"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Tak Pernah Padam
“Argh! Sial!”
Serly mengepalkan tangan dengan kesal. Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi membakar pikirannya.
Untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, Bastian benar-benar memintanya pergi. Lebih menyakitkan lagi, keputusan itu datang setelah Diandra berbicara dengannya.
Serly tidak tahu apa yang dikatakan wanita itu kepada Bastian. Yang jelas, Diandra berhasil membuat suaminya kembali berdiri di pihaknya.
“Jangan kira aku akan tinggal diam,” gumam Serly penuh kebencian. “Nikmati saja kebahagiaanmu sekarang, Diandra. Kalau memang ini kemenanganmu, anggap saja sebagai awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk.”
“Jadi orang jangan jahat-jahat, kenapa, sih?”
Suara itu membuat Serly tersentak.
Dia menoleh dan mendapati Sean berdiri di ambang pintu.
Mata Serly langsung menyipit.
Seharusnya tadi dia mengunci pintu. Namun, seperti biasa, adiknya itu selalu muncul di saat yang paling tidak tepat.
“Kapan kamu pulang?” tanya Serly dingin.
Sean mengangkat sebelah alis.
“Wah, perhatian sekali. Sejak kapan kakakku yang tercinta ini peduli sama kepulanganku?”
Serly mendengus.
“Kalau datang cuma untuk cari ribut, keluar.”
“Aku juga nggak tertarik lama-lama bicara sama kamu.”
“Lalu untuk apa kamu datang?”
Sean menutup pintu perlahan. Dia kemudian bersandar di sana sambil menatap kakaknya lekat-lekat.
Senyumnya menghilang.
“Kak, sampai kapan kamu mau hidup seperti ini?”
Serly mengernyit.
“Maksudmu?”
“Sampai kapan kamu mau terus mengejar Bastian?”
Wajah Serly seketika berubah.
“Jaga ucapanmu.”
“Kenapa? Aku salah?”
Sean melangkah mendekat.
“Kamu tahu Bastian sudah punya istri. Diandra juga nggak pernah memintamu ikut campur dalam rumah tangga mereka. Tapi kamu masih saja mencari cara untuk masuk ke tengah-tengah mereka.”
“Aku bukan pelakor.”
“Lalu apa namanya?”
Serly terdiam.
“Diandra sendiri yang bilang dia ingin bercerai,” akhirnya Serly menjawab. “Aku juga nggak pernah memaksa Bastian kembali kepadaku.”
Sean menatapnya tanpa ekspresi.
“Kalau begitu, kenapa kamu masih sibuk menghancurkan ketenangan mereka?”
Serly menarik napas panjang.
“Aku cuma ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengan tenang.”
Sean mengernyit.
“Waktu tersisa?”
Serly mengangguk.
“Aku nggak punya banyak waktu.”
“Berapa lama?”
Serly menatap adiknya dengan kesal.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Karena kamu selalu menggunakan penyakitmu sebagai alasan setiap kali seseorang mulai mempertanyakan tindakanmu.”
Serly membeku.
Sean melanjutkan dengan suara datar.
“Sebulan? Dua bulan? Lima bulan? Setahun?”
“Cukup!”
“Jadi kapan sebenarnya?”
Serly akhirnya menyerah.
“Tiga bulan lagi.”
Sean diam.
“Dalam tiga bulan aku akan menjalani operasi,” lanjut Serly pelan. “Dokter bilang risikonya besar. Bisa berhasil, bisa juga sebaliknya.”
Sean menghela napas.
“Dan kamu yakin itu alasan yang cukup untuk merebut Bastian dari Diandra?”
“Aku tidak merebut siapa-siapa!”
“Benarkah?”
Serly menatap adiknya tajam.
Sean tidak mundur sedikit pun.
“Aku akan bersimpati kalau aku yakin kamu benar-benar jujur, Kak. Tapi entah kenapa, sejak awal aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”
Wajah Serly seketika pucat.
