NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. Bunga Salju dan Racun

Tiga hari sebelum pertandingan semifinal dimulai, seluruh Gunung Hua diliputi oleh suasana yang tegang seperti tali busur yang ditarik sampai batasnya, karena tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa nama Tang Hyun akan bertahan sampai sejauh ini, seorang murid yang bahkan tidak masuk dalam daftar seratus besar sebelum turnamen dan yang sekarang sudah mengalahkan murid inti Sekte Pedang Langit dan juga Mutiara Pedang Klan Nangong, dua nama yang seharusnya tidak mungkin bisa disentuh oleh seseorang dari Klan Tang kecuali dengan cara curang dan kotor.

Namun yang lebih membuat orang gelisah adalah lawannya di babak semifinal, Baek Seolhwa, Bunga Salju Emei, wanita yang sejak usia lima belas tahun sudah dijuluki sebagai pedang tercepat di generasi muda, yang Qi-nya sedingin es dan setenang danau di puncak gunung, dan yang sudah memenangkan tiga turnamen besar tanpa pernah terluka sedikit pun, sehingga pertarungan ini bukan lagi sekadar pertandingan antara dua individu, melainkan pertarungan antara ideologi, antara cahaya yang murni dan racun yang tersembunyi, antara kehormatan yang dijunjung tinggi oleh sekte ortodoks dan kelangsungan hidup yang diperjuangkan oleh mereka yang hidup di bayang-bayang.

Tang Hyun menghabiskan tiga hari itu tidak di tempat tidur, meskipun lukanya di perut belum sepenuhnya sembuh, melainkan di halaman belakang penginapan Klan Tang, berlatih di bawah pengawasan Tang So-yeon yang lebih kejam dari biasanya, karena wanita itu tahu bahwa jika Tang Hyun masuk ke arena dengan setengah tenaga, maka dia tidak akan keluar hidup-hidup.

"Baek Seolhwa tidak akan memberimu waktu untuk bernapas," kata Tang So-yeon sambil melemparkan jarum ke arah Tang Hyun tanpa peringatan, dan setiap jarum itu harus dia tangkis atau dia hindari, "dia akan mengakhiri pertarungan dalam sepuluh detik pertama. Jika kau bisa bertahan sampai detik kesebelas, maka kau punya peluang."

"Bagaimana caranya?" tanya Tang Hyun sambil terengah-engah, tubuhnya penuh goresan kecil dari latihan.

"Dengan membuat tubuhnya sendiri menjadi racun," jawab Tang So-yeon datar, "darahmu sudah cukup kuat. Sekarang kau harus belajar membuatnya keluar tanpa harus melukai dirimu sendiri."

Malam sebelum pertandingan, Tang Hyun tidak bisa tidur, dia duduk di atap dan menatap puncak Gunung Hua yang tertutup salju, dan di kejauhan dia bisa melihat lentera dari paviliun Emei yang masih menyala, karena dia tahu Baek Seolhwa juga tidak tidur, dia pasti sedang bermeditasi, mengosongkan pikirannya, mempersiapkan diri untuk pertarungan yang menurut semua orang sudah bisa diprediksi hasilnya.

Pagi hari tiba dengan cepat, dan Arena Pertama penuh sesak bahkan dua jam sebelum pertandingan dimulai, karena semua orang ingin melihat apakah "Anak Racun" bisa menumbangkan "Bunga Salju", dan taruhan yang dipasang di seluruh kamp sudah mencapai jumlah yang gila, delapan banding satu, semua orang bertaruh pada Baek Seolhwa.

Tang Hyun berjalan masuk dengan langkah pelan, jubah ungu gelapnya sudah dicuci bersih tetapi masih ada bekas darah lama di ujungnya yang tidak bisa hilang, dan di wajahnya tidak ada ekspresi, hanya ketenangan yang menakutkan, ketenangan seseorang yang sudah pernah mati sekali dan tidak takut mati untuk kedua kalinya.

Di seberang arena, Baek Seolhwa berdiri seperti patung es, mengenakan jubah putih dari Sekte Emei yang berkibar tertiup angin, rambut hitamnya diikat rapi, dan di tangannya ada pedang panjang bernama "Embun Musim Dingin" yang bilahnya memantulkan cahaya biru pucat, pedang yang dikatakan bisa membekukan darah musuh hanya dengan menyentuhnya.

"Kau," kata Baek Seolhwa ketika mereka berdua berdiri tiga langkah terpisah, suaranya jernih dan dingin, "kau adalah orang yang mengalahkan Nangong Yeon."

