NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah Sang Mafia

Dendam Berdarah Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.

Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.

Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.

William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.

Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.

"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."

Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.

Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.

Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Valen tak mengerti kenapa William kini berlagak baik sampai membawanya ke sebuah mall.

Tapi tetap saja Valen berhati-hati dengan sikap William. Nyatanya mood William mudah berubah, sedetik baik lalu setelahnya kembali memburuk.

"Kau ini mau apa? Bukankah kau bilang kalau tiga hari kedepan kau akan pergi? Kau juga mengatakan kalau kau akan membebaskanku." Ucap Valen menyadarkan ucapan yang William sendiri katakan.

William menoleh, mereka masih ada di mobil yang sama. Mobil itu sudah terparkir di depan sebuah mall.

Reno sudah berada di luar dari mobil itu.

"Apakah aku bicara begitu? Aku lupa." Ucap William.

Valen sudah pasti kesal, ya dia sangat kesal. Tak ada ucapan William yang bisa dipegang.

"Kau yang bicara kalau kau punya urusan sampai tiga hari kedepan." Ucap Valen lagi.

William mengangguk kecil.

"Memang iya, tapi tiba-tiba saja pikiranku berkata lain. Aku merasa membiarkanmu bebas membuatku mendadak tak rela. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu di luar sana. Melihat tingkahmu yang sekarang, mungkin saja kau bisa kabur dari ku." Ucap William.

Valen benar-benar tak habis pikir pada ucapan William.

"Jadi kau membohongiku? Kau sungguh pria menyebalkan! Tidak, mungkin lebih tepatnya kau bukan pria!" Ucap Valen beremosi.

Valen membuang tatapannya membuat William menghela nafasnya.

"Turunlah, kita harus beli pakaian untukmu. Aku sudah lelah beradu mulut denganmu Valen." Ucap William.

"Aku tak butuh." Ketus Valen.

"Oh? Jadi kau mau menggunakan pakaianku setiap hari, begitu?" Tanya William.

Lagi Valen menoleh.

"Bebaskan aku William, kita tak punya urusan lagi." Ucap Valen mengabaikan pertanyaan William.

William menyeringai kecil.

"Sungguh mau bebas dariku? Kalau begitu boleh saja." Ucap William.

"Bohong! Mulutmu itu pembohong!" Kesal Valen.

William mendekatkan wajahnya membuat Valen mundur dengan cepat.

"Akan aku bebaskan, tapi bisakah kau buat Mommy ku kembali ada bersamaku?" Ucap William membuat Valen mengepalkan kedua tangannya.

Apa William bodoh? Memangnya Valen siapa hingga bisa membuat yang tiada menjadi ada. Sungguh ucapan itu benar-benar diluar dugaan.

"Jangan konyol William! Bebaskan saja aku, aku mau menjauh dan aku janji tak akan pernah muncul di depanmu lagi. Aku akan pergi sejauh mungkin." Ucap Valen.

Bodoh juga sebenarnya kalau Valen berharap bisa lepas dari William, tampaknya William terobsesi menahan Valen dalam hidupnya.

William jadi terkekeh kecil.

"Kau sedang membuat penawaran denganku ya? Bisa, ya bisa saja kalau kau mau lari dariku. Aku bolehkan kau pergi sejauh mungkin, lari sekuat yang kau bisa karena aku pastikan bahwa aku akan mendapatkanmu lagi. Tapi kali ini, aku tak akan mengampunimu Valen. Aku tidak menghilangkan keberadaan kakimu Valen, tapi mungkin akan aku hilangkan fungsi dari kakimu itu. Kau pahamkan dengan maksud ucapan ku ini?" Tanya William membuat Valen mendorong kasar dada William yang terus maju ke arahnya.

"Dasar pria gila!" Ucap Valen.

William mundur, ia menghela nafasnya lalu berucap pelan.

"Turunlah." Ucap William.

Lebih dulu William turun dari mobil itu, ia membuka pintu dimana Valen duduk.

"Turun atau mau aku gendong?" Tanya William.

Valen sungguh makin muak, ia terpaksa menuruti ucapan William daripada harus digendong oleh William atau mendapatkan ancaman yang keluar dari mulut William.

Valen keluar, tangannya malah langsung digenggam oleh William.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Valen.

"Memangnya kau tak bisa lihat? Aku memegangmu agar kau tak bisa kabur dari ku." Ucap William dengan santai.

Valen mencoba menarik tangannya dari William, tapi tiba-tiba William mendekat lalu berbisik dengan pelan di sisi telinga Valen.

"Kita memang terlihat hanya bertiga dengan Reno, tapi kau tak tahu bahwa di setiap sudut keberadaan kita, ada banyak penjaga milikku. Kapan saja, mereka pasti memantaumu. Kau kabur dari ku, maka aku bisa meminta mereka menembak kakimu. Kau pasti mengerti maksudku Valen. Aku akan lebih suka saat kau tak bisa jalan lagi, aku juga tak keberatan menggendongmu terus kalau kau mau." Ucap William.

