NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:142.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan madu

Langkah kaki yang tergesa-gesa itu akhirnya menemui titik henti di sebuah rumah peristirahatan privat milik kenalan lama Alfa di pinggiran kota yang sepi.

Malam itu, di bawah lindungan kegelapan yang pekat, Alfa berhasil memindahkan Dila dari rumah sakit utama menuju tempat tersembunyi tersebut.

Tempat itu dilengkapi dengan peralatan medis portabel serta penjagaan ketat dari tim dokter independen yang telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan.

Untuk sementara waktu, Dila berada di tempat yang benar-benar aman, jauh dari jangkauan radar dan pengawasan orang-orang suruhan Gilang Arghantara.

Namun, mengamankan Dila saja tidak cukup untuk meredakan kemarahan Gilang. Pria tua itu tetap menuntut kejelasan dan bukti nyata atas komitmen putranya.

Untuk mengelabuhi sang papa secara total sekaligus menyapu bersih sisa-sisa spekulasi media mengenai insiden kaburnya mereka di malam penghargaan Indonesia Business & Leadership Awards, Alfa akhirnya menerima syarat yang diajukan oleh sang papa pergi berlibur bersama Senja.

Sebuah perjalanan bulan madu susulan yang akan disorot oleh media nasional sebagai simbol keharmonisan dua keluarga konglomerat.

Beberapa hari kemudian, helikopter pribadi milik Arghantara Group mendarat mulus di helipad sebuah resor mewah di Kepulauan Maladewa.

Resor yang berdiri terisolasi di atas perairan pirus samudra Hindia itu tampak teramat indah. Bungalo-bungalo kayu dengan atap jerami tradisional berjejer rapi di atas air laut yang jernih bagaikan kristal.

Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan pasir putih sehalus tepung, deburan ombak yang tenang, dan langit biru tanpa setitik pun awan.

Sore itu, pendar matahari terbenam menyiram seluruh kawasan water villa tempat Alfa dan Senja menginap dengan warna jingga keemasan yang hangat.

Senja berdiri di dek kayu paling ujung yang langsung menghadap ke laut lepas. Gaun pantai bermotif bunga-bunga kecil berbahan ringan yang dikenakannya melambai lembut tertiup angin laut.

Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai bebas, menari-nari menutupi sebagian punggung mulusnya. Pemandangan itu begitu memesona, menyatu sempurna dengan keindahan alam di sekelilingnya.

Alfa melangkah keluar dari dalam kamar mandi setelah membersihkan diri. Pria itu kini hanya mengenakan celana pendek kasual dan kemeja linen putih berlengan pendek yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan dadanya yang tegap.

Langkah kaki Alfa terhenti sejenak saat matanya menangkap sosok Senja di luar dek. Ada ketenangan luar biasa yang memancar dari gestur tubuh istrinya.

Alfa berjalan mendekat, menyusuri dek kayu tanpa suara hingga ia kini berdiri tepat di samping Senja, menyandarkan kedua lengannya pada pembatas kayu.

"Suka tempatnya?" Tanya Alfa pelan, memecah keheningan di antara mereka.

Senja tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam aroma khas laut yang segar, lalu mengulas senyum tipis yang amat menawan.

"Sangat suka Mas" Jawab Senja tulus seraya menoleh menatap Alfa.

"Sudah lama sekali aku tidak merasakan ketenangan seperti ini. Tidak ada jadwal rapat, tidak ada tumpukan dokumen, dan... tidak ada tatapan menuntut dari Papa."

Alfa tertegun menatap binar mata Senja yang jernih. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Alfa melihat senyuman Senja yang begitu lepas, bukan senyuman diplomatis yang biasa wanita itu tunjukkan di hadapan mitra bisnis atau media.

"Maaf ya Senja..." Ujar Alfa lirih, raut wajahnya mendadak dihiasi rasa bersalah.

"Harusnya perjalanan seperti ini dilakukan atas kemauan kita sendiri, bukan karena paksaan Papa untuk menutupi kekacauanku."

Senja terkekeh halus, sebuah suara tawa renyah yang amat jarang terdengar dari bibirnya. Ia memutar tubuhnya sedikit, menyandarkan punggungnya pada pembatas dek seraya menatap Alfa.

"Kenapa Mas Alfa selalu merasa perlu meminta maaf?" Puji Senja heran.

"Apapun alasannya, kita sudah berada di sini sekarang. Lagipula, jika bukan karena ide Papa, mungkin kita tidak akan pernah punya waktu untuk sejenak berhenti dari rutinitas yang melelahkan ini, kan?"