"Ya," jawab Tang Hyun singkat.

"Aku tidak suka Klan Tang," lanjut Baek Seolhwa, "kalian menggunakan cara-cara yang tidak terhormat, dan kalian mencemari dunia murim dengan racun."

Tang Hyun mengangguk, "Aku tahu."

"Lalu kenapa kau masih bertarung?"

"Karena kalau aku berhenti, aku akan kembali menjadi tidak terlihat," jawab Tang Hyun, dan itu adalah kalimat paling jujur yang dia ucapkan di arena.

Baek Seolhwa terdiam selama beberapa detik, lalu dia mengangkat pedangnya, "Baiklah. Aku akan mengakhiri ini dengan cepat."

Wasit mengangkat tangan, dan seluruh arena menahan napas.

"Mulailah!"

Kata itu belum selesai, Baek Seolhwa sudah bergerak, dan kecepatannya membuat mata manusia tidak bisa mengikuti, dalam satu kedipan dia sudah berada di depan Tang Hyun dan pedangnya menebas ke arah leher dengan jurus "Salju Turun dari Langit", sebuah teknik yang bisa membelah tiga orang sekaligus.

Tang Hyun tidak menghindar, dia tidak bisa, sehingga dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan, dia mengangkat kedua tangannya dan menyilangkannya di depan leher, dan pedang itu menghantam lengannya, memotong dalam-dalam sampai ke tulang, dan darah langsung menyembur keluar.

Namun darah itu bukan merah biasa, melainkan merah kehitaman yang mengeluarkan asap, dan ketika darah itu menyentuh bilah pedang Baek Seolhwa, bilah itu langsung mengeluarkan suara mendesis dan menjadi kusam.

Baek Seolhwa terkejut dan mundur, "Racun di dalam darahmu?"

"Ya," jawab Tang Hyun sambil memegangi lengannya yang terpotong, rasa sakitnya luar biasa, tetapi dia tidak menjerit, "sejak aku masuk Klan Tang, aku sudah mengubah darahku. Setiap tetesnya adalah racun."

Pertarungan dimulai dengan sungguh-sungguh setelah itu, dan Baek Seolhwa tidak lagi menahan diri, dia menyerang dengan seluruh kekuatannya, setiap tebasan membawa Qi dingin yang membuat udara di sekitar arena menjadi beku, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak es di tanah batu.

Tang Hyun hanya bisa bertahan, dia berlari, menghindar, berguling, dan setiap kali dia terluka, darahnya akan menyembur dan memaksa Baek Seolhwa untuk mundur karena jika racun itu mengenai kulitnya, maka tangannya akan mati rasa.

Lima menit berlalu, dan keduanya sudah terluka, Baek Seolhwa memiliki beberapa goresan kecil di lengan dan pipinya yang berwarna ungu karena terkena percikan darah Tang Hyun, sementara Tang Hyun sudah penuh luka, jubahnya robek, dan napasnya berat.

"Berhenti," kata Baek Seolhwa tiba-tiba, "ini tidak ada gunanya. Kau tidak akan bisa menyentuhku."

"Mungkin," jawab Tang Hyun sambil menyeka darah dari mulutnya, "tapi aku juga tidak akan kalah."

Dan dia menyerang.

Bukan dengan pedang, bukan dengan kipas, tetapi dengan tubuhnya sendiri, dia berlari ke arah Baek Seolhwa dan memeluknya, sebuah gerakan yang tidak terduga dan tidak terhormat, dan pada saat yang sama dia memecahkan kantong racun di pinggangnya, melepaskan kabut ungu pekat yang langsung menyelimuti mereka berdua.

"Gila!" teriak penonton, "Dia bunuh diri!"

Baek Seolhwa mencoba mendorongnya, tetapi sudah terlambat, karena racun itu sudah masuk ke paru-parunya, dan dia bisa merasakan Qi-nya menjadi kacau dan tangannya menjadi lemah.

"Kau..." bisiknya dengan marah, "kau rela mati bersamaku?"

"Tidak," jawab Tang Hyun dengan suara pelan, "aku hanya rela terluka bersamamu."

Dan dia menekan satu titik di leher Baek Seolhwa dengan jarinya, titik yang dia pelajari dari Tang So-yeon, titik yang bisa melumpuhkan Qi seseorang selama beberapa detik jika ditekan dengan racun.

Detik itu cukup.

Tang Hyun melepaskannya dan mundur, sementara Baek Seolhwa terhuyah-huyah, lututnya lemas, dan pedangnya jatuh ke tanah.

