NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Dipanggil “Ibu Rumah Tangga”

“Kalau ibu rumah tangga yang menjemput, biasanya menunggu di sebelah sana, Bu.”

Seorang ibu berkerudung krem menunjuk bangku semen di luar pagar SDN Serpong 5. Nan Shin berhenti dengan kartu penjemput Yi Ming di tangan. Dahulu, seragam putih dan kartu identitas rumah sakit menjelaskan dirinya sebelum ia membuka mulut. Hari itu ia hanya mengenakan blus tipis, celana longgar, dan sandal yang masih berdebu setelah turun dari ojek online.

“Saya menjemput anak kelas tiga,” katanya kepada petugas keamanan.

“Kartu penjemputnya sesuai. Silakan menunggu di bangku itu, Bu. Nanti anak-anak keluar bergiliran.”

Petugas tersebut sudah beralih kepada pengemudi mobil di belakangnya. Nan Shin menoleh kepada ibu yang tadi memberinya petunjuk, tetapi tidak membetulkan sebutan itu. Lebih tepatnya, ia tidak tahu harus membetulkan dengan kata apa.

Ibu berkerudung krem itu menggeser tas belanja agar Nan Shin dapat duduk.

“Anaknya kelas berapa, Bu?”

“Kelas tiga. Yi Ming Kho.”

“Oh, satu gedung dengan anak saya. Ibu baru sering jemput sendiri, ya?”

Nan Shin mengangguk. “Sebelumnya jadwal kerja saya bergiliran.”

“Kerja di mana?”

“Saya perawat.” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Ia merapikan ujung kartu penjemput. “Dulu di RSUD Serpong Utama.”

“Sekarang fokus di rumah?”

Kata fokus terdengar lebih halus daripada kehilangan pekerjaan, tetapi menutup luka dengan cara yang sama. Nan Shin memandang pagar hijau di depan mereka.

“Untuk sementara.”

“Enak juga bisa selalu ada untuk anak.”

Nan Shin mengusap kartu penjemput. “Ada sisi baiknya. Tapi saya masih mencari pekerjaan.”

“Oh, maaf. Saya kira Ibu memang memilih berhenti.”

“Kontrak saya dihentikan.”

Perempuan itu kehilangan senyumnya sesaat. “Setelah lama bekerja?”

“Dua belas tahun.”

“Sayang sekali. Saya tadi terlalu cepat menyebut ibu rumah tangga.”

“Saya memang sedang banyak di rumah. Hanya saja itu bukan seluruh pengalaman saya.”

Ibu itu mengangguk. “Benar. Kadang kita melihat siapa yang menjemput anak, lalu merasa sudah tahu hidupnya.”

“Saya sendiri juga belum tahu sebutan untuk keadaan saya sekarang.”

“Kalau begitu saya panggil Ibu Nan Shin saja.”

Nan Shin tersenyum kecil. Ia tidak menjelaskan bahwa pagi tadi dimulai pukul empat lewat tiga puluh, bahwa CV-nya masih berhenti pada satu kalimat, atau bahwa dua puluh tujuh menit untuk dirinya sendiri dianggap terlalu banyak. Ibu itu tentu tidak berniat merendahkan. Justru karena diucapkan dengan ramah, label tersebut semakin sulit ditolak.

Bel sekolah berbunyi. Anak-anak memenuhi halaman seperti air yang dilepas dari pintu bendungan.

Yi Ming berlari kecil sambil mengangkat botol minumnya. “Mama, hari ini Papa pulang cepat?”

“Katanya begitu.”

“Popo masak banyak sekali. Ada apa?”

“Kita tanya di rumah.”

Di dalam ojek online yang membawanya pulang, Yi Ming memeluk pinggang Nan Shin. Angin menerpa wajahnya, tetapi sebutan di gerbang sekolah masih melekat.

Ibu rumah tangga.

Bukan perawat yang sedang kehilangan pekerjaan. Bukan tenaga kesehatan dengan pengalaman dua belas tahun. Bukan orang yang sedang mencari jalan baru.

