Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. Dendam Elisia
Keheningan di ruang VIP Vane Tower makin pekat dan menindas. Dominic masih berdiri kaku bagaikan patung marmer, rahangnya mengetat keras dengan manik mata yang membelalak tajam. Otaknya berputar keras mencoba mencerna rentetan kejadian irasional yang baru saja disaksikannya.
Julian Vane—sang penguasa finansial Singapura yang terkenal berdarah dingin dan angkuh—baru saja berlutut bersimpuh di atas lantai marmer, memanggil Clarissa yang berusia dua puluh dua tahun dengan sebutan 'Nenek' setelah wanita itu mengeluarkan gertakan bernada perintah militer kuno.
Sebelum Dominic sempat melontarkan cecaran pertanyaan, Clarissa memutar tubuh dengan keanggunan mutlak. Matanya yang berkilat keemasan mengunci tatapan Dominic dengan dingin.
"Dominic, tunggu di luar," perintah Clarissa tegas. Suaranya halus, namun tak menerima bantahan sedikit pun.
Dominic menyipitkan mata, langkah kakinya justru maju satu titik melintasi ambang pintu.
"Clarissa, apa maksudmu?! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian di ruangan ini setelah kegilaan yang kamu pertontonkan—"
"Aku bilang keluar, Suamiku," potong Clarissa lambat, mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Atau kamu ingin perjanjian akuisisi bernilai triliunan ini batal sebelum pena menyentuh kertas?"
Dominic mengepalkan tinjunya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan kecemburuan dan kemarahan membakar dadanya, namun binar ancaman dingin dari mata istrinya membuatnya paham bahwa wanita itu tidak sedang bersandiwara.
Dengan geraman rendah, Dominic berbalik dan melangkah keluar, membanting pintu kayu mahoni tebal itu hingga bergaung keras. Atas isyarat tangan Julian, seluruh pengawal pribadi pun mengundurkan diri dan mengunci lorong.
Kini, hanya tersisa Clarissa dan Julian di dalam ruangan megah berlatar pencakar langit Singapura.
Clarissa berjalan santai menuju dinding kaca raksasa, mengamati pemandangan kota di bawahnya. Aura Ratu Victoria memancar penuh dari setiap gerak-geriknya.
"Dengar baik-baik, Julian," ucap Clarissa tanpa berbalik. "Identitasku sebagai Ratu Victoria tidak boleh diketahui oleh siapa pun di dunia ini. Termasuk pria yang baru saja keluar."
Julian menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya yang gagah masih bergetar oleh haru.
"Aku paham, Nenek. Jika dunia tahu jiwa Sang Penguasa bersemayam di tubuh ini, musuh-musuh kita akan bergerak lebih cepat dari yang kita perkirakan."
Raut wajah Clarissa perlahan memudar, berganti menjadi kedalaman dingin yang menusuk. Keanggunannya berubah menjadi cengkeraman aura membunuh yang pekat.
"Sekarang... ceritakan padaku, Julian," desis Clarissa rendah. "Apa yang terjadi pada Kerajaan Elisia setelah aku meminum anggur beracun itu?"
Tangan tua Julian gemetar hebat. Matanya memerah dipenuhi duka dan dendam lama yang kembali membara.
"Pemberontakan itu... sangat berdarah, Nenek," suara Julian parau, menahan gejolak emosi di dadanya.
"Setelah Anda gugur, para pengkhianat itu membantai seluruh garis keturunan kerajaan. Istana dibakar, dan semua keluarga Kerajaan Elisia dibunuh tanpa ampun."
Clarissa mengepalkan jarinya hingga kuku-kukunya memutih di balik gaun sutranya.
"Aku bisa selamat..." lanjut Julian dengan napas berat, "...hanya karena racun dan jalur pelarian rahasia yang Anda siapkan untukku sebelum malam berdarah itu terjadi. Aku terlempar ke dunia modern ini, menyembunyikan identitas asliku sebagai jenderal Elisia, dan membangun Vane & Co dari nol hanya demi menumpuk kekayaan dan pengaruh... untuk membalas dendam atas kematian Anda!"
Clarissa menarik napas panjang, membiarkan dendam kesumat Kerajaan Elisia menyatu dengan kepedihan Clarissa yang terasingkan di klan Pratama.
"Dendam kita akan terbalas, Julian. Satu per satu," bisik Clarissa dengan binar mata yang berkilat mematikan. "Tapi sekarang... berikan dokumen akuisisi itu."
Julian segera mengambil map kulit berstempel emas dan menandatanganinya tanpa ragu. Ia menyerahkannya seraya membungkuk hormat.
"Seluruh pengaruh Vane & Co ada di genggaman Anda, Nenek."
Pintu VIP terbuka. Clarissa melangkah keluar dengan keanggunan mutlak, memegang map perak di tangannya.
Dominic yang menyandar kaku di dinding lorong langsung menegakkan tubuhnya. Pria itu melangkah cepat, mencegat jalan Clarissa dengan raut wajah yang menggelap.
Sebagai pria berotak bisnis tajam dan pemimpin Pratama Group, Dominic bukanlah pria bodoh yang bisa dibohongi dengan alasan murah.
Namun, ia juga cukup bijaksana untuk tidak bertindak gegabah. Ia telah melihat dengan matanya sendiri betapa digdayanya aura Clarissa hingga sanggup menundukkan penguasa Singapura yang paling tak tersentuh.
Siapa pun wanita yang kini bersemayam di dalam raga istrinya, Dominic tahu... kebenaran akan terungkap pada waktunya.
Dan alih-alih merasa terancam, rasa penasaran yang mendalam justru membakar gairahnya. Wanita di hadapannya ini kian berbahaya, kian penuh teka-teki, dan kian teramat memikat.
Dominic tidak menanyakan satu pun pertanyaan konyol tentang apa yang baru saja terjadi. Tatapan matanya yang tajam dan pekat hanya terkunci lurus pada manik mata Clarissa.
"Selesai?" tanya Dominic rendah, suara beratnya memuat ketenangan yang sarat akan dominasi.
Clarissa menyunggingkan senyuman Ratu yang paling memikat. Jemari lentiknya naik, mengusap kerah jas Dominic seraya menyodorkan map berstempel emas Vane & Co tepat di dada tegap suaminya.
"Tugas tiga hari tuntas dalam kurun waktu satu hari, Dominic Sayang," bisik Clarissa sensual dan dingin. "Ayo pulang ke Jakarta... aku ingin melihat bagaimana wajah Kakek Silas saat aku melempar kesepakatan ini dan mencabut sepuluh persen saham vetonya."
Dominic menerima map tersebut, lalu meraih pinggang halus Clarissa, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tak berjarak. Sudut bibir Dominic terangkat membentuk senyuman tipis yang berbahaya.
"Terserah permainan apa yang sedang kamu mainkan, Clarissa..." bisik Dominic serak tepat di depan bibir istrinya. "Tapi aku akan menikmati setiap detiknya."
sangat menarik sekali