Seluruh arena terdiam, karena tidak ada yang percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.

Wasit berlari dan memeriksa kondisi Baek Seolhwa, lalu dia mengangkat tangan Tang Hyun dengan ragu, "Pemenangnya... Tang Hyun dari Klan Tang!"

Keheningan, lalu ledakan, teriakan, sumpah serapah, dan ada juga beberapa orang yang bertepuk tangan, karena mereka baru saja menyaksikan hal yang tidak mungkin, seorang murid Klan Tang mengalahkan Bunga Salju Emei.

Tang Hyun jatuh berlutut tepat setelah itu, karena dia juga terkena racunnya sendiri, dan penglihatannya gelap, dan hal terakhir yang dia dengar adalah suara Tang So-yeon yang berteriak namanya.

Ketika dia bangun, sudah dua hari kemudian, dan dia berada di kamar yang lebih besar, dengan tabib dari tiga sekte berbeda duduk di sekelilingnya, berdebat tentang bagaimana cara menetralkan racun di tubuhnya tanpa membunuhnya.

Tang Ling duduk di sampingnya dan menangis, "Kau bodoh! Kenapa kau melakukan itu! Kau hampir mati!"

Tang Hyun ingin tertawa, tetapi tenggorokannya sakit, sehingga dia hanya mengangkat tangan dan menepuk kepala Tang Ling pelan.

Pintu terbuka, dan Tang So-yeon masuk, wajahnya lebih pucat dari biasanya, dan di tangannya ada mangkuk berisi sup.

"Kau gila," kata Tang So-yeon langsung, "tidak ada orang waras yang akan menggunakan dirinya sendiri sebagai bom racun."

"Tapi berhasil," jawab Tang Hyun lemah.

Tang So-yeon duduk di samping tempat tidurnya dan menyuapinya sup, sebuah tindakan yang membuat semua tabib di ruangan itu terdiam, karena Nona Tang So-yeon tidak pernah melakukan hal seperti ini untuk siapa pun.

"Final," kata Tang So-yeon setelah selesai menyuapinya, "lawanmu adalah murid utama Gunung Hua, Jang Mu-won. Dia disebut sebagai pedang terkuat di generasi ini."

Tang Hyun menutup mata, "Kapan?"

"Tiga hari lagi."

Tang Hyun mengangguk, "Aku akan siap."

Tang So-yeon menatapnya lama, "Kenapa? Kenapa kau memaksakan diri sejauh ini?"

Tang Hyun membuka mata dan menatapnya, "Karena aku tidak ingin kembali menjadi orang yang hanya bisa menonton dari jauh. Karena aku... aku ingin berdiri di samping orang yang penting bagiku."

Tang So-yeon tidak menjawab, dia hanya mengambil tangan Tang Hyun dan menggenggamnya sebentar, sebuah gerakan kecil yang tidak dilihat siapa pun, tetapi cukup untuk membuat jantung Tang Hyun berdetak lebih cepat dari biasanya.

Berita tentang kemenangannya menyebar ke seluruh Jianghu dalam satu malam, dan sekarang tidak ada yang berani menyebutnya "anak luar" lagi, mereka menyebutnya "Anak Racun", "Monster Klan Tang", dan beberapa bahkan mulai menyebutnya sebagai kandidat "Sepuluh Naga Muda" yang baru.

Malam sebelum final, Tang Hyun duduk sendirian di halaman, dan langit dipenuhi bintang.

Langkah kaki terdengar, dan Baek Seolhwa datang, masih dengan perban di lengan dan pipinya.

"Kau," katanya, "kenapa kau melakukan itu?"

"Melakukan apa?" tanya Tang Hyun.

"Menyakiti dirimu sendiri hanya untuk menang."

Tang Hyun tersenyum tipis, "Karena aku sudah terbiasa sakit. Dan karena... aku tidak ingin mengecewakan orang yang percaya padaku."

Baek Seolhwa terdiam lama, lalu dia menghela napas, "Aku masih membencimu. Tapi aku menghormatimu."

Dia berbalik dan pergi, meninggalkan Tang Hyun sendirian.

Besok adalah final, dan di ujung arena menunggunya Jang Mu-won, murid utama Gunung Hua, dengan pedang yang sudah memotong ribuan musuh.

Dan di belakangnya, Klan Tang, Tang So-yeon, dan semua orang yang pernah meremehkannya sedang menonton.

Tang Hyun mengepalkan tangannya, dan di dalam darahnya, racun itu mendidih.

"Final," gumamnya, "ini pertarungan terakhirku."

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!