NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Fondasi kekuatan yang sebenarnya

Saat cahaya fajar pertama baru saja menyentuh puncak-puncak pepohonan, bukit itu sudah tidak sepi lagi. Arlen berdiri tegak di atas tanah lapang yang rata, angin pagi menerbangkan ujung rambutnya yang hitam. Di hadapannya berdiri Kai, dengan sikap siap namun masih menyimpan banyak keraguan di matanya.

Selama bertahun-tahun, Kai dilatih untuk bergerak senyap, menyerang secara tiba-tiba, dan mengutamakan apa pun cara tercepat untuk menjatuhkan lawan. Dia terlatih menjadi bayangan yang mematikan. Namun berdiri di hadapan anak yang tampak jauh lebih muda darinya ini, ia merasakan ketegangan yang berbeda—seolah olah ia sedang berdiri di hadapan seorang guru yang telah menguasai segala hal jauh sebelum ia lahir.

"Kau sudah terbiasa mengandalkan kecepatan dan kelicikan," ucap Arlen memecah keheningan, suaranya tenang namun jelas terdengar. Kau tidak memegang senjata apa pun. "Itu membuatmu berbahaya, tapi tidak membuatmu kuat. Jika kau kehilangan tempat bersembunyi, atau jika lawanmu lebih cepat darimu... apa yang tersisa untuk kau andalkan?"

Kai mengerutkan keningnya sedikit.

"Kekuatan fisik dan ketajaman penglihatanku. Itulah yang cukup untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadaku."

Arlen menggeleng pelan.

"Kekuatan fisik memiliki batasnya, dan mata bisa ditipu. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dibangun di atas fondasi. Jika fondasinya rapuh, sekuat apa pun bangunan yang berdiri di atasnya, ia akan runtuh cepat atau lambat."

Arlen melangkah maju selangkah, matanya menatap lurus ke arah pemuda itu.

"Apa yang diajarkan kepadamu hanyalah cara menghancurkan. Hari ini, kita akan mulai belajar cara membangun. Mulai dari dalam dirimu sendiri."

Arlen memberi isyarat agar Kai berdiri tegak sepenuhnya. Kedua kaki dibelah selebar bahu. Lutut sedikit ditekuk seolah menahan beban berat yang tak terlihat.

"Rasakan tanah di bawah kakimu," ucap Arlen, suaranya berat dan berwibawa, kontras dengan fisik mudanya. "Jangan mengandalkan sirkulasi mana seperti para Mage. Di dunia sekarang, semua orang mengira mana adalah satu-satunya energi di alam semesta. Mereka salah. Jauh sebelum sejarah mereka ditulis dan menghapus keberadaan kita, para kesatria bertarung dengan energi kehidupan itu sendiri: Aura."

Kai mencoba melakukan apa yang dikatakan, namun ia merasa kaku dan canggung. Selama ini dia bergerak lincah sebagai pembunuh, mengandalkan reflek cepat atau sihir penguat fisik instan. Berdiri diam seperti patung terasa asing baginya.

"Aku tidak merasakan apa-apa selain tanah yang keras," keluhnya pelan setelah beberapa saat.

"Itu karena pikiranmu masih mencari aliran mana yang berisik," jawab Arlen tenang, perlahan mengitari tubuh Kai. "Kau terbiasa memanipulasi energi luar. Aura tidak bekerja seperti itu. Aura adalah energi murni yang lahir dari dalam dirimu sendiri, lalu diselaraskan dengan alam. Kosongkan pikiranmu. Lupakan mantra sihir. Anggap dirimu adalah bagian dari bumi ini."

Arlen berhenti tepat di samping Kai, menatap lurus ke depan.

"Ribuan tahun lalu, para kesatria aura musnah dalam perang besar karena dikhianati. Sejarah dunia diubah, dan esensi kekuatan kita dihapus total agar tidak ada lagi yang bisa menentang dominasi para penyihir. Kau tahu mengapa pohon besar bisa berdiri tegak meski diterjang badai sihir yang dahsyat? Bukan karena terlindung perisai mana, tapi karena akarnya menjalar jauh ke dalam. Begitu juga dengan pengguna Aura."

