NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Kamu miliku, Aura

Aura tidak menunda waktu satu detik pun. Dengan jemari yang masih bergetar dan jantung yang bertalu liar, ia memeluk jaket milik Fadil rapat-rapat lalu bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Setiap langkah kakinya terasa berat, didorong oleh kepanikan dan sisa-sisa desiran aneh dari kontak fisik yang baru saja terjadi di sofa.

"Sadarlah Aura... Sadarlah..."

Sementara itu, Fadil mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu menatap telapak tangannya sendiri yang masih menyisakan kehangatan tubuh Aura.

Perasaan bersalah, bayang-bayang penolakan halus Aura saat memalingkan wajah, serta gejolak hasrat yang belum sepenuhnya padam berkecamuk hebat di dalam dadanya.

Ia menghela napas panjang untuk menguasai emosinya, kemudian berdiri dan berjalan menuju garasi untuk mengambil dua kantong plastik belanjaan berukuran besar yang masih tertinggal di kursi belakang mobil sedan hitamnya.

Ia lalu membawa kantong-kantong itu ke dapur, dan meletakkannya di atas konter marmer yang dingin.

Saat membuka gulungan plastik dan mengeluarkan reaches barang belanjaan, mata Fadil tertumpu pada tumpukan daging sapi segar, fillet ikan gurame, kemasan es krim stroberi, susu murni, dan kotak-kotak sayuran organik.

Pria itu menyadari jika barang-barang sensitif ini tidak mungkin dibiarkan membusuk di luar tanpa dimasukkan ke dalam lemari es.

Dengan gerakan canggung, Fadil mulai memisahkan bahan makanan segar dari bumbu-bumbu dapur kering.

Sementara di lantai atas, Aura berdiri di ambang pintu kamar tidurnya. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet tegap Fadil di bawah sana.

Dari balik pembatas lantai dua, ia memperhatikan bagaimana jemari suaminya yang biasa memegang pena mahal dan dokumen direksi kini tampak bingung memegang bungkusan plastik daging dan wadah es krim.

Rasa tidak tega dan naluri alaminya sebagai seorang istri merobohkan benteng gengsi Aura. Ia tidak bisa membiarkan Fadil mengerjakan pekerjaan dapur itu sendirian di larut malam begini.

"Sangat keterlaluan jika kamu membiarkan Mas Fadil melakukannya, Aura...."

Aura menghembuskan napasnya, merapikan gaunnya, lalu melangkah turun kembali menapaki anak tangga menuju area dapur.

Langkah kaki halus Aura memecah kesunyian dapur hingga membuat Fadil menoleh dan menghentikan gerakannya yang sedang memegang kotak susu.

Matanya menatap kedatangan Aura dengan sedikit terkejut.

"Kenapa belum tidur?" tanya Fadil dengan suara berbariton rendah yang sangat pelan.

"Biar aku bantu, Mas," sahut Aura, tanpa memandang langsung ke mata Fadil.

Ia kemudian mendekati konter dapur, lalu mengambil alih kantong plastik yang berisi sayuran. "Daging dan ikan harus masuk ke freezer bagian atas, kalau sayuran ada wadah khususnya di rak paling bawah."

"Biar aku yang bagian freezer," ujar Fadil.

Tanpa banyak bicara, mereka mulai membereskan barang belanjaan tersebut dengan telaten.

Keduanya memilih untuk tenggelam dalam kesibukan masing-masing demi menutupi kecanggungan yang masih menyelimuti udara di antara mereka. Keheningan malam pun hanya diisi oleh suara gemerisik kantong plastik dan denting halus wadah kaca yang ditata.

Namun, karena bekerja dalam jarak yang teramat dekat, mereka tak bisa menghindari kontak fisik yang beberapa kali terjadi.

Seperti halnya saat Aura hendak meraih kotak bumbu impor di atas meja, tangannya secara tidak sengaja beradu dengan jemari Fadil yang juga berniat menyambar barang yang sama.

Sret.

Kulit mereka bersentuhan seketika. Sengatan hangat yang familier menyetrum saraf keduanya. Aura menyentak tangannya sedikit ke belakang, dan pipinya pun seketika bersemu merah.

"Maaf..." gumam Fadil, yang menarik tangannya seraya berdeham pelan untuk menetralkan rasa salah tingkahnya.

"I-iya, Mas... tidak apa-apa," bisik Aura, sambil meremas pinggiran gaunnya.

