Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANDA MERAH DI LEHER IBUKU.
Siang perlahan berganti sore.
Nafisa masih duduk di depan laptopnya, berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan yang sejak tadi ia selesaikan. Sesekali, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, memeriksa kembali detail desain sebelum memastikan semuanya sesuai dengan permintaan tim.
Setelah melakukan beberapa penyesuaian terakhir, ia akhirnya mengirimkan berkas desain tersebut pada siang tadi.
Nafisa mengembuskan napas lega, lalu meregangkan tubuhnya sejenak untuk mengusir pegal setelah berjam-jam duduk di depan layar.
“Akhirnya selesai juga,” gumamnya sambil tersenyum kecil.
Ia kemudian menutup laptop, memasukkannya ke dalam tas, lalu merapikan beberapa dokumen yang tergeletak di atas meja. Setelah semuanya tersimpan dengan baik, Nafisa berdiri dan menyampirkan tasnya ke bahu.
Namun, sebelum melangkah meninggalkan ruangan, ia menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling meja kerjanya. Memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Setelah merasa semuanya sudah lengkap, Nafisa mengangguk kecil.
Ia pun melangkah menuju pintu, membukanya, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.
. . .
Kini Nafisa menunggu pintu lift terbuka.
Beberapa saat kemudian, setelah menunggu, pintu lift akhirnya terbuka juga. Namun, seseorang tiba-tiba menyerobot masuk lebih dulu. Langkahnya sontak terhenti. Ia mendongak, lalu mendapati sosok yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini.
Dewangga. Pria itu menoleh ke arahnya.
“Buruan masuk.”
Nafisa mendengus pelan. ‘Mentang-mentang atasan, main perintah saja.’
Meski enggan, ia akhirnya melangkah masuk. Pintu lift menutup, menyisakan dirinya dan Dewangga dalam ruang sempit.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum Dewangga membuka suara.
“Kamu pulangnya naik, motor?”
Nafisa meliriknya sekilas. “Iya, Pak. Masa naik unicorn? Enggak lucu.”
“Kamu menyebalkan sekali, Naf. Tapi saya suka punya karyawan sepertimu.”
Nafisa memilih tidak menanggapi. Ia hanya menyilangkan tangan di depan dada, lalu mengalihkan pandangan ke angka lantai yang terus berubah di atas pintu lift.
Namun, ketika tanpa sengaja melirik pantulan kaca di hadapannya, ia mendapati Dewangga sedang menatapnya.
Nafisa mengernyit. “Bapak ini kenapa, sih, menatap saya begitu?” tanyanya blak-blakan. “Bapak suka sama saya? Maaf, Pak. Saya sudah punya suami,” lanjutnya, berusaha memperjelas batasan.
“Siapa juga yang suka sama kamu?”
Suara Dewangga tiba-tiba terdengar dekat di telinganya.
Bahu Nafisa seketika menegang. Ia tidak menyadari kapan atasannya itu bergeser mendekat.
Nafisa segera berbalik dan mendongak menatapnya.
“Terus, kenapa Bapak selalu ngincer saya?” tanyanya, tak mampu lagi menyembunyikan kekesalannya.
Dewangga mengernyit. “Mengincar mu?”
“Iya!” Nafisa mengangguk tegas. “Bapak selalu mencari-cari kesalahan saya. Kalau bukan begitu, apalagi?”
Karena kesal, ia mendorong dada Dewangga pelan agar pria itu sedikit menjauh.
Nafisa mengembuskan napas kesal, lalu berbalik membelakanginya. Ia sudah malas meladeni atasannya yang menurutnya gemar membuat moodnya kacau.
Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Tanpa menoleh lagi, Nafisa segera melangkah keluar.
Melihat Nafisa pergi dengan langkah tergesa-gesa, Dewangga tak kuasa menahan kekehannya.
“Asyik juga ternyata, bikin dia kesal,” gumamnya dengan sudut bibir terangkat.
Dewangga menggeleng geli, lalu melangkah keluar dari lift.
. . .
Setibanya di lobi, pandangannya langsung menangkap sosok Nafisa yang berjalan beberapa meter di depannya.
Dewangga menyeringai kecil. Sebuah ide jahil tiba-tiba terlintas di kepalanya.
“Botol Yakult! Di mana sopan santun mu?”
Tepat seperti yang diharapkannya, langkah Nafisa langsung terhenti. Wanita itu menoleh dengan tatapan kesal.
“Botol Yakult?”
