Update santai sesuai mood Othor 😋
Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
#27
Alan menyalakan televisi yang sedang memutar rekaman CCTV. “Bagaimana jika suamimu sendiri yang selalu mengusik hidupku? Apakah aku harus diam saja?”
Lizie masih diam, enggan bicara dengan manusia keji seperti Alan. Dulu, Alan pernah mengutarakan keinginannya untuk menikahi Lizie, meski sadar jarak usia mereka sangatlah jauh. Untung saja Lizie menolak lamaran pria itu, jika tidak, mungkin sekarang ia akan terkurung di tengah kekejamannya, serta akan tetap menjadi budak selama hidupnya.
Pasalnya Alan adalah jenis manusia yang tega menghalalkan segala cara demi mendapatkan apapun yang diinginkannya. Hanya Lizie wanita yang tak berani ia usik, sebab ia harus berhadapan langsung dengan Adam Romanov bila berani melakukannya.
“Tak mungkin dia berbuat begitu, bila tak ada sebab yang mendasarinya,” kata Lizie santai, karena ia yakin Zion tidak asal mengusik orang lain bila tak ada sebabnya. Apalagi sampai harus bertaruh nyawa, semua hal yang dilakukan pria itu pasti sudah dipertimbanhkan dengan matang.
Lizie mendongak, menatap wajah Alan yang semakin menua karena usia. “Lagi pula, hanya itu saja—”
Sebelum Lizie menyelesaikan ucapannya, asisten Alan membisikkan sesuatu padanya. Pria itu seketika terbelalak saat mendengar apa yang disampaikan asistennya.
“Tunjukkan padaku,” pinta Alan.
Asisten Alan menunjukkan ponselnya, nampak di sana video singkat, seseorang tengah menodongkan pistol ke arah Adam Romanov yang sudah membuka mata.
“Haaaarrrghh!” Alan meraung marah, Lizie sendiri belum tahu bahwa suami dan pasukannya lah yang telah membantunya dari belakang.
Alan mendekati Lizie, lalu memisahkan tongkatnya menjadi dua bagian. Rupanya tongkat itu bukan tongkat biasa, tetapi juga sebuah pedang dengan panjang 40 cm. Kini benda tajam itu sudah berada di leher Lizie, siap ditebaskan kapan saja. “Sebenarnya suamimu punya berapa nyawa, hah?!” geramnya.
“Satu nyawa saja sudah cukup untuk menghadapi seratus orang sepertimu.” Alih-alih takut, Lizie justru semakin memprovokasi Alan dengan ucapannya.
Alan mengulurkan tangan ke arah asistennya, kemudian menelepon orang suruhannya yang saat ini sedang menyandera anak perempuan Lynx. Namun, wajahnya kembali membara karena teleponnya tak dijawab oleh orang-orang suruhannya.
Asisten Alan memindahkan saluran CCTV ke tempat dimana orang-orang suruhan Alan bekerja di Jakarta saat ini. Tapi sungguh hal tak terduga yang mereka lihat, rekaman CCTV itu menunjukkan bagaimana orang-orang itu mendapatkan lawan yang seimbang. Hingga gak butuh waktu lama berhasil dilumpuhkan.
“Alan— Alan— hanya sebegitu saja kemampuanmu? Pantas saja kamu tak pernah bisa berdiri sendiri, karena kamu lebih senang berlindung di bawah ketiak kakakmu.”
“Haaarrrgghh!” Alan kembali meraung keras, pedang yang terhunus di tangannya kini telah siap menyabet leher Lizie, tapi tiba-tiba sebuah peluru melesat, hingga membuat benda itu terlepas dari tangan Alan.
“Lawanmu adalah aku, jadi jangan bersikap pengecut dengan melawan seorang wanita.”
Lizie tak bisa menahan rasa bahagianya, saat melihat siapa yang kini datang untuk menyelamatkannya. Apakah pria itu baru saja bangkit dari kuburnya? Kenapa terlihat semakin tampan dalam balutan seragam serba hitam.
Abaikan perasaan lebay Lizie, yang jelas itu suaminya, ya, tak salah lagi.
Zion melangkah semakin dekat ke arah Lizie, namun, mereka tak bisa bertatapan mesra karena situasi menuntut mereka waspada selalu.
Anak buah Alan langsung mengerumuni Alan menjadi tameng hidup pria itu, namun, tangan mereka tetap menodongkan senjata mereka ke arah kedatangan Zion.
Pria itu tak gentar sedikitpun. Karena di belakang Zion, pasukannya pun telah bersiaga.
Ini akan jadi pertarungan besar, tapi tugas mereka sedikit lebih ringan, karena Lizie telah berhasil menghabisi cukup banyak anak buah Alan selama beberapa hari kemarin. Jadi sekarang, giliran Zion dan pasukannya bersih-bersih sampai tuntas.
