Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Tante, Saya Menantu Anda
Karina membaca pesan itu dua kali.
"Kenapa Papa dan Mama tidak bilang dari Bandung?" gumamnya.
Nathan langsung mengambil kunci mobil. "Kamu pulang dan istirahat. Aku jemput mereka bersama Kevin."
"Mereka belum tahu tentang kita."
"Berarti hari ini mereka tahu."
Empat puluh menit kemudian, Nathan dan Kevin menemukan pasangan Wijaya di pintu kedatangan stasiun. Mama Meilan memakai topi lebar dan masker, sedangkan Papa Hendra membawa dua koper serta sekotak peuyeum titipan kerabat.
Kevin buru-buru mengambil koper. Mama memandang Nathan yang juga mengenakan masker dan jaket hitam.
"Ini teman sekampusmu?" tanyanya.
"Iya, Ma. Teman sekelas," jawab Kevin.
Nathan membuka maskernya. "Dan menantu Tante."
Kevin memejamkan mata. Papa Hendra hampir melepaskan gagang koper.
"Apa?" tanya Mama.
"Nama saya Nathan Hartawan. Saya suami Karina."
"Suami?" Papa memandang Kevin. "Kakakmu menikah dan kamu tidak bilang?"
"Aku juga baru tahu beberapa hari lalu!"
Nathan mengambil kedua koper sebelum perdebatan membesar. "Kita bicara di rumah. Karina menunggu."
"Rumah siapa?" tanya Mama tajam.
"Rumah Karina."
Di mobil, Kevin duduk di belakang bersama orang tuanya dan menerima tatapan seolah ia ikut merencanakan pernikahan rahasia. Nathan menjawab pertanyaan tentang usia, kuliah, dan keluarganya tanpa menghindar.
"Dua puluh?" ulang Papa. "Kamu lebih muda dari Kevin beberapa bulan."
"Iya, Om."
"Jangan panggil Om kalau mengaku menantu. Saya belum setuju."
"Baik, Papa."
Papa tersedak batuk. Kevin menutup mulut agar tidak tertawa.
Ketika mobil memasuki Sky Palace dan berhenti di lobi privat, Mama semakin diam. Lift terbuka langsung ke ruang tamu luas dengan pemandangan gedung Jakarta. Karina berdiri menunggu dalam gaun longgar.
Mama memeluknya lebih dulu, lalu memegang kedua bahunya. "Kamu kurus. Dan kenapa perutmu begitu?"
Karina menarik napas. "Duduk dulu, Ma."
Nathan menyiapkan teh hangat dan makanan, tetapi Papa terus mengawasinya. Saat Nathan menyentuh pinggang Karina agar duduk perlahan, Papa mengalihkan wajah dengan ekspresi tidak nyaman.
"Kalian benar menikah?" tanyanya.
Karina menunjukkan foto registrasi dan salinan dokumen Singapura. "Kami sudah terdaftar sah di sana. Kami akan mencatatkannya di Indonesia dan mengadakan pemberkatan setelah dokter mengizinkan."
"Kenapa Singapura? Kenapa terburu-buru?"
Karina meletakkan tangan di perut. "Aku hamil. Hampir empat bulan."
Mama terdiam. Papa menatap Nathan seolah baru menemukan alasan untuk memukulnya.
"Satu lagi," kata Kevin pelan. "Bayinya tiga."
"Tiga?" suara kedua orang tua itu bersamaan.
Mama duduk kembali. Matanya langsung basah, antara bahagia dan takut. Papa berjalan ke jendela, menarik napas panjang, lalu kembali menuntut seluruh urutan kejadian.
Karina menceritakan perceraian Andri yang telah sah, pertemuannya dengan Nathan, pemeriksaan kehamilan, serta keputusan menikah. Ia tidak membuka rincian malam pertama mereka, tetapi tidak menyembunyikan bahwa semuanya berlangsung lebih cepat daripada rencana.
"Keluarga laki-laki sudah tahu?" tanya Mama.
"Ibunya tahu. Minggu depan dia datang. Ko Steven juga tahu."
"Kamu bahkan belum pernah bertemu mertuamu?"
Keraguan di wajah Mama membuat Karina merasa kembali menjadi gadis yang pulang membawa rapor buruk.
Setelah makan siang, Mama mengajaknya ke taman bunga di lantai atas. Pintu kaca ditutup agar percakapan tidak terdengar para lelaki.
"Jujur pada Mama," katanya. "Kamu tidak mengejar uang keluarganya, kan?"
Karina menatap ibunya. "Kenapa Mama bertanya begitu?"
"Apartemen ini, mobilnya, semua terlalu besar. Orang akan bilang kamu baru bercerai lalu mencari anak orang kaya. Dia masih dua puluh. Bagaimana kalau dua tahun lagi dia bosan?"