Kai menghela napas panjang. Ia memejamkan mata, membiarkan segala kekhawatiran dan kebiasaan lamanya yang selalu mengandalkan mana perlahan mengendur. Ia mencoba mencari titik hangat di dalam dadanya—pusat dari energi kehidupan yang disebut Arlen sebagai Aura.

Perlahan, rasa kaku itu hilang. Ketenangan yang aneh namun menenangkan menyelimuti hatinya.

"Aku... rasanya seolah tubuhku menjadi lebih ringan, namun lebih kokoh tertanam di sini," ucap Kai pelan tanpa membuka matanya. Secercah hawa tipis, transparan namun padat, mulai menguar samar dari permukaan kulitnya.

Arlen tersenyum tipis. Arlen adalah reinkarnasi dari kesatria aura legendaris era kuno. Melihat Kai, ia tahu warisan yang sempat punah itu kini menemukan penerusnya.

"Itu langkah pertamanya. Energi kehidupanmu, Auramu, mulai terbangun. Kini, cobalah gerakkan satu tanganmu perlahan. Pertahankan perasaan berakar itu. Jangan biarkan aliran auramu terputus."

Sementara mereka berlatih, tidak jauh dari sana, di balik jendela rumah kayu itu, Cedric berdiri diam mengamati keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebagai orang yang hidup di era yang di dominasi oleh para Mage, apa yang dilakukan Arlen sama sekali tidak masuk akal. Arlen tidak merapalkan mantra, tidak ada lingkaran sihir yang tercipta, namun pemuda asing itu memancarkan tekanan intimidasi yang luar biasa konstan.

Cedric teringat kata-kata bijak orang tua dulu: Kekuatan seorang pemimpin sejati bukan terlihat dari seberapa besar sihir yang ia kuasai, melainkan dari seberapa besar keyakinan yang bisa ia tanamkan pada hati orang lain. Dan Arlen sedang membangkitkan sesuatu yang jauh lebih purba dari sihir mana pun.

Latihan berlanjut sepanjang pagi hingga menjelang siang. Arlen tidak mengajarkan sihir penghancur berskala besar. Ia hanya memperbaiki cara Kai berdiri, bernapas, dan memusatkan energi vital di dalam tubuhnya. Hal-hal mendasar yang telah dilupakan dunia modern.

"Kau bergerak terlalu banyak membuang tenaga," ujar Arlen saat Kai mencoba bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain menggunakan teknik langkah lamanya. "Para Mage membuang-buang mana untuk memanipulasi elemen di sekitar mereka. Tapi seorang Kesatria Aura mengalirkan energinya persis seperti air sungai yang melewati bebatuan. Ia tidak melawan rintangan, ia menyatu dengannya."

Arlen kemudian memperagakan gerakan itu. Dia melangkah maju. Bagi pandangan Kai, sosok Arlen mendadak lenyap tanpa fluktuasi mana sedikit pun, lalu muncul kembali dua langkah lebih jauh tanpa suara. Benar-benar senyap, seolah tersapu angin.

"Kau... kau bergerak tanpa memicu gesekan udara sama sekali?" tanya Kai takjub, matanya terbelalak. Seseorang yang bergerak secepat itu harusnya memicu distorsi sihir atau embusan angin kencang.

"Aku mengalirkan auraku untuk menyelaraskan diri dengan alam, bukan menundukkannya seperti yang dilakukan para penyihir," jawab Arlen mantap. "Jika kau memanipulasi mana, atmosfer akan bergejolak dan musuh akan langsung mendeteksi keberadaanmu. Tapi Aura adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Alam tidak akan menolak bagian dari dirinya."

Arlen berhenti dan menatap pemuda itu lekat-lekat.

"Kau memiliki bakat alami yang besar, Kai. Itulah sebabnya mereka melatihmu sejak kecil di dunia kegelapan. Namun mereka membentukmu menjadi alat sihir yang kaku. Kita akan mengembalikan jati dirimu yang sebenarnya sebagai seorang kesatria."

Matahari sudah berada tepat di atas kepala saat Arlen memberi isyarat untuk beristirahat. Kai duduk di atas rumput yang hijau segar. Napasnya sedikit memburu, namun sirkulasi hawa hangat di dalam tubuhnya membuat hatinya jauh lebih tenang dan segar dibandingkan sebelumnya.

