Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERINGATAN ROBERT
Pria itu berdiri tegak di balik pepohonan, tubuhnya besar dan kekar seakan batang pohon raksasa. Kulitnya gelap terbakar matahari hutan, wajahnya dihiasi kumis tebal dan janggut lebat yang menyatu di dagu. Rambutnya tidak terlalu panjang namun diikat ke belakang, menampakkan garis wajah yang keras dan berkarisma. Ia mengenakan kaos lengan panjang yang sudah agak lusuh, celana pendek kasar, dan sepasang sepatu gunung yang tebal dan kokoh. Tangan kanannya memegang senapan laras panjang yang diarahkan tepat ke arah dada Joe dan Arthur, tidak sedikit pun bergerak turun. Tatapan matanya tajam, meneliti kedua pemuda itu dari ujung kepala hingga kaki dengan penuh kewaspadaan.
"Siapa kalian berdua?" suaranya berat dan dalam, bergema di udara sunyi hutan. "Dan bagaimana caranya kalian menemukan tempat yang tersembunyi ini?"
Arthur menahan napas, tubuhnya sedikit mundur ke belakang karena merasa terancam. Namun Joe tetap berdiri tegak, menatap lurus ke mata pria besar itu tanpa takut. Dengan tenang dan tegas, Joe mengucapkan kalimat pendek dalam bahasa asing yang terdengar anggun namun penuh kekuatan:
"L'onore non si può mai comprare, ma va conquistato."
Seketika itu juga, wajah pria besar itu berubah. Kerasnya ekspresi lenyap seketika diganti rasa hormat yang mendalam. Perlahan-lahan, ia menurunkan senapannya, lalu berlutut di tanah lembap sambil menundukkan kepala dan memberi hormat kepada Joe.
Arthur yang melihat hal itu melongo tak percaya. Ia menoleh ke Joe dengan mata membelalak penuh tanda tanya. Setelah pria besar itu berdiri kembali, Arthur segera mendekat ke Joe dan berbisik dengan suara penuh heran.
"Hei Jo... kalimat yang loe ucapkan tadi itu apa? Apakah itu sejenis mantra sihir yang bisa bikin orang langsung tunduk dan hormat begitu? Kalau iya, gue pasti mau belajar! Lumayan, nanti kalau ada yang ganggu kita tinggal ucapin aja, mereka langsung tunduk!"
Joe tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Arthur pelan. "Diam dulu sebentar, Arthur. Aku ingin berbicara dengan beliau," ucapnya lembut namun tegas. Lalu ia berbalik menatap pria besar itu dengan tatapan yang lebih serius namun tetap sopan.
"Maafkan kelancangan temanku," ucap Joe dengan nada yang rendah hati. "Aku mencari seseorang yang dikenal dengan sebutan Si Tukang Jagal. Apakah Paman adalah orang yang aku cari?"
Pria besar itu tersenyum hangat, lalu menggeleng pelan.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Nak. Nama buruk itu sudah lama kutinggalkan di masa lalu. Panggil saja aku Paman Robert."
Robert menatap Joe dengan pandangan yang lembut namun dalam. "Dan kau... kau mirip sekali dengan ayahmu. Mata itu, cara berdiri itu... persis Tuan Kevin."
"Paman mengenal ayahku?" tanya Joe dengan penuh harap.
"Tentu saja. Dia adalah tuanku, dan aku adalah pelindungnya selama bertahun-tahun," jawab Robert pelan. Lalu ia kembali bertanya dengan penuh keheranan: "Tetapi bagaimana caranya kalian bisa menemukan rumahku yang tersembunyi jauh di dalam hutan ini? Bahkan warga desa terdekat pun tidak tahu jalannya."
Joe mengangguk pelan. "Aku mengikuti petunjuk yang tertulis di peta lama yang tersimpan di rumah lama ayahku. Peta itu menandai lokasi ini sebagai tempat yang harus aku tuju jika sesuatu terjadi padanya."
Robert menghela napas panjang, lalu menatap langit yang mulai gelap. "Kehidupan yang kau lalui sampai pada saat ini, pasti tidak mudah, bukan?"
