NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Saat hendak masuk ke kamar Ibu suri, tiba-tiba pengawal Pangeran ketujuh datang.

Pangeran ketujuh berpamitan pada Feng Wu karena ada hal yang harus diselesaikan.

"Nona Feng, aku akan keluar sebentar. Tolong lakukan perawatan pada Ibu suri. Aku percaya padamu" Ujar Pangeran ketujuh.

Feng Wu mulai melakukan pemeriksaan bertahap terhadap Ibu Suri dengan sangat teliti.

Setelah memeriksa nadi dan melihat kondisi, ia mengeluarkan seperangkat jarum perak halus dari kotak kecil di sisinya. Dengan gerakan cepat, presisi, dan penuh keyakinan, Feng Wu mulai menusukkan jarum-jarum itu ke titik-titik tertentu di tubuh Ibu Suri.

Beberapa menit berlalu, suasana di dalam ruangan begitu sunyi. Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Seorang wanita berpakaian mewah dengan wajah penuh kemarahan melangkah masuk dengan langkah cepat. Itu adalah Putri Anning, putri kaisar dengan permaisuri.

"Berhenti! Apa yang sedang kau lakukan?!" bentak Putri Anning dengan suara melengking, langsung menghampiri Feng Wu dan menepis tangannya kasar.

Feng Wu mundur selangkah, menatapnya dengan tenang tanpa menunjukkan rasa takut sedikitpun.

"Aku sedang mengobati Ibu Suri" jawab Feng Wu pelan namun tegas.

Putri Anning semakin marah, menunjuk-nunjuk wajah Feng Wu dengan tatapan merendahkan.

"Mengobati? Berani sekali gadis tak dikenal sepertimu menyentuh tubuh Ibu Suri dengan benda tajam itu! Siapa yang memberimu izin? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Kau yang akan menanggung akibatnya!"

"Putri Anning tenanglah, Nona Feng hanya mengobati Ibu suri" Ujar Pelayan Ibu suri.

"Putri tenanglah, aku sudah memeriksa kondisi Ibu Suri dengan saksama sebelum melakukan akupunktur ini. Jarum-jarum ini justru akan membantu melancarkan aliran darah dan energinya," jelas Feng Wu dengan sabar, namun matanya tetap tajam menatap sang Putri.

"Cukup! Jangan berdalih! Keluar! Keluar dari sini sekarang juga!" seru Putri Anning sambil mendorong bahu Feng Wu.

Feng Wu menahan tubuhnya agar tidak terdorong, menarik napas panjang, lalu menatap Putri Anning lekat-lekat.

"Jika Putri terus-menerus mengganggu dan mencegahku merawat Ibu Suri, justru itulah yang akan membahayakan kesembuhannya. Aku diutus oleh Yang mulia Kaisar sendiri untuk merawatnya," ucap Feng Wu dengan nada rendah namun mematikan.

Putri Anning tertegun seketika, mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Ia menatap Feng Wu dengan tatapan tak percaya, gadis ini tidak gemetar, tidak menunduk, bahkan berani menatapnya mata ke mata dan berbicara setegas itu.

Tanpa ampun, Putri Anning langsung menarik lengan Feng Wu dengan kasar, mendorongnya hingga tubuh gadis itu terpental ke samping. Kepala Feng Wu membentur sudut kursi kayu keras di tepi kasur Ibu Suri.

Darah seketika mengalir dari pelipisnya, menetes perlahan turun ke pipi dan jatuh ke lantai. Namun Feng Wu tak mengeluarkan suara sedikit pun, tak ada rintihan, tak ada tangisan. Ia hanya menatap Putri Anning dengan tatapan dingin dan tajam, seolah rasa sakit itu tak pernah menyentuhnya sama sekali.

Putri Anning sama sekali tak peduli melihat darah itu. Matanya tertuju pada jarum-jarum perak yang masih tertancap di tubuh Ibu Suri. Dengan tangan gemetar karena amarah, ia hendak mencabut semuanya sekaligus.

"Jangan sentuh!" bentak Feng Wu tiba-tiba. Meski wajahnya pucat dan darah terus menetes, ia bergerak secepat kilat, menahan pergelangan tangan Putri Anning dengan kuat. "Jika kau mencabutnya sembarangan, Ibu Suri bisa celaka! Kau mengerti konsekuensinya?!"

"Lepaskan! Berani sekali kau melawan aku!" Putri Anning mengamuk, mencoba melepaskan tangannya, bahkan menendang tubuh Feng Wu berkali-kali. Namun Feng Wu tetap berdiri tegak, tak bergeming, tak melepaskan tumpuannya. Ia rela menahan sakit demi keselamatan Ibu Suri.

Di tengah keributan itu, terdengar suara lemah namun jelas dari arah kasur.

"Apa yang sedang terjadi? mengapa ribut"

Keduanya serentak menoleh. Ibu Suri perlahan membuka matanya yang sudah lama terpejam. Beliau menatap keduanya dengan pandangan yang masih samar, lalu menghela napas panjang.

