NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - SUARA DARI DALAM SUMUR

Jejak kaki basah itu berhenti tepat di bibir sumur tua belakang balai desa.

Rini membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Di hadapannya, sumur itu menganga gelap seperti mulut raksasa yang siap menelan. Tutup kayunya yang sudah lapuk miring, setengah terbuka, dan dari celahnya keluar hawa dingin yang menusuk tulang, padahal malam itu tidak berangin sama sekali.

Jejak kaki itu... bukan jejak kaki biasa. Bentuknya panjang, jari-jarinya terlalu runcing, dan air yang menetes darinya berwarna kehitaman, bukan bening. Jejak itu masih basah, artinya apapun yang lewat di sini, baru saja lewat beberapa detik yang lalu.

"Siapa di sana?" Suara Rini hampir tidak terdengar. Ia sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar ingin mendapat jawaban.

Tidak ada yang menjawab. Hanya suara jangkrik yang tiba-tiba mendadak diam. Hening. Hening yang tidak wajar. Seolah seluruh desa mati itu menahan napas bersama Rini.

Tes... tes... tes...

Suara tetesan air dari dalam sumur. Pelan, teratur, menggema.

Rini memberanikan diri melangkah satu langkah lebih dekat. Senter kecil di tangannya yang ia pinjam dari posko KKN bergetar hebat. Cahayanya menyorot bibir sumur yang berlumut tebal. Lumutnya berwarna hitam kehijauan, dan di antara lumut itu, Rini melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Cakaran. Bekas cakaran kuku yang dalam, mengarah ke dalam sumur. Seolah seseorang berusaha keras untuk keluar, tapi ditarik kembali ke bawah.

Jantung Rini berdegup begitu kencang sampai terasa sakit. Ia teringat cerita Pak Lurah siang tadi. Pak Lurah bilang, jangan pernah mendekati sumur belakang balai desa setelah maghrib. "Itu bukan sumur air, Nduk. Itu sumur tumbal," kata Pak Lurah dengan wajah pucat.

Saat itu Rini dan teman-teman KKN lainnya hanya menganggap itu takhayul desa. Tapi sekarang...

"...tolong..."

Rini terlonjak kaget. Suara itu lirih, hampir seperti bisikan angin, tapi jelas terdengar berasal dari dalam sumur.

"...tolong... dingin... aku kedinginan..."

Itu suara perempuan. Suara yang sangat familiar. Rini memutar otak. Suara itu... suara itu mirip sekali dengan suara Maya, teman KKN-nya yang hilang dua hari lalu!

"Maya? Maya itu kamu?" Rini setengah berteriak, setengah menangis. Ia melupakan semua rasa takutnya. Maya adalah sahabatnya. Mereka berangkat KKN bersama dari kampus.

"...Rini... Rini... bantu aku..." Suara itu kini terdengar lebih jelas, menangis.

Tanpa pikir panjang, Rini berlari ke bibir sumur dan menyorotkan senternya ke bawah. Cahaya senter menembus kegelapan yang pekat.

Air di dalam sumur itu tidak seperti air biasa. Hitam. Pekat seperti oli. Tidak memantulkan cahaya sama sekali. Bau anyir yang tadi hanya samar, kini menyengat hidung, membuat Rini ingin muntah. Bau darah busuk bercampur bangkai.

Dan di tengah-tengah air hitam itu...

Rini melihatnya.

Sebuah wajah pucat. Rambut panjang basah menutupi sebagian wajahnya. Wajah itu mendongak, menatap tepat ke arah Rini. Matanya putih sepenuhnya, tanpa bola mata hitam. Bibirnya robek menyeringai lebar.

Itu bukan Maya. Itu bukan manusia.

Rini ingin menjerit, tapi suaranya tercekat. Kakinya lemas. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Wajah itu terus tersenyum, semakin lebar, semakin lebar, sampai rahangnya hampir terlepas.