Namun hanya sesaat.
Dia segera memasang ekspresi terluka, lalu matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa kamu tega sekali sama kakakmu sendiri?”
Suara Serly bergetar.
“Aku sedang sakit, Sean. Apa salahnya kalau untuk sekali ini saja aku ingin mendapatkan sedikit kebahagiaan?”
Sean menatapnya lama.
Dia tahu satu hal tentang kakaknya.
Ketika Serly mulai menangis, biasanya ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan.
“Kalau kamu memang nggak peduli, nggak apa-apa. Tapi jangan menuduh orang yang sedang berjuang sembuh dengan tuduhan seperti itu.”
Serly mengusap sudut matanya. Wajahnya dibuat seolah-olah benar-benar terluka.
Sean justru bertepuk tangan pelan.
“Wah, hampir setahun nggak ketemu, kemampuan akting Kak Serly ternyata semakin hebat.”
Serly menatap tajam.
Sean tersenyum miring.
“Boleh ajarin aku? Siapa tahu nanti aku juga bisa pura-pura sakit supaya semua orang merasa kasihan.”
“Kalian ini sedang apa?”
Suara Aretha terdengar dari luar kamar.
Wanita itu baru saja pulang ketika mendengar suara keributan dari kamar putrinya. Abian berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Begitu melihat ibunya, Serly langsung memasang wajah sedih.
“Mama…”
Aretha segera menghampiri dan memeluk putrinya.
“Kenapa kamu menangis?”
“Sean menyudutkanku, Ma.”
Aretha langsung menoleh kepada putranya.
“Sean, baru pulang sudah membuat kakakmu menangis?”
Sean menghela napas.
“Dia sendiri yang terlalu berlebihan.”
Tanpa menunggu perdebatan semakin panjang, Sean memilih keluar dari kamar.
Inilah alasan dia enggan terlalu sering pulang.
Selalu ada drama.
Dan hampir setiap drama di rumah ini bermula dari Serly.
Dulu Sean sangat menyayangi kakaknya. Dia bangga memiliki seorang kakak perempuan dan selalu ingin dekat dengannya.
Namun semuanya berubah perlahan.
Serly hanya bersikap manis ketika Abian dan Aretha ada di dekat mereka. Di luar itu, sikapnya berbeda.
Bahkan Serly berkali-kali membuat Sean terlihat buruk di mata orang tua mereka.
Sean pernah dituduh sering tawuran, bolos kuliah, bergaul sembarangan, dan melakukan berbagai kenakalan lainnya.
Awalnya Sean mencoba menjelaskan.
Namun semakin sering tuduhan itu muncul, semakin sulit orang tuanya mempercayainya.
Sampai akhirnya Sean berpikir, kalau dirinya sudah terlanjur dianggap anak nakal, tidak ada gunanya terus berusaha membuktikan sebaliknya.
Setelah setahun kuliah di Indonesia, Abian akhirnya memutuskan mengirimnya ke luar negeri.
Dan ternyata keputusan itu justru mengubah banyak hal.
“Sean.”
Langkah Sean terhenti.
Dia menoleh dan mendapati Abian berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Apa, Pa? Papa mau ikut marahin aku?”
Abian menghela napas.
“Kamu memang layak ditegur karena sikapmu yang terlalu tengil.”
Sean mendengus.
“Tuh, kan.”
“Tapi sebelum itu…”
Abian membuka kedua tangannya.
“Papa mau peluk anak Papa. Sini.”
Sean terdiam sejenak.
Kemudian dia tersenyum kecil dan berjalan mendekat.
Abian langsung memeluknya.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Pa. Papa sendiri?”
“Baik.”
Abian menepuk punggung putranya sebelum melepaskan pelukan.
“Papa rasa keputusan mengirimmu ke luar negeri bukan keputusan yang salah.”