" Anning... berhentilah..." ucap Ibu Suri pelan, namun cukup untuk membuat suasana seketika hening.

Putri Anning melepaskan tangannya dengan kasar, terkejut bukan main melihat Ibu Suri yang tiba-tiba sadar. Sedangkan Feng Wu perlahan melepaskan cengkeramannya, darah di kepalanya masih terus mengalir, namun hatinya lega melihat Ibu Suri akhirnya membuka mata.

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Pangeran Ketujuh melangkah masuk dengan wajah penuh kekhawatiran.

Saat melihat pemandangan di hadapannya, mata Pangeran Ketujuh membelalak tak percaya. Wajah Feng Wu pucat, darah terus mengalir dari pelipisnya hingga menetes di lantai. Ia langsung menghampiri dengan langkah lebar, suaranya bergetar karena marah dan khawatir.

"Apa yang terjadi?! Siapa yang berani melukainya?!"

Pandangannya jatuh pada Putri Anning. Amarah seketika meledak di dadanya.

"Kau... kau yang melukainya?!" bentaknya keras, tangannya terkepal kuat, lalu ia mengangkat tangan hendak menampar Putri Anning dengan penuh kemarahan. "Berani-beraninya kau menyakiti Nona Feng Wu hingga sepertinya!"

Namun sebelum tangannya sempat mendarat, suara lemah namun tegas terdengar dari arah kasur.

"Cukup... Pangeran Ketujuh, hentikan..."

Ibu Suri berusaha duduk perlahan, menatap Pangeran Ketujuh dengan tatapan memohon. Pangeran Ketujuh menahan tangannya di udara, napasnya memburu, namun ia segera menunduk hormat.

"Ibu Suri... gadis ini terluka parah. Bagaimana jika saya menegur Putri Anning atas perbuatannya?"

"Tidak boleh... Anning memang salah, tapi jangan dengan kekerasan..." Ibu Suri menggeleng pelan, lalu menatap Putri Anning yang masih berdiri kaku ketakutan. "Anning... kau terlalu emosional. Nona ini sedang berusaha menyembuhkanku, bukan menyakitiku..."

Pangeran Ketujuh mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan amarah yang masih membara. Ia berbalik segera menghampiri Feng Wu, suaranya berubah lembut penuh kekhawatiran.

"Nona Feng Wu... kau terluka. Maafkan aku... seandainya aku tadi ada di sini, hal ini takkan pernah terjadi."

Barulah setelah melihat Ibu Suri sadar dan kondisinya mulai membaik, Feng Wu perlahan mencabut jarum-jarum perak itu satu per satu dengan sangat hati-hati dan presisi. Wajahnya tetap pucat, darah dari pelipisnya masih menetes, namun tangannya tetap stabil dan tenang.

Setelah semua jarum tersimpan rapi, Feng Wu baru menunduk hormat di hadapan Ibu Suri, suaranya lembut namun tegas.

"Saya Feng Wu, diutus oleh Yang mulia Kaisar khusus untuk merawat dan memeriksa kesehatan Ibu Suri. Hamba tidak memiliki niat lain selain berusaha menyembuhkan penyakit Ibu Suri. Semoga Ibu Suri berkenan memaafkan segala kelancangan saya tadi."

Ibu Suri mengangguk pelan dengan tatapan lembut dan penuh penghargaan. Namun belum sempat beliau berbicara, suara sinis terdengar dari samping.

Putri Anning bersedekap dada, menatap Feng Wu dengan tatapan penuh kebencian dan cemoohan.

"Hmph! Mengobati? Siapa yang percaya! Aku lihat jelas-jelas kau itu tidak tulus sama sekali! Sejak tadi matamu terus melirik ke arah Kakak Pangeran Ketujuh! Kau sengaja berlagak sopan dan menderita hanya untuk menarik perhatiannya, bukan?!"

Feng Wu menatap Putri Anning dengan datar, tak terpancing emosi sedikit pun.

"Putri, aku datang ke sini untuk mengobati, bukan untuk hal yang tidak berguna itu. Mohon Putri jangan menuduh sembarangan tanpa bukti," jawab Feng Wu tenang.

Namun Putri Anning semakin tajam sindirannya.

"Tidak berguna? Lalu kenapa setiap Kakak Pangeran Ketujuh ada di sini kau selalu tampil dengan wajah menyedihkan? Sudah jelas kau ini gadis tak tahu diri, berani menggoda Pangeran dan mencoba memikat hati orang kekaisaran dengan cara-caramu yang licik itu!"

Pangeran Ketujuh yang mendengar itu langsung menatap Putri Anning dengan wajah tak senang, hendak membantah, namun Feng Wu lebih dulu berbicara.

"Aku tidak bermaksud begitu, dan tidak akan pernah bermimpi seperti itu. Jika kehadiranku dianggap mengganggu, aku siap pergi kapan saja, asalkan Ibu Suri sudah aman," ucap Feng Wu tegas, lalu menatap lurus ke depan tanpa rasa bersalah.

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!