Lalu, dari dalam air hitam, sebuah tangan pucat yang kurus dengan kuku-kuku panjang hitam perlahan-lahan terangkat ke atas. Mengarah kepada Rini. Memanggil.

"Sini... temani kami di bawah... dingin sekali di sini sendirian..."

Tiba-tiba Rini merasakan ada yang menyentuh bahunya dari belakang!

"ARGHHH!"

Rini menjerit sekeras-kerasnya dan terjatuh terduduk. Senter di tangannya terlepas, menggelinding, dan jatuh ke dalam sumur. PLUNG! Cahaya senter itu tenggelam dalam air hitam dan padam. Gelap total.

"Rini! Rini! Kamu kenapa?!"

Ternyata yang menyentuh bahunya adalah Bayu, ketua kelompok KKN mereka. Wajah Bayu panik, napasnya terengah-engah karena berlari.

"Bayu?!" Rini menangis histeris dan langsung memeluk Bayu erat-erat. Tubuhnya gemetar hebat.

"Aku dengar kamu teriak! Kamu ngapain di sini malam-malam?! Kan udah dibilang jangan ke sumur ini!" Bayu memarahi, tapi suaranya penuh kekhawatiran.

Rini tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menunjuk ke arah sumur dengan tangan gemetar.

Bayu menyalakan senter HP-nya dan menyorot ke dalam sumur. Kosong. Airnya memang hitam, tapi tidak ada wajah, tidak ada tangan. Hanya air yang tenang.

"Nggak ada apa-apa, Rin. Kamu halu karena kecapean kali," kata Bayu, mencoba menenangkan, meski wajahnya sendiri pucat.

"Tidak! Aku lihat! Ada perempuan di dalam! Dia bilang... dia bilang 'satu sudah masuk, tinggal empat lagi'!" Rini berteriak histeris.

Mendengar kalimat itu, wajah Bayu langsung berubah pucat pasi seperti kertas. Senter HP di tangannya sampai hampir jatuh.

"Kamu... kamu dengar itu juga?" bisik Bayu pelan, suaranya bergetar.

Rini mengerutkan kening. "Juga? Maksud kamu apa?"

Bayu menelan ludah. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang lain.

"Semalam... aku mimpi. Mimpi ada perempuan tua di balai desa. Dia duduk di pojokan sambil menghitung. Dia bilang... 'Satu sudah masuk sumur, tinggal empat lagi yang harus ikut. KKN ini tumbal terakhir...'"

Darah Rini seketika surut dari wajahnya. Satu sudah masuk. Mereka berlima yang KKN di desa ini. Maya sudah hilang dan dianggap masuk sumur. Tinggal empat lagi. Itu berarti... mereka berempat yang tersisa!

Dari dalam sumur yang gelap itu, tiba-tiba terdengar lagi suara tawa melengking. Bukan satu, tapi banyak. Tawa perempuan, anak kecil, dan laki-laki bercampur menjadi satu. Tawa yang berasal dari kedalaman yang tidak bisa dijangkau cahaya.

Bayu dan Rini saling pandang. Tanpa aba-aba, mereka berdua lari tunggang langgang meninggalkan sumur itu, kembali ke posko KKN.

Mereka tidak sadar, di bibir sumur yang mereka tinggalkan, sebuah jejak tangan basah berwarna hitam kini bertambah. Dan di dalam air hitam itu, cahaya senter Rini yang tadi tenggelam, menyala kembali sendiri di kedalaman, bergoyang pelan seperti ada yang memainkannya.

Malam itu, teror di Desa Mati baru saja dimulai.