Sean mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Jordi bilang perkembanganmu di sana jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Kemampuanmu berkembang pesat.”
Jordi adalah pria berusia empat puluh lima tahun yang ditugaskan Abian untuk mendampingi sekaligus mengawasi Sean selama tinggal di Amerika.
Sean menyisir rambutnya ke belakang dengan santai.
“Di luar negeri atau di sini sebenarnya sama saja.”
Dia tersenyum percaya diri.
“Sejak dulu aku memang punya potensi.”
Abian terkekeh.
“Percaya dirinya kebangetan.”
Dia menepuk lengan Sean, kemudian merangkul pundaknya.
“Ayo. Papa mau bicara sesuatu sambil ngopi.”
“Ngopi? Bukannya Papa tahu aku lebih suka cokelat?”
“Banyak maunya.”
Sean tertawa.
“Biar anak Papa bahagia.”
Abian menggeleng sambil tersenyum.
Hubungan mereka memang tidak selalu berjalan mulus.
Dulu Abian begitu membela dan membanggakan Sean. Namun setelah berbagai tuduhan Serly muncul, hubungan mereka sempat renggang.
Kini, setelah sekian lama berpisah, Sean merasa ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Mereka berjalan menuju teras samping rumah.
Beberapa menit kemudian, keduanya duduk berhadapan dengan secangkir minuman masing-masing.
Abian menyeruput kopinya sebelum membuka pembicaraan.
“Jadi, bagaimana? Kamu sudah memikirkan tawaran Papa?”
Sean menatap ayahnya.
“Tawaran yang soal perusahaan itu?”
Abian mengangguk.
Sean bersandar santai.
“Oke.”
Abian sampai berhenti menyeruput kopinya.
“Serius?”
Sean mengangguk.
“Serius.”
Abian masih menatap putranya tidak percaya.
Biasanya Sean selalu menolak setiap tawaran yang diberikan kepadanya.
Dia selalu mengatakan ingin membangun semuanya dengan kemampuannya sendiri.
Namun kali ini, putranya justru menyetujuinya tanpa banyak perdebatan.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”
Sean tersenyum tipis.
“Mungkin sudah waktunya aku pulang dan mengambil kembali sesuatu yang dulu sempat hilang.”
Abian mengernyit.
“Maksudmu?”
Sean tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap halaman rumah dengan tatapan penuh arti.
Ada alasan lain mengapa dia menerima tawaran itu.
Dan alasan tersebut berkaitan dengan seseorang yang belum pernah benar-benar dia lupakan.
“Kenapa sekarang kamu tiba-tiba mau menerima tawaran Papa?”
Sean tersenyum santai.
“Ya karena siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan Papa kalau bukan aku?”
Abian mengangkat alis.
“Baru sadar sekarang? Dari dulu Papa sudah bilang begitu. Setiap kali Papa menawarkan posisi itu, kamu selalu menolak.”
Sean terkekeh.
“Yang penting sekarang aku sudah nggak menolak.”
Abian mengangguk pelan.
“Tapi…”
Sean langsung menunjuk ayahnya.
“Nah, kan. Aku sudah tahu pasti ada ‘tapi’-nya.”
Abian berdecak.
“Memangnya kamu mau apa lagi?”
“Aku mau memilih sekretarisku sendiri.”
“Siapa?”
“Diandra.”
Senyum Abian seketika menghilang.
“Diandra?”
Sean mengangguk mantap.
“Diandra, istrinya Bastian?”
“Memangnya ada Diandra lain yang menurutku cocok?”
Abian mengusap wajahnya.
“Kamu sudah gila?”
Sean malah tertawa.
“Kenapa?”
“Dia punya masalah dengan kakakmu. Serly pasti akan menentang. Dan Papa juga belum tentu yakin Bastian akan mengizinkan istrinya bekerja untukmu.”
Sean bersandar santai.
“Yang punya masalah dengan Diandra itu Serly, Pa. Bukan aku.”
