mahardika.
Amel mendongak pelan. "Amel rindu banget sama Papa. Papa janji jangan tinggalin Amel lagi ya," kata Amel menyembunyikan wajahnya di pelukan ayahnya, takut jika ayahnya ini pergi lagi.
"Iya Sayang, sekarang Papa udah sembuh, Papa nggak akan meninggalkan Amel lagi," kata Mahardika lembut sambil mencium rambut sang putri kecilnya dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.
"Terus gimana ceritanya Amel berada di panti asuhan, Sayang? Kenapa Mama meletakkanmu di panti?" tanya Mahardika dengan penasaran yang kuat.
"Mama nikah lagi Pa... Dan mama sudah punya anak baru," Ucap Amel tiba-tiba sesenggukan.
"Mama nggak mau ambil Amel lagi, Mama bilang Mama sudah punya keluarga baru, dan Suami baru mama nggak suka sama Amel," Kata Amel dengan suara parau.
Mahardika tertegun meskipun tadi ia sudah mendengar dari buk Kirana.
"M-mama... nikah lagi?" ulang Mahardika dengan suara pelan.
Amel menyembunyikan wajahnya di leher Mahardika.
"Iya, Pa... Hikss... Mama pernah datang sekali sama Tante Siska... Amel lari... Amel minta ikut Mama... Amel bilang Amel kangen Papa sama Mama..." adu Amel dengan suara parau dan patah-patah.
Mahardika hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Mungkin ini karena salahkan karena ia sakit membuat keluarga mereka hancur, niat hati pulang ingin memperbaiki rumah tangganya, tapi sayangnya kini sudah pecah.
"Lalu... apa yang Mama katakan, Sayang?" tanya Mahardika lirih.
"Mama... Mama dorong Amel pelan... Mama bilang... 'Amel tinggal di sini aja ya, Mama sudah punya kehidupan baru, sudah punya dedek bayi baru. Paman tidak suka kalau Amel ikut...' Mama langsung pergi naik mobil bagus, Pa... Mama nggak mau liat Amel lagi..." tangis Amel pecah, mengingat penolakan pahit dari ibu kandungnya sendiri.
Setetes air mata pria jatuh melintasi pipi Mahardika. Bukan karena rasa sakit atas kepergian wanita yang pernah sangat dicintainya, tetapi terlebih karena membayangkan betapa hancurnya hati putri kecilnya saat dibuang dan ditolak oleh ibu kandungnya sendiri.
"Cukup, Nak... Cukup..." bisik Mahardika lembut, menahan getaran amarah dalam suaranya seraya mengusap punggung Amel yang sesenggukan.
"Dengar Papa, Amel... Amel tidak butuh mereka lagi. Ada Papa di sini. Papa yang akan jadi dunia buat Amel, Papa yang akan lindungi Amel dari siapa pun di dunia ini," kata Mahardika menatap dalam-dalam mata bening putrinya yang basah.
Amel menatap ayahnya dengan sesenggukan. "Pa-papa nggak akan buang Amel juga, kan?"
"Demi nyawa Papa, tidak akan pernah, Nak!" tegas Mahardika, mendekap erat harta terbesarnya itu.
"Kau bisa pergi meninggalkan ku, tapi seharusnya kau tidak meninggal putri kita. Karena kau sudah mendapatkan kehidupan baru, aku do'akan semoga kau bahagia bersama pilihan mu itu. Ada aku di sini berjuang untuk kehidupan putri kecilku!" kata Mahardika dalam hati penuh penegasan yang kuat.
Ia pun melangkah lebar agar cepat sampai ke rumah lama mereka.