NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Ibu Tiri

"Minta maaf?" Senja memeluk Bintang lebih erat. "Dia menampar anak kecil."

Vania mendorong Reza. "Tampar dia balik!"

Hana maju dan menampar Vania sekali lagi. Reza mengangkat tangan ke arah Hana, tetapi Senja menarik adiknya ke belakang lalu menampar Reza.

"Berani sentuh adikku, coba saja."

Reza terpaku. Kerumunan bersorak kecil, sementara petugas keamanan mulai mendekat.

Di lantai tiga, Damar berdiri di balik kaca kantor pengelola. Theme park itu bagian dari perusahaannya. Dari sana ia melihat Senja melindungi Bintang dan Hana seorang diri.

Ia menelepon.

"Bintang pertama kali bermain. Tidak ada apa-apa, kan?"

Senja menatap nama Damar di layar, lalu wajah anak yang bengkak. Ia bisa berbohong untuk menghindari hukuman, tetapi tidak melakukannya.

"Bintang menabrak keponakanmu, Vania. Vania menampar dia. Pipinya bengkak. Ini salah saya karena meninggalkan dia sebentar. Mas boleh marah nanti."

Damar menekan rahang. "Bawa ke RS. Semua biaya bilang atas namaku."

"Mas enggak marah?"

"Sekarang periksa Bintang."

Dalam perjalanan, Hana menuntut penjelasan. "Kakak menikah demi Rp 288 juta? Jadi ibu tiri?"

Senja tidak lagi mampu mengelak. "Iya."

"Kenapa enggak bilang?"

"Karena aku malu."

"Suamimu memperlakukan Kakak baik?"

Senja melihat Bintang tertidur di pangkuan dengan pipi memar. "Dia baik, ganteng, sopan, dan royal. Dia sangat sayang Bintang."

Hana tahu jawaban itu belum lengkap, tetapi menahan pertanyaan.

Sementara itu, Damar memanggil Vania dan Reza ke kantor lantai tiga. Vania datang sambil menangis.

"Senja langsung nampar aku begitu lihat!"

"Kamu menampar Bintang?"

"Dia nabrak aku. Es krimku jatuh."

Damar memutar rekaman CCTV. Tamparan kepada anak itu tampak jelas. Wajahnya tidak berubah, justru itu yang membuat Vania semakin takut.

Reza mencoba membantu. "Saya salah karena enggak menjaga Vania."

"Apa hubunganmu dengan Senja?"

Reza ragu. Damar sengaja menambahkan, "Katanya dia pacar Rayhan."

Vania menyela. "Dia dulu pacar Reza, lalu gebet Rayhan. Dia campakkan Reza demi keluarga kita."

Damar menatap layar CCTV, pada Senja yang memeluk Bintang seperti induk melindungi anak. Kebenaran di depan matanya bertabrakan dengan tuduhan yang baru didengar.

Petugas keamanan meminta semua pihak menuju ruang pengelola. Senja menolak sebelum Bintang diperiksa. Ia menunjukkan rekaman dan meminta bukti tidak dihapus.

"Saya akan membuat laporan kalau ada cedera," katanya.

Vania tertawa. "Kamu tahu keluarga aku siapa?"

"Saya tahu persis. Itu tidak menghapus tamparanmu."

Setelah menutup telepon, Damar memerintahkan staf menyimpan seluruh CCTV. Jika video menjadi viral, tim hukum harus melindungi identitas Bintang, bukan menutupi perbuatan Vania.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Hana bertanya, "Kalau suamimu baik, kenapa Kakak takut mengaku istrinya?"

"Itu kesepakatan kami."

"Kakak dapat apa selain uang?"

Bintang bergerak dalam tidur dan memeluk pinggang Senja. Senja mengusap rambutnya.

"Aku dapat dia."

Di kantor lantai tiga, Damar bertanya kapan Reza berpacaran dengan Vania. Jawaban mereka tumpang tindih. Satu pihak menyebut setelah putus, pihak lain menyebut bulan ketika Reza masih bersama Senja.

"Kalian berbohong bahkan untuk hal sederhana," kata Damar.

Vania menangis dan menyebut Senja perempuan tidak bersih. Damar mengetuk meja satu kali hingga semua suara berhenti.

"Jangan bicara tentang orang lain ketika kamu baru terekam memukul anak."

Ia kembali memutar video. Senja berdiri di depan Bintang dan Hana, tubuh kecilnya menjadi perisai. Gambaran itu tidak cocok dengan tuduhan perempuan licik yang hanya mengejar uang.

