NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:61.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Permintaan penceraian

Humaira menatap pantulan dirinya didepan cermin, jemarinya bergerak cekatan mengikat rambut ikalnya yang lumayan panjang. Seragam dinas putihnya sudah rapi, siap untuk memulai tugas di rumah sakit.

Sejak resmi menjadi istri Dokter Zidan selama tiga minggu lalu, ada satu kewajiban baru yang mau tidak mau harus ia jalani: menyiapkan setelan kemeja, celana kain, dan jas dokter untuk pria yang berstatus suami di atas kertasnya itu.

Ceklek.

Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka.

Zidan keluar dengan rambut yang masih basah, melangkah menuju ruang ganti. Pria berusia 32 tahun itu mengenakan pakaian yang telah disiapkan Humaira.

Tak selang lama, ia keluar, berdiri cukup dekat di samping Humaira untuk menyisir rambutnya.

Jarak mereka terlihat dekat, tapi sebenarnya ada dinding tak kasat mata di antara mereka yang begitu tebal menjadi penghalang keduanya.

Tiga minggu berbagi kamar tak lantas menipis jarak diantara mereka. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada sentuhan lembut.

"Dokter, boleh kita bicara sebentar?" suara Humaira memecah sunyi. Matanya menatap bayangan Zidan yang terpantul melalu cermin.

Panggilan itu tetap sama—sebuah gelar formal yang memagari hubungan mereka sejak masih sebatas atasan dan bawahan. Humaira tahu, siapa dirinya. Tahu bahwa posisinya di rumah itu hanyalah seorang istri pengganti, dan pernikahan yang berdiri di atas keterpaksaan itu tidak dirancang untuk bertahan lama.

Zidan menghentikan gerakan sisirnya. Pria berwibawa yang menjabat sebagai direktur, dokter, dan pemilik rumah sakit itu menatap balik bayangan Humaira di cermin dengan tenang.

"Tentu saja. Ada apa, Humaira?" Jawab Zidan.

Humaira memutar tubuhnya. Tangan kanannya merogoh laci meja rias, menarik selembar kertas bertuliskan tangan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari, lalu mengulurkannya.

Zidan melirik kertas tersebut, menyimpan sisirnya dan menerima lembaran itu dengan alis terpaut halus.

Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan di atasnya—lengkap dengan tanda tangan Humaira yang tertera rapi—tatapan tampak berubah.

Belum sempat pria itu mencerna. Kembali terdengar suara wanita di sampingnya.

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai. Tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan pernikahan ini," tutur Humaira. Suaranya datar, tanpa emosi, tapi terdengar tegas yang tak ingin ditawar.

Zidan mengangkat pandangan menatapnya. Tak ada amarah, tetapi aura wibawanya yang biasa menenangkan kini berubah seperti ada tekanan. Pria itu kembali beralih melihat kertas di tangannya, lalu kemudian menatap manik mata Humaira lagi.

"Kapan kau menyiapkan ini?" tanya Zidan, kalimat itu terdengar menuntut penjelasan.

"Sejak hari pertama pernikahan kita," balas Humaira tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

Sunyi...

Zidan melipat kertas itu perlahan, menggenggamnya rapat. "Nanti saja kita bahas masalah ini. Pernikahan kita baru berjalan tiga minggu. Keputusan yang tergesa-gesa hanya akan memicu kekecewaan besar bagi Bunda dan Ayah. Kau juga pasti tahu, bagaimana dampaknya bagi keluarga lainnya."

Humaira menghela napas halus—sebuah helaan napas yang menyimpan luka mendalam yang selama ini ia bungkam rapat.

"Saya mengerti kekhawatiran Anda terhadap nama baik keluarga, Dokter Zidan. Namun, sekali saja... tolong pertimbangkan perasaan saya. Jika hubungan ini dipaksakan terus berjalan, sayalah yang menjadi korban di dalamnya."

Sunyi...

Keheningan kembali mencekam. Zidan bungkam, menantikan kelanjutan kalimat wanita di hadapannya.

Humaira tersenyum miris dan menunduk sedikit.

"Sepanjang hidup, saya sering mengalah dan menuruti kehendak orang lain. Saya sadar siapa diri saya—seorang gadis yang lahir dari istri simpanan, yang setiap detik dicap sebagai 'anak haram' oleh keluarga saya sendiri," lanjut Humaira dengan nada yang begitu tenang namun menusuk.

"Status saya memang lemah, tapi saya mohon... jangan manfaatkan keadaan saya untuk kepentingan Anda. Sekali ini saja, turuti permintaan saya." Tanpa menunggu balasan, Humaira meraih tas kerjanya dan melangkah pergi.

Langkah kakinya terdengar teratur di lantai marmer, meninggalkan Zidan yang berdiri mematung dalam hening, menggenggam erat surat cerai yang ada ditangannya.

1
Jamayah Tambi
Lambat sangat kau nak becerai.Setelah 26 tahun bari sadar.
Jamayah Tambi
Klu tuada Elin tak senyum baca cerutanya.
Jamayah Tambi
Semua ditangan mu.Tp aku rasa yg dilakukan oleh Zidan pada mu jangan.Nanti kamu malu.Zidan melakukanya bukan sengaja.Ini kerana ubat perangsang.Dengan Melodi sendiri pun Zidan tak pernah sentuh
Jamayah Tambi
Apa ya
Jamayah Tambi
Kau tak tau lagi anak siapa dalam perut Melodi
Jamayah Tambi
Bagus Zidan tak ,yg kau bagi kenapa.Kan buat hal lagi.Anak itu pun dah tak ada.
Jamayah Tambi
Kalah anak menteri
Jamayah Tambi
Penyesalan memangbterlambat.Tak bole diperbaiki lagi.Uruslah hidup masing2.
Jamayah Tambi
Kalau ada sambal ayam gepuk lagi bagus.Tenyeh ke mulutnya.
Jamayah Tambi
Baru kau tau.Sudah puas dihina selama 25 tahun. Sekarang giliran membalasnya.
Jamayah Tambi
Lelaki kalu terikat dgn masa lalu,memang menyakitkan hati.Ada berlian kau buang ,kau ambil kaca.Sekarangbrasakan.Bila Humaira suruh memilih kau tak reti nak pilih.Sekarang hadap je bini kau
Aysah Meta
Umakk aee..di gantungnya lagi kita😭
bunda Qamariah: emng belum kebuka sayng 🤣🤣🤣
total 3 replies
Jamayah Tambi
Keguguran ke Humaira
Jamayah Tambi
Kenapa tunggu 6 bulan
Syakirah Dzaky
Koq aku lama2 kasian sama Zidan yah . Smoga setelah semua terbukti kebenaran nya , prglah sejauh mungkin Zidan , smoga di tempat yg baru nanti kamu akan menemukan perempuan yg baik dan tulus
Ade Chubi: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
pasti hsil tes negatip kalau byi nya melodi bkn ank mu zidan
Jamayah Tambi
Nibyg susah ni.
Jamayah Tambi
Sah2 Pak Pengacara ni memang mencintai Humaira.Sebab itu dia mengutit
Jamayah Tambi
Bagus adubje ke Akva,ada KDRT oleh Dr Zidan.Lagi midah proses cerai.
Jamayah Tambi
Zidan toling buka CCTV di ruang kerja mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!