Dia tersenyum.
“Aku sama Diandra sudah berteman baik.”
“Sean, kamu harus hati-hati. Kadang orang yang paling kamu percaya justru bisa menjadi orang yang paling berbahaya.”
Sean mengangguk seolah sedang mempertimbangkan perkataan ayahnya.
“Kalimat itu lebih cocok Papa sampaikan kepada diri sendiri.”
Abian mengerutkan kening.
“Jangan mulai.”
“Jangan terlalu percaya seseorang hanya karena dia keluarga sendiri. Apalagi Serly.”
“Cukup.”
Suara Abian berubah tegas.
“Jangan sebut kakakmu seperti itu. Papa sudah menganggap Serly sebagai anak Papa sendiri.”
Sean menghela napas.
“Dan justru itu masalahnya.”
“Dia kakakmu.”
“Aku tahu.”
Sean menatap ayahnya serius.
“Tapi status keluarga nggak otomatis membuat seseorang benar. Aku cuma memilih membela orang yang menurutku memang nggak bersalah.”
Abian menatap putranya dengan kesal.
“Jadi menurutmu Serly salah?”
“Aku nggak bilang begitu.”
Sean berdiri dari kursinya.
“Aku cuma bilang aku tahu mana yang menurutku benar dan mana yang nggak.”
“Kamu mau ke mana? Papa belum selesai bicara.”
“Aku mau menginap di apartemen.”
Sean meraih kunci mobilnya.
“Kalau Papa nggak mengizinkan Diandra menjadi sekretarisku, aku juga nggak tertarik mengambil posisi CEO itu.”
Abian langsung menatap tajam.
“Berani sekali kamu mengancam Papa.”
Sean tertawa.
“Bukan mengancam. Aku cuma memberi pilihan.”
Dia melangkah pergi, kemudian menoleh.
“Papa sudah puluhan tahun menjalankan bisnis. Jangan sampai urusan pribadi membuat keputusan perusahaan jadi nggak profesional.”
“Mulutmu itu!”
Abian hampir saja bangkit mengejarnya.
Sean malah tertawa puas.
“Aku tunggu kabar baiknya, Pa.”
Dia berjalan mundur beberapa langkah sambil tersenyum.
“Untuk sementara, aku mau menikmati masa lajangku dan berburu perempuan cantik di Jakarta.”
“Sean!”
Tawa Sean terdengar semakin jauh.
Dia langsung berlari sebelum sempat mendapat ceramah panjang dari ayahnya.
Abian hanya bisa menggelengkan kepala.
Anaknya memang tidak pernah berubah.
Bandel, percaya diri, dan selalu punya cara untuk membuat orang lain kesal.
Selama dua puluh empat tahun, Abian bahkan hampir tidak pernah mendengar Sean benar-benar dekat dengan seorang perempuan.
Putranya selalu menjaga jarak dan lebih sibuk dengan urusan kuliah, bisnis, serta kehidupannya di luar negeri.
Namun sekarang, setelah kembali ke Indonesia, perempuan pertama yang begitu ingin dia jadikan sekretaris justru Diandra—istri Bastian.
Abian menghela napas panjang.
“Anak ini benar-benar di luar dugaan.”
Namun ada satu hal yang jauh lebih mengganggunya.
Mengapa Sean begitu mempercayai Diandra?
Apa sebenarnya yang membuat perempuan itu begitu istimewa di mata putranya?
Diandra akhirnya bisa turun dari lantai atas dengan bantuan dua orang pembantu.
Langkahnya masih terasa berat setelah seharian menjalani berbagai urusan yang menguras tenaga.
“Bibi nggak perlu khawatir. Bastian nggak akan memecat Bibi. Kalau sampai ada masalah, nanti aku yang bicara dengannya.”
Salah satu pembantu menggeleng pelan.
“Saya nggak keberatan kalau akhirnya dipecat, Non. Setidaknya hari ini saya sudah berani melakukan sesuatu yang benar.”