"Kamu tahu anak yang kamu tampar siapa?" tanya Damar.

Vania menggeleng sambil terisak.

"Bintang."

Wajah Vania kehilangan warna. "Putri Om?"

"Sekarang hubungan darah baru penting bagimu? Kalau dia anak orang lain, kamu boleh memukul?"

Vania terbata bahwa ia tidak sengaja. Damar memutar rekaman ulang. Telapak tangannya terangkat jelas dan mendarat dengan sengaja.

"Berhenti berbohong."

Reza ikut meminta maaf. Ia mengatakan tidak tahu Bintang adalah anak Damar.

"Kamu tidak perlu tahu siapa ayahnya untuk memahami anak kecil tidak dipukul."

Damar menelepon kepala keamanan dan memastikan Senja sudah berangkat ke RS. Hasil pemeriksaan belum ada. Selama menunggu, ia memerintahkan tim legal menyimpan video asli serta menghubungi pengunjung yang bersedia menjadi saksi.

Vania mulai menyebut ibunya. "Mama pasti marah kalau Om memperlakukan aku begini."

"Mbak Ratih boleh bicara denganku setelah Bintang diperiksa."

"Om lebih membela perempuan asing itu daripada keluarga sendiri."

Damar menatap gambar Senja di layar. Di depan orang lain, ia memang dianggap asing. Dalam hukum, perempuan itu istrinya. Dalam rumah, Bintang telah memilihnya sebagai Mama.

"Senja tidak memulai. Dia melindungi anakku."

Kalimat tersebut menjadi pembelaan pertama yang diucapkan Damar meski Senja tidak mendengarnya.

Di mobil menuju rumah sakit, Hana mengompres pipi Bintang. Senja menelepon Damar lagi untuk memberi lokasi dan meminta data asuransi anak.

"Sudah kukirim ke admisi," jawab Damar. "Jangan antre. Langsung ke layanan anak."

"Terima kasih, Mas."

"Senja."

"Iya?"

Damar ingin mengatakan ini bukan salahnya sepenuhnya. Di depan Vania dan Reza, kata-kata itu terasa seperti membuka sesuatu yang harus dirahasiakan. Ia memilih instruksi.

"Pastikan kepalanya diperiksa. Kabari aku setelah dokter selesai."

"Iya."

Sambungan terputus. Vania mendengar kelembutan yang sangat tipis dalam suara pamannya dan semakin membenci Senja.

Damar meletakkan ponsel. Saat ia kembali menatap dua orang di depannya, tidak ada lagi keraguan bahwa hukuman harus diberikan.

Wajahnya menjadi semakin gelap.

"Mulai sekarang, jangan hubungi Senja di rumah sakit atau di luar," kata Damar.

Vania menatap pamannya tak percaya. "Om bahkan tidak kenal dia."

Damar tidak menjawab. Mengakui seberapa dekat ia mengenal Senja akan membuka pernikahan mereka. Diamnya ditafsirkan Vania sebagai pembelaan tanpa alasan, sehingga kebenciannya tumbuh.

Bayu masuk membawa laporan awal. Video sudah diamankan dan dua saksi bersedia memberi keterangan. Damar meminta tim memantau unggahan media sosial. Potongan yang memperlihatkan wajah Bintang harus disamarkan, sedangkan bukti tindakan Vania tidak boleh dimanipulasi.

"Saya juga ingin laporan dari RS setelah pemeriksaan," perintahnya.

Reza mencoba meminta kesempatan bicara empat mata. Damar menolak.

"Apa pun alasanmu, kamu memilih menekan korban agar menyenangkan pacarmu. Perusahaan tidak membutuhkan penilaian seperti itu."

Reza belum dipecat saat itu, tetapi kalimat tersebut membuat kakinya lemas. Vania akhirnya sadar konflik di theme park akan merusak lebih dari wajah dan harga dirinya.

Damar berdiri menghadap jendela. Kendaraan yang membawa Senja sudah tidak terlihat. Ia ingin menyusul ke rumah sakit, tetapi menahan diri agar status mereka tetap tersembunyi.

Bayu menunggu instruksi berikutnya. Setelah jeda panjang, Damar memintanya menyiapkan mobil. Ia mungkin tidak masuk bersama Senja, tetapi ia akan memastikan berada cukup dekat jika pemeriksaan Bintang menunjukkan sesuatu yang buruk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!