"Memang tidak mudah, Paman," jawab Joe dengan jujur.
"Sudahlah, jangan berdiri di sini terus," ajak Robert sambil melambaikan tangan mengundang mereka masuk. "Malam sudah datang dan udara makin dingin. Masuklah ke dalam rumah. Kebetulan sekali kalian tiba di waktu yang tepat — aku baru saja berburu rusa besar sore tadi. Sedang hendak memanggang dagingnya untuk makan malam. Mari, kita makan bersama."
Mereka pun melangkah masuk ke halaman rumah kayu itu. Di halaman depan sudah berkobar api unggun yang besar dan hangat. Bau daging panggang yang menggugah selera segera menyambut hidung mereka. Daging rusa yang besar sudah dipanggang di atas bara api, lemaknya menetes perlahan menimbulkan bunyi mendesis dan aroma yang sangat lezat.
Malam semakin larut, namun api unggun tetap menyala terang menerangi wajah mereka bertiga. Mereka duduk melingkar di sekitar api, memakan daging rusa yang empuk dan gurih. Arthur terlihat sangat menikmati makanannya, ia memotong potongan daging yang besar dan memakannya dengan lahap tanpa berhenti. Wajahnya tampak sangat puas setiap kali daging itu masuk ke mulutnya.
"Wah... ini daging paling enak yang pernah gue makan seumur hidup!" seru Arthur dengan mulut penuh. "Empuk, manis, dan bumbunya meresap sampai ke dalam! Paman Robert memang hebat sekali memanggangnya!"
Robert tertawa mendengar pujian itu, lalu tersenyum ramah kepada mereka berdua. "Makanlah yang banyak, kalian berdua. Kalian sudah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan masuk ke dalam hutan ini. Tubuh kalian butuh banyak tenaga. Jangan ragu untuk mengambil lagi, masih banyak dagingnya."
Arthur tidak menunggu disuruh dua kali, ia langsung mengambil potongan daging yang lebih besar lagi dan terus makan dengan sangat lahap. Joe pun ikut menikmati makanannya dengan tenang, merasa beruntung sekali bertemu dengan orang yang sebaik Paman Robert di tempat yang jauh terpencil ini.
Setelah perut mulai kenyang, mereka sesekali meminum minuman hangat yang terbuat dari rempah-rempah — penghangat tubuh yang sangat dibutuhkan setelah perjalanan jauh.
Arthur yang sejak tadi penasaran akhirnya membuka percakapan. "Paman Robert... apakah Paman benar-benar tidak pernah keluar dari hutan ini? Selama ini sendirian saja?"
Robert tersenyum sambil memutar batang daging di atas api. "Aku hanya keluar sesekali, beberapa bulan sekali, untuk membeli keperluan yang tidak bisa didapat di hutan — garam, pakaian, alat berburu. Selain itu, di sini sudah cukup untukku. Hutan memberi makananku: rusa, babi hutan, buah-buahan, dan ikan di sungai. Kenapa harus pergi ke kota yang penuh keramaian dan kepura-puraan?"
Lalu Robert menatap Joe dengan tatapan yang berubah lebih serius. "Sekarang ceritakan padaku, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana? Mengapa kau datang sejauh ini mencariku?"
Joe meletakkan potongan daging yang masih dipegangnya ke atas piring kayu, lalu menarik napas panjang. Ia mulai bercerita dari awal — bagaimana ia tumbuh tanpa tahu siapa orang tuanya, bagaimana ia mengetahui kenyataan pahit tentang kematian ayah dan ibunya, bagaimana ia dikejar dan diburu oleh orang-orang yang dulu dipercaya keluarganya, hingga peran Susi — istri Dodi — yang berani membantunya melarikan diri dari kejaran Dodi, Jefri, dan William. Ia menceritakan semuanya dengan jujur dan lengkap.
Robert mendengarkan dengan tenang, namun wajahnya perlahan berubah menjadi muram dan sedih. Sesekali ia menghela napas berat sambil menggelengkan kepala.
