NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Datang Di Neraka

Setelah keributan di ruang tengah tadi, Eve bahkan tidak sempat memahami bagaimana semuanya bisa terjadi begitu cepat. Vins membawanya keluar dari panti, melewati halaman yang dipenuhi anak-anak dan pengurus yang masih berdiri kaku, lalu memasukkannya ke dalam kereta kuda berwarna hitam yang menunggu di depan gerbang. Anehnya, Vins tidak ikut masuk. Begitu Eve didudukkan di salah satu sisi bangku, pintu kereta ditutup dan suara langkah kaki terdengar menjauh. Baru setelah itu Eve menyadari bahwa di dalam kereta hanya ada dirinya dan Duke Valois.

Suasana langsung terasa jauh lebih menyebalkan.

Eve duduk di sudut bangku dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tubuhnya masih terasa sedikit pegal setelah dilempar begitu saja, sementara rambut putihnya berantakan akibat ulah sendiri. Dia melirik ke seberang.

Lucien Valois duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pakaian hitamnya masih rapi, hanya beberapa helai rambut yang tadi ditarik Eve belum sepenuhnya kembali ke tempatnya. Pria itu bahkan tidak terlihat merasa bersalah.

Eve menyipitkan mata.

'Dasar orang gila.'

Dia menatapnya beberapa detik.

'Kalau bukan karena badan gue sekarang cuma segede tas belanja, udah gue jambak lagi.'

Tatapannya turun ke tangan Lucien.

'Enak banget hidupnya. Bisa ngangkat anak orang sesuka hati.'

Kemudian naik ke wajahnya.

'Terus ngatain cacing.'

Eve mendengus pelan dan membuang muka ke jendela. Pemandangan di luar bergerak perlahan mengikuti laju kereta. Jalanan yang dilalui masih jauh berbeda dari kota yang dikenalnya. Tidak ada kendaraan bermotor, tidak ada lampu jalan, hanya bangunan-bangunan batu dan kayu yang berjajar di sepanjang jalan. Beberapa orang berjalan menggunakan pakaian yang menurut Eve terlihat seperti kostum dari drama sejarah.

Semakin lama dia melihatnya, semakin sulit baginya untuk menganggap semua ini sebagai mimpi. Eve benar-benar tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya.

Sejauh yang dia ingat, tidak pernah ada anak bernama Eve dalam The Rose and Crown. Bahkan keluarga Valois tidak memiliki putri bungsu seperti dirinya. Anak-anak yang berkaitan dengan keluarga tersebut punya posisi dan jalan cerita masing-masing, tetapi tidak pernah ada seorang anak yatim berambut putih yang kemudian dibawa pulang oleh Lucien Valois.

'Terus gue siapa?'

Eve menunduk, memperhatikan jari-jari kecilnya sendiri.

'Kalau gue memang masuk ke dalam novel, kenapa ceritanya nggak sama?'

Tangannya perlahan mencengkeram ujung gaunnya.

Tapi kalau benar ini Elarion, Eve tidak mau memikirkan kelanjutannya. Dia sudah tahu terlalu banyak tentang dunia ini. Dan yang lebih buruk lagi, pria yang sekarang duduk beberapa meter di depannya bukan orang sembarangan.

Lucien Valois. Salah satu tokoh yang paling dia ingat dari The Rose and the Crown.Tokoh antagonis yang menginginkan kehancuran Kekaisaran Elarion, tokoh yang berperan besar dalam novel, dia juga membunh banyak tokoh- tokoh penting dalam novel, tidak heran kalau para masyarakat diam diam memberinya julukan sebagai Raja Iblis.

Eve kembali meliriknya.

'Kenapa harus dia?'

Dari semua tempat yang mungkin menjadi tempatnya setelah mati, kenapa harus masuk ke dunia novel? Dari semua keluarga yang mungkin dia temui, kenapa justru keluarga Valois? Dan dari semua karakter yang mungkin dia temui terlebih dahulu, kenapa harus kepala keluarga yang terkenal kejam?

'Kalau gue bisa milih, mending reinkarnasi jadi batu deh daripada di pungut sama Raja Iblis kek dia.'

Lucien yang sejak tadi diam akhirnya mengalihkan pandangan dari jendela. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Eve.

