Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri Bilang, Bos!
Dengusan kasar meluncur dari bibir Yudha, mendengar Yogi menuntut ganti rugi biaya pernikahan yang pernah dikeluarkan kakaknya itu. Sebenarnya, saat Yudha memantapkan hati untuk membangun rumah tangga yang sesungguhnya dengan Kanaya, niat untuk mengembalikan uang itu sempat terlintas di benaknya. Lagipula, ia sadar betul, sebagian besar pesta pernikahannya dibiayai sang kakak. Dia tahu diri bahwa ia tak keluar modal sepeser pun, selain untuk private wedding party bersama teman-teman kantornya.
Namun, Wirawan langsung menjegal niat itu. Papanya sengaja melarang Yudha mengganti uang Yogi untuk memberi efek jera pada putra sulungnya yang bebal itu. Dan sekarang, Yogi menuntut uang tersebut dengan dalih meminjam.
Yudha bimbang. Ia tak mungkin mengadu pada Papanya, karena sudah pasti sang papa akan melarangnya kembali. Ia pun enggan bercerita pada Mamanya, tak tega membuat sang mama kepikiran tentang nasib Yogi yang kini terombang-ambing tanpa pekerjaan.
Akhirnya, Yudha meraih ponselnya. Hanya ada satu nama yang terlintas di kepalanya untuk berbagi beban ini. Kanaya, istrinya.
Yudha mengetik pesan lebih dulu pada Kanaya, khawatir saat ini sang istri sedang mengajar.
Pesan pertama dikirim. "Yank, lagi sibuk nggak?"
Yudha menunggu. Sepuluh menit dalam keheningan, sampai akhirnya sebuah notifikasi pesan masuk terdengar.
"Baru selesai ngajar. Ada apa, Yud?" tulis Kanaya.
Tanpa membuang waktu, Yudha mengetik balasan pendek. "Bisa telepon?"
Begitu kata "Iya”" muncul di layar, Yudha langsung menekan ikon gagang telepon dan menempelkan ponsel ke telinga, menunggu panggilannya tersambung.
"Assalamualaikum. Ada apa, Yud?" Suara Kanaya terdengar.
"Waalaikumsalam. Nggak lagi repot, kan? Aku nggak ganggu waktu kamu?" Yudha memastikan lagi. Ia tahu betul bagaimana padatnya jadwal mengajar Kanaya, dan ia tidak ingin mengganggu kesibukan sang istri.
"Nggak, kok. Sejam lagi baru ada ngajar kelas lain," sahut Kanaya. "Ada apa?" tanya Kanaya menuntut jawaban. Ini sudah ketiga kalinya Kanaya melempar pertanyaan yang sama.
Yudha memijat pangkal hidungnya yang mendadak pening. "Mas Yogi baru aja telepon aku, Yank. Dia mau pinjam uang seratus juta. Katanya, tabungannya habis buat biaya pernikahan kemarin kemarin," cerita Yudha.
"Sebenarnya aku juga ada niat buat balikin uang itu ke dia, tapi Papa melarang. Cuma, sekarang ini dia lagi butuh uang banget. Menurutmu gimana, Yank?" Yudha meminta pendapat sang istri.
Hening beberapa saat. Kanaya tak langsung merespon pertanyaan Yudha.
"Kamu ada uangnya?" tanya Kanaya.
"Ada. Aku juga 'kan niat balikin ke dia awalnya," sahut Yudha.
Suara helaan nafas Kanaya terdengar di telinga hingga akhirnya suara lembut Kanaya kembali terdengar. "Ya udah, kembalikan saja uangnya. Berapa keseluruhan uang yang dia keluarkan untuk biaya nikah kemarin? Kalau bisa, kembalikan saja semua, biar nggak diungkit-ungkit ke depannya." Kanaya menyarankan Yudha mengganti semua uang yang dikeluarkan Yogi.
"Ya udah, kalau kamu setuju. Nanti aku kembalikan semua uang Mas Yogi." Yudha lega, karena Kanaya sejalan dengan pemikirannya. "Ya udah, deh. Aku tutup dulu teleponnya. Selamat mengajar. Assalamualaikum..." Yudha berniat mengakhiri percakapan mereka.
"Waalaikumsalam..." Setelah Kanaya menjawab salam Kanaya, percakapan mereka pun akhirnya terhenti.
***
Ayumi menyesap capucino hangat dari gelas yang ia genggam. Di hadapannya sepotong croissant tersaji. Sepulang dari kantor, dia membuat janji bertemu dengan temannya di sebuah Cafe. Namun, temannya itu belum juga tiba, membuatnya harus menunggu sendirian hanya berteman tamu-tamu cafe yang lain.
"Eh, kita mau kasih kado apa buat Bu Yaya? Minggu depan Bu Yaya ultah, lho."
"Kasih apa ya enaknya?"
"Tas aja, kita cari yang branded. Atau jam tangan."
"Aakkhh, itu terlalu mainstream. Cari yang lain, deh!"
