Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELURU DI BAHU
Hujan badai mengguyur kota tanpa ampun. Tetesan air yang deras menghantam aspal jalanan seperti ribuan jarum es, menciptakan kabut tipis di atas permukaan tanah. Kilat menyambar di langit malam, diikuti suara guntur yang menggelegar, meredam raungan sirine polisi yang mulai berdatangan ke Hotel Grand Royale dari kejauhan.
Di sebuah gang sempit yang gelap dan berbau amis sampah, Leo Valenti menyeret tubuhnya dengan susah payah. Tangan kirinya mencengkeram erat dinding bata merah yang berlumut untuk menopang berat badannya. Setiap kali kaki kirinya melangkah, rasa ngilu yang luar biasa menusuk dari betisnya yang terkoyak peluru. Namun, sumber rasa sakit terburuknya malam ini berasal dari pundak kanannya.
Luka tembak dari pistol Marco terus mengeluarkan darah kental yang kini bercampur dengan air hujan. Kemeja putihnya sudah hancur lebur, menempel ketat di kulitnya dengan warna merah kehitaman.
"Argh..." erang Leo tertahan saat kakinya tersandung sebuah tong sampah besi yang terguling di tengah jalan.
Tubuhnya terjerembap ke aspal yang tergenang air kotor. Cipratan air lumpur mengenai wajahnya, masuk ke matanya yang sudah buram karena kelelahan ekstrim. Leo terbatuk keras, mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya. Tubuhnya benar-benar sudah mencapai batas. Kehilangan darah membuat suhu tubuhnya anjlok drastis. Ia kedinginan hingga giginya bergemeretak, namun di saat yang sama, dadanya terasa panas oleh amarah yang mendidih.
Dari arah ujung gang di belakangnya, cahaya senter menembus tirai hujan. Sorotan cahaya itu bergerak liar, menyapu sisi kiri dan kanan jalan.
"Dia mengarah ke pelabuhan lama! Jejak darahnya masih segar!" teriak suara serak seorang pria dari kejauhan.
Leo mengatupkan rahangnya. Ia mengenali suara itu. Itu adalah Vargas, salah satu algojo paling sadis yang pernah direkrut ayahnya, yang kini jelas sudah berpindah pihak ke kubu Marco. Jika Vargas yang turun tangan, itu berarti Marco benar-benar tidak ingin Leo melihat matahari terbit besok pagi.
Dengan sisa tenaga yang ada, Leo memaksa tubuhnya merangkak, lalu perlahan bangkit berdiri. Ia harus terus bergerak. Pelabuhan lama hanya berjarak beberapa ratus meter lagi. Jika ia bisa mencapai area kontainer atau dermaga, ia mungkin punya kesempatan untuk bersembunyi atau mencari perahu kecil.
Leo tertatih-tatih keluar dari gang dan memasuki area pelabuhan kargo yang terbengkalai. Tempat itu dipenuhi tumpukan kontainer karatan, peti kemas kayu yang hancur, dan genangan air laut yang meluap dari bibir dermaga akibat badai. Angin laut berembus sangat kencang, membawa aroma garam yang tajam dan menusuk hidung.
Di ujung area tersebut, membentang Sungai Acheron—sungai terlebar di kota yang bermuara langsung ke laut lepas. Arusnya malam ini sangat liar, menggulung-gulung dengan warna hitam pekat, siap menelan apa saja yang jatuh ke dalamnya.
Leo menyandarkan punggungnya pada sebuah kontainer biru yang berkarat. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu tak karuan. Tangan kirinya merogoh sabuk celana, menarik keluar pistol curian yang ia ambil dari pengawal di dapur hotel tadi.
Ia menekan tombol pelepas magasin dengan ibu jarinya. Magasin meluncur keluar. Di dalam kegelapan dan guyuran hujan, Leo meraba amunisinya.
"Hanya tiga peluru," gumam Leo getir. Tiga peluru melawan Vargas dan entah berapa banyak algojo yang dibawanya. Ini bahkan tidak bisa disebut sebagai pertarungan. Ini adalah eksekusi.