Hanya keadaan hari ini, lalu dianggap sebagai seluruh dirinya.

Begitu mereka sampai di Cluster Verona, aroma jahe dan kecap memenuhi ruang makan. Ibu Kho meletakkan seekor ikan kukus utuh di tengah meja, lalu menyuruh Nan Shin mengganti piring saji karena pinggiran piring pertama dianggap terlalu polos.

“Cepat mandi dan ganti baju,” katanya kepada Yi Ming. “Malam ini kita merayakan kabar Papa.”

“Papa ulang tahun?” Yi Chen muncul dari bawah meja dengan mobil mainan biru.

“Bukan. Papa naik jabatan.”

Nan Shin meletakkan tas sekolah Yi Ming. “Sudah resmi?”

Ibu Kho tersenyum lebar. “Tadi Cheng An telepon. Surat pengangkatannya keluar. Wakil kepala unit bedah. Umurnya belum empat puluh, sudah dipercaya pegang banyak orang.”

Kata dipercaya membuat jemari Nan Shin berhenti pada ritsleting tas. Pagi itu ia ditanya Cheng An mengapa kemeja putihnya belum selesai disetrika. Siang tadi ia disebut ibu rumah tangga oleh orang yang bahkan tidak mengenalnya. Sementara itu, satu lembar surat baru saja mengubah cara semua orang memandang suaminya.

“Bagus,” katanya. “Itu yang dia tunggu.”

“Bukan sekadar bagus. Ini hasil orang yang tahu memakai waktu.” Ibu Kho menyerahkan piring pertama kepadanya. “Makanya saya bilang, rumah harus tenang. Suami bisa maju kalau istrinya mengerti tugas.”

Nan Shin membawa piring itu ke dapur. Ia memilih tidak menjawab karena Yi Ming berdiri tidak jauh dari mereka.

Cheng An tiba menjelang pukul tujuh dengan sebuah kotak kue dari rekan-rekannya. Ibu Kho langsung mengambil foto putranya di depan meja makan. Nan Shin diminta berdiri di samping, lalu kedua anak ditempatkan di depan mereka.

“Tersenyum,” ujar Ibu Kho. “Keluarga dokter harus kelihatan kompak.”

Kamera ponsel berbunyi tiga kali. Dalam foto terakhir, tangan Cheng An berada di bahu Nan Shin, tetapi telapak itu terangkat segera setelah pemotretan selesai.

“Selamat,” kata Nan Shin ketika mereka duduk. “Mulai kapan resminya?”

“Awal bulan depan.” Cheng An memotong ikan. “Besok sudah ada rapat persiapan.”

“Berarti jadwal operasi berubah?”

“Mungkin. Ada lebih banyak urusan koordinasi.”

Ibu Kho menyendok sup ke mangkuk putranya. “Pasti rumah sakit memilih yang paling mampu.”

Cheng An mengangguk sambil melihat pesan di ponsel. “Presentasi evaluasi kemarin juga berjalan bagus. Dokter baru di bagian jantung itu memang cekatan. Data yang saya butuhkan sudah dirapikan sebelum rapat.”

Nan Shin mengangkat wajah. “Dokter baru?”

“Dokter spesialis. Pindahan.”

“Perempuan atau laki-laki?”

Cheng An berhenti sepersekian detik. “Perempuan. Kenapa?”

“Tidak kenapa. Aku belum pernah dengar kamu cerita ada dokter baru.”

“Rumah sakit punya ratusan pegawai, Nan. Aku tidak perlu melaporkan semuanya.”

“Aku tidak meminta laporan semua pegawai.”

“Lalu kenapa bertanya perempuan atau laki-laki?”

“Karena kamu menyebut dia dengan nada lebih hidup daripada saat membicarakan rumah.”

Ibu Kho segera menyela, “Jangan rusak makan malam Cheng An.”

Nan Shin tetap melihat suaminya. “Saya hanya bertanya siapa yang membantu presentasi.”