Valen mendorong tubuh William untuk tidak terlalu dekat dengannya.

"Kau kenapa menakutiku terus William? Apa ini kesukaanmu? Kau bahagia ya melihat orang menderita?!" Tanya Valen menatap muak pada wajah William.

"Hmm, aku sangat bahagia. Aku suka kau ada disisiku. Maka dari itu, jangan pernah berpikir bisa kabur ataupun lari dariku!" Tegas William.

Detik itu juga William menarik tangan Valen, mereka hanya berdua masuk ke mall besar itu.

---

William meminta Valen memilih banyak pakaian, tapi yang Valen lakukan hanya diam.

"Valen, jangan membuat aku kesal." Ucap William.

"Aku punya uang, kembalikan saja ponselku. Aku tak ingin memakai uangmu." Ucap Valen.

Membicarakan soal ponsel membuat William kembali teringat tentang transferan uang yang masuk ke rekening Valen.

"Sebentar, ponselmu ya? Ada di kantorku. Membicarakan soal ini, aku jadi penasaran apa mungkin kau punya hubungan dengan seseorang yang saat ini mengusik pekerjaanku." Ucap William.

Valen langsung melotot, ia juga teringat transferan uang itu. Valen akan mengembalikannya pada William tapi ponsel Valen saja ada bersama William. Jadi Valen cukup bingung.

"Kau bicara apa? Untuk apa aku punya hubungan dengan seseorang yang mengganggumu. Terlebih aku tak pernah berurusan dengan kriminal seperti kau." Ucap Valen.

William menarik tangan Valen cukup kasar hingga tubuh Valen maju menabrak dada William.

"Lalu apa kau bisa menjelaskan kenapa transferan uang itu masuk ke rekening mu?" Tanya William.

"Aku mana tahu William." Ucap Valen.

Dalam situasi seperti itu saja, keduanya tampak tak damai.

Valen tak bisa terus begini, ia harus menyudahi perdebatan yang membuat tubuhnya selalu menyatu dengan William.

"Lupakan saja, aku tak akan mengambil ponselku darimu. Sekarang aku mau memilih pakaian, lepaskan aku." Ucap Valen.

Mata William masih memandangi wajah Valen, setelah beberapa detik berlalu barulah William lepaskan Valen.

"Tak perlu memilih, kau cukup duduk saja. Aku yang mengambilkan semuanya untukmu." Ucap William.

William pergi dari dekat Valen, ia menunjuk banyak pakaian membuat para pekerja segera mengambil pilihan William untuk dikemas.

Mungkin dua puluh menit waktu mereka menghabiskan waktu untuk memilih di toko pakaian dengan brand ternama itu.

William mengambil salah satu gaun yang benar-benar indah, warnanya juga cerah.

"Pakailah." Ucap William.

"Aku tak mau." Tolak Valen.

William mendekat, tatapannya mulai terbit seperti akan membunuh Valen.

Alih-alih dibunuh lebih baik Valen menurut, ia menarik gaun itu dari William lalu pergi untuk menggantinya.

Valen sudah masuk ke ruang ganti, tapi tiba-tiba William ditelpon oleh seseorang. Matanya menatap layar ponsel, setelahnya ia berlalu pergi ke arah luar.

---

Valen keluar dengan gaun yang sangat indah itu. Tubuhnya jadi semakin cantik karena pada dasarnya Valen memang cantik.

Tatapan Valen mencari keberadaan William, namun yang dicari malah tak ada.

"Apa dia memintaku membayar semuanya setelah melakukan hal ini?" Tanya Valen bingung.

Tatapan Valen jatuh pada salah satu karyawan disana.

"Kemana perginya pria tadi?" Tanya Valen.

"Entahlah. Anda harus membayar semuanya karena belum ada belanjaan satupun yang dibayar oleh Tuan tadi." Ucap wanita itu.

Valen menghela nafasnya.

"Aku perlu mengganti gaun ini dulu, lalu aku akan mencari keberadaan pria tadi. Sebentar." Ucap Valen.

Valen segera mengganti gaun itu, William sungguh menyebalkan sekali. Setidaknya bayar dulu sebelum pergi, saat ini Valen tak memegang uang sepeser pun bahkan ponsel Valen masih bersama dengan William.

"Anda mau kemana? Bayar dulu." Ucap karyawan itu menahan tangan Valen.

Valen menoleh ke arah manapun untuk mencari keberadaan William tapi William benar-benar tak ada.

"Sebentar, aku akan mencarinya." Ucap Valen.

"Anda sudah memakai gaun ini, artinya anda wajib membayar." Lagi karyawan itu berucap.

"Iya aku tahu." Ucap Valen menarik tangannya dari wanita itu.