Alfa menatap wajah Senja lurus-lurus. Kejujuran dan kepraktisan cara berpikir Senja selalu berhasil membuat pria itu terkagum-kagum. Rasa canggung yang selama ini menyekat hubungan mereka perlahan-lahan mulai terkikis oleh kehangatan hembusan angin Maladewa.

"Kamu... benar-benar tidak marah padaku, Senja?" Tanya Alfa lagi, memastikan.

"Tentang semua kekacauan kemarin? Tentang Dila?"

Senja menarik napas panjang, menatap lurus ke arah cakrawala tempat matahari perlahan menenggelamkan diri.

"Jika aku bilang aku tidak terganggu sama sekali, itu bohong, Mas" Akui Senja jujur.

"Tapi aku belajar satu hal dari hidupku di keluarga Anjasmara... marah pada keadaan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita berdua masuk ke dalam pernikahan ini dengan kesepakatan dan latar belakang masing-masing. Mas punya masa lalu dan tanggung jawab atas Mbak Dila, dan aku menghargai itu."

Senja beralih menatap Alfa dengan pandangan mata yang hangat.

"Yang terpenting untukku adalah bagaimana kita bersikap sebagai mitra hari ini dan ke depannya. Mas sudah berusaha melindungi Mbak Dila tanpa menghancurkan nama baik keluarga kita, dan buatku... itu sudah cukup."

Kata-kata Senja menghantam dada Alfa dengan kedalaman rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa lega yang luar biasa mengalir memenuhi seluruh rongga dadanya, mengikis habis beban berat yang menindih pikirannya selama berminggu-minggu terakhir.

Di hadapan wanita ini, Alfa merasakan sebuah kenyamanan yang belum pernah ia temukan pada siapa pun, sebuah kenyamanan yang lahir dari pemahaman tanpa penghakiman.

"Terima kasih, Senja" Bisik Alfa, suaranya terdengar begitu dalam dan tulus.

"Aku sungguh beruntung memiliki mitra... dan istri sepertimu."

Senja tersenyum manis, membiarkan keheningan yang menenangkan kembali melingkupi mereka seraya menikmati detik-detik matahari terbenam.

Malam makin larut di resor pulau tersebut. Suara deburan ombak yang berirama teratur menjadi musik latar yang menenangkan.

Pihak resor telah menyiapkan makan malam romantis secara privat di ujung dek kayu mereka. Sebuah meja kecil berlapis taplak putih dengan lilin-lilin aromaterapi yang menyala lembut, dipadu dengan hidangan seafood segar dan dua gelas minuman dingin.

Setelah menyelesaikan makan malam mereka dengan obrolan-obrolan ringan mengenai bisnis dan kenangan masa kecil yang penuh tawa, Alfa dan Senja kini duduk bersantai di net bed, sebuah jaring santai yang tergantung tepat di atas permukaan air laut.

Langit malam Maladewa begitu bersih, dihiasi oleh jutaan bintang yang berpendar terang bagaikan hamparan berlian di atas kain beludru hitam.

Senja berbaring terlentang di atas jaring, menopang kepalanya dengan satu tangan seraya menatap ke atas. Alfa berbaring di sisinya, hanya berjarak beberapa senti, merasakan kehangatan dari tubuh istrinya.

"Lihat bintang yang itu, Mas" Tunjuk Senja dengan jari telunjuknya ke arah rasi bintang di atas mereka.

"Di kota, kita tidak akan pernah bisa melihat langit sebersih ini."

Alfa tidak menatap ke atas langit. Pandangan mata pria itu justru terkunci rapat pada profil samping wajah Senja yang tersinari oleh pendar lembut cahaya bulan dan lilin. Kulit mulusnya tampak begitu bersinar, dan binar matanya memantulkan kilau bintang-bintang di atas sana.

"Ya... indah sekali" Gumam Alfa pelan, namun tatapannya tak beralih sedikit pun dari wajah Senja.

Senja yang menyadari pandangan itu, menolehkan kepalanya. Pandangan mata mereka bertemu dalam jarak yang teramat dekat. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi begitu intim dan sarat akan getaran asing.

"Mas Alfa kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Senja dengan bisikan lembut, ada sedikit warna merah muda yang merayapi pipinya.

