NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Mencair

​"Apa aku boleh mengambil hakku sebagai suami, Sayang?" bisik Gabriel dengan suara baritonnya yang serak dan rendah, terdengar begitu menggoda di tengah temaram lampu tidur kamar mereka.

​Amara yang baru saja hendak memejamkan mata langsung mengerjap kaget. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang, membuat rasa mengantuknya seketika menguap entah ke mana.

​‘H-hak... hak apa?’ tulis Amara cepat-cepat di buku catatannya dengan jemari yang gemetar hebat, lalu mengangkatnya dengan ragu ke hadapan suaminya.

​Gabriel terkekeh pelan—suara renyah yang menggetarkan dada bidangnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mempersempit jarak hingga hembusan napas hangat mereka saling menerpa kulit.

​"Hak seorang suami, Amara," ulang Gabriel dengan sebelah alis terangkat, tatapannya menyiratkan keusilan sekaligus kehangatan yang intens. "Kita sudah menikah, dan sudah waktunya aku meminta lebih dari sekadar ciuman selamat malam, bukan?"

​Pipi Amara seketika memanas, membara hingga menjalar ke seluruh lehernya. Ia menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca karena gugup, lalu kembali menulis dengan goresan pensil yang semakin berantakan.

​‘A-aku... aku belum siap, Gabriel. Besok kita harus pergi ke dokter, dan aku sangat gugup...’

​Melihat kepanikan yang tersirat jelas di mata istrinya, ekspresi Gabriel langsung melunak. Pria itu menghentikan gerakannya, lalu merebut buku catatan dari tangan Amara dan meletakkannya di nakas sebelah tempat tidur.

​"Hei... lihat aku," bisik Gabriel lembut, menangkup wajah Amara dengan kedua tangan hangatnya.

​Amara menelan ludahnya susah payah, lalu menatap manik mata hitam Gabriel yang selalu berhasil membuatnya merasa aman.

​"Aku hanya bercanda, Sayang," ucap Gabriel tulus, ibu jarinya mengusap pelan pipi istrinya yang masih merona. "Aku tidak akan menuntut apapun sebelum kau benar-benar siap. Aku tahu kau masih lelah dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri."

​Mendengar kejujuran dan pengertian itu, napas Amara yang tadinya tertahan akhirnya berhembus lega. Rasa haru tiba-tiba menyeruak di dadanya.

​"Ga-briel..." panggil Amara pelan, suaranya terdengar begitu manis dan tulus saat lolos dari bibirnya tanpa bantuan buku. "...terima kasih."

​Gabriel tersenyum hangat, lalu mengecup kening istrinya cukup lama. "Sama-sama, Sayang. Apapun untukmu."

"K-kamu m-marah?" tanya Amara terbata-bata, memaksa suaranya keluar di tengah kesunyian malam. Matanya menatap Gabriel dengan sorot ketakutan yang tersisa, takut kalau pengertian suaminya tadi hanyalah topeng semata.

Gabriel, yang tadinya hendak merebahkan tubuhnya kembali ke atas bantal, langsung menghentikan gerakan. Pria itu menoleh cepat, mendapati bibir istrinya yang sedikit bergetar dan manik mata indah itu yang mulai berkaca-kaca.

"Marah?" ulang Gabriel dengan nada tidak percaya. Pria itu langsung menarik tubuhnya untuk kembali duduk tegak, lalu menangkup kedua pipi Amara dengan sangat hati-hati. "Kenapa tiba-tiba berpikiran begitu, Sayang? Aku tidak sedang marah."

Amara menunduk, menggigit bibir bawahnya erat-erat. ‘B-biasanya...’ tulis Amara cepat di buku catatannya dengan tangan yang gemetar hebat, ‘...orang-orang akan kesal atau marah kalau permintaannya ditolak. Apalagi kau suamiku.’

Membaca tulisan itu, dada Gabriel terasa seperti dihujam ribuan jarum. Ia tahu betul trauma masa lalu membuat istrinya selalu hidup dalam ketakutan akan disalahkan atau dihukum jika tidak menuruti keinginan orang lain.

Dengan gerakan lembut, Gabriel merebut buku catatan itu dari tangan Amara dan melemparnya ke atas nakas, lalu membawa tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.