Valen bersiap melangkah, ia juga dengan cepat keluar dari tempat itu namun tubuhnya terperangkap oleh seseorang yang kini berdiri di depan Valen.

"Valen." Ucap pria itu cukup terkejut.

Valen menatap sosok yang saat ini berdiri di depannya.

"Valen, kau kemana saja? Dan..."

"Bayar belanjaan anda Nyonya." Sekali lagi karyawan itu menyentak tangan Valen membuat pria itu tampak cemas.

Valen seperti diperlakukan dengan cara tak baik, seolah Valen akan kabur saja.

"Lepaskan, biar aku yang bayar." Ucapnya.

"Kevin!" Ucap Valen merasa tak terima.

Mana mungkin Valen mau menerima uang dari Kevin untuk membayar belanjaan itu.

Ya, dia Kevin.

Kevin menyerahkan sebuah kartu membuat karyawan itu segera melaksanakan pembayaran.

Usai pembayaran selesai, tampak tangan Valen digenggam oleh Kevin.

"Mau apa kau? Lepas!" Ucap Valen mencoba menarik tangannya.

"Valen, ikut aku. Aku akan menjelaskan padamu banyak hal, aku jugaValen-" tiba-tiba Kevin malah memeluk Valen.

Jujurnya Kevin sangat merindukan Valen.

Dengan sayang ia mengusap puncak kepala Valen.

"Aku merindukanmu." Ucap Kevin.

Valen terdiam.

"Ada banyak hal yang terjadi selama kau menghilang dan terlebih aku mohon agar kau jangan pernah kembali ke keluarga Mason lagi, kau bisa bergantung padaku kalau kau mau Valen. Aku harap kau tak pernah terlibat dengan mereka, termasuk Kiara. Kiara tak sebaik yang kau pikirkan." Ucap Kevin.

Valen masih diam, pelukan itu terlepas.

Kevin merapikan rambut Valen, ia tersenyum senang menatap wajah cantik Valen.

Ia sungguh bersyukur punya kesempatan bertemu dengan Valen kembali.

"Saat kecelakaan malam itu, aku diminta menutup mulut tentang Kiara. Uncle Ben mengatakan bahwa ia akan membebaskanmu jika aku mau bersaksi bahwa malam itu kau yang mengendarai mobil, dia bersumpah tak akan menjeratmu di dalam keluarga Mason lagi. Dia meyakinkan bahwa keluarga korban tak akan menuntut bahkan..."

"Valen!" Ucap seseorang menghentikan ucapan milik Kevin.

Dia adalah William.

Tangan Valen disentak kuat oleh William, tubuh Valen terhuyung.

Posisi antara Kevin dan Valen terlalu dekat di mata William.

Amarah William terlihat dengan sangat jelas di wajah itu, namun ada cerita Kevin yang mengusik Valen.

"Apa-apaan kau! Lepaskan Valen!" Ucap Kevin tak terima saat William memperlakukan Valen dengan kasar.

Terlihat jelas kalau Valen meringis kesakitan dengan genggaman yang William lakukan. Bagaimanapun Kevin tahu siapa William, ia pernah bertemu di masa lalu dengan William saat datang ke kantor Polisi.

"Melepaskan Valen? Untuk apa aku melepaskannya? Dia istriku!" Tegas William.

---

Bersambung...

1
Adinda
coba diperhatikan lagi nama tokohnya biar gak salah
Alia Chans: oke kak 🙏🥲
total 1 replies
Adinda
valen bukannya aqila
Nayla Syberia
Sebenernya bagus sih,cuman entah knp si William tetep ga berubah yaa,kek iblis gitu berwujud manusia,mungkin para pengikutnya bakal sungkem kalik yaa.
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
Alia Chans: Makasih buat saran nya
Btw kan sifat William mencerminkan judul novel nya ya kak🤭🤭
total 1 replies
mary dice
sangat rumit ckckck
Alia Chans: ..🤭🤭🤭
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nelson Sihombing
Dah di curi, kasih makan pun tak
Haryati Atie
harus nya akila bisa ambil kepercayaan william dh dia percaya bru kabur akila.
Alia Chans: Ini lagi ngajari Akila hal sesimpel itu🤭
total 1 replies
Nelson Sihombing
suka karakter Akila
Haryati Atie
thourr tipo ya jdi vallen .
Alia Chans: Sorry atas ketidaknyamanan nya, soalnya seingatku Valen tadi😭😭
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
kok jadi Valen kak
Mia Camelia
suka nih sama sisi posesif nya wiliam ke akila🤭
lanjut thor😄
Alia Chans: siap kak🤭/Smile//Smile/
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya 😘
Alia Chans: Thank you kak🙏🏻
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
crazy up kak
Alia Chans: Ditunggu ya 🤭/Slight//Slight/
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
🔵🌹 Widian🧕
nah ...jadi sial kan mengolok-olok kakak sendiri.
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .
Alia Chans: emm gimana ya...🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!