Zion berhasil melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kaki istrinya, sejenak mereka hanya berbicara lewat tatapan mata, namun, cukup untuk menerjemahkan isi hati serta kerinduan diantara mereka.
Zion membawa Lizie dan menyembunyikannya di belakang punggung, memberikan perlindungan selayaknya seorang lelaki, serta suami pada istrinya.
Setelah Lizie aman di belakang punggungnya, Zion menoleh dna berbisik, “Mundur perlahan, pasukanku akan melindungi kita.”
Lizie mengangguk paham, ia ingin mematuhi ucapan suaminya, atau apapun itu meski perintah bodoh sekalipun, asalkan ia tak lagi dicekam ketakutan akan kehilangan pria yang paling ia cintai sekali lagi.
Mereka mundur perlahan, Zion dan anak buahnya tetap mengarahkan senjata mereka ke arah Alan dan anak buahnya.
Alan yang tak menyukai kekalahan, langsung merampas pistol yang berada di tangan asistennya, lalu—
Dor!
Dor!
Dor!
Pria itu mengarahkan tembakan bertubi-tubi ke arah Zion dan anak buahnya. Namun, mereka telah bersiaga jadi langsung bisa membalas tembakan tersebut. Begitupun Zion, “Berlindung!” perintah Zion pada istrinya yang tak memegang satu senjata pun.
Zion memberikan salah satu senapan miliknya pada Lizie, agar wanita itu bisa melindungi diri.
Adu senjata api tak terelakkan, masing-masing kubu saling melempar tembakan, namun, tak satu pihak pun yang tumbang dengan cepat.
“Haish!”
Dari balik meja kerjanya, Alan melempar pistolnya yang sudah kehabisan peluru. Kemudian ia membuka laci meja dan mengambil pistol baru, yang sudah ia pastikan terisi penuh dengan peluru.
“Tuan, saya mohon Anda berlindung saja,” pinta asisten pribadi sekaligus pengawal Alan.
“Tidak, harus aku sendiri yang menghabisi jalang itu beserta suaminya,” tolak Alan tegas, lalu ia kembali menembak ke arah lawan mereka.
Suasana sangat gaduh, kepulan asap dan debu mengepul di udara, hingga menutupi jarak pandang. Sistem pengamanan di rumah Alan telah berbunyi, pertanda tak seorang pun bisa keluar dengan aman, karena rumah tersebut sudah terkunci secara otomatis.
Mereka semua terkepung, pilihannya hanya dua, membunuh atau terbunuh.
“Komandan, jika terus begini, kita bisa kehabisan amunisi.”
“Serahkan padaku, aku akan mencoba mengutak atik sistem keamanan,” usul Lizie.
Ia pernah membobol sistem pengamanan di rumah Adam Romanov, sementara Alan Romanov selalu meniru apapun yang dilakukan kakaknya. Jadi bisa disimpulkan bahwa Alan pun memakai sistem keamanan yang sama.
Zion dan Louis sama-sama menatap Lizie, wanita luar biasa yang sungguh di luar ekspektasi mereka.
“Tidak, kamu tak boleh menjauh dariku,” cegah Zion posesif.
“Tapi kita semua bisa terkubur disini.”
“Aku yakin ada jalan keluar, kali ini percayalah padaku, karena sehebat apapun kamu, saat di dekatku jangan coba membahayakan dirimu sendiri."
•••
Di Jakarta.
Zea baru saja membuka mata. “Mama?” gadis kecil itu langsung duduk sesaat setelah kedua matanya terbuka.
“Zea! Sayangnya Onty, akhirnya kamu bangun, Sayang,” seru Mayra girang.
“Onty, mana mama?”
“Mama—”
“Iya, mama.” Ah, Mayra baru sadar ucapan terakhir Zea sebelum mereka dibawa paksa masuk ke mobil.
“Mama belum pulang, sebentar lagi pasti pulang, bareng sama papa.”
“Huaaaa! Mama! Tenapa cemua boong, tatana mau tetemu cama mama—”
“Eh, kok, malah nangis? Udah, udah, cup, Sayang. Maafkan Onty, ya? Baiklah, baiklah, bagaimana kalau kita ke minimalket becal untuk belanja?” bujuk Mayra, berharap keponakannya bersedia menghentikan tangis, tapi itu hanya berlangsung sejenak.
“Huaaa! Mama!”
Zea kembali meraung keras.
“Haduuh, nih, bocah, kenapa nggak bisa diajak kerjasama, sih? Kan jadi sia-sia dua harta karun ini—” ringis Mayra sambil menatap miris dua kartu sakti yang berada di tangannya.