Langkah kaki bergerombol mulai terdengar mendekat. Suara sepatu bot karet yang menginjak genangan air terdengar seperti detak jam kematian yang perlahan menghampiri Leo.
"Menyebarkan formasi. Cek setiap sela kontainer. Pangeran kecil kita tidak mungkin bisa lari jauh dengan kaki pincang," perintah Vargas dengan suara baritonnya yang menggema di antara tumpukan besi.
Leo menelan ludah. Ia memejamkan mata, membiarkan air hujan membasuh wajahnya. Wajah ayahnya kembali berkelebat di benaknya. Antonio Valenti, pria teguh yang selalu mengajarinya bahwa seekor serigala tidak akan pernah memohon ampun pada pengkhianat.
"Maafkan aku, Ayah," bisik Leo dalam hati. "Jika aku harus mati malam ini, aku akan membawa beberapa dari mereka bersamaku."
Cahaya senter mendadak menyorot tepat ke arah kontainer biru tempat Leo bersembunyi.
"Di sini! Aku menemukan jejak darahnya mengarah ke tumpukan blok C!" teriak salah satu algojo.
Leo tidak menunggu mereka datang. Dengan gerakan cepat yang mengabaikan rasa sakit di betisnya, Leo keluar dari balik kontainer, mengangkat pistolnya dengan tangan kiri, dan membidik tepat ke arah sumber suara.
Dor!
Peluru pertama melesat menembus hujan. Algojo yang memegang senter itu menjerit saat peluru bersarang di dadanya. Pria itu terpental ke belakang, menjatuhkan senternya yang menggelinding di tanah.
"Dia di sana! Tembak!" raung Vargas.
Hujan peluru seketika membanjiri posisi Leo. Percikan api menyala terang di tengah kegelapan saat peluru-peluru berkaliber tinggi menghantam dinding kontainer besi, menciptakan suara dentingan yang memekakkan telinga.
Leo menunduk, berlari terseok-seok mencari perlindungan ke balik tumpukan drum minyak kosong di pinggir dermaga. Peluru berdesingan di atas kepalanya. Pecahan beton dermaga beterbangan mengenai wajah dan lengannya.
"Keluarlah, Leo!" teriak Vargas yang kini berlindung di balik tumpukan peti kayu, berjarak sekitar dua puluh meter dari posisi Leo. "Jangan membuat ini lebih sulit dari yang seharusnya! Marco hanya menginginkan kepalamu. Jika kau menyerah sekarang, aku berjanji peluruku akan langsung menembus otakmu tanpa rasa sakit!"
"Persetan kau, Vargas!" balas Leo seraya balas berteriak di tengah gemuruh badai. "Berapa Marco membayarmu untuk menjual kehormatanmu?!"
"Kehormatan tidak bisa membeli minuman keras dan wanita, Pangeran!" tawa Vargas meledak, terdengar sangat keji. "Masa depan klan ini ada di tangan orang yang tahu cara berbisnis, bukan orang tua yang sudah pikun dan anak manja sepertimu!"
Mendengar ayahnya dihina, amarah Leo meledak. Ia keluar dari balik drum, membidik ke arah bayangan Vargas dan menarik pelatuknya dua kali.
Dor! Dor!
Satu peluru meleset menghantam kayu, namun peluru kedua berhasil menggores lengan kiri Vargas.
"Sialan!" umpat Vargas seraya memegangi lengannya yang berdarah. Matanya berkilat penuh kebencian. "Habisi dia! Jangan pedulikan jasadnya, tembak sampai hancur!"
Tiga algojo lainnya maju serentak, menembakkan senapan otomatis mereka tanpa ampun. Leo melempar dirinya ke lantai beton dermaga, merayap mundur mendekati tepi sungai. Ia menekan pelatuk senjatanya, namun hanya terdengar bunyi klik mekanis yang hampa.
Pistolnya kosong.
