NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — MASA LALU RASYID

Malam yang dingin merayap perlahan melintasi kawasan Pesantren Al-Faruqi. Angin sepoi-sepoi meniup dedaunan mahoni di luar jendela kamar, membiaskan suara daun yang bergesek pelan beradu dengan derik jangkrik di kejauhan.

Di dalam kamar lantai dua, cahaya kuning temaram dari lampu tidur menyinari sudut-sudut ruangan.

Aurel duduk bersandar di kepala tempat tidur, menarik selimut katun hingga menutupi paha. Di sampingnya, Rasyid duduk bersila. Pria itu baru saja menyelesaikan zikir malamnya, mengenakan baju koko katun abu-abu lembut dan celana kain santai tanpa peci. Rambut hitamnya yang pendek tertata rapi, dan wajahnya tampak amat tenang, meski ada gumpalan emosi yang perlahan muncul di kedua matanya.

Sejak percakapan Aurel dengan Salma tadi siang, atmosfer di antara mereka telah bergeser. Tidak ada lagi benteng kecurigaan atau gengsi yang menegang. Yang ada hanyalah sebuah ruang jujur yang siap menampung segala cerita yang selama ini terkunci rapat.

"Salma sudah cerita banyak soal Mbak Nadia," bisik Aurel pelan, memecah keheningan kamar. Suaranya halus, penuh dengan rasa empati yang tidak dibuat-buat. "Tapi... kalau kamu mau cerita dari sudut pandangmu sendiri, aku siap dengerin, Rasyid."

Rasyid menatap jemari tangannya yang tertaut di paha. Pria itu menarik napas panjang, membiarkan udara malam mengisi dadanya sebelum mengembuskannya perlahan.

"Nadia adalah bagian dari tumbuh kembang saya," ujar Rasyid memulai kisahnya. Suaranya mengalun rendah, jernih, dan sangat jujur. "Sejak kecil, keluarga kami sudah sangat dekat. Bah Abdul dan almarhum Kiai Usman—ayah Nadia—adalah dua sahabat yang berjuang bersama membangun jaringan madrasah di Jawa. Karena itu, Nadia sering menginap di pesantren ini setiap liburan panjang."

Aurel menyimak dalam diam. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, memberikan kehangatan kehadirannya tanpa memotong.

"Dulu, saya membayangkan hidup saya sangat sederhana dan lurus," lanjut Rasyid seraya menatap lurus ke arah dinding kamar yang remang. "Saya belajar kitab, Nadia belajar hafalan Al-Qur'an. Kami tidak pernah berpacaran atau berkirim pesan yang melanggar syariat. Kami hanya sama-sama tahu bahwa ada ikatan janji tak tertulis antara Bah Abdul dan Kiai Usman untuk menyatukan kami setelah kami selesai menuntut ilmu."

"Kamu... mencintainya waktu itu?" tanya Aurel pelan, sebuah pertanyaan jujur yang kini terlontar tanpa diiringi rasa cemburu yang membakar.

Rasyid menoleh, menatap netra cokelat terang milik Aurel. Sebuah senyum tipis dan jujur terukir di bibirnya.

"Dulu, saya mengira rasa nyaman, rasa hormat, dan kepatuhan pada rencana orang tua adalah definisi dari cinta," jawab Rasyid. "Saya sangat menghormati Nadia. Beliau wanita yang amat berilmu, santun, dan punya cita-cita besar untuk pendidikan santri putri."

Rasyid jeda sejenak. Sorot matanya menerawang membayangkan kenangan empat tahun lalu.

"Sampai hari di mana berita dari Kairo itu sampai ke rumah ini," suara Rasyid merendah, menyisakan getaran duka yang sudah lama mengendap. "Nadia tidak pernah bercerita kalau beliau mengidap leukemia. Beliau menanggung rasa sakit itu sendirian di Mesir agar tidak mengganggu studi saya dan tidak membuat keluarga cemas. Saat beliau berpulang... saya tidak hanya kehilangan calon pendamping, Aurel. Saya kehilangan sahabat tempat saya berbagi mimpi sejak kecil."

Aurel merasakan tenggorokannya tersumbat. Rasa bersalah karena sempat menuduh Rasyid macam-macam pekan lalu kembali menyentil dadanya. Aurel mengulurkan tangannya pelan, melingkarkan jemarinya di atas punggung tangan Rasyid yang hangat.