Wanita itu menunduk, wajahnya tampak menyesal.
“Maafkan saya selama ini hanya diam ketika Ibu diperlakukan tidak semestinya oleh Tuan Bastian.”
Dua pembantu lainnya ikut mengangguk.
Diandra terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan mereka.
“Terima kasih,” ucapnya tulus. “Kalian nggak perlu merasa bersalah lagi. Selama aku masih di rumah ini, aku akan memastikan kalian tidak kehilangan pekerjaan hanya karena membantu aku.”
“Terima kasih, Non.”
Mereka bertiga kemudian pamit.
Setelah pintu tertutup, Diandra mengembuskan napas panjang.
Tubuhnya benar-benar terasa lelah.
Sejak pagi dia sudah berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain dengan kendaraan umum demi mencari pekerjaan. Setelah itu dia harus berhadapan dengan Bastian dan menghadapi perdebatan yang cukup melelahkan.
Tanpa banyak berpikir, Diandra merebahkan tubuh di ranjang.
Niatnya hanya ingin memejamkan mata sebentar.
Namun rasa lelah membuatnya tertidur begitu dalam.
Bahkan ketika Bastian dan kedua anak mereka pulang, Diandra sama sekali tidak menyadarinya.
“Mommy…”
Azzam membuka pintu kamar perlahan.
Begitu melihat Diandra sedang tertidur, bocah itu langsung mengecilkan suaranya.
“Jangan berisik.”
Bastian yang berdiri di belakangnya segera berbisik.
“Masuk ke kamar kamu. Mommy sedang tidur.”
Azzam menoleh.
“Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Azzura aja langsung masuk kamar karena nggak sayang Mommy.”
Bastian memijat pelipis.
“Jangan mulai.”
“Azzam sayang banget sama Mommy.”
Azzam melangkah masuk.
“Azzam mau tidur di sebelah Mommy.”
Bastian buru-buru menarik tas punggung putranya.
“Tidak. Kembali ke kamar.”
“Azzam mau sama Mommy!”
“Pelankan suara kamu.”
Azzam cemberut.
Namun sebelum mereka sempat berdebat lebih jauh, terdengar suara Diandra dari atas ranjang.
“Hmm… suara apa itu? Berisik sekali.”
Bastian langsung melirik putranya.
“Nah, kan. Mommy jadi bangun. Sekarang masuk kamar.”
Azzam menatap Diandra yang masih terlihat mengantuk.
Dengan berat hati, dia akhirnya mundur.
“Nanti malam Azzam tidur sama Mommy.”
Bastian langsung menyahut.
“Jangan bermimpi. Mommy itu istri Daddy. Jadi malam ini Daddy yang tidur bersama Mommy.”
Azzam memasang wajah serius.
“Memang Mommy istri Daddy.”
Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Tapi siapa yang selalu menemani Mommy selama ini?”
Bastian terdiam.
“Azzam.”
“Lalu?”
“Siapa yang memeluk Mommy kalau Mommy sedih?”
“Azzam…”
“Siapa yang menemani Mommy kalau Mommy kesepian?”
“Azzam juga.”
“Siapa yang menghapus air mata Mommy kalau Mommy menangis?”
Azzam tersenyum penuh kemenangan.
“Semua Azzam.”
Bastian menggeleng tak percaya.
“Jadi?”
“Azzam lebih berhak dekat sama Mommy daripada Daddy.”
Bastian menatap putranya dengan wajah datar.
Anaknya benar-benar semakin besar semakin banyak tingkah.
Yang membuatnya lebih heran, Azzam seolah menganggap dirinya sebagai saingan dalam mendapatkan perhatian Diandra.
“Sudah. Sekarang masuk kamar.”
Azzam melengos.
“Pokoknya malam ini Mommy tidur sama Azzam.”