1
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
Author Melda: heheh terimakasih kak sdh mampir👍
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kok saya malah ngerasa semakin seru ya kalo ada di tim mereka??? 🤭🤭🤭
Author Melda: Wkwk sama kak aku nulisnya aja keringetan 😭
Yaudah sini gabung tim KKN Desa Kalijatiny
Posisinya: divisi nganter makanan ke sumur jam 12 malam 🤝
Gaji: 1 nyawa wkwk
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sudah diduga... Pasti warganya keluar malam-malam...
Author Melda: Wkwk pinter banget nebaknya kak 😈
Tapi... yang keluar malam-malam itu bukan warganya doang...
Ada yang "nemenin" mereka juga 👀
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Eh, bentar-bentar... Si nenek itu bisa menjawab salam???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ini pihak kampusnya gak cari tahu dulu kah soal Desa Kalijatinya???
Author Melda: Bener kak 😭 itu juga yang jadi pertanyaan mahasiswa nya di cerita
Katanya sih "Desa tertinggal, butuh mahasiswa"
Padahal... ada udang di balik batu wkwk
Tunggu plot twist nya di bab selanjutnya yaa
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sumpah, baru BAB pertama aja, udah ngeri banget begini suasana Desa Kalijatinya. Terbayang jelas di imaninasi. Tapi seru juga sih bisa KKN di desa macam gitu... hehehe... 😍😍😍
Author Melda: Hehe makasih udah ngerasain seremnya kak 😈
Tapi... kalau kakak yang KKN di Desa Kalijatiny,
berani gak jaga sumur jam 12 malam sendirian? 👀
Bab 7 udah tayang yaa... siap-siap merinding lagi
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Mending pulang aja gak, sih???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Berasa kayak mau uji nyali dari pada mau KKN...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kalau saya ikut di tim mereka, terus dapat ucapan kayak begini sih, langsung merinding sumpah...
na-an
aku gak ngerti deh kak
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐
na-an
seru banget kak! sekarang juga udah lebih teratur alurnya. semangat ya!😁
Author Melda: makasih banyak kak na-an! 🥹❤️ seneng banget kalau sampai BAB 14 udah lebih teratur alurnya! BAB 15 nya lagi direview nih kak bentar lagi tayang, KAIN KAFAN SELVI bakal lebih ngeri lagi! ditungguin ya kak!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
merinding sih kak ame seram juga pasti terinspirasi sama film kkn ya kak
Author Melda: Hai kak @Ar.world makasih udah mampir di Bab 12! 🥺 Iya kak ada inspirasi dari film KKN, tapi ini kisah nyata dari desaku sendiri kak yang aku kembangin jadi cerita... Tungguin ya kak, Bab 13 Hutan Larangan lebih serem lagi, Maya bakal dicoret! 👻
total 1 replies
Author Melda
Guys menurut kalian BIMA masih bisa diselamatin gak? 😭 Atau dia udah jadi bagian warga tanpa bayangan selamanya? Komen #SaveBima kalau mau Selvi selamatkan Bima, komen #BimaUdahMati kalau udah ikhlasin! Aku baca semua komen kalian!
#@.Ar.world(。・ω・。): waduh kalo menurut ku bima kayaknya gak Selamat
total 1 replies
na-an
maaf kak selpi, boleh dikasih tahu gak nama-nama tokohnya? aku cukup bingung siapa aja karakternya karena muncul tanpa diperkenalkan di bab 1😅
Author Melda: Halo kak na-an makasih banyak udah baca dan udah kasih tau kak! 😭🙏 Maaf banget ya bikin bingung, kemarin di BAB 8-10 memang ada typo nama dari aku, udah aku benerin semua kok kak!

Ini 6 tokoh utamanya ya biar gak bingung lagi:

Tim KKN 6 orang:
1. SELVI - aku sendiri, ketua KKN
2. MAYA - sahabat aku, yang peka sama hal gaib
3. SINTA - yang paling cantik
4. RIKO - yang bawa kamera terus
5. BIMA - yang badan besar (yang hilang di sumur)
6. FARHAN - yang kocak

Maaf ya kak kalau sempet muncul nama lain selain 6 itu, itu salah ketik aku. Sekarang udah fix semua! Makasih ya udah ingetin, komen kakak membantu banget! Ditunggu lanjutannya di BAB 11 yaa ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!