NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : Riuh IPS Dua

   Sore hari sepulang sekolah, suasana koridor rumah sakit yang tadinya tenang mendadak ramai oleh derap langkah kaki rombongan anak kelas XI IPS 2.

​Pintu kamar inap Kiara diketuk tiga kali sebelum terdorong lebar. Rian sang KM masuk paling depan, Neona mengekor dibelakangnya diikuti Dinda dan Febri selaku pengurus kelas. Anggota kelompok Sosiologi yang menjadi sangat dekat dengan Kiara seperti ; Misya, Nisya, Okta dan Fathir turut ikut menjenguk. Tak ketinggalan, biang kerusuhan XI IPS 2 yang terdiri dari Kevin, Ferdi, Pandu, dan tentunya Khafi menyusul berjalan paling belakang.

Begitu melihat sosok Mama Kiara yang berdiri di dekat sofa, rombongan anak-anak itu seketika menurunkan volume suara dan bergantian menyalami serta menyapa dengan sangat sopan.

​"Selamat sore, Tante... Maaf ya, Tante, kita jenguknya ramai-ramai begini," sapa Rian mewakili teman-temannya sambil tersenyum sopan.

​"Sore, Tante... Numpang jenguk Kia, semoga cepet damang ya," tambah Ferdi sambil menyalami Mama Kiara, membuat suasana yang awalnya kaku sedikit mencair.

​Mama Kiara yang awalnya agak canggung karena ini kali pertama dikujungi teman-teman anaknya, akhirnya mengukir senyum yang hangat. "Sore semuanya... Nggak apa-apa, masuk aja. Tante malah seneng Kia banyak temannya. Tante izin ke luar sebentar ya, mau beli minum dan cemilan buat kalian."

Mama Kiara hanya bergeleng pelan sambil tertawa kecil saat anak-anak tersebut menahannya karena sungkan.

Setelah Mama Kiara pamit keluar kamar, barulah "sifat asli" kelas IPS Dua kembali keluar.

​"Gue kangen banget, Kiaa!" Neona langsung menghambur ke samping brankar, memeluk lengan Kiara yang bebas dari selang infus dengan mata berkaca-kaca lagi.

​"Kia! Ya ampun, mukanya udah mendingan banget dibanding kemarin pas digotong ke UKS!" seru Misya prihatin campur lega, langsung mengambil posisi di sisi brankar bersama Nisya.

​Kiara yang baru saja bangun dan duduk bersandar hanya bisa tertawa parau, matanya berbinar melihat keramaian yang memenuhi ruangannya. "Apasih kalian... lebay banget, cuma demam biasa juga."

​"Demam biasa apaan!" sahut Khafi dari belakang sambil menyimpan tasnya di atas sofa.

​"Aduh, Neng Kia... Meuni pucat kitu kaya belum makan seminggu," celetuk Ferdi dengan logat Sundanya yang khas sambil mengintip wajah Kiara dari balik bahu Kevin. "Coba mun kamari teh teu hujan-hujanan, moal matak ripuh begini lah!"

​"Bisa diem nggak lo, Di?!" sungut Pandu sambil menyenggol lengan Ferdi karena dia selalu terganggu dan asing saat dengar logat sunda Ferdi walaupun sudah berteman lama juga.

Kevin yang melihat itu hanya menertawakan.

​"Niat urang mah perhatian, Ndul! Nya pan fakta, si Khafi tuh yang ngajak hujan-hujanan malah sehat walafiat, eh si Kia-nya yang tumbang!" bela Ferdi tak mau kalah, sukses membuat anak-anak lain menahan tawa.

​Begitu kata "hujan-hujanan" disinggung, beberapa anak mulai bersorak menggoda. "Oh... Yang Jum'at lalu sweet banget ala drama India itu ya di tengah lapangan," goda Kevin sambil menaik-turunkan alisnya ke arah Khafi.

​Mendengar godaan itu, muka Kiara langsung memerah. Namun, Neona—sahabat paling protektif yang sangat anti dengan kelakuan geng anak pojok—langsung pasang badan dengan wajah sensi berat.

