NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Di bawah langit Zona Industri Tua yang diselimuti badai salju pekat, cakar tajam mutan es terbesar—Alpha Frost-Hound—hanya berjarak hitungan inci dari wajah sang pemuda berambut biru. Keputusasaan terpancar jelas dari manik mata pemuda itu yang terbelalak lebar, menanti ajal yang siap merobek dagingnya.

Namun, sebelum maut sempat menjemput, sebuah bayangan hitam melesat turun dari atas atap gudang reruntuhan layaknya meteor yang membelah kegelapan malam.

Brak!

Hantaman keras mengguncang tanah bersalju. Ren mendarat tepat di antara sang mutan dan pemuda berambut biru itu, menghujamkan Rust-Bite Blade ke dalam es untuk meredam momentum jatuhnya. Debu salju berhamburan ke udara, membentuk tirai putih tipis yang langsung buyar diterpa angin malam. Ren berdiri tegak, memposisikan tubuhnya di depan sang mekanik asing dengan mata setajam pecahan es yang memancarkan pendaran cahaya biru samar dari balik mantel compang-campingnya.

Alpha Frost-Hound mendengus marah, mengeluarkan uap dingin pekat dari moncongnya yang menganga lebar. Makhluk itu jauh lebih besar, lebih kuat, dan memiliki cakar tulang berlapis kristal es yang jauh lebih padat dibandingkan mutan tingkat rendah yang pernah Ren habisi sebelumnya.

"Pergi dari sini," suara Ren terdengar serak, dingin, tanpa keraguan sedikit pun.

Pemuda berambut biru itu tertegun, napasnya memburu saat ia menatap punggung Ren yang berdiri menghadapi monster mengerikan itu seorang diri. "Kau... kau gila?! Itu Alpha tingkat tiga! Tingkatmu tidak akan—"

Belum sempat kalimat itu selesai, Alpha Frost-Hound melompat menerjang dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan.

Ren langsung mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun kekuatan fisik mutan tersebut jauh melampaui apa yang sanggup ditahan oleh atribut dasarnya saat ini. Hantaman cakar raksasa itu menghantam bilah Rust-Bite Blade dengan kekuatan setara palu hidrolik berat.

Cring!

Getaran dahsyat merambat melalui lengan Ren, membuat tulang-tulang di pergelangan tangannya terasa hampir remuk. Tubuh Ren terpental ke belakang, meluncur di atas salju sejauh beberapa meter sebelum punggungnya menghantam dinding beton reruntuhan pabrik dengan bunyi gedebuk yang memekakkan.

"Uhuk!" Ren memuntahkan darah segar yang langsung membeku di udara.

[Peringatan Kritis: HP Menurun Drastis! HP: 32 / 105] [Kerusakan Struktural Tubuh: 42%. Membutuhkan Intervensi Darurat.]

Di dalam kepalanya, alarm merah sistem berkedip liar, memancarkan peringatan bertubi-tubi. Makhluk mutan itu tidak memberinya waktu untuk bernapas. Ia kembali mengaum nyaring, mengangkat cakar kristalnya tinggi-tinggi, siap menebas kepala Ren menjadi berkeping-keping dalam satu serangan pamungkas.

'Tidak... aku tidak boleh mati di sini. Lily... aku belum membalaskan dendammu!'

Tekad mutlak dan kebencian pekat yang membakar di dalam jiwa Ren merespons langsung sinyal kematian tersebut. Jantung lokomotif di dadanya berdetak menggila, menciptakan suara derit roda baja bertekanan tinggi yang bergemuruh keras di dalam rongga dadanya.

[Mendeteksi Kehendak Bertahan Hidup Maksimal pada Kondisi Kritis...]

[Mengabaikan Batasan Sistem. Memaksa Membuka Protokol Terlarang...]

[OVERDRIVE MODE: Diaktifkan Selama 60 Detik.]

[Peringatan: Beban Ekstrem pada Jaringan Biologis Setelah Durasi Berakhir.]

Ledakan energi nirwarna tiba-tiba meledak dari tubuh Ren. Suhu tubuhnya melonjak drastis hingga salju di sekelilingnya menguap menjadi kepulan kabut putih yang tebal. Urat-urat di leher dan tangan Ren menonjol keluar, berpendar dengan cahaya biru menyilaukan. Rasa sakit di tubuhnya mendadak lenyap, digantikan oleh aliran kekuatan brutal yang meluap-luap tanpa batas.

Sebelum Alpha Frost-Hound sempat mengayunkan cakarnya, Ren sudah menghilang dari tempatnya.

