kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kabar penyegelan Anggun Beauty meledak seperti bom di dalam rumah mewah itu. Berita pemeriksaan BPOM dan penyitaan rekening atas nama Anggun ditayangkan berulang-ulang di layar televisi ruang keluarga, menampilkan wajah Anggun yang tertutup rapat oleh jaket saat digiring petugas.
Muka Faris memerah padam. Urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang membakar dada. Uang miliaran rupiah dari kas perusahaan yang dulu ia suntikkan untuk membangun salon megah itu, modal utama hasil dari menipu mantan istrinya. ia harapkan bisa memberi keuntungan jangka panjang, kini lenyap tak berbekas hanya dalam hitungan jam. Padahal salon itu baru berjalan beberapa tahun dan sedang berada di puncak kejayaannya.
PRANGGG!
Satu cangkir keramik mahal melayang dan hancur berkeping-keping menghantam dinding, tepat saat Anggun baru saja melangkah masuk ke ruang tamu dengan wajah pucat dan mata bengkak setelah dipulangkan dengan jaminan.
"Wanita bodoh!" bentak Faris dengan suara menggelegar hingga Hazel dan Hadin tersentak kaget di sofa. "Apa yang kamu lakukan, Anggun?! Miliaran uang perusahaan aku tanam di salon itu! Uang lima miliar bonus dari Tuan Jafar juga kamu masukkan ke sana! Sekarang semuanya hangus! Dibekukan negara!"
"Faris... dengarkan aku dulu..." panggil Anggun dengan suara bergetar, meremas tangannya yang gemetar ketakutan. "Aku nggak tahu kenapa petugas bisa datang! Ada yang membocorkan data rahasia salon ke dinas pajak dan BPOM! Aku dijebak, Faris!"
"Dijebak oleh siapa?!" sembur Faris, melangkah mendekat dan menuding wajah istrinya dengan telunjuk gemetar. "Kamu yang ceroboh! Kamu yang tamak pakai bahan ilegal dan sembunyikan uang di sana! Dengar ya, Anggun, gara-gara kebodohanmu ini, nama baik keluarga kita hancur! Perusahaanku bisa ikut terseret diperiksa dinas perpajakan!"
Hazel yang tak tahan melihat ibunya dibentak mencoba bersuara. "Papa... jangan marahi Mama terus! Mama kan juga korban...."
"Diam kamu, Hazel!" potong Faris dengan tatapan membunuh. "Kalian berdua cuma tahu menghabiskan uang! Sekarang salon itu gulung tikar, uang lima miliar melayang, dan kita tidak punya simpanan cadangan lagi!"
Pertengkaran hebat itu bergema ke seluruh sudut rumah. Anggun menangis histeris, menyalahkan keadaan, sementara Faris terus memaki tanpa ampun. Keretakan dalam rumah tangga yang dulu dibangun di atas penderitaan orang lain itu kini mulai terbuka lebar.
Di lantai atas, berdiri di balik bayangan remang-remang koridor, Nina menyaksikan kekacauan di ruang tengah tersebut.
Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, namun di matanya terpancar kilat kepuasan yang teramat dingin. Senyum tipis yang amat halus terukir di bibirnya saat melihat Faris dan Anggun saling mencakar dan menyalahkan.
“Dulu kalian tertawa di atas air mata Ibuku,” batin Nina sembari merapikan lengan bajunya. “Sekarang, nikmatilah kehancuran yang kalian ciptakan sendiri.”
____
Jauh di benua Eropa, di dalam ruang kerja privat bernuansa gelap dan mewah, Jafar duduk di balik meja kerjanya. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah tiga layar monitor yang menyala terang. Kamera pengawas berteknologi tinggi terus mengirimkan data tanpa henti secara real-time.
Jafar mengusap dagunya yang di tumbuhi bulu-bulu , Alis tebalnya bertaut tajam. Pria yang terkenal dingin dan penuh perhitungan itu mulai merasa ada yang membingungkan dari sosok gadis desa yang baru dinikahinya secara siri.
Melalui rekaman CCTV, ia menyaksikan sendiri bagaimana Nina berjalan pincang seperti bebek untuk mengelabuhi keluarga tirinya, lalu berubah drastis menjadi sangat dingin, anggun, dan tegap begitu melangkah masuk ke kamarnya. Ia menatap lekat-lekat pancaran mata Nina yang berkilat puas saat mendengar kabar penyegelan salon milik Anggun.
