NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Setelah meluapkan amarahnya malam itu, Luca tidak pernah lagi membahas kejadian di kolam renang. Namun, instruksi baru yang ia tinggalkan untuk seluruh penghuni mansion justru berbanding terbalik dengan kata-kata kasarnya.

Ruby secara resmi 'diisolasi' dari seluruh pekerjaan rumah tangga.

Bi Ratna dan para pelayan dilarang keras membiarkan Ruby mengangkat barang sekecil apa pun. Tugasnya selama masa pemulihan hanyalah satu: memulihkan kondisinya sampai benar-benar pulih total. Tubuhnya yang semula kurus dan pucat kini dirawat dengan sangat intensif. Makanan bergizi disajikan tepat waktu, suplemen terbaik disediakan, dan segala kehendaknya dituruti tanpa bantahan. Hari-harinya berubah drastis.

Setiap pagi, setelah menyelesaikan pemeriksaan medis singkat oleh dokter pribadi Luca, Ruby akan duduk di gazebo taman belakang yang teduh. Berada di sana, ia menikmati hembusan angin segar seraya menyesap teh hangat dan membaca novel-novel yang sengaja dibelikan oleh Bi Ratna atas perintah Luca. Jika bosan di luar, ia akan menghabiskan sore di ruang teater pribadi mansion, menonton maraton film-film favoritnya dengan suguhan camilan yang tak pernah putus.

Dirinya benar-benar dimanja hingga ke tahap yang tak masuk akal.

Ruby sering kali terpaku di tengah kesenangannya. Rasa hangat dan bingung terus berkecamuk di dalam dadanya. Pria yang membentaknya dengan kata "umpan" dan menatapnya penuh amarah malam itu, adalah pria yang sama yang diam-diam memastikan selimut di kamarnya diganti dengan kain yang lebih lembut, dan memastikan makanan yang disajikan adalah semua hal yang disukai oleh Ruby.

Di balik tirai jendela lantai dua ruang kerjanya, Luca sering berdiri diam, memperhatikan sosok Ruby yang sedang tertidur lelap di kursi taman dengan buku terbuka di atas pangkuannya.

Luca tahu, sikap memanjakan ini adalah caranya yang paling egois untuk menebus kata-kata tajamnya—sekaligus cara implisit untuk memastikan bahwa "aset"berharganya ini tetap aman, sehat, dan berada sepenuhnya di dalam jangkauan pandangannya.

Satu bulan berlalu. Begitu dokter menyatakan kondisi fisik Ruby telah pulih sepenuhnya, Luca tidak membuang waktu lagi.

Ruby yang baru saja keluar dari kamarnya kaget melihat Luca sudah berdiri bersidekap

Pagi itu, bukannya mengizinkan Ruby pergi ke taman seperti biasa, Luca menuntunnya menyusuri tangga rahasia di balik ruang kerjanya yang mengarah ke lantai bawah tanah. Pintu besi tebal ber password terbuka dengan denting berat, menyajikan sebuah ruangan raksasa yang belum pernah dilihat Ruby sebelumnya.

Sebuah area latihan militer pribadi.

Ruangan itu remang, didominasi dinding beton dingin dan pencahayaan temaram. Di satu sisi, berjejer rak kaca berisi berbagai jenis senjata api berperedam, pisau taktis, dan amunisi. Di sisi lain, terhampar matras beladiri luas lengkap dengan peralatan angkat beban, *sacking bag*, dan sasaran tembak otomatis di ujung ruangan.

Ruby tersentak pelan, langkah kakinya tertahan di ambang pintu. Udara dingin dan aroma oli senjata menusuk hidungnya.

"T-Tuan Luca... ini tempat apa?" tanyanya cemas, matanya membelalak menatap deretan senjata mematikan di dinding.

Luca melangkah santai ke tengah matras, lalu melepas jas hitamnya dan menyisakan kaus ketat berwarna gelap yang mencetak jelas tubuh kekar dan berototnya. Pria itu berbalik, menatap Ruby dengan iris pekat yang tak membocorkan emosi apa pun.

"Mulai hari ini, jadwal kamu berubah," ujar Luca dingin seraya melempar sepasang sarung tangan latihan ke arah Ruby. "Setiap pagi dua jam, kamu ada di ruangan ini bersama saya."

Ruby menangkap sarung tangan itu dengan canggung. "Latihan? Tapi untuk apa, Tuan?"

"Saya tidak butuh umpan yang rapuh, Ruby," tegas Luca, melangkah mendekat hingga bayangannya yang tinggi besar mengurung tubuh mungil gadis itu. "Kavano bukan musuh yang bakal bermain bersih. Kalau suatu hari benteng ini tembus atau kamu terpisah dari saya, kamu tidak boleh cuma bisa menangis dan pasrah."

Luca meraih sebuah pistol latihan tanpa peluru dari meja, lalu mengokangnya dengan satu gerakan cepat dan mahir sebelum menyodorkan gagangnya ke tangan Ruby.

"Saya bakal ajarkan kamu cara bertarung, cara menggunakan senjata, dan cara bertahan hidup," bisik Luca tepat di samping telinga Ruby, suaranya mengalun rendah dan penuh penekanan. "Saya mau kamu jadi umpan yang paling mematikan. Kamu harus bisa membunuh siapa pun yang berani menyentuh kamu... sebelum saya datang untuk menghabisi sisanya."

Jemari Ruby gemetar saat menerima bobot dingin pistol tersebut. Di bawah tatapan intens dan bimbingan keras pria di depannya, Ruby tahu kehidupan tenangnya telah usai. Luca sedang membentuknya menjadi sosok yang baru—sebuah senjata indah yang siap menghadapi badai pertempuran yang sebentar lagi meletus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!