Mereka pun melanjutkan pekerjaan dengan ritme yang lebih lambat dan penuh kehati-hatian. Hingga akhirnya, giliran bungkusan terakhir, yakni dua wadah es krim besar rasa stroberi.

Aura membuka pintu kulkas lebar-lebar, seraya membungkukkan sedikit tubuhnya untuk merapikan rak bagian atas freezer agar dua wadah es krim itu bisa muat di dalam.

"Biar aku yang masukkan," ujar Fadil seraya melangkah mendekati posisi Aura dari samping.

"Tidak usah, Mas, ini sudah pas tempatnya—"

Aura hendak berbalik dan menatap Fadil untuk menjelaskan posisi wadah tersebut. Namun, ia tidak memperhitungkan betapa dekatnya posisi Fadil yang berdiri tepat di samping belakangnya.

Saat tubuh Aura berputar, kakinya tersangkut pada sudut pintu kulkas yang terbuka.

"Awas!" seru Fadil refleks.

Fadil menyambar pinggang Aura dengan kedua tangannya, dan menarik tubuh wanita itu dengan cepat ke arah dadanya untuk mencegahnya terjatuh dan membentur lantai marmer.

Di saat yang bersamaan, sapuan tubuh Aura yang hilang keseimbangan justru membuat piring porselen kecil di tepi konter tersenggol dan pecah menghantam lantai tepat di samping kaki mereka.

PRANG!

Bunyi pecahan porselen yang menggelegar di tengah kesunyian malam mengejutkan mereka berdua.

Refleks ketakutan membuat Aura menjerit pelan dan makin merapatkan tubuhnya ke dada bidang Fadil.

Sementara Fadil, dipicu oleh dorongan protektif yang luar biasa, ia makin memperketat dekapan tangannya di pinggang Aura, lalu mengangkat tubuh mungil itu sedikit menjauh dari pecahan kaca di lantai.

Guncangan adegan itu membawa mereka pada posisi yang terkunci rapat di sudut ruang dapur yang temaram.

Aura spontan menengadah dengan napas yang terengah-engah, sementara kedua tangannya mencengkram kuat bahu tegap Fadil yang kini menunduk, sambil mendekap erat pinggang dan punggung Aura.

Pandangan mata mereka beradu kembali dalam jarak yang sangat dekat.

Pandangan Fadil mengunci bibir merah Aura yang sedikit terbuka dan bergetar. Didorong oleh hasrat lelakinya, Fadil memiringkan kepalanya dan merapatkan bibirnya ke bibir Aura.

Cup?

Ciuman itu pun mendarat dengan sempurna.

Aura tersentak hebat, matanya membelalak untuk sepersekian detik saat merasakan kehangatan dan kelembutan bibir Fadil yang menempel lekat melingkupi bibirnya.

Kata hatinya mengatakan untuk menolak, namun desakan rasa cinta, kehangatan dekapan Fadil, serta kepasrahan jiwanya membuat seluruh pertahanan dirinya luruh.

Aura yang seakan tak berdaya kini menutup kedua matanya dengan perlahan hingga terpejam rapat. Jemari tangannya yang semula mencengkram bahu Fadil kini meluncur naik, dan melingkar pasrah di leher pria itu, lalu membalas ciuman itu.

Cup! Cup!

Ciuman balasan dari Aura membuat gejolak di dada Fadil makin membara. Pergulatan ciuman di antara mereka pun berlangsung kian panas dan bergelora.

Fadil menuntut dan memberi kehangatan di saat yang sama, mengecap manisnya bibir wanita yang kini telah sepenuhnya menguasai hatinya.

Tangan Fadil yang kokoh tak lagi tinggal diam. Jemarinya menyusuri lekuk tubuh Aura, bergerak lembut dari pinggang, menelusuri tulang punggung, hingga merapatkan seluruh dada Aura hingga menempel di dadanya.

"Ahhh..." Desahan halus dan pasrah terlepas dari celah bibir Aura di sela-sela ciuman mereka, hingga membuat gairah Fadil semakin terbakar.

Fadil melepaskan tautan bibir mereka selama sepersekian detik hanya untuk meraup napas, lalu kembali menyesap bibir Aura dengan lebih liar.

"Mas... Fadil..." bisik Aura.

"Kamu milikku, Aura... sepenuhnya milikku."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
iya mas Fadil, kamu juga milikku mas😂😂😂
Aurora: betul bangetttt 😅
total 11 replies
sunaryati jarum
Cie- cie mulai romantis nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!