NovelToon NovelToon
Your Obsession

Your Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Perhatian Kecil dan Ancaman

Suasana lantai lima belakangan ini terasa sedikit berbeda, setidaknya bagi orang-orang yang memperhatikan interaksi di sekitar kubikel Raisha.

Aldo mulai mengulangi kebiasaan lamanya, memberikan perhatian-perhatian kecil yang dulu pernah dia lakukan saat masih mengira Raisha sudah berpasangan.

Sebuah kotak cokelat kemasan elegan mendadak bertengger di samping keyboard Raisha saat jam kerja sibuk, disusul sebotol teh rasa buah favoritnya yang tiba-tiba sudah ada di atas meja usai Raisha kembali dari toilet.

Gestur ini sekilas tampak sama persis dengan taktik pendekatan Aldo di masa lalu. Namun, ada kehangatan yang berbeda dalam tatapan mata pria itu tiap kali menyerahkannya—tanpa ada sorot keangkuhan seorang pemburu yang sedang merencanakan jebakan.

Kendati demikian, benteng pertahanan Raisha tidak serta-merta runtuh. Di balik rasa hangat yang merayapi dadanya, keraguan masih bersarang kaku. Raisha masih kerap bertanya-tanya, apakah ini murni bentuk perhatian, atau sekadar pengulangan pola manipulasi yang dibungkus rapi? Rasa tidak percaya Raisha pada Aldo masih membekas.

Puncaknya terjadi saat jam istirahat sore di pantry.

Raisha sedang berdiri membelakangi pintu, sibuk menyeduh teh hangat di depan dispenser. Suara ketukan langkah kaki yang teredam karpet tak membuatnya sadar bahwa ada seseorang yang melangkah mendekat.

Tiba-tiba, aroma parfum kayu cendana yang teramat familier menguar tajam. Sebelum Raisha sempat membalikkan badan, tubuh tinggi Aldo sudah berada tepat di belakangnya hanya berjarak beberapa sentimeter. Sensasi hangat dari hembusan napas Aldo di tengkuknya membuat Raisha membeku di tempat.

Aldo memiringkan kepalanya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Raisha.

"Pulangnya aku tunggu ya, di depan gedung parkir," bisik Aldo lembut dengan intonasi rendah yang bergetar.

Aldo lalu menegakkan tubuhnya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan daya pikat, kemudian berlalu meninggalkan pantry begitu saja tanpa menunggu jawaban.

Raisha bersandar pada pinggiran meja pantry, memegangi dadanya yang berdegup kencang seraya menatap punggung Aldo yang menghilang di balik pintu kaca.

Di dalam keheningan pantry, Raisha mencoba mencerna arah tujuan Aldo. Apakah benar pria itu kini telah sepenuhnya berubah? Apakah ketertarikannya murni tertuju pada dirinya, lepas dari pola menyimpang 'mendekati wanita berpasangan' yang selama ini menjadi candunya? Raisha sadar betul, makin dia membiarkan Aldo mengikis jarak di antara mereka, makin membesar pula perasaan suka yang dia simpan untuk pria itu. Dan fakta tersebut terasa sangat membahagiakan sekaligus menakutkan.

Begitu keluar dari pantry dengan gelas teh di tangan, langkah Raisha langsung dicegat oleh Siska. Rekan kerjanya itu tampak seperti detektif yang baru saja menemukan petunjuk utama.

"Aha! Pengakuan nggak bisa bohong ya!" cecar Siska setengah berbisik seraya membuntutinya kembali ke meja kerja.

"Aku lihat sendiri tadi Pak Aldo keluar dari pantry sambil senyum-senyum, gak lama kamu keluar dengan muka merah padam gitu. Ada apa di pantry, Ra? Ngaku nggak!"

Raisha menghela napas, meletakkan gelasnya di meja.

"Siska, nggak ada apa-apa. Cuma ketabrak dikit pas mau seduh teh."

"Tabrakan apa yang bikin muka kamu kayak kepiting rebus begitu?" goda Siska tak mau menyerah.

Rasa penasaran Siska sudah mencapai puncaknya melihat dinamika aneh di antara dua rekannya itu.

"Tolong ya, Raisha... seluruh lantai lima tuh udah mencium bau-bau asmara di antara kalian. Dari dijemput naik motor sport, dikasih minuman tiap hari, sampai berduaan terus. Kamu jangan main rahasia-rahasiaan dong sama temen sendiri!"

Raisha hanya bisa menyembunyikan senyum geli dan memasang raut pasrah.