Eve buru-buru melihat keluar lagi. Beberapa detik kemudian, dia kembali melirik, Lucien masih menatapnya, Eve mengerutkan kening.

'Apaan?'

Dia kembali memalingkan wajahnya, hanya berselang beberapa detik kemudian Eve melirik lagi.

Pria itu masih melihatnya.

Kali ini Eve tidak mengalihkan pandangan. Dia justru menatap balik dengan wajah datar.

'Apasih. Sekalian aja tatap tatapan sini sampe bosen!' dalam hatinya.

Tatapannya bertahan cukup lama.

Eve memperhatikan wajah Lucien dengan teliti, dari rambut hitamnya, alisnya yang tegas, mata merah tua yang terlihat dingin, sampai ekspresinya yang hampir tidak pernah berubah.

'Kalau dipikir-pikir, kenapa penjahat harus ganteng sih?'

Eve menghela napas dalam hati.

'Kalau mukanya jelek, mungkin gue bisa lebih gampang benci.'

Lucien akhirnya menggeser tubuhnya sedikit. Tatapan Eve yang tidak kunjung pergi mulai mengganggunya. Sejak meninggalkan panti, anak itu tidak berhenti memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tatapannya bukan seperti anak kecil yang takut kepada orang dewasa. Beberapa saat kemudian, Lucien mengembuskan napas pendek. Kesabarannya akhirnya habis.

“Ada apa? Jangan menatapku seperti matamu ingin lepas?” tanyanya datar.

Eve terdiam.

Dia sebenarnya tidak menyangka pria itu akan menegurnya. Matanya berkedip pelan sebelum kembali menatap Lucien.

'Mataku memang pengen lepas.' dalam hatinya.

Namun tentu saja dia tidak mengatakannya.

Eve hanya mengembuskan napas lewat hidung dan memalingkan wajah, lalu menyandarkan kepalanya pada sisi kereta dengan ekspresi sebal. Kalau orang ini ingin tahu kenapa dia menatap, jawabannya sederhana. Karena dia tampan, menyebalkan, dan entah kenapa orang setampan itu harus menjadi orang jahat. Eve menghela napas pelan, lalu kembali memalingkan wajah ke jendela. Dia memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Lucien dan memilih memperhatikan perjalanan mereka. Namun beberapa saat kemudian, pemandangan di luar jendela mulai berubah.

Kereta kuda yang sejak tadi melewati jalanan kota perlahan memasuki sebuah gerbang besar. Begitu melewatinya, mata Eve langsung membesar.

Pekarangan mansion keluarga Valois terbentang luas di hadapannya. Jalan setapak dari batu membelah taman yang terawat begitu rapi, diapit hamparan bunga mawar dengan berbagai warna. Beberapa meter di sisi lainnya, tulip tumbuh berjejer dalam kelompok-kelompok kecil, bercampur dengan bunga-bunga yang bahkan tidak Eve kenali. Semuanya tertata dengan begitu indah sampai-sampai Eve tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke jendela.

"Wow.." gumamnya pelan.

Mata Eve bergerak mengikuti setiap bunga yang dilewati kereta. Sesekali dia bahkan menoleh ke belakang untuk memastikan bunga yang baru saja dilihatnya benar-benar ada. Rumput dipangkas rapi, pepohonan besar berdiri di sepanjang jalan, dan di kejauhan terlihat air mancur yang memantulkan cahaya matahari. Pemandangan seperti ini hampir tidak pernah dia nikmati dalam kehidupan sebelumnya. Hari-harinya lebih sering dihabiskan di rumah sakit, ruang autopsi, laboratorium, atau kantor dengan tumpukan berkas yang seakan tidak pernah habis. Kalau sedang beruntung, dia bisa melihat langit dari tempat parkir rumah sakit.

Eve menempelkan telapak tangan kecilnya pada kaca jendela.

'Kalau tahu bakal dapat pemandangan begini, harusnya gue mati dari dulu.'

Pikiran itu langsung membuatnya terdiam.

'.Bukan. Jangan mikir gitu.'

Dia buru-buru menggeleng kecil, lalu kembali memandang taman.