Bahkan lewat sadapan ponsel milik Nina, Jafar mendengar dengan sangat jelas saat Nina secara terbuka membeberkan rencana pembalasan dendamnya kepada Tania yang mungkin sahabatnya.
"Bukan gadis desa biasa..." gumam Jafar dengan suara beratnya, terpesona sekaligus curiga dengan topeng berlapis yang dimainkan istrinya.
Namun, ada satu percakapan sadapan telepon yang membuat Jafar terus memikirkannya. Ia teringat kembali kata-kata sahabat Nina yang diucapkan dengan sangat serius saat menasihati Nina.
“Jadilah seperti Sayyidatuna Asiyah... Istri Firaun. Beliau hidup di samping penguasa paling kejam tapi tetap menjaga kehormatan suaminya...”
Jafar yang sejak kecil tumbuh di lingkungan bisnis yang keras dan jauh dari agama sama sekali tidak paham dengan analogi tersebut. Ia memiringkan kepalanya, memegang mouse, lalu membuka mesin pencari di laptopnya. Jemarinya yang berotot mengetikkan dua kata kunci....Firaun dan Asiyah.
Mata Jafar menyipit tajam membaca artikel-artikel sejarah yang muncul di layarnya. Pria itu membaca kalimat demi kalimat dengan penuh ketelitian... Firaun, penguasa paling takabur, kejam, dan raja zalim yang membantai bayi laki-laki serta mengaku dirinya sebagai Tuhan...
Seketika, sepasang mata tajam Jafar membelalak sempurna. Urat di pelipisnya menegang hebat. Napasnya berubah menjadi berat dan geram.
"Firaun?!" desis Jafar dengan nada tidak terima yang amat sangat.
Pria yang ditakuti oleh seluruh pengusaha kota itu mendadak merasa harga dirinya diinjak-injak. Wajahnya memerah panas. Ia tidak masalah dijuluki CEO dingin, penguasa kejam, atau monster bisnis, tapi disamakan dengan raja zalim zaman purba yang mengaku Tuhan?!
"Berani-beraninya gadis itu dan sahabatnya menyamakan aku dengan Firaun?!" pangkas Jafar dengan nada geram, tangannya mencengkeram tepi meja hingga kayu jati mahal itu berderit.
Dako yang berdiri di sudut ruangan refleks memasang posisi siaga, mengira ada ancaman bahaya atau serangan musuh bisnis di luar negeri. "Ada masalah, Tuan? Apakah ada pergerakan musuh yang mengancam Anda?"
Jafar menoleh perlahan pada asisten kepercayaannya. Tatapannya begitu tajam dan murka.
"Dako," panggil Jafar dengan suara menekan. "Menurutmu... apakah aku serakus dan sekejam Firaun?"
Dako membeku di tempatnya. Kedipan matanya melambat. Pria berbadan tegap itu membelalak bingung, sama sekali tidak siap mendapat pertanyaan sejarah agama di tengah-tengah rapat krisis internasional.
"M-maksud Tuan... Raja Mesir Kuno?" tanya Dako dengan suara bergetar dan polos, kepalanya mendadak pusing mencoba mencerna pertanyaan bosnya. Ia mengingat masa kecilnya waktu bersekolah di SD IT ... " Kalau tidak salah , Fir'aun adalah raja kejam yang mengaku sebagai Tuhan dan membunuh setiap anak laki-laki yang baru lahir..." gumamnya dalam hati. "T-tentu saja tidak, Tuan... Tuan Jafar kan... tidak pakai mahkota emas dan tidak mengaku Tuhan..."
"Bagus," potong Jafar dingin, kembali menatap layar monitor yang menampilkan wajah tenang Nina.
Di balik rasa geram dan kekesalan yang konyol itu, sudut bibir Jafar kembali terangkat tipis. Rasa penasaran dan gairahnya untuk segera pulang ke Jakarta justru makin membakar dadanya. Ia tidak sabar ingin menemui Asiyahnya dan menunjukkan bagaimana cara seorang Firaun menagih hak dan kewajiban seorang istri.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