Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Suamiku Anak Mami
Langkah Aisyah terhenti tepat di atas ubin marmer teras yang terasa sedingin es. Di depannya, berdiri sosok Bu Rosma dengan anggun namun memancarkan aura dominasi yang amat pekat.
Gaun sutra rumahan berwarna hijau zamrud yang dikenakannya melambai ditiup angin pagi, mempertegas kesan bahwa wanita itu adalah penguasa tunggal di dalam istana megah ini.
Rosma menyilangkan kedua tangannya di dada. Tangannya yang dipenuhi cincin berlian berkilauan diterpa sinar matahari pagi. Matanya menyipit tajam, dan menatap lurus ke arah koper tua cokelat yang diangkat oleh Pak Dudung, lalu beralih menatap Aisyah dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang jijik dan meremehkan.
"Akhirnya sampai juga kalian," ujar Rosma. "Mami pikir kalian ketagihan tinggal di rumah kayu reyot itu sampai lupa jalan pulang."
Dimas yang berada di samping