"Selama ini aku berpikir kekuatan berarti memiliki tingkat lingkaran mana yang tinggi untuk menindas dan menguasai orang lain," ujar Kai tiba-tiba memecah keheningan. "Tapi apa yang kau tunjukkan hari ini... jalan kesatria aura ini... rasanya kekuatan ini adalah tentang harmoni dan tanggung jawab."

Arlen menoleh sedikit, senyum tipis menghiasi bibirnya.

"Kau baru saja menemukan rahasia terbesar yang sengaja dikubur oleh para penguasa sihir saat ini, Kai. Ribuan tahun lalu, mereka memusnahkan para kesatria aura karena mereka takut. Mereka takut pada kekuatan yang tidak bisa mereka kekang dengan hukum sihir mereka. Kekuatan sejati dari Aura adalah untuk menjaga keseimbangan alam, bukan untuk mendominasi dan memperbudak."

Arlen menunjuk ke arah ladang yang tumbuh subur, pohon-pohon yang rimbun, hingga ke mata air yang mengalir jernih.

"Lihatlah sekelilingmu. Alam tidak pernah meminta upah atau menyombongkan kekuatannya saat memberi kehidupan. Begitu pula dengan esensi seorang Kesatria Aura. Kita ada untuk melindungi yang lemah dan menegakkan keadilan yang telah lama hilang dari dunia ini."

Kai menundukkan kepala perlahan, meresapi setiap kata itu. Matanya yang dulu dingin kini mulai memancarkan binar tekad yang baru. Kabut gelap doktrin masa lalunya runtuh digantikan oleh pemahaman baru tentang energi kehidupan.

"Aku masih harus banyak belajar," ujarnya jujur. "Dan para penyihir tingkat tinggi dari masa laluku... mereka tidak akan membiarkanku pergi atau membiarkan kekuatan kuno ini bangkit kembali."

Arlen mengangguk paham. Kebangkitan Aura adalah ancaman mutlak bagi tatanan dunia penyihir saat ini.

"Mereka pasti akan mengejar kita jika tahu fondasi kuno ini hidup kembali. Namun jangan takut pada masa lalu yang telah kita tinggalkan. Fokuslah pada auramu saat ini. Saat mereka datang membawa sihir mereka... kau tidak akan menghadapinya sendirian lagi. Warisan kesatria akan berdiri bersama."

Kai mengangkat wajahnya, menatap Arlen dengan pandangan penuh rasa hormat tertinggi—bukan lagi sebagai rekan biasa, melainkan sebagai Guru Besar dan Pemimpin setianya.

"Siap. Aku akan mempelajari seluruh teknik Aura yang kau ajarkan. Aku akan membuktikan bahwa warisan yang mereka hapus dari sejarah ini akan kembali mengguncang dunia.

Di kejauhan, di balik jendela kamar penginapan yang remang, Seraphina memperhatikan bukit itu menggunakan kristal pengamatannya. Ia adalah seorang Mage tingkat tinggi, dan pengalamannya membuatnya menyadari ada sesuatu yang salah.

Melalui kristal itu, dia tidak melihat adanya aktivitas mana atau fluktuasi sihir sama sekali di sekitar Arlen dan Kai. Namun, pergerakan fisik mereka begitu sinkron dengan alam sekitarnya, sebuah fenomena aneh yang tidak pernah tertulis di buku sihir mana pun di seluruh Kerajaan.

"Anak itu tidak hanya sekadar melatih fisik," gumam Seraphina dengan dahi mengkerut penuh kecurigaan. "Tidak ada mana, tapi getaran energi di sekitarnya terasa sangat masif... Apa ini jenis sihir kuno yang hilang?"

Ia menyimpan kembali kristal itu, lalu berdiri tegak dengan tatapan dingin dan penuh kewaspadaan.

"Jika ini terus berlanjut, dia akan membangkitkan sesuatu yang membahayakan tatanan dunia penyihir. Kita harus bertindak lebih cepat sebelum kekuatan aneh yang tidak bisa dikendalikan oleh Lingkaran Kelam maupun Kerajaan ini menjadi terlalu kuat untuk dihancurkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!