"Sudah banyak sekali hal yang berubah di luar sana..." gumamnya pelan. "Aku terlalu lama menyendiri di sini, tidak tahu bahwa kekacauan sudah merajalela di tempat yang dulu kami jaga."
Suaranya bergetar penuh penyesalan. "Andai aku tahu semua ini akan terjadi... aku tidak akan pernah berhenti dari tugasku dulu sebagai pelindung Tuan Kevin. Aku seharusnya tetap di sana, menjaganya bersama keluarganya."
Joe menatap pria tua itu dengan simpati. "Paman... siapa saja sebenarnya musuh ayahku dulu? Apakah banyak orang yang menginginkan kematiannya?"
Robert menatap ke dalam nyala api unggun seakan melihat masa lalu di sana. "Sangat banyak, Joe. Sangat banyak sekali. Terutama setelah Tuan Besar Edgar — ayah dari ibumu — meninggal dunia. Persaingan memperebutkan kekuasaan dan kekayaan menjadi sangat kejam di negara ini. Setiap orang berusaha merebut apa yang bisa direbut, tanpa peduli cara apa yang dipakai."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang berat. "Dan aku... aku adalah orang yang melakukan pekerjaan kotor itu demi ayahmu. Banyak orang yang harus disingkirkan, banyak ancaman yang harus dihilangkan. Tangan ini pernah melakukan hal-hal yang tidak pantas diceritakan kepada anak muda sepertimu."
Robert menoleh ke Joe dengan tatapan lembut namun tegas. "Tetapi ketahuilah satu hal, Joe — ayahmu, Tuan Kevin, bukanlah orang yang kejam atau haus darah. Semua itu ia lakukan bukan karena ia suka, melainkan karena ia harus melindungi keluarganya. Ia tahu bahwa jika ia tidak bertindak tegas, maka orang-orang yang ia sayangi akan menjadi korban lebih dulu. Itulah satu-satunya alasannya."
Joe terdiam, meresapi kata-kata itu perlahan. Hatinya terasa lebih hangat mendengar penjelasan itu. Lalu ia mengangkat wajah kembali bertanya dengan sopan.
"Paman... apakah Paman mengenal seseorang bernama David? Saudara ibuku, putra Tuan Besar Edgar?"
Mendengar nama itu, wajah Robert seketika berubah menjadi pucat. Ia terdiam cukup lama, seakan menahan sesuatu yang berat di dalam dadanya.
"David..." gumamnya pelan, hampir berbisik. "David sudah lama meninggalkan negara ini, jauh sebelum Tuan Kevin dan Nyonya Clara menikah. Ia pergi ke luar negeri dan mengurus bisnis di sana."
"Kalau begitu," tanya Joe lagi dengan sopan, "mengapa nama David tidak pernah disebut-sebut saat semua orang berebut kekuasaan setelah kakekku meninggal? Seolah-olah dia tidak pernah ada."
Robert menarik napas panjang dan berat. "Karena Tuan Besar Edgar sendiri yang mewariskan sebagian besar bisnis gelapnya kepada David — di luar negeri. David hanya pulang sebentar saat pemakaman Tuan Edgar, lalu pergi lagi tanpa sempat menyelidiki penyebab kematian ayahnya. Orang-orang yang haus kekuasaan di sini sengaja membiarkannya pergi, karena mereka tahu... mendekati David adalah hal yang paling berbahaya."
Robert menatap Joe dengan tatapan yang sangat serius dan penuh peringatan. "Maka dengarkan baik-baik pesanku, Joe — jangan pernah mencoba mencari tahu lebih dalam tentang David, apalagi sampai mendekatinya. Lupakan saja nama itu."
Joe mengerutkan kening dengan bingung namun tetap sopan. "Kenapa, Paman? Apa yang sebenarnya disembunyikan tentang David?"
Sebelum Robert menjawab, Arthur yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama tiba-tiba menyela dengan wajah serius namun bercanda.
"Hei Jo... mungkin saja paman loe itu orang yang aneh, ya? Mungkin dia suka menyakiti orang, atau mungkin dia tipe yang suka memaksa dengan cara kasar begitu?"