Beberapa menit kemudian, kereta mulai melambat hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah mansion yang jauh lebih besar daripada yang Eve bayangkan. Bangunan itu berdiri megah dengan dinding berwarna pucat, jendela-jendela tinggi, pilar besar di bagian depan, dan tangga lebar yang mengarah menuju pintu utama.

Eve mendongak dari dalam kereta.

'Gede banget.gila! sekaya apasih ni Raja Iblis'

Ketika pintu kereta terbuka. Lucien langsung turun tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Eve masih duduk di tempatnya, dia sedikit tersenyum tidak sabar apa yang akan terjadi selanjutnya, melihat pemandangan mansion mewah dia menjadi sedikir berharap. Dia menunggu. Hampir lima menit lamanya, Lucien terus berjalan memasuki mansion.

Eve perlahan mengedipkan matanya.

'...Yang bener aja.'

Dia menoleh ke luar pintu kereta yang masih terbuka, tidak hanya pintu kereta kuda saja yang masih terbuka, kini mulut kecilnya pun ikut terbuka saking shocknya dengan kelakuan Lucien.

'Dia ninggalin gue?'

Eve melihat tubuhnya sendiri yang kecil. Kakinya bahkan belum tentu bisa mencapai tanah dengan aman dari tempat duduk kereta.

'Hah? Normalnya orang bakal bantu gue keluar, gak sih? Apalagi gue masih empat tahun secara fisik.'

Dia menatap punggung Lucien yang semakin menjauh dengan tatapan tidak percaya.

'Bangsawan macam apa yang bawa anak dari panti terus ditinggal begitu aja? bangs*t'

Gadis kecil itu mendengus kesal, tidak ada pilihan lain mau tidak mau dia harus keluar sendiri. Eve baru saja hendak mencoba turun sendiri ketika suara Vins terdengar dari arah depan mansion.

"Yang Mulia, Anda tidak seharusnya meninggalkan anak yang baru saja Anda bawa dari panti begitu saja," tegurnya.

'Nah iya itu tuh pemikiran orang normal' pikirnya mendengar suara Vins.

Lucien berhenti di anak tangga. Eve tidak bisa melihat wajahnya dari kejauhan, tetapi entah kenapa dia sudah bisa membayangkan ekspresi datarnya. Beberapa detik kemudian, suara Lucien terdengar samar.

"Itu bukan urusanku."

Eve langsung mendengus.

'Tuh kan. Emang bangs*at'

Vins tampaknya menghela napas panjang sebelum berbalik dan berjalan kembali ke arah kereta. Tidak lama kemudian, wajah pria itu muncul di depan pintu.

Dia melihat Eve yang masih duduk diam di dalam kereta.

"Nona, maafkan saya. Duke itu..." Vins berhenti sejenak, seperti kesulitan memilih kata yang tepat, kemudian menghela napas. "Begitulah beliau."

Eve menatapnya datar.

'Begitulah beliau apanya? Emang dari pabriknya udah rusak?' Eve tersenyum, seperti senyum mode kerja yang sering ia gunakan.

Vins akhirnya mengulurkan kedua tangannya dan mengangkat Eve keluar dari kereta. Tubuh Eve langsung terangkat dengan mudah, jauh lebih nyaman daripada ketika Lucien mengangkatnya tadi. Eve refleks memegang bahu Vins agar tidak terjatuh. Dari posisi itu, dia bisa melihat mansion dengan lebih jelas. Bangunan itu bahkan terlihat lebih besar dari dekat.

Vins menurunkannya perlahan hingga kedua kakinya menyentuh lantai.

"Selamat datang di kediaman keluarga Valois, Nona," katanya sambil membenarkan posisi pakaian Eve yang sedikit berantakan. "Mulai hari ini, Anda akan tinggal di sini."

Eve menatap mansion di hadapannya. Untuk beberapa saat, dia tidak menjawab. Dia hanya berdiri sambil memandangi tempat yang seharusnya menjadi rumah barunya.

Rumah keluarga villain.

'Vins... kata katamu salah, harusnya selamat datang di neraka, gak sih?'

Eve menutup matanya mencoba mengendalikan ekspresinya, dia bisa membayangkan apa yang terjadi ke depannya.

'Kalau tuhan itu ada, setidaknya biarkan aku hidup sampe bisa hasilin uang sendiri deh, kalau udah gede bodo amat sama keluarga ini mending kabur.'

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!