Dewangga tak langsung menjawab. Ia justru berjalan santai menghampirinya, menikmati ekspresi bingung bercampur kesal di wajah wanita itu.
“Apa lagi, Pak?” tanya Nafisa ketus.
Dewangga akhirnya berhenti tepat di hadapan Nafisa, lalu memperhatikan tubuh wanita itu dari ujung kepala hingga kaki.
Nafisa spontan mengerutkan kening. “Kenapa lihat-lihat?”
Alih-alih menjawab, Dewangga mengangkat tangannya. Ia meletakkan telapak tangan di atas pucuk kepala Nafisa. Setelah itu, ia menurunkan tangannya hingga sejajar dengan dadanya sendiri.
“Sedada saya,” bisiknya.
“Pak! Maksudnya apa, sih?” seru Nafisa.
Dewangga hanya terkekeh. Tanpa memberikan penjelasan, ia melanjutkan langkahnya dan melewati Nafisa begitu saja.
Nafisa menghentakkan kakinya ke lantai marmer, menatap punggung Dewangga yang semakin menjauh dengan tatapan kesal.
“Dasar tiang listrik!” serunya lantang.
Sayangnya, makian itu sama sekali tidak membuat pria tersebut menghentikan langkahnya.
Nafisa mendengus kesal. Jemarinya mencengkeram erat tali tas yang menggantung di bahunya, menahan diri agar tidak melontarkan lebih banyak umpatan.
“Lihat saja, aku doakan Bapak dapat istri sepertiku! Biar tahu rasa nanti!” gerutunya sambil berkacak pinggang.
Di sisi lain.
Di kamar Yulia, Damar masih terlelap di atas ranjang. Suasana kamar yang tenang mendadak terusik oleh getaran ponsel di atas nakas.
Drrrr … drrrttt.
Kening Damar berkerut. Ia menggeliat kecil, berusaha mengabaikan suara yang mengganggu tidurnya.
Namun, beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali bergetar.
Drrrr … drrrttt.
“Siapa, sih?” gumamnya serak.
Perlahan, Damar membuka mata. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tetapi ia segera menyadari bahwa ibu mertuanya masih tertidur dengan kepala bersandar di lengannya. Ia pun berusaha bergerak hati-hati agar tidak membangunkan perempuan itu.
Tangannya meraba nakas, mencari ponsel yang terus bergetar. Begitu berhasil meraihnya, ia menyipitkan mata saat melihat nama yang tertera di layar.
Pak Ahmad.
Damar seketika terbangun sepenuhnya.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung bangkit hingga tubuh Yulia ikut terguncang.
“Mas ….” Yulia mengerjap, terusik oleh gerakannya.
“Sayang, atasanku menelepon,” ujar Damar terburu-buru.
Ia segera menggeser tombol panggilan, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.
“Halo, Pak ….”
“Di mana kamu sekarang, Dam? Kamu tahu ini sudah jam berapa?!”
Suara Pak Ahmad terdengar keras dari seberang telepon.
Damar terdiam sesaat. Ia melirik layar ponselnya, lalu membelalakkan mata ketika melihat waktu yang tertera.
Pukul setengah lima sore.
“Sial!” desisnya pelan.
Ia buru-buru turun dari ranjang dan meraih pakaiannya yang tergeletak tak jauh dari sana.
“Maaf, Pak. Tadi saya masuk angin, jadi mampir dulu ke rumah untuk dikerok sama mertua saya. Tapi, saya malah ketiduran. Maaf, Pak,” jelasnya gugup.
“Seharusnya kamu izin sama saya dulu, Damar! Jangan asal pulang begitu saja tanpa memberi kabar!”
Damar mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.
“Maaf, Pak. Lain kali saya enggak akan mengulanginya.”
“Buruan ke kantor sekarang!”
“Baik, Pak.”
Sambungan telepon terputus. Damar menurunkan ponselnya, lalu mengembuskan napas panjang.
“Dam, ada apa?” tanya Yulia yang kini sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
Damar menoleh sambil memasukkan sebelah tangannya ke lengan kemeja. “Atasanku, Sayang. Dia menelepon dan menyuruhku kembali ke perusahaan.”
Wajah Yulia seketika berubah. Ia mengulurkan tangan, berusaha meraih lengan Damar.
“Sayang … kita masih belum selesai, loh.”
Damar menghentikan gerakannya sejenak, kemudian menatap Yulia dengan senyum tipis.
“Nanti malam saja, Sayang. Aku harus pergi sekarang sebelum Pak Ahmad semakin marah.”
