Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 Seseorang di Balik Bayangan
Malam itu suasana rumah Mira terasa tenang.
Rian sudah tidur. Lampu ruang tengah diredupkan. Dan suara jangkrik terdengar samar dari halaman belakang.
Namun Alkina masih belum bisa tidur. Ia duduk di dekat jendela sambil memeluk foto lama dirinya bersama Arkan.
Tatapannya lembut penuh rindu. Ia ingin sekali bertemu dengan abangnya
“Kalau abang lihat aku sekarang…” bisiknya lirih, “…apa Abang bakal sedih ya?”
Air matanya jatuh perlahan..Ia tidak tahu kenapa namun sejak mengetahui Arkan masih hidup…
hatinya justru semakin rapuh karena sekarang rasa rindunya punya tujuan.
"Kapan ya aku bisa bertemu dengan bang Arkan kembali? Seperti apa wajahnya sekarang?"
Di tempat lain…
Arkan melihat semuanya dari layar monitor kecil di ruang kerjanya.
Kamera luar rumah menangkap siluet Alkina di balik jendela dan hanya melihat bayangan adiknya saja sudah cukup membuat dadanya sesak.
“Tuan muda.” Seorang pria masuk cepat sambil membawa dokumen.
“Kami menemukan pergerakan baru dari Hendro.” lapor anak buahnya.
“Mereka mulai menyewa orang luar.”
“Tujuannya?” Tatapan Arkan langsung berubah dingin.
“Mencari lokasi Nona Alkina, tuan muda.”
Ruangan mendadak terasa lebih berat.
“Ada kemungkinan mereka mulai putus asa,” lanjut pria itu penuh kehati-hatian karena setiap menyangkut keluarga Sisil itu emosi bosnya sulit untuk bisa dikendalikan.
Arkna perlahan berdiri. “Perketat semua akses menuju rumah nenek Mira.”
“Baik tuan muda.”
“Dan mulai malam ini…”.Tatapannya berubah tajam penuh ancaman.
“…siapa pun yang mendekat terlalu jauh, hentikan.” perintah Arkan .
Sementara itu…
Hendro memang mulai kehilangan kesabaran.
Bisnisnya runtuh satu per satu. Utangnya menumpuk. Dan Ranti benar-benar menutup semua akses mereka. Padahal ia sudah susah payah mendapatkan suntikan dana dari Ranti untuk membangun usaha.
Pada saat ia menitipkan putrinya ke Ranti mereka juga meminta bantuan Ranti untuk ia membangun bisnisnya dan Ranti setuju untuk membantu Hendro. Dalam dua tahun, Hendro berhasil membangun bisnisnya. Dan dalam waktu singkat sekarang ini usahanya hancur, hampir tidak tersisa.
“Aku nggak peduli gimana caranya!”.Bentak Hendro sambil membanting gelas yang membuat pecahan gelas itu berserakan di mana-mana.
“Cari anak itu secepatnya!” Hendro semakin hilang kendali.
“Tapi orang-orang kita selalu gagal!” Livia terlihat panik.
“Karena ada yang melindunginya.” ucap Sisil.
Tatapan pria itu perlahan berubah gelap.
“Dan aku mulai yakin…” Ia berhenti sesaat.
“…orang itu bukan Ranti."
Deg.
Sisil yang duduk tidak banyak bicara di ruangan itu langsung menegang.
“Terus siapa?”
“Aku nggak tahu. Tapi yang jelas orang ini bukan orang sembarangan.” Hendro menyalakan rokok dengan tangan gemetar.
“Tapi orang ini kuat.” dan itu yang membuat Sisil takut.
Karena siapa pun yang berdiri di belakang Alkina sekarang jelas bukan orang biasa yang bisa mereka ancam dan tindas yang pada akhirnya membuat orang itu menurut sementara yang melindungi Alkina bisa saja orang yang sangat berbahaya.
Pagi berikutnya, Alkina mulai merasa ada sesuatu yang benar-benar berubah.
Saat ia keluar halaman bersama Rian ia melihat dua pria asing berdiri tidak jauh dari rumah.
Mereka berpakaian biasa namun jelas sedang berjaga dan saat mata mereka bertemu Alkina, kedua pria itu langsung sedikit menunduk hormat.
Deg.
Jantung Alkina langsung berdebar aneh.