“Namanya tidak penting,” kata Cheng An. “Dia bagian dari tim.”

“Kalau tidak penting, kenapa kamu berhenti sebelum menjawab?”

Cheng An meletakkan sumpit. “Karena aku tahu pertanyaan berikutnya akan seperti ini.”

“Pertanyaan muncul karena kamu selalu menutup pembicaraan.”

Yi Ming menunduk pada piring. Nan Shin berhenti sebelum ketegangan itu berpindah kepada anak-anak.

Nada suaranya datar, tetapi sumpit di tangan Ibu Kho menyentuh tepi mangkuk. Bunyi kecil itu membuat meja mendadak terasa terlalu sunyi.

Yi Chen mendorong piringnya. “Mama, ikannya ada tulang.”

Nan Shin langsung memeriksa daging ikan di piring anaknya. “Jangan dimakan dulu. Mama pisahkan.”

Cheng An kembali melihat layar ponselnya. Percakapan tentang dokter baru berakhir secepat itu, seolah Nan Shin telah menanyakan sesuatu yang tidak pantas.

Setelah makan, Ibu Kho membungkus sisa kue untuk dibagikan kepada tetangga. Nan Shin mencuci piring sambil mendengar suara Cheng An menerima ucapan selamat melalui telepon di ruang keluarga.

“Ya, terima kasih. Kita kerjakan bersama,” katanya. Suaranya ringan, jauh lebih hangat daripada ketika menjawab pertanyaan istrinya.

Nan Shin mengusap noda kecap pada piring saji. Dua orang di rumah ini sama-sama pernah bekerja di rumah sakit. Karier Cheng An terus bergerak naik sampai selembar surat membuat keluarga mengadakan makan malam. Kariernya sendiri berhenti, kemudian namanya segera dipindahkan ke hampir semua kotak dalam jadwal kulkas.

Keesokan siangnya, ia kembali menunggu Yi Ming di bangku semen. Ibu berkerudung krem itu duduk di sebelahnya sambil menelepon seseorang.

“Iya, Tante sudah ditemani dari pendaftaran sampai ambil obat. Saya tinggal transfer biayanya.”

Setelah menutup telepon, perempuan itu mengembuskan napas lega.

“Maaf, Bu, tadi katanya Tante ditemani siapa?” Nan Shin bertanya.

“Pendamping pasien. Tante saya harus kontrol, tapi anak-anaknya kerja semua. Sekarang ada orang yang bisa disewa untuk mengurus antrean, mencatat penjelasan dokter, sampai menebus obat.”

Nan Shin memiringkan tubuh. “Orangnya tenaga kesehatan?”

“Ada yang pernah jadi perawat, ada yang bukan. Yang penting paham alur rumah sakit dan sabar menghadapi orang tua. Tante saya dapat yang bagus dari layanan online.”

“Pendampingnya ikut masuk ruang dokter?”

“Kalau pasien mengizinkan. Dia mencatat supaya Tante saya tidak lupa.”

“Pembayarannya lewat layanan itu?”

“Iya. Keluarga pilih durasi dan kebutuhan, lalu pendamping menerima pesanan.”

“Kalau pasien tiba-tiba sakit berat?”

“Pendamping panggil tenaga medis dan kabari keluarga. Bukan mengobati sendiri.”

Nan Shin mengangguk pelan. “Berarti batas tugasnya harus jelas sejak awal.”

“Betul. Tante saya suka karena anak-anak tetap mendapat kabar tanpa meninggalkan kantor.”

“Nama layanannya apa, Bu?”

Perempuan itu membuka kembali ponselnya. “Saya cari tautannya. Nanti saya kirim kalau Ibu mau.”

Belum ada anak yang keluar dari kelas. Namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah sakit, sesuatu yang bukan daftar pekerjaan rumah terbuka di hadapan Nan Shin.

Perempuan itu memasukkan ponsel ke tas, lalu menatapnya.

“Ibu pernah dengar pekerjaan pendamping pasien?”

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!