"Dengarkan aku, Amara," bisik Gabriel tepat di samping telinganya dengan suara bariton yang penuh penekanan dan ketulusan. "Di sini, bersama dengan aku, aturan itu tidak berlaku. Menolak bukan berarti kau melakukan kesalahan. Kau punya hak penuh atas tubuhmu sendiri."

Amara tertegun, debaran di dadanya perlahan melambat. Ia mendongak, mendapati manik mata hitam Gabriel yang memancarkan kelembutan tanpa batas.

"B-benar... tidak marah?" cicit Amara pelan, mencoba memastikan sekali lagi lewat suaranya yang serak.

Gabriel tersenyum tipis, lalu mendaratkan kecupan hangat di ujung hidung istrinya. "Demi Tuhan, aku tidak marah sama sekali, Amara. Aku justru semakin mencintaimu karena kejujuranmu."

"A-apa rasa i-itu sakit?" tanya Amara terbata-bata, suaranya terdengar begitu rapuh dan kecil di tengah keheningan kamar.

​Gabriel, yang masih mendekap erat tubuh istrinya, sontak tertegun. Pria itu menghentikan usapan di punggung Amara, lalu melonggarkan pelukan mereka agar bisa menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu.

​"Sakit?" ulang Gabriel dengan kening berkerut bingung. "Maksudmu apa, Sayang? Apa yang sakit?"

​Amara menunduk, meremas erat ujung piyama yang ia kenakan. Pipinya kembali memanas, bukan karena malu, melainkan karena rasa penasaran yang teramat besar namun bercampur takut. Ia meraih buku catatannya dengan jemari yang gemetar.

​‘Maksudku... hubungan suami istri itu,’ tulis Amara cepat, lalu mengangkat buku tersebut dengan ragu-ragu ke hadapan Gabriel sambil menghindari tatapan suaminya. ‘Aku pernah dengar dari pelayan di rumah dulu... katanya itu sangat menyakitkan bagi wanita.’

​Membaca tulisan itu, ekspresi Gabriel berubah drastis. Ada kilatan amarah yang sekilas melintas di manik matanya mengingat penderitaan masa lalu Amara, namun seketika berubah menjadi kelembutan yang teramat dalam saat melihat betapa polos dan ketakutannya sang istri.

​Gabriel merampas buku catatan itu, melemparnya jauh ke atas nakas, lalu mengangkat dagu Amara agar kembali menatapnya.

​"Hei, lihat aku," ucap Gabriel lembut namun tegas.

​Amara mengerjap, menuruti perintah suaminya dengan napas tertahan.

​"Mungkin di luar sana, atau dari cerita orang lain, hal itu bisa menyakitkan karena dilakukan secara paksa atau tanpa cinta," jelas Gabriel sabar, ibu jarinya mengusap pelan pipi Amara. "Tapi dengar, Amara... dengar suaramu sendiri saat mengatakannya padaku."

​Amara tertegun, bibirnya sedikit terbuka. "A-apa?" cicitnya bingung.

​"Kalau nanti waktunya tiba—ketika kau benar-benar siap dan menginginkannya—aku tidak akan pernah menyakitimu," bisik Gabriel penuh keyakinan, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. "Semuanya akan kulakukan dengan pelan, dengan kelembutan, dan penuh rasa cinta. Karena bagiku, kebahagiaanmu adalah yang utama, bukan kepuasanku semata."

​Mendengar janji suci yang diucapkan dengan begitu tulus, air mata haru seketika menetes di pelupuk mata Amara. Ketakutan yang selama ini menghantui benaknya seolah menguap tersapu angin.

​"Ga-briel..." panggil Amara pelan, suaranya bergetar hebat sebelum ia tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya ke leher sang suami. "...terima kasih. Terima kasih karena selalu mengertiku."

​Gabriel tersenyum hangat, langsung menyambut pelukan itu dan mendekap istrinya erat-erat, seolah melindungi Amara dari seluruh ketakutan di dunia.

​"Sama-sama, Ratu kecilku," bisik Gabriel mesra tepat di telinganya. "Sekarang, tidurlah. Kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi malam ini."

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!