Dia menjulurkan lidah kepada ayahnya sebelum berlari keluar.
Bastian hanya bisa menghela napas panjang.
“Anak siapa sebenarnya kamu?”
Dari dalam kamar, Diandra yang masih setengah mengantuk justru tersenyum kecil mendengar pertengkaran ayah dan anak itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah terasa sedikit lebih hangat.
Begitu Bastian melepas sepatunya, Azzam langsung berlari sambil tertawa.
“Anak siapa, sih, bandelnya minta ampun?”
Bastian menggelengkan kepala.
“Oh, iya. Anak gue sendiri.”
Dia terkekeh pelan.
“Pantas kelakuannya susah diatur.”
Bastian memperhatikan putranya yang menghilang di balik pintu kamar, lalu kembali menghela napas.
Dia segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Bukan karena takut, melainkan untuk memastikan Azzam tidak tiba-tiba muncul lagi dan mengganggu Diandra yang sedang tidur.
Setelah melepaskan kemejanya, Bastian meletakkannya di sofa.
Tatapannya kemudian beralih kepada Diandra.
Wanita itu masih terlelap dengan wajah terlihat sangat lelah.
Bastian mengernyit.
“Bagaimana dia bisa turun dari atas?”
Dia mendekati ranjang dan duduk di tepinya.
“Jangan-jangan dia benar-benar melompat.”
Bastian kemudian memeriksa tangan dan kaki istrinya dengan hati-hati. Dia ingin memastikan tidak ada bagian tubuh Diandra yang terluka setelah kejadian tadi.
Untungnya, tidak ada luka.
“Syukurlah.”
Diandra tiba-tiba mengerang pelan dan mengubah posisi tidurnya.
Matanya terbuka sesaat.
Namun ketika menyadari siapa yang duduk di sampingnya, matanya kembali terbuka lebar.
“Mas Bastian?”
Diandra hendak bangun, tetapi Bastian segera menahan lengannya.
“Tidur saja kalau masih capek.”
Diandra akhirnya kembali merebahkan tubuh.
Namun rasa kantuknya sudah hilang.
Tatapannya berubah tajam saat mengingat perlakuan menyebalkan Bastian sebelumnya.
Bastian justru tertawa kecil.
“Apa?”
Diandra memicingkan mata.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
“Karena kamu menyebalkan.”
“Katanya istri sendiri harus sabar menghadapi suami.”
“Mas juga harus belajar sabar menghadapi istri.”
Bastian terkekeh.
Entah sejak kapan dia mulai memperhatikan ekspresi Diandra seperti itu.
Ketika marah, wanita itu berusaha terlihat galak. Namun entah mengapa, bagi Bastian, Diandra justru terlihat menggemaskan.
Bastian terdiam sejenak.
Selama ini dia terlalu sibuk dengan berbagai persoalan hingga tidak menyadari banyak hal kecil tentang istrinya.
“Jangan menatapku begitu.”
“Kenapa?”
“Bikin kesal.”
Bastian tersenyum.
“Kalau terus begitu, nanti aku angkat kamu lagi.”
Diandra langsung mendengus.
“Coba saja.”
“Memangnya bagaimana kamu bisa turun tadi?”
“Rahasia.”
“Loncat?”
“Bukan urusan Mas.”
Diandra bangkit dari ranjang.
“Mau ke mana?”
“Mandi. Gerah.”
Bastian ikut berdiri.
“Kebetulan aku juga belum mandi.”
“Ya sudah, Mas mandi dulu. Aku nanti.”
Bastian mengangkat alis.
“Kenapa harus bergantian?”
“Karena kita bukan anak kecil yang harus mandi bersama.”
Bastian tertawa kecil.
“Aku cuma bercanda.”
“Bercandamu menyebalkan.”
Diandra baru melangkah beberapa langkah ketika Bastian tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
“Mas!”
Diandra terkejut dan spontan memegang bahu suaminya.
“Turunkan aku!”