“Nek Mira…”
Mira yang sedang menyiram tanaman menoleh pelan. Ia segera menghampiri Alkina.
"Ada apa Alkina?" tanya Mira khawatir, ia pikir terjadi sesuatu kepada Alkina.
“Mereka siapa nek?”
Mira terdiam beberapa detik.
“Orang yang memastikan kamu aman Na.”
“Aman dari siapa nek?”
“Dari orang yang mungkin ingin memanfaatkan kamu.” Tatapan Mira perlahan berubah serius.
Alkina menggigit bibir pelan.
“Aku bukan siapa-siapa nek, kenapa mereka mengawasi aku?”
“Jangan bilang begitu Na.” Suara Mira langsung tegas.
“Kamu anak keluarga Wiratmaja, kamu sangat penting, kamu sangat berarti Alkina...”
"Alkina kamu jangan merasa sendirian terus , ada nenek, ada Rian juga yang selalu sayang sama kamu." ucap Mira langsung memeluk Alkina.
Deg.
Kalimat itu terasa asing di telinga Alkina.
Karena selama hidupnyalia tidak pernah diperlakukan seperti bagian keluarga itu namun tanpa mereka sadari dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan rumah tersebut.
Seorang pria bertopi hitam duduk di dalam mobil sambil memotret area sekitar.
“Rumahnya ketemu…”
Pria itu tersenyum tipis lalu mengirim foto ke seseorang dan beberapa detik kemudian ponsel Hendro berdering. Tatapan pria itu langsung berubah puas melihat foto rumah Mira.
“Akhirnya…” Livia mendekat cepat.
“Itu tempat tinggal Alkina?”
“Sepertinya.” jawab Hendro datar.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Sisil langsung berdiri panik.
Hendro tersenyum dingin. “Sekarang…” Ia menatap foto rumah itu lama.
“…kita ambil kembali semuanya.”
Namun mereka tidak tahu mobil pengintai itu sudah lebih dulu masuk radar Arkan
Di ruang kerjanya, salah satu layar monitor menunjukkan wajah pria bertopi hitam tadi dengan jelas, atapan Arkan langsung berubah sangat dingin.
“Mereka menemukan rumahnya.” Anak buahnya langsung tegang.
“Perlu kita pindahkan Nona Alkina?” Arkan terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan menggeleng.
“Tidak perlu...”
“Tapi tuan muda?” Tatapan Arkan berubah tajam yang membuat anak buahnya tidak lagi berani berbicara dengan mereka.
“Kalau mereka sudah cukup bodoh untuk mendekat…” Ia mengambil jas hitamnya perlahan.
“…biar aku sendiri yang menyambut mereka.”
******
Malam hujan turun perlahan. Udara di sekitar rumah Mira terasa dingin dan terlalu sunyi.
Namun di balik ketenangan itu puluhan mata sedang mengawasi area sekitar rumah. Orang-orang Arkan sudah berjaga di berbagai titik sejak sore dan Arkan sendiri akhirnya turun langsung.
Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari jalan menuju rumah Mira. Pintu terbuka perlahan. Sepasang sepatu hitam menginjak tanah basah. Tatapan pria itu dingin. Tenang, amun penuh tekanan yang membuat suasana sekitar terasa berat.
Arkan akhirnya muncul.
“Target bergerak.” Suara dari alat komunikasi terdengar pelan.
Arkan berjalan perlahan sambil menatap layar kecil di tangannya.
Mobil pengintai milik Hendro terlihat mendekati area belakang rumah Mira. Mereka memang sengaja menunggu malam.
“Bodoh,” bisik Arkan dingin.
Tiga pria suruhan Hendro turun dari mobil dengan langkah hati-hati.
“Selesaikan cepat,” ujar salah satu dari mereka.
Namun baru beberapa langkah
Brak!
Lampu sorot tiba-tiba menyala terang dari berbagai arah. Ketiga pria itu langsung panik.
“Siapa itu?”
Langkah kaki terdengar pelan dari arah kegelapan.
Tok. Tok. Tok.
Dan saat sosok itu muncul ketiga pria tersebut langsung membeku.
Arkan berdiri di depan mereka dengan tatapan yang sangat dingin.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suasana mendadak mencekam.
Salah satu pria mencoba bersikap tenang.
“Kami salah jalan.” Jawabnya berusaha setenang mungkin.
Arkan tersenyum tipis, senyum yang justru terasa menakutkan.