"Terus mau kasih apa, dong, Ra?"
"Bu Yaya kan pengantin baru, kita kasih lingerie yang seksi, biar cepat dapat baby. Hehehe...."
"Astaga! Pikiranmu itu, Ra! Masih di bawah umur udah mikirnya ke sana."
Ketenangan Ayumi terusik oleh riuh renyah obrolan dari meja seberang. Ekor matanya langsung bergerak ke arah suara riuh berasal. Nama Yaya, Yogi dan Pengantin Baru sangat menarik perhatiannya.
Tiga orang remaja belia berkumpul dalam satu meja menikmati ice coffe dan french fries. Netra Ayumi terfokus pada emblem yang melekat di pakaian salah seorang gadis. Kalau tak salah ingat, itu adalah nama sekolah tempat Kanaya mengajar.
Ayumi memutar posisi duduknya mengarah ke meja ketiga gadis itu.
"Kalian murid SMP Tunas Harapan Bangsa, ya?" tanyanya kemudian.
Ketiga gadis belia itu adalah Zahra, Monik dan Putri. Mereka menoleh serentak ketika disapa Ayumi.
"Iya, Kak," jawab Monik.
"Kenal sama Ibu Kanaya?" tanya Ayumi berpura-pura tidak mendengr apa yang diobrolkan mereka tadi.
"Kenal banget, Kak. Bu Kanaya itu wali kelas kami. Biasa kami panggil Bu Yaya." Zahra antusias menjawab, "Kakak kenal Bu Yaya juga?"
Ayumi mengangguk kecil. "Suami Bu Kanaya itu bos saya," jawabnya.
"Bos Kakak? Oh, Pak Yogi itu bos, ya?" Zahra paling aktif merespon.
"Pak Yogi? Bos saya bukan Pak Yogi, tapi Pak Yudha." Ayumi menduga murid-murid Kanaya tidak tahu tentang pergantian mempelai pria yang mendampingi Kanaya.
"Oh, mungkin salah orang, Kak. Suami Ibu Yaya namanya Pak Yogi," sergah Monik ikut menimpali.
Ayumi lalu menggulir layar ponselnya. membuka aplikasi chat lalu membuka foto profil Yudha yang kini menggunakan foto wedding-nya dengan Kanaya. Dia menyodorkan foto itu pada ketiga murid tadi.
"Ini bukan?" tanyanya memastikan.
"Iya, benar, Itu Bu Yaya sama suaminya." Zahra membenarkan.
"Suami Bu Kanaya itu Pak Yudha, bukan Pak Yogi. Kalau Pak Yogi itu kakaknya Pak Yudha." Ayumi, sengaja memancing reaksi. Menatap wajah-wajah polos di depannya yang tampak kebingungan, Ayumi menarik tipis sudut bibirnya, merasa puas melihat ekspresi mereka. "Kalian serius nggak tahu rahasia ini? Pak Yogi itu kabur tepat di hari pernikahan. Jadi, demi menjaga nama baik keluarga, Pak Yudha yang terpaksa menggantikan kakaknya buat menikahi Bu Kanaya." Ayumi sengaja menyebarkan rahasia yang disimpan Kanaya dari lingkungan sekolah.
"Usia Pak Yudha itu tujuh tahun lebih muda dari Bu Kanaya, lho. Masa kalian baru tahu?" Ayumi terus menghasut, berharap detail kecil ini segera menyebar dan menjadi konsumsi publik di lingkungan tempat Kanaya mengajar. Dengan nada pura-pura prihatin, ia menambahkan, "Ya, wajar aja sih, kalau Bu Kanaya nggak pernah cerita ke kalian. Soalnya, ini kan... aib keluarga."
"Kalau aib keluarga yang harus ditutupi, terus maksud Kakak menceritakan ini ke kami itu apa?" sergah Zahra, di luar ekspektasi Ayumi.
"Iya, benar. Kalau memang Bu Kanaya menyimpan ini agar nggak diketahui banyak orang, kenapa Kakak malah menyebarkannya? Kakak pasti punya niat jahat!" tuding Monik.
"Kakak dengki banget, sih!" Putri yang sedari tadi tak ikut berinteraksi dengan Ayumi kini ikut menimpali.
"Jangan-jangan Kakak ini naksir sama suami Bu Kanaya, jadinya iri hati sama Bu Kanaya!" Zahra kembali menuduh Ayumi mempunyai maksud tak baik pada Kanaya. "Iri bilang, bos!"
"Huuuhhhh..." Mereka bertiga serempak mencemooh.
Ayumi tersentak. Tak menyangka ketiga gadis itu tak terpengaruh dengan issue pernikahan Kanaya. tapi, mereka justru menyerangnya, apalagi beberapa pengunjung di cafe itu mulai memperhatikannya.
❤️❤️❤️
Bersambung...
baru manggap mam udah keluar kata keramat aja
Bersambung 😭
pasti senang sekali Yudha kalo tau Yaya tetiba positif
semoga garis dua ya nay