Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pintu apartemen baru terbuka, Farra langsung bernapas lega dan menyandarkan tubuhnya di pintu. "Hampir saja! Aku yakin banget tadi Gabriella sama Amelia ngeliatin pas aku masuk mobil."
Barra meletakkan tas sekolahnya di sofa, lalu menghampiri Farra dengan senyum goda. Tanpa memedulikan kekhawatiran istrinya, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Farra dan menariknya rapat. "Biarin aja. Malah bagus kalau mereka tahu, biar aku nggak usah pura-pura cuek lagi di sekolah."
"Barra, lepas dulu..." Farra terkekeh sambil berusaha mendorong dada Barra. Belum sempat Barra menjawab, suara meow nyaring menyela mereka.
Dari arah ruang tengah, dua ekor kucing persia berbulu lebat berlari menyambut kepulangan mereka. Cia, kucing persia berwarna oranye keemasan milik Farra, langsung mengusel manja di kaki Farra. Sementara Rexy, kucing persia abu-abu gelap dengan mata tajam milik Barra, melompat santai ke atas meja dan memperhatikan kedua pemiliknya.
"Cia! Rexy!" Farra berlutut, mengelus lembut bulu halus Cia yang langsung menduselkan kepalanya ke telapak tangan Farra. Rexy pun mendekat, membiarkan Barra mengusap dagunya. Kehadiran dua anabul itu membuat suasana apartemen terasa makin hangat dan hidup.
Namun, sifat manja Barra sama sekali tak berkurang. Saat Farra berdiri hendak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri usai seharian berseragam, Barra sudah menahannya dari belakang.
"Mau ke mana?" bisik Barra rendah di leher Farra.
"Mandi, Barra. Badan aku udah lengket banget," jawab Farra.
"Yaudah, barengan," sahut Barra santai, tanpa memberi ruang untuk negosiasi.
"Barra! Kemarin kan udah..." pipi Farra mendadak merona merah.
"Kemarin kan di hotel, sekarang di apartemen kita sendiri," balas Barra terkekeh pelan. Tanpa menunggu persetujuan Farra, ia memutar tubuh istrinya, merengkuhnya lembut, dan menuntunnya masuk ke kamar mandi utama. Di bawah guyuran air hangat shower, Barra memanjakan Farra dengan kecupan-kecupan lembut di bahu dan leher, mencairkan seluruh sisa rasa lelah Farra hari itu.
Usai mandi dan berganti pakaian santai, mereka menghabiskan malam di ruang tengah. Farra duduk di karpet empuk memangku Cia sembari membaca kembali rangkuman farmakologi, sementara Barra berbaring bersandar di paha Farra dengan Rexy yang tertidur pulas di dadanya.
Setiap beberapa menit, Barra akan menarik tangan Farra yang bebas hanya untuk mengecup buku-buku jarinya, atau meminta disuapkan camilan. Sikap Barra yang begitu manja di rumah—sangat berbanding terbalik dengan image ketua OSIS yang dingin di sekolah—selalu berhasil membuat dada Farra berdesir hangat. Di antara elusan bulu Cia dan Rexy serta kehangatan yang Barra berikan, Farra tahu hidup barunya sebagai seorang istri telah dimulai dengan indah.
Suasana apartemen malam itu makin redup dan hening. Di ruang tengah, Cia dan Rexy sudah meringkuk lelap di cat tree mereka, mendengkur halus dalam kehangatan lampu sudut ruangan. Barra perlahan bangkit dari paha Farra, mengambil buku farmakologi di tangan istrinya, lalu meletakkannya di atas meja coffee.
Sebelum Farra sempat bertanya, Barra sudah menyusupkan kedua tangannya ke bawah lutut dan punggung Farra, menggendongnya secara bridal style menuju kamar utama.
"Barra! Nanti jatuh!" pekik Farra pelan, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Barra.
"Nggak bakal," jawab Barra mantap, membalas tatapan Farra dengan pancaran gairah yang intens dan dalam.
Pintu kamar tertutup perlahan. Barra meletakkan Farra di atas kasur king-size beralaskan seprai lembut, lalu ikut merebahkan diri di sampingnya, mengikis setiap senti jarak yang tersisa. Cahaya remang dari lampu tidur keemasan menyiram kulit mereka, menciptakan suasana intim yang begitu menghanyutkan.
"Belajarnya udah cukup buat malam ini," bisik Barra serak, menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah Farra. "Sekarang waktunya fokus sama suami kamu."
Farra menahan napas saat bibir Barra mulai menelusuri rahangnya, mendaratkan kecupan-kecupan hangat yang beruntun hingga turun ke leher jenjangnya. Setiap usapan dan sentuhan jemari tegap Barra terasa makin berani namun tetap sarat akan kelembutan, membakar rasa dingin malam itu dan menggantikannya dengan gelora yang memabukkan. Farra hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam irama manis yang dibangun oleh suaminya.
Malam di apartemen baru itu menjadi saksi bisu penyatuan mereka yang kian bergairah dan penuh kasih sayang. Tanpa kecanggungan seperti saat awal menikah, setiap desahan pelan dan sentuhan lembut menyatu sempurna dalam kehangatan kamar. Barra memperlakukan Farra dengan sepenuh rasa cinta, memastikan istrinya menikmati setiap detik kebersamaan mereka hingga puncak kenikmatan menyapa.
Menjelang dini hari, setelah gelora gairah itu mereda, Farra tertidur pulas di dada bidang Barra dengan napas yang teratur. Barra melingkarkan lengannya erat-erat, memeluk tubuh hangat Farra sembari mengusap punggungnya pelan. Di balik ancaman kecurigaan teman-teman mereka di sekolah besok, malam ini mereka sepenuhnya milik satu sama lain.