Joe langsung melotot tajam ke arah Arthur, memberi isyarat agar diam. "Arthur, diam dulu. Biarkan Paman Robert menjelaskan," ucapnya tegas namun tenang.
Robert tersenyum tipis mendengar tebakan Arthur yang jauh dari kenyataan, lalu ia menggeleng pelan dan mulai bercerita dengan nada yang perlahan menjadi dingin dan seram.
"Bukan seperti itu, Nak. Dengarkan aku baik-baik. David bukan sekadar orang yang kejam. Aku belum pernah seumur hidup melihat manusia yang lebih kejam daripada dia. David adalah gambaran iblis yang berjalan di atas bumi."
Suara Robert rendah namun penuh beban. "Dia tega membunuh istrinya sendiri tanpa ragu sedikit pun. Dia memutilasi tubuh musuh-musuhnya dengan tangannya sendiri — bukan karena dia harus melakukannya, bukan karena tugas — melainkan karena dia menikmatinya. Bagi David, menyakiti orang lain adalah hiburan. Menghancurkan nyawa orang lain adalah kesenangan sesaat yang tidak bisa ia dapatkan dari hal lain. Uang, kekuasaan, wanita — semua itu hanya pelengkap baginya. Yang benar-benar ia inginkan adalah melihat orang lain menderita di hadapannya."
Arthur yang mendengar penjelasan itu tiba-tiba bergidik ngeri. Wajahnya yang tadi bercanda kini berubah menjadi pucat. "Astaga... gue kira dia cuma orang yang galak atau pemarah. Ternyata jauh lebih mengerikan dari itu..." gumamnya pelan.
Joe pun terdiam dalam. Pikirannya berputar cepat. Kakeknya, Tuan Edgar, mewariskan bisnis gelapnya kepada seseorang yang memiliki sifat sekejam itu? Dan ibunya — Clara — adalah saudara kandung orang yang digambarkan seperti iblis oleh Robert?
Malam semakin larut, udara di sekitar mereka makin dingin menusuk tulang. Robert bangkit berdiri, masuk ke dalam rumah kayu itu, lalu kembali membawa dua gulungan selimut tebal dan hangat yang terbuat dari kain wol kasar namun sangat nyaman. Ia menyerahkannya kepada Joe dan Arthur.
"Pakai selimut ini untuk tidur," ucap Robert dengan nada lembut kembali. "Malam di tengah hutan ini sangat dingin, terutama saat menjelang pagi. Jangan sampai kalian sakit."
Lalu ia berjalan kembali ke dekat api unggun, duduk di atas batang kayu yang tebal, dan menatap nyala api dengan wajah tenang. "Kalian tidurlah dulu. Aku akan berjaga di sini, memastikan api tetap menyala agar kalian tetap hangat sepanjang malam."
"Terima kasih banyak, Paman Robert," ucap Joe dengan tulus dan hormat.
"Ya, terima kasih, Paman!" sambung Arthur sambil menguap lebar.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah yang sederhana namun bersih dan wangi kayu kering. Sebelum memejamkan mata, Joe berbaring di atas tikar tebal sambil menatap langit-langit rumah yang gelap. Pikirannya terus berputar kembali pada kata-kata Robert tadi.
David... pamanku sendiri... seorang iblis yang menikmati penderitaan orang lain.
Pertanyaan besar muncul di benak Joe: Apakah sebaiknya aku berhenti mencari tahu tentang David? Atau justru semakin harus tahu kebenarannya, seberapa mengerikan pun kenyataannya?
Namun satu hal yang Joe yakini — ayahnya, Kevin, dan ibunya, Clara, pasti tidak mati sia-sia. Dan apa pun yang tersembunyi di balik sosok David, entah kebenaran atau bahaya maut, Joe tahu ia harus tetap melangkah maju.
Dengan tekad yang semakin kuat di dalam hatinya, Joe pun perlahan memejamkan mata, bersiap menghadapi hari esok yang pasti tidak akan lebih mudah dari hari ini.