Ia membuang senjata tak berguna itu ke samping. Di belakangnya, suara gemuruh Sungai Acheron terdengar sangat mengerikan. Ujung dermaga ini tidak memiliki pagar pembatas, hanya beton tebal yang berbatasan langsung dengan jurang air sedalam sepuluh meter.
Langkah kaki para algojo makin mendekat. Senter-senter mereka kini mengunci tubuh Leo yang terkapar tak berdaya di bibir dermaga.
Vargas melangkah keluar dari kegelapan. Ia memegang sebuah senapan laras panjang jenis *shotgun* taktis. Hujan membasahi wajahnya yang dihiasi seringai sadis. Ia menendang tubuh Leo yang sudah melemah, membuat Leo telentang menatap langit malam yang kelam.
"Berjuang yang bagus, Leo," ejek Vargas seraya mengokang senapannya dengan suara klik yang tajam. "Tapi setiap cerita butuh akhir. Dan akhir ceritamu ada di sini, di bawah sepatuku."
Leo menatap moncong senapan besar itu tanpa sedikit pun rasa takut di matanya. Bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum tipis yang penuh dengan ancaman.
"Katakan pada Marco," ucap Leo dengan napas tersengal, namun suaranya sangat jelas, "selama aku belum melihat mayatnya, aku akan kembali dari neraka untuk merobek tenggorokannya."
Vargas mendecih sinis.
"Selamat jalan ke neraka, Pangeran."
DOR!
Tembakan itu meledak dalam jarak yang sangat dekat. Vargas sengaja tidak mengincar kepala atau dada. Ia mengarahkan larasnya sedikit ke sisi kanan. Peluru menembus tepat di pundak kanan Leo, di titik yang hampir sama dengan luka tembakan Marco sebelumnya.
"AARRGH!" jeritan kesakitan pecah dari tenggorokan Leo saat peluru itu meremukkan tulang selangkanya.
Daya dorong peluru yang teramat masif itu mengangkat tubuh Leo dari lantai beton. Keseimbangannya hilang sepenuhnya. Tubuhnya terdorong ke belakang, melewati batas bibir dermaga.
Dalam gerak lambat yang mengerikan, Leo merasakan sensasi melayang di udara. Hujan terasa berhenti sejenak, suara tawa Vargas memudar, tergantikan oleh suara angin yang menderu di telinganya. Ia melihat cahaya senter di atas dermaga makin menjauh.
Lalu, hantaman keras menyambutnya.
BYUR!
Tubuh Leo menghantam permukaan Sungai Acheron yang sedingin es. Sensasi benturan itu menguras habis sisa-sisa oksigen di paru-parunya. Air yang gelap dan berarus deras langsung menelan tubuhnya bulat-bulat, menariknya ke dasar sungai dengan kekuatan yang tak bisa dilawan.
Kegelapan total menyelimuti pandangannya. Rasa sakit di pundak dan kakinya perlahan memudar, digantikan oleh rasa kebas yang membekukan. Leo mencoba menggerakkan tangannya, mencoba berenang ke permukaan, namun tubuhnya menolak merespons. Ia terlalu lemah, terlalu banyak kehilangan darah.
Di bawah permukaan air yang pekat, Leo perlahan melepaskan udara terakhir dari hidungnya, menciptakan gelembung-gelembung kecil yang bergerak naik menuju kebebasan yang tak bisa ia capai. Kesadarannya mulai memudar. Samar-samar, bayangan wajah ayahnya tersenyum padanya, seolah memanggilnya untuk menyerah dan beristirahat.
Namun, di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar padam, mata Leo menatap tajam ke arah kegelapan air. Sumpah darahnya belum tuntas. Ia tidak boleh mati.
Sayangnya, kegelapan itu terlalu kuat. Mata Leo perlahan terpejam, dan tubuhnya terus tenggelam terbawa arus sungai yang deras, menjauh dari pelabuhan, menuju nasib yang tak pasti di tengah pekatnya malam.