"Maafkan aku ya... kemarin aku sempet kekanak-kanakan banget," bisik Aurel tulus.

Rasyid membalikkan telapak tangannya, menggenggam erat jemari Aurel di dalam cengkeraman tangannya yang kokoh.

"Kamu tidak salah, Aurel. Salasanya ada di saya yang tidak langsung jujur kepadamu," kata Rasyid lembut. "Kehilangan Nadia adalah pukulan terbesar dalam hidup saya waktu itu. Saya sempat mengurung diri, mempertanyakan takdir, dan merasa bahwa hati saya sudah tertutup untuk memulainya kembali dengan orang lain."

"Lalu... kenapa kamu akhirnya mau menerima perjodohan dari Pak Hamdan dan Bah Abdul?" tanya Aurel, menatap mata Rasyid dengan binar ingin tahu yang mendalam.

Rasyid menatap wajah Aurel erat-erat. Cahaya lampu temaram memantul di dalam matanya, memancarkan rasa kasih dan kejujuran yang begitu murni.

"Karena waktu Bah Abdul menunjukkan foto dan menceritakan sosok kamu," tutur Rasyid pelan, "saya melihat seorang perempuan yang sangat jujur pada dirinya sendiri. Kamu tidak berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk disukai. Kamu berani membela apa yang kamu yakini, meski dunia di sekitarmu menuntut kamu berubah."

Aurel tertegun. Pipinya mendadak terasa hangat oleh rona merah.

"Saya menerima pernikahan ini bukan karena ingin mencari pengganti Nadia," tegas Rasyid, jemarinya mengelus lembut punggung tangan Aurel. "Nadia adalah masa lalu yang indah yang sudah saya relakan dan saya lepas dengan doa. Tapi kamu... Aurel Nathania... kamu adalah takdir baru yang dikirimkan Allah untuk mengajari saya arti mengasihi manusia apa adanya."

"Masih ada rasa sakit kalau kamu ingat Mbak Nadia?" bisik Aurel lagi.

Rasyid tersenyum manis—sebuah senyuman lega yang amat lapang.

"Tidak ada lagi rasa sakit," jawab Rasyid mantap. "Karena kalau seseorang sudah memilih pergi memenuhi panggilan-Nya, kita harus belajar melepaskan dengan ikhlas. Dan ketika pintu itu tertutup, Allah membuka pintu baru yang jauh lebih indah... yaitu kamu."

Aurel menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum lebarnya yang tak sanggup ia bendung. Kata-kata Rasyid yang jujur dan bermartabat itu meruntuhkan sisa-sisa rasa tidak percaya diri di dalam dadanya.

Dulu, Aurel merasa kerdil jika dibandingkan dengan sosok Nadia yang hafal Al-Qur'an dan berilmu tinggi. Namun malam ini, di dalam kamar yang tenang ini, Rasyid menegaskan bahwa Aurel tidak perlu menjadi siapapun untuk dicintai. Rasyid mencintainya bukan karena kemiripan dengan masa lalu, melainkan karena Aurel adalah Aurel—dengan segala kepolosannya, kebebasannya, dan ketulusan hatinya.

"Kenapa kamu nanya soal Nadia, Aurel?" goda Rasyid tiba-tiba, intonasi suaranya berubah menjadi lebih ringan dan jahil.

Aurel mendongak cepat, menyenggol bahu Rasyid dengan paha seraya menaikkan sebelah alisnya. "Ya... cuma penasaran aja! Biar aku nggak dikira cemburu sama bayangan!"

Rasyid terkekeh pelan—suara tawa renyah yang amat lega meluncur dari tenggorokannya. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah gengsi istrinya yang kembali muncul.

"Baiklah, kalau cuma penasaran," balas Rasyid lembut.

Aurel bersandar pada bahu tegap Rasyid, membiarkan suaminya mengelus usap rambut bergelombangnya yang terurai. Di bawah pendar lampu kamar yang hangat, Aurel menatap langit-langit kamar dengan dada yang terasa begitu lapang.

Ia tidak mengerti lagi sejak kapan tepatnya perasaan ini berubah total. Namun satu hal yang pasti: rasa bersalah dan cemburu yang kemarin sempat mengaduk hatinya kini telah menguap tanpa sisa—berganti menjadi rasa sayang dan kepedulian yang mendalam pada pria berpeci hitam di sisinya ini.

Sebuah rasa nyaman yang kini tak lagi ingin ia bantah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!