Ia segera mengenakan kemejanya, mengancingkan nya dengan terburu-buru, lalu meraih celana yang tadi dilepasnya. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Damar mendekati Yulia dan membungkuk untuk mengecup kening perempuan itu.
“Hati-hati, Dam,” ujar Yulia sambil mengusap lengannya.
Damar tersenyum kecil. “Iya, Sayang.”
Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.
.
Kini setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya Nafisa tiba di rumah. Ia membelokkan motornya memasuki pelataran, lalu memasukkannya ke dalam garasi.
Setelah memastikan mesin motor sudah mati, ia melepaskan helm dan turun dari kendaraan. Nafisa merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan akibat tertutup helm, kemudian menyampirkan tas ke bahunya.
Nafisa melangkah menuju pintu, dengan menekan engselnya lalu mendorong pintu perlahan.
Seperti biasa, keheningan langsung menyambut kedatangannya.
“Sepi sekali,” gumamnya.
Ia melirik jam yang tergantung di dinding, lalu mengembuskan napas pelan.
Namun, saat hendak melangkah menuju kamar, suara derit pintu yang terbuka membuat Nafisa mengurungkan niatnya. Ia menoleh dan mendapati ibunya baru saja keluar dari kamar.
“Bu,” sapanya.
Bu Yulia menoleh. “Naf, kamu sudah pulang?”
“Iya, Bu.”
“Oalah, syukurlah gak ketemu.” Bu Yulia tersenyum tipis.
Kening Nafisa berkerut mendengar jawaban itu. “Maksud Ibu?”
“Oh, maksud Ibu, Ibu bersyukur akhirnya kamu pulang, Naf. Ibu gak ada teman di rumah. Kamu kerja, Damar juga kerja.”
“Maaf, ya, Bu. Aku jadi jarang menemani Ibu di rumah.”
“Enggak apa-apa, Naf.” Bu Yulia mengibaskan tangannya santai. “Oh, ya, ibu sudah belanja untuk nanti malam.”
Nafisa mengangguk. “Iya, Bu.”
Namun, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada leher ibunya. Ada beberapa bercak kemerahan yang tampak cukup jelas di kulitnya.
“Bu, tunggu sebentar.”
“Ada apa, Naf?”
Nafisa mengangkat tangan dan menunjuk leher ibunya. “Itu, Bu. Kenapa leher Ibu?”
Seketika, Bu Yulia mengangkat tangan untuk menutupi bagian lehernya. Gerakannya begitu cepat hingga membuat Nafisa menyipitkan mata.
“Oh, ini.” Bu Yulia tertawa kecil, berusaha bersikap santai. “Ibu habis kerokan, Naf.”
“Ibu sakit lagi?” Nafisa melangkah sedikit mendekat.
Bu Yulia mengangguk. “Iya, Naf. Kayaknya karena semalam Ibu begadang buat nonton drama kesukaan Ibu.”
Nafisa menghela napas pelan. Ia sudah beberapa kali mengingatkan ibunya agar tidak terlalu sering begadang, tetapi wanita itu selalu punya alasan untuk menonton drama kesayangannya.
“Jangan diulang lagi, Bu. Gak baik kalau Ibu sering begadang. Nanti malah sakit benaran.”
“Iya, iya. Ibu ingat.” Bu Yulia mengangguk sambil menurunkan tangannya dari leher. “Sudah, kamu istirahat dulu saja. Kamu pasti capek setelah seharian kerja.”
Nafisa mengangkat tangan untuk memijat tengkuknya yang terasa kaku. Seharian duduk di depan layar komputer memang membuat tubuhnya pegal.
“Iya, Bu. Seharian berkutat di depan layar bikin badan aku sakit semua.” Ia tersenyum kecil kepada ibunya. “Ya sudah, Bu, aku ke kamar dulu. Maaf, ya, aku gak bisa bantu masak.”
“Enggak apa-apa, Naf. Sana, istirahat.”
Nafisa mengangguk sebelum berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Yulia masih berdiri di tempatnya sambil menatap punggung putrinya yang perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu kamar.
Begitu Nafisa tak lagi terlihat, Yulia mengembuskan napas lega. Tangannya kembali terangkat untuk menyentuh lehernya yang masih menyisakan bercak kemerahan.
“Ya ampun, aku sampai lupa menutupi leherku,” gumamnya pelan. “Untung tadi aku bisa mengelak.”
Ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Seketika, kedua pipinya terasa menghangat. Senyum tipis terbit di bibirnya.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.