"Andri seusiaku dan tidak kaya. Dia tetap selingkuh." Suara Karina mengeras. "Usia dan uang bukan jaminan kesetiaan. Nathan menggendongku turun enam lantai saat aku berdarah. Dia tinggal di rumah sakit, belajar setiap larangan dokter, dan menyerahkan penghasilannya agar aku tidak takut."
"Kamu mencintainya?"
Pertanyaan itu membuat Karina berhenti. "Aku memilihnya. Aku percaya padanya."
"Itu bukan jawaban yang sama."
"Aku belum bisa menjanjikan kata yang tidak siap kuucapkan. Tapi dia bukan kesalahan yang sedang kutoleransi karena hamil."
Mama mengusap punggung tangan putrinya. "Mama takut kamu terluka lagi."
"Aku juga takut. Tapi jangan menghukumnya untuk dosa Andri."
Di bawah, Papa menginterogasi Nathan tentang kuliah, pekerjaan, rumah, dan rencana membiayai tiga anak. Nathan menunjukkan kontrak iklan serta jadwal kuliahnya. Ia tidak menyebut jumlah kekayaan keluarga, hanya penghasilan yang memang dia kendalikan sendiri.
"Saya tidak meminta Karina membiayai hidup saya," katanya. "Rumah ini atas namanya supaya dia aman. Saya tetap menyelesaikan kuliah dan bekerja."
"Kalau nanti kamu menyesal?"
"Saya menyesal tidak menjaganya lebih cepat. Bukan menikahinya."
Ketika Karina dan Mama kembali, Papa tidak langsung memberi restu. Namun ia menerima cangkir teh dari Nathan dan bertanya kapan pemeriksaan berikutnya. Itu sudah merupakan langkah besar.
Saat makan malam, Nathan sengaja tidak memesan hidangan mewah. Ia memasak bubur ayam berdasarkan daftar dr. Silvia, meski hasil potongan daun bawangnya berantakan. Mama masuk ke dapur dan tanpa banyak bicara mengambil alih pisau.
"Karina tidak suka bubur terlalu encer," katanya.
"Dia bilang suka semua masakanku."
"Karena dia sedang baik hati."
Nathan mencicipi bubur, lalu mengakui kesalahannya. Untuk pertama kali Mama tersenyum kepadanya. Mereka menyesuaikan rasa tanpa sambal untuk Karina, menambahkan telur bagi Papa, dan menyisihkan porsi Kevin.
Di meja makan, Papa bertanya apakah Nathan mampu bangun malam jika tiga bayi menangis bersamaan.
"Belum tahu," jawab Nathan jujur. "Tapi saya sudah mendaftar kelas perawatan bayi. Kalau gagal pertama kali, saya belajar lagi."
"Jangan serahkan semuanya pada pengasuh."
"Saya ingin tahu cara mengganti popok sebelum mereka lahir."
Papa mengangguk kecil. Karina melihat kedua orang tuanya mulai menilai Nathan dari hal sederhana: apakah dia mengingat obat, menarik kursi, mendengarkan tanpa memotong, dan mengambil mangkuk Karina ketika tangannya lelah. Kemewahan rumah masih membuat mereka waspada, tetapi tindakan sehari-hari perlahan memberi bentuk pada tanggung jawab yang selama ini hanya berupa pengakuan.
Setelah makan, Nathan menyerahkan kamar utama kepada mereka karena kamar mandinya lebih mudah digunakan. Papa menolak keras sampai Karina menjelaskan bahwa suite tamu di lantai bawah justru lebih dekat dengannya. Perdebatan kecil itu berakhir dengan Mama memilih kamar sendiri dan menyuruh para lelaki berhenti membuat hal sederhana menjadi urusan harga diri.
Malamnya, kedua orang tua tidur di kamar tamu. Kevin pulang ke asrama setelah berjanji datang lagi besok.
Karina berdiri di balkon kamar bersama Nathan. "Mereka tidak salah khawatir."
"Aku tahu."
"Setelah bayi lahir, kalau kamu merasa terlalu muda untuk semua ini, kamu boleh pergi. Aku tidak akan memakai anak-anak untuk mengikatmu."
Nathan menoleh perlahan. Wajahnya yang tadi sabar berubah dingin.
"Jangan membuat keputusan untukku."
"Aku cuma memberimu jalan keluar."
"Aku tidak minta pintu keluar." Dia mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuh. "Kalau kamu takut mencintaiku, katakan takut. Jangan menyebutnya kebaikan lalu menyuruhku pergi."
Karina tidak mampu menjawab. Nathan mengembuskan napas dan menurunkan nada suaranya.
"Besok aku mau mengajak Papa dan Mama liburan sebentar. Udara di Ciater lebih baik daripada Jakarta."
"Kamu baru saja diinterogasi tiga jam."
"Karena itu aku harus membuat mereka mengenalku, bukan cuma memeriksa dokumenku."
Ia membuka pintu balkon untuk Karina. "Besok saya ajak Papa dan Mama liburan."