"Belum ada status apa-apa, Siska. Suatu saat kalau udah jelas, aku pasti cerita. Sekarang izinkan aku fokus ke laporan bulanan dulu, ya?"

Siska mendengus pura-pura merajuk, meski matanya tetap mengedipkan godaan sebelum akhirnya kembali ke kursinya sendiri.

Sementara itu, di dalam ruang kerjanya yang berdinding kaca, Aldo duduk di balik meja eksekutifnya. Pria itu menyandarkan punggung, memandangi layar ponselnya yang baru saja bergetar menunjukkan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Aldo mengklik pesan tersebut. Sebuah senyuman tipis sempat terkembang di bibirnya—mengira itu adalah pesan dari Raisha. Namun dalam hitungan detik, senyum itu lenyap sepenuhnya. Wajah Aldo berubah mendingin, memancarkan aura kelam yang menusuk.

Pesan itu berasal dari Mita:

'Aku tahu semua rahasia kelammu, Al. Aku akan ungkapkan ke seluruh kantor dan HRD soal sikap belok kamu yang cuma bisa bergairah dan tertarik sama cewek berpasangan. Kita lihat apa Raisha masih mau sama cowok aneh kayak kamu setelah semua orang tahu.'

Aldo mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan matanya yang tadi hangat saat menatap Raisha kini bertransformasi menjadi tatapan pembunuh yang sarat akan amarah dingin.

Mita rupanya belum kapok meski sudah dijatuhi Surat Peringatan. Wanita itu memilih jalan nekat: membongkar penyimpangan psikologis masa lalu Aldo demi menghancurkan reputasi mereka berdua sekaligus.

Aldo menyandarkan kepalanya, mengusap rahangnya yang menegang keras. Dia tahu, rahasia masa lalunya memang sebuah noda hitam yang nyata. Namun jika Mita berpikir gertakan itu bisa membuatnya mundur atau melepaskan Raisha... wanita itu telah salah besar.

Aldo mengetik balasan singkat dengan jemari yang stabil namun penuh ancaman:

'Coba saja kalau kamu mau karir dan masa depanmu di industri ini hancur total sebelum matahari terbenam.'

Aldo mematikan layar ponselnya, menatap ke arah kubikel Raisha dari balik kaca. Apapun badai yang coba dilemparkan Mita untuk membongkar masa lalunya, Aldo sudah membulatkan tekad: kali ini dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak kesempatan hidupnya bersama Raisha.

Sementara itu..

Pesan dari nomor tak dikenal itu masuk hampir bersamaan dengan selesainya introgasi jenaka dari Siska. Raisha memiringkan ponselnya, membaca baris demi baris kalimat yang tertera di layar dengan kening berkerut dalam:

​'Aldo itu cowok yang menyimpang, kamu hanya akan dijadikan mainannya. By the way, kamu sudah punya pacar, ya? Makanya Aldo mengejar kamu sampai sebegitunya?'

​Raisha terpaku. Jemarinya yang tadi siap mengetik di atas keyboard mendadak membeku kaku. Tubuhnya menegang saat mengulang bacaan pada kalimat terakhir.

​Meskipun pengirimnya tidak menyantumkan nama, Raisha tahu betul siapa pemilik kedengkian di balik pesan beracun tersebut. Siapa lagi kalau bukan Mita? Wanita itu jelas sedang frustrasi, menggunakan kartu terakhirnya untuk menanamkan benih keraguan dan memicu paranoia di kepala Raisha.

​Kalimat 'kamu sudah punya pacar, ya?' menghantam bagian paling rentan di dada Raisha.

​Pertanyaan sarkastik itu seolah menjadi pengingat yang menyengat, membawanya kembali pada ketakutan terbesarnya: Bagaimana jika Mita benar? Bagaimana jika perhatian manis, senyuman lembut, dan jemputan pagi tadi hanyalah efek samping dari salah paham Aldo yang masih mengira Raisha menjalin hubungan dengan Erick?

​Raisha merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat. Rasa hangat yang baru saja mekar di hatinya akibat perlakuan Aldo di pantry seketika menguap, berganti dengan gulungan kecemasan dingin yang pekat.

​Dari balik dinding kaca ruangannya, Aldo sempat melirik ke arah kubikel Raisha, menyadari perubahan raut wajah wanita itu yang mendadak pucat dan kaku saat menatap ponsel. Aldo mengepalkan tangannya di atas meja, sadar betul bahwa racun yang disebarkan Mita kini telah mendarat dan mulai mengusik wanita yang sedang diperjuangkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!