Slat!

Sebuah kilatan cahaya biru vertikal membelah kegelapan malam. Ren muncul di belakang sang mutan dengan gerakan secepat kilat, menghunjamkan Rust-Bite Blade tepat ke titik terlemah di antara tulang leher makhluk raksasa itu. Bilah pedang berkarat yang diselimuti energi Overdrive menembus daging dan tulang tebal itu tanpa perlawanan berarti.

Rooaargh!

Sang Alpha mengeluarkan jeritan terakhir yang memekakkan telinga sebelum tubuh besarnya ambruk ke atas salju, terbelah menjadi dua bagian. Genangan darah hitam pekat mengalir deras, membeku seketika di atas tanah yang dingin.

Namun, kemenangan singkat itu harus dibayar mahal. Begitu detik ke-60 berakhir, efek Overdrive Mode surut seketika. Tubuh Ren kehilangan seluruh tenaganya dalam satu kedipan mata. Rust-Bite Blade lepas dari genggamannya, berdering nyaring saat menghantam es. Ren jatuh berlutut, lalu tersungkur lemas di atas salju merah. Pandangannya menggelap, dan kesadarannya perlahan-lahan tersedot ke dalam jurang kegelapan yang pekat.

Ketika kesadaran Ren mulai merayap kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah bau minyak tanah, bau besi berkarat, dan kehangatan yang tidak biasa—sebuah ruangan tertutup dengan cahaya lampu minyak remang-remang yang menggantung di langit-langit kayu.

"Hei... hei, sadarlah! Jangan mati di lantai bengkelku!"

Sebuah suara panik terdengar di dekat telinganya. Ren mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat. Pandangannya yang tadinya buram perlahan-lahan fokus, menangkap siluet seorang pemuda berambut biru yang sedang mondar-mandir di dekat meja kerja berantakan yang dipenuhi perkakas mesin.

Ren mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit yang luar biasa menusuk sekujur dadanya. Ia menunduk dan mendapati bagian atas tubuhnya dililit oleh perban kain kasar yang diikat begitu ketat dan acak-acakan—bahkan simpul ikatannya terlihat sangat kaku dan berantakan, seolah-olah diikat oleh seseorang yang belum pernah memegang perban seumur hidupnya.

Melihat Ren sadar, pemuda berambut biru itu menghela napas panjang, menjatuhkan gulungan kain perban sisa ke atas meja, lalu mendekat dengan ekspresi campuran antara lega dan heran.

"Syukurlah kau tidak jadi mati. Kupikir aku harus menyeret jasadmu ke tempat pembuangan sampah tadi," ucap pemuda itu sambil menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan yang hitam oleh oli. Ia menatap Ren tajam, kedua tangannya bersidekap di dada. "Sekarang, jelaskan padaku. Kenapa? Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu menyelamatkan orang asing di tengah sarang mutan tadi? Kau bahkan hampir mati melawan Alpha itu!"

Ren terdiam sejenak, merasakan denyut stabil dari The Core Engine di dalam dadanya yang kini mulai memulihkan jaringan tubuhnya secara perlahan. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke dalam mata pemuda berambut biru itu tanpa rasa takut.

"Karena aku butuh keahlianmu," jawab Ren dengan suara parau yang dingin dan datar.

Pemuda itu tertegun sejenak, lalu mendengus tak percaya. "Keahlianku? Kau mempertaruhkan nyawa hanya untuk merekrut seorang mekanik buangan yang sedang dikejar-kejar oleh Korporasi Aether? Kau gila, kawan!"

"Aku tidak peduli siapa yang mengejarmu," balas Ren, suaranya tetap tegas meskipun napasnya masih memburu. "Keretaku hancur. Keluargaku direnggut oleh mereka. Aku butuh seseorang yang bisa membangun ulang mesin itu dari nol, membawaku melintasi Tembok Es, dan meruntuhkan tempat-tempat para bajingan itu berdiri. Namaku Ren."

Pemuda berambut biru itu terdiam cukup lama. Ia menatap lekat-lekat mata Ren—menemukan bara api kebencian dan tekad baja yang berkobar di balik tatapan dingin pemuda itu. Perlahan-lahan, sudut bibir pemuda itu terangkat membentuk senyuman tipis yang sinis namun menyimpan rasa kagum yang tersembunyi.

"Ren, ya..." Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya yang belepotan oli hitam ke hadapan Ren. "Namaku Leo. Dan kurasa... sepertinya aku tidak punya pilihan selain ikut dengan orang gila sepertimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!