Alfa tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang jarang ia perlihatkan. Tangannya bergerak perlahan di atas jaring, memberanikan diri menyentuh helai rambut Senja yang tertiup angin dan menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan jemari Alfa yang hangat pada kulit pipinya membuat jantung Senja berdesir hebat.

"Aku cuma berpikir..." Tutur Alfa dengan suara serak yang tenang.

"Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai wanita yang dingin, kaku, dan hanya peduli pada angka-angka saham. Tapi kita menikah, aku baru sadar... betapa hangatnya kamu sebenarnya."

Senja tertawa kecil, berusaha menutupi debar di dadanya.

"Itu karena Mas Alfa tidak pernah benar-benar mencobaku mengenal lebih dekat sebelumnya."

"Kalau begitu..." Alfa menggeser posisinya sedikit lebih rapat pada Senja.

"Beri aku kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh mulai malam ini. Bukan hanya sebagai mitra bisnis... tapi sebagai teman, Senja."

Senja merasakan ketukan jantung Alfa yang berdetak kencang di bawah telapak tangannya, sebuah ketukan yang sama cepatnya dengan jantungnya sendiri.

Tidak ada lagi keraguan atau benteng pertahanan di antara mereka malam itu. Di bawah naungan jutaan bintang Maladewa, dua hati yang tadinya berjalan di jalur masing-masing kini mulai merapat dan menyatu dalam kehangatan rasa yang baru.

1
Ari Atik
akhirnya....
lurus semua permasalahan
🌹
Biasanya panggil Mas kan 🤔
Cahaya
pnasaran alpamart senja
Cahaya
harus ny up berapa yh hari ini 🙏
santi.santi: bentar ya, soalnya anak otor lagi sakit jadi nggak bisa pasti🙏🏻
total 1 replies
Cahaya
jangan lama dong thor up ny.menunggu itu ngga enakkkkk🙏
Rina Wati.S
lanjut kak
Nadja 🎀
Ares hanya di anggap adik bagi senja... makanya senja menolak ares cuma di anggap adik. jgn khawatir Alfa.. senja gak suka laki-laki melimpah duit kyk ares hanya ingin hidup sederhana gk peduli miskin.
Silvia
ayo berjuang bersama💪💪 semangat
Hanima
👍👍
Agnezz
Alfa dan Senja sudah sama2 berkorban satu sama lain. Senja mengorbankan ginjalnya demi kesembuhan Dila yg menurut pikirannya saat itu sumber kebahagiaan Alfa.
Alfa mengorbankan harta dan jabatannya di perusahaan ayahnya demi membayar kebebasan Senja. Memilih bekerja keras tak kenal sebagai operasional kurir demi mencari keberadaan Senja sehingga kondisi fisiknya menurun.
Sedangkan Ares hanya membantu Senja keluar dari Alfa dan keluarganya. Ares tidak kekurangan apapun, dia membantu dari kelimpahannya dan kemampuannya. Jadi nothing to lose buat Ares. Cuma soal ditolak cintanya oleh Senja.
Hanima
Bodxx..
Agnezz
jadi 3 alasan Senja mendonorkan ginjal dan memilih pergi :
1. karena tidak tahan dan tidak tega melihat Alfa yg sedih dan terpuruk saat Dila drop.
2. karena ingin bebas dari tuntutan orang tuanya
3. karena tidak ingin dari duri dalam hubungan Alfa dan Dila. Sebelum Alfa menceraikannya lebih baik Senja yg pergi lebih dulu.
Agnezz: ya sama2 kak, terima kasih sudah up banyak dan tetap semangat👍
total 2 replies
Nurminah
keterbukaan dengan pasangan komunikasi yg bagus amat sangat penting dalam rumah tangga berhubung dua duanya punya luka masa lalu jadi ya walaupun pintar terlihat bodoh dalam menyikapi keadaan terkadang seseorang yg tidak marah diam lebih mengerikan dibandingkan orang yg melampiaskan amarahnya dengan bercerita
Maharani Rani
lanjuttt😍
Maharani Rani
lanjutt kak😍
Cahaya
lanjutt
Cahaya
lanjuttt
Cahaya
ko spi ini yh pada kmana ini redssss
Cahaya
emm emmm akir ny tuntas sudah salah paham ny tinggal buka lmbaran baru
Nar Sih
kejujuran dan saling terbuka kini tdk ada lgi rahasia antara kalian senja juga alfa ,makasih kak santi udh up lgi sampai q bca nya tgh mlm🙏🥰🥰
Agnezz: iya kubaca sambil ngantuk tengah malam, baru koment pagi🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!