NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Lampu-lampu toko dan lentera jalanan mulai menyala terang, menerangi keramaian warga yang berlalu-lalang memadati malam. Gilang kini sudah berada di depan Restoran Sahaeru,seperti yang diberitahukan oleh Salsa sewaktu di Bar Cahaya Bulan tadi. Lagi-lagi, Gilang dengan cerdik memanfaatkan mata-mata suruhan Ichikawa yang terus membuntutinya.

Sebuah mobil Jeep hitam terparkir tenang di dalam lorong terowongan yang sempit, tidak jauh dari restoran. Gilang tampak bertopang dagu di kursi penumpang depan, sementara sang mata-mata memegang setir dengan raut gelisah lalu menoleh menatap Gilang di sampingnya.

Pandangan Gilang terlempar ke luar jendela, memperhatikan seorang ibu penjual makanan di stan pinggir jalan dengan uap masakan yang mengepul hangat.

Mata-mata itu menghela napas panjang, lelah dan bingung dengan tingkah Gilang. “Hmm, sudah tiga puluh menit. Sebenarnya siapa yang engkau tunggu?” tanyanya penasaran.

“Wanita,” jawab Gilang singkat.

“Waria?!” Mata-mata itu melotot kaget, salah mendengar ucapan Gilang.

“Bukan waria, tapi wanita,” pangkas Gilang membenarkan dengan nada datar.

“Oh, itu dia,” tunjuk Gilang tiba-tiba sewaktu matanya menangkap sosok yang ditunggu.

Salsa akhirnya tiba menaiki sebuah jinrikisha. Penarik jinrikisha itu menghentikan jalannya tepat di depan pintu masuk Restoran Sahaeru, lalu Salsa melangkah turun dengan anggun.

Gilang segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menghitungnya sejenak. Tanpa ragu, ia menyodorkan uang tersebut kepada sang mata-mata. “Kerjamu bagus. Sana beli makanan,” ucap Gilang santai seraya membuka pintu dan keluar dari mobil.

Mata-mata itu mengecek dua lembar uang pemberian Gilang di tangannya. Meski terpaksa, ia mengantongi uang itu dan menatap punggung Gilang yang makin menjauh.

Gilang berjalan menyeberangi jalanan. Suara deru kereta api yang melintas cepat membatasi jaraknya dengan Salsa selama beberapa detik. Begitu kereta berlalu, Gilang memberikan anggukan kecil ke arah Salsa, yang langsung dibalas anggukan serupa oleh wanita itu.

Namun, di tengah langkahnya, bahu Gilang tak sengaja beradu keras dengan seseorang. Gilang menoleh dan mendapati pria itu adalah salah satu anggota kelompok samurai yang sempat membuat kekacauan di tokonya beberapa waktu lalu. Samurai itu membalikkan badan Gilang dengan kasar, lalu terkejut saat mengenali wajahnya.

“Lihat siapa ini. Mas Gilang dari Griya Harta Emas,” ucap samurai itu menyeringai remeh.

Gilang melirik tipis ke arah Salsa yang sudah naik menuju lantai atas restoran. Ia sempat heran mengapa Gilang tidak langsung ikut masuk. Gilang menundukkan kepala sejenak, lalu kembali menatap samurai itu. “Bisa tolong minggir? Aku ada urusan yang penting,” mohon Gilang datar.

“Ayo kita selesaikan dulu urusan kita,” cetus samurai itu menantang.

Gilang mengangguk pasrah. “Iya, baiklah kalau begitu. Kalau kalian memang ada urusan, datang saja ke Griya Harta Emas besok pagi. Sudah cukup, kan?”

Bugh!

Tanpa aba-aba, samurai itu mendaratkan pukulan keras tepat di perut Gilang. Gilang membungkuk kesakitan, lalu bogem mentah kembali dilayangkan menghantam wajahnya hingga tersungkur.

Dari kejauhan, mata-mata bernama Yori yang sering dijadikan sopir pribadi oleh Gilang menyaksikan pengeroyokan itu dari dalam Jeep. Tak lama kemudian, rekan seniornya kembali dan masuk ke dalam mobil membawa sebungkus martabak hangat.

“Bapak,” panggil Yori cemas.

“Kau pasti lapar, ini ada martabak khas Nusantara. Ambillah, makan,” ucap pria senior itu santai seraya menyodorkan kantong makanan pada Yori.

Yori menerima kantong itu canggung. “Iya, Pak.”

Mata Yori tak lepas memandangi Gilang yang terus dihujani pukulan oleh para samurai di seberang jalan.

Pria di sebelahnya malah tampak sangat menikmati makanannya. “Hmm, enak! Orang Nusantara itu memang ahlinya memasak,” puji pria itu mengunyah martabak manis.

Yori menoleh dengan raut makin tegang. “Em… Apa dia baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

Sambil terus mengunyah, pria itu menyempatkan diri melirik ke arah pengeroyokan Gilang. Ia mengisap jempolnya yang terkena sisa cokelat martabak, lalu dengan santainya mengusap jempol lengket itu ke bagian punggung baju Yori.