​"Bisa diam nggak sih mulut lo pada?!" semprot Neona tajam, memotong gelak tawa di ruangan. "Nggak usah mulai deh! Kia itu sakit gara-gara kehujanan, bukan buat bahan ceng-cengan lo semua!"

​Kevin yang berdiri di dekat Neona mencoba menengahi agar suasana tidak makin keruh. "Apa sih, Ona... Maksud anak-anak kan cuma mau bercanda biar Kia nggak tegang—"

​"Bercanda lo nggak lucu, Vin!" potong Neona cepat, kini berbalik menatap Kevin dengan tatapan galak.

​"Aduh, ya nggak gitu, Neona..." Kevin mengusap tengkuknya, mulai terpancing emosi karena berniat baik tapi malah disemprot. "Gue cuma nengahin! Tensi lo tuh ketinggian, kasihan anak-anak niatnya baik datang ke sini!"

​"Niat baik tapi bikin pasien pusing buat apa?!" sergah Neona makin nyolot, sampai-sampai Kevin ikut maju selangkah, membuat pertengkaran kecil di antara mereka berdua makin memanas.

​Melihat situasi mulai tidak kondusif, Rian dan Khafi langsung bergerak cepat melangkah ke tengah-tengah untuk memisahkan Kevin dan Neona.

​"Udah, udah! Buset dah, malah kalian berdua yang berantem di depan pasien!" tegas Rian sambil menepuk dada Kevin untuk mundur.

​Khafi menyilangkan tangan di dada, berdiri pas di depan Fiola dengan tatapan tenang tapi tegas. "Na, udah. Kevin niatnya bener, nggak usah semua orang lo semprot. Mending lo duduk tenang aja di samping Ara."

​Neona mendesis pelan, tapi akhirnya menurut dan kembali duduk di samping tempat tidur Kiara sambil bersedekap dada.

Dengan tangan yang tidak di infus, Kiara mencoba menarik badan Neona untuk ia rengkuh dan usap sisi rambut sahabatnya itu yang masih terbawa suasana karena kemarin shock melihat Kiara tumbang tepat di sampingnya.

Melihat kondisi yang sudah tenang, Dinda merapat ke dekat meja, meletakkan beberapa lembar fotokopi catatan. "Kia, ini catatan tugas Ekonomi sama Matematika Wajib dari hari senin kemarin ya. Nggak usah dipikirin dulu, dikumpulinnya masih lama kok pas lo udah masuk sekolah lagi."

​"Nah, kalau ini salam hangat dari uang kas kelas," timpal Febri lembut, dibantu oleh Pandu untuk meletakkan bingkisan buah dan beberapa kotak susu steril di atas meja. "Get well soon ya, Kia, biar kas kelas kita ada yang bantu nagihin lagi dengan galak."

​Kiara yang bersandar di tumpukan bantal masih dengan Neona di rangkulannya, tak sanggup menahan senyum merekahnya. Melihat wajah-wajah familiar yang biasanya bikin riuh kelas kini berkumpul di kamar rawatnya dengan raut khawatir yang tulus, dada Kiara terasa penuh oleh rasa hangat.

​"Makasih ya, guys... Maaf banget udah bikin geger sekelas," ujar Kiara dengan suara yang sudah jauh lebih bertenaga.

​"Halah, kayak sama siapa aja lo," potong Rian selaku KM, menepuk bahu Fathir dan Okta. "Yang penting lo sembuh total dulu, Kia. Anak-anak kangen kehebohan lo di kelas."

"Anjir, gue jadi keinget. Lo hampir bikin Ibran senewen kemarin, Kia! Muka dia pas ngangkat lo udah kayak orang mau kehilangan pusaka warisan tahu nggak?" Ucap Ferdi tiba-tiba.

​"Wah, parah sih," timpal Okta sambil nyengir karena memang dibayangannya sama seperti itu.