Bastian membawanya menuju kamar mandi.
“Tenang. Aku nggak akan menjatuhkanmu.”
“Bastian!”
“Iya, iya.”
Bastian akhirnya menurunkan Diandra dengan hati-hati di dekat bathtub.
Diandra baru hendak berdiri ketika Bastian mengambil shower dan mengarahkannya kepadanya.
“Mas!”
Bastian tertawa melihat wajah kesal istrinya.
“Sekarang masih mau marah?”
Diandra menatapnya tajam.
“Mas benar-benar menyebalkan!”
“Sudah tahu.”
Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap.
Dan tanpa mereka sadari, suasana di antara mereka yang selama ini penuh jarak perlahan mulai berubah.
Diandra terus berusaha melepaskan diri, tetapi Bastian masih menahannya sambil mengarahkan shower ke tubuh istrinya.
“Mas, sudah!”
“Kita kan mau mandi.”
“Aku nggak mau!”
Diandra spontan memalingkan wajah ketika air kembali mengenai wajahnya. Kesal karena tidak diberi kesempatan memilih, dia akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Bastian.
Bruk!
“MAS!”
Bastian kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kepalanya sempat membentur dinding.
Diandra langsung panik.
“Mas, kamu nggak apa-apa?”
“Aduh… sakit.”
Bastian memegang dahinya sambil mengernyit.
“Maaf. Tapi Mas sendiri yang nggak mau berhenti.”
“Enak saja menyalahkan suami.”
Bastian masih duduk sambil mengusap dahinya. Untungnya dia sempat menahan tubuh sehingga benturannya tidak terlalu keras. Namun rasa nyeri dan sedikit pusing tetap terasa.
“Sudah, kita keluar. Aku obati.”
“Nggak mau.”
Bastian malah bersandar di dinding dengan wajah dibuat sedramatis mungkin.
Diandra menghela napas.
“Mas, jangan bertingkah seperti anak kecil. Ayo keluar.”
“Aku mau berendam.”
“Kepalamu baru saja terbentur.”
“Kalau berendam, pasti lebih enak.”
“Ya sudah, kalau begitu berendam saja.”
Diandra yang mulai kehilangan kesabaran berbalik hendak pergi.
“Wah, begitu saja?”
Dia berhenti.
Bastian menatapnya dengan ekspresi menuntut.
“Berani mendorong suami sampai kepalanya terbentur, tapi setelah itu mau pergi begitu saja?”
Diandra menoleh dengan mata menyipit.
“Mas sebenarnya mau apa?”
“Kamu yang membuatku jatuh. Masa nggak mau bertanggung jawab?”
“Mas sendiri yang menolak keluar untuk aku periksa.”
“Aku cuma mau berendam.”
Diandra mengembuskan napas panjang.
“Ya sudah. Berendam. Tapi jangan terus menyalahkanku.”
Bastian akhirnya tersenyum tipis.
“Baik.”
Dalam hati dia merasa sedikit puas.
Setidaknya drama kecil ini membuat Diandra memilih tetap berada di dekatnya.
Diandra kemudian duduk di tepi bathtub dan mulai mengisinya dengan air.
Sementara itu, Bastian masih duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan istrinya.
Baju Diandra sudah cukup basah akibat ulahnya tadi. Rambut wanita itu juga masih meneteskan air ke lehernya.
Namun kali ini Bastian segera mengalihkan pandangan.
Dia tidak ingin membuat suasana kembali canggung.
“Diandra.”
“Hm?”
“Lain kali kalau kesal, jangan dorong aku sekeras tadi.”
Diandra menoleh.
“Kalau Mas nggak jahil, aku juga nggak akan mendorong.”
Bastian tertawa kecil.
“Berarti salahku?”
“Jelas.”
“Baiklah. Aku mengaku kalah.”
Diandra tersenyum tipis.
Tanpa mereka sadari, pertengkaran kecil itu justru membuat jarak di antara keduanya terasa sedikit lebih dekat.
Bastian kembali berdeham ketika menyadari pakaian Diandra menjadi semakin basah.
Dia segera mengalihkan pandangan.
“Di mana kamu beli baju seperti itu? Kena air sedikit saja sudah kelihatan terlalu tipis.”
Diandra menunduk. Baru sekarang dia menyadari bajunya sudah basah kuyup.
“Di toko biasa,” jawabnya singkat, berusaha tetap tenang.
“Kalau begitu nanti beli yang lebih bagus.”
Diandra mendengus.
“Memangnya aku harus selalu memakai barang mahal?”
“Bukan begitu.”
Bastian menatapnya serius.
“Kalau kamu membutuhkan sesuatu, bilang. Jangan merasa harus menanggung semuanya sendirian.”
Diandra terdiam.
“Aku bekerja juga untuk kebutuhan kamu dan anak-anak.”
Bastian menghela napas.
“Kalau ada yang bilang kamu memanfaatkan uangku, jangan pedulikan. Kamu istriku. Selama kita masih bersama, kamu nggak perlu merasa sungkan menggunakan apa yang memang menjadi hakmu.”
Diandra hanya melirik sebentar.
Dalam hati dia ingin mengingatkan bahwa hubungan mereka mungkin tidak akan selamanya seperti sekarang.
Namun dia memilih diam.
Dia tidak ingin pertengkaran baru.
Setelah air di bathtub cukup penuh, Diandra mematikan shower dan menambahkan sabun hingga permukaannya dipenuhi busa.
“Sudah.”
Bastian mengangguk.
“Kalau begitu masuk.”
Diandra menatapnya ragu.
“Mas ikut?”
“Memangnya aku mau membiarkan kamu sendirian setelah kejadian tadi?”
“Aku bisa mandi sendiri.”
“Aku janji nggak akan mengganggumu.”
Bastian tersenyum tipis.
“Kita hanya berendam.”
Diandra masih berdiri di tempat.
Dia belum sepenuhnya percaya.
“Serius?”
“Serius.”
Bastian mengulurkan tangan.
“Ayo, Sayang.”
Diandra langsung terdiam.
Matanya membulat.
“Kenapa?”
Bastian tersenyum melihat reaksinya.
“Salting dipanggil sayang?”
“Enggak.”
“Pipi kamu merah.”
“Panas.”
“Di kamar mandi?”
Diandra langsung memalingkan wajah.
Dia membenci kenyataan bahwa satu panggilan sederhana dari Bastian masih mampu membuat jantungnya berdebar.
Perasaannya kepada pria itu belum benar-benar hilang.
Sebesar apa pun luka yang pernah diberikan Bastian, hatinya masih menyimpan cinta yang sama.
Dan justru itulah yang paling dia benci dari dirinya sendiri.
Bastian kemudian mengambil handuk dan bersiap masuk ke bathtub.
Diandra buru-buru memalingkan wajah.
“Mas, tunggu!”
“Apa?”
“Jangan tiba-tiba begitu.”
Bastian tertawa kecil.
“Baik. Aku tunggu.”
Dia kemudian duduk di sisi bathtub dan menatap Diandra dengan sabar.
“Ayo. Aku sudah janji, kan?”
Diandra masih ragu.
Bastian mengulurkan tangannya sekali lagi.
“Ke sini. Kita hanya berendam dan bicara.”
Diandra menatap tangan itu beberapa detik.
Pada akhirnya, dia menghela napas dan menerimanya.
Namun sebelum masuk, dia memberi peringatan.
“Kalau Mas macam-macam, aku pergi.”
Bastian tersenyum.
“Deal.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berada dalam satu ruang tanpa pertengkaran besar.
Hanya ada keheningan, air hangat, dan dua orang yang perlahan mulai menyadari bahwa perasaan lama ternyata belum benar-benar mati.