“Pak Yori… tugas kita hanya mengamati, bukan ikut campur. Mengamati, melaporkan, menerima perintah,” ujarnya bernada mengajari. “Tugas kita… hanya itu, hmm.”

“Iya, Pak…” gumam Yori pelan, menahan napas.

“Makanlah, kau pasti lapar,” ucap pria itu kembali menawarkan martabaknya tanpa beban.

Gerombolan samurai itu menyeret Gilang pergi, membawanya masuk ke sebuah gang sepi yang gelap dan lengang.

Pemimpin samurai mengayunkan katananya, menempelkan mata pisau tajam itu tepat di sisi leher Gilang. Gilang mengangkat kedua tangannya pasrah, membiarkan darah segar mengalir di wajahnya bekas pukulan tadi. Napasnya memburu terengah-engah.

“Tunggu… Tunggu… Tunggu dulu. Kita selesaikan dengan uang saja,” bujuk Gilang. Ia berpikir semua urusan berdarah ini masih bisa diselesaikan dengan lembaran uang.

Menggunakan ujung jemarinya yang gemetar, Gilang menggeser perlahan mata katana yang menempel di lehernya. “Tidak perlu pakai pedang seperti ini, kan?” ucapnya seraya bergerak hendak merogoh dompet dari saku jas. “Tolong tenanglah. Kau minta berapa, hah?”

Namun, tawaran uang itu tak mempan. Pemimpin samurai itu justru menuntut hal lain. “Griya Harta Emas,” ucapnya dengan wajah petantang-petenteng.

“Apa?” tanya Gilang singkat, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Beri kami Griya Harta Emas. Baru kami akan mengampunimu!” ancam pemimpin samurai itu sengit.

Gilang terkekeh sinis, merasa konyol ada berandal yang berani mengincar tempat usahanya. “Jangan bercanda. Sudah kubilang, aku sedang sibuk! Aku harus bertemu dengan orang jam delapan malam. Orang penting sekali!” Gilang mengangkat pergelangan tangannya, menyodorkan jam tangan merek Waltham miliknya. “Coba lihat! Jam berapa ini? Ini… ini sudah waktunya!”

“Aku pergi dulu,” pamit Gilang santai hendak nyelonong menerobos barisan.

Namun dengan kilat, sang pemimpin samurai menghadang dada Gilang menggunakan katananya, memaksa pria itu terperosok mundur hingga punggungnya menempel keras di tembok gang.

“Hei… kau harus tentukan siapa prioritasmu,” gumam samurai itu seraya mengangkat sebelah alisnya.

Gilang terkekeh menyindir. “Ya sudah, maafkan aku. Tapi kau ini sama sekali bukan tipeku. Lalu kenapa kau memaksa ingin jadi prioritasku?” ejek Gilang tanpa takut, mengolok-olok pria berpedang di hadapannya.

Mata samurai itu memancarkan kilatan amarah. “Heii, Mas Galang…” panggilnya dengan nada merendahkan, sengaja memplesetkan nama lawan bicaranya.

“Gilang!” bentak Gilang keras.

“Bukan Galang, tapi Gilang!” bentak Gilang sekali lagi dengan urat leher menegang. Ia tidak peduli walau bilah katana masih melintang tepat di depan dadanya. Ia sama sekali tidak takut mati, emosinya menyulut hanya karena namanya dieja sembarangan. “Katakan dengan benar! Ayo!”

Pemimpin samurai itu mendesis gusar. Ia memajukan katananya lagi, menggeser mata pisau itu mendekati leher Gilang penuh intimidasi. Gilang terpaksa menyenderkan bahunya makin rapat ke dinding batu. Astaga!

“Apa kau mau mati, hah?” tanya samurai itu bernada panjang dan mengancam.

Gilang terkekeh tipis. Matanya menyempit, raut wajahnya yang semula bercanda mendadak berubah sangat serius dan dingin. “Tentu saja tidak. Walau nasibku tidak bagus, aku tidak mau mati di tangan berandal sepertimu.”

Sring!!

“Dasar brengsek!!” teriak samurai itu murka seraya mengayunkan katananya sekuat tenaga ke arah leher Gilang.

Melihat sabetan tajam membabat udara, dengan gerakan refleks yang sangat cepat Gilang merunduk ke bawah. Crak! Bilah baja itu menghantam dinding bata hingga memercikkan bunga api.

Melihat bos mereka meleset, para samurai bawahan ikut merangsek maju mengeroyok. Gilang dengan sigap menghindari tebasan demi tebasan. Saat seorang anggota memburu ke arahnya, Gilang mencekeram lengan pria itu, menahan bobot tubuhnya, lalu membantingnya keras-keras ke tanah.

Gilang sempat terjerembap jatuh, tetapi dengan cepat ia bangkit kembali menyiagakan diri. Namun, tebasan samurai lainnya berhasil menyambar lengannya. Kain jasnya robek, diiringi darah segar yang meluncur basah dari lukanya.

Para samurai itu kembali bergerak memutari Gilang, mengurungnya dari segala sisi. Gilang kini benar-benar tersudut membelakangi dinding batu yang dingin. Astaga!

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!