"Tapi sumpah ya, Kia. Kemarin pas lo ambruk, sekelas langsung panik. Mana si Fathir sempat latah teriak 'Innalillahi' lagi!"

​"Lho, kan gue kaget, Ta!" Fathir membela diri, disambut gelak tawa riuh dari seluruh isi ruangan.

​"Kemarin pas lo pingsan, kelas langsung kek kuburan sumpah. Sepi banget nggak ada yang ada yang ngajak berantem Tom-nya." celetuk Fathir jenaka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Neona.

​"Udah deh, sahabat gue lagi sakit jangan di bercandain lagi," semprot Neona seraya melepas pelukannya pada Kiara karena takutnya pegal, sambil membetulkan letak selimut Kiara. "Awas ya lo pada jangan bikin Kia capek dulu, tensinya baru aja turun."

"iya, sekarang pindah ke lo yang tensinya naik." Sahutan Kevin jadi memancing tawa semua yang ada di kamar itu.

​Okta tertawa pelan melihat Neona yang mendadak jadi benteng pertahanan. "Ampun, deh. Nih anak semenjak Kia sakit jadi sensi mulu."

Di tengah tawa dan canda ceria teman-temannya yang memenuhi ruangan, Kiara melirik ke arah sudut ruangan—

​Di sudut ruangan dekat pintu, Mama Kiara berdiri memperhatikan keramaian itu dengan senyum yang hangat. Matanya yang jeli sejak tadi terus memperhatikan satu sosok cowok yang berdiri agak jauh dari brankar, bersedekap dada sambil sesekali terkekeh melihat ulah teman-temannya.

​Khafi.

​Mama Kiara melangkah pelan mendekati Khafi. "Kamu... Khafi, kan?" sapa sang Mama dengan suara selembut mungkin.

​Khafi menoleh, sedikit terkejut namun dengan cepat mengubah raut wajahnya menjadi santai dan sopan. "Iya, Tante. Saya Khafi."

​"Tante... mau mengucapkan terima kasih banyak ya, Khafi," ucap Mama Kiara tulus, menatap pemuda tinggi di depannya. "Kata Bi Yanti dan Mama kamu, kemarin kamu yang sigap banget bawa Kiara dari lapangan sampai ke sini. Kalau nggak ada kamu... Tante nggak tahu gimana nasib Kia kemarin."

​Khafi terdiam sejenak. Ingatannya tentang bagaimana Kiara ditinggalkan sendirian hingga dehidrasi parah kembali melintas di kepalanya. Meski rasa kesalnya pada wanita di depannya ini belum sepenuhnya hilang, Khafi tetap menjaga kesopanannya.

​"Nggak apa-apa, Tante. Sudah kewajiban sesama teman," jawab Khafi singkat dan seadanya. Nada suaranya terkesan datar dan agak dingin. "Lagi pula, anak-anak kelas juga pada panik kemarin."

​"Tapi Tante beneran utang budi sama kamu..." lanjut Mama Kiara mencoba mencairkan suasana. "Nanti kalau Kia sudah sembuh, Tante mau undang kamu dan Mama kamu makan malam di rumah, ya?"

​Khafi mengulas senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Lihat nanti aja ya, Tante. Yang penting Ara-nya sembuh dulu."

​Jawaban yang singkat dan terkesan membatasi diri itu membuat Mama Kiara tersenyum kaku. Ia sadar betul, bukan hanya Mamanya Khafi yang kecewa padanya, tetapi anak bujang di depannya ini pun secara tidak langsung sedang menjaga jarak darinya sebagai bentuk rasa simpati pada Kiara.

​Sementara itu di area brankar, perdebatan antar-murid makin seru.

​"Kia, btw hoodie hitam yang lo pakai kemarin itu merk apa sih?" tanya Nisya polos. "Bagus banget dah, oversize nya pas banget di badan lo yang mungil."

​Kiara seketika tersedak ludahnya sendiri. Matanya melirik panik ke arah Khafi yang sedang mengobrol dengan Mamanya. "Hah? Oh... itu... punya..."

​"Punya khafi lah! Mana ada Kiara punya baju sekodi gitu ukurannya!" celetuk Ferdi lagi tanpa dosa dari sofa.

​"Oalah!" seru Dinda dan Febri kompak, menepuk-nepuk pinggiran kasur. "Baju musuh dipake, hayo..."

​"APAAN SIH!" semprot Kiara dengan muka memerah padam dan suara yang serak, ia menyambar bantal kecil dan melemparkannya tepat ke arah Ferdi. "Gue minjem udah lama itu, pas kerkom Sosiologi, "

Khafi yang mendengar kehebohan itu langsung berdehem keras, lalu melangkah mendekati brankar sembari menyimpan salah satu tangannya ke saku celana. "Nggak usah bikin pasien tambah pusing, woi. Muka dia udah kayak kepiting rebus gitu."

​"Cieelah, dibelaaa!" goda Fathir makin gencar.

​Di tengah gelak tawa dan riuhnya teman-teman kelasnya, Kiara menyembunyikan wajah memerahnya karena merasa geli dan malu sendiri di balik selimut.

​Neona yang sedari tadi anteng duduk di samping Kiara langsung mendongak. Matanya melirik Khafi dengan tatapan sensi dan penuh selidik. Nada suaranya mendadak berubah protektif.

​"Dih, sok-sokan ngebela!" cetus Neona sambil menepis pelan tangan Khafi yang hendak terulur ke sudut brankar. "Nggak usah macem-macem ya lo, Khaf! Awas aja kalau lo cuma mau manfaatin momen pas Kia lagi lemes gini buat ngerjain dia!"

​Khafi mengerutkan kening, menatap Neona tak percaya. "Batu banget lo, La. Niat gue kan baek, biar temen lo nggak bengek itu nutup muka pake selimut tebel begitu."

​"Halah, kebaikan lo itu sering ada udang di balik bakwan!" sergah Neona tajam, lalu berbalik menatap Kiara lekat-lekat yang sudah menyembulkan kepalanya sedikit. "Kia, dengerin gue ya. Jangan mau kemakan omongan manis si Khafi ini! Inget, dia ini musuh abadi lo. Ntar kalau lo udah sembuh, dia balik lagi jadi orang paling nyebelin se-IPS dua!"

​Mendengar kecerewetan Neona yang makin melantur, Kevin yang berdiri di sampingnya langsung mengelus dada sambil menggeleng-gelengkan kepala.

​"Udah, La, udah... Kasihan Si Khafi dibantai mulu dari kemarin," sela Kevin menenangkan, berusaha menahan tawa agar tidak kena semprot juga oleh Neona "Buset dah, galak amat lo kayak macan tutul. Lagian Khafi juga yang kemarin gedebuk-gedebukan ngangkat Kiara ke UKS pas lo lagi panik melongo."

​"Ya tapi kan gue cuma mengingatkan, Vin!" sungut Neona sambil memanyunkan bibir, walau akhirnya agak mereda setelah ditegur Kevin.

​"Iya, tau... Tapi tensi lo diturunin dikit, kasihan Kiara-nya malah makin pusing dengerin lo sama Khafi debat mulu," tegur Kevin, kali ini tanpa adu urat membuat anak-anak yang lain kembali tertawa geli melihat Neona yang mendadak diam.

​Khafi hanya mendengus, memutar bola matanya malas. "Dengerin tuh kata Kevin teguh. Lagian siapa juga yang mau macem-macem sama nih anak? Nanti kalau dia makin demam, gue lagi yang disalahin sekelas."

​"Awas aja lo ya!" ancam Kiara dari balik selimut, meski ujung matanya menyiratkan rasa geli melihat interaksi mereka semua.

​Di tengah gelak tawa dan riuhnya teman-teman kelasnya, rasa sesak di dada Kiara menghilang sepenuhnya—digantikan oleh kehangatan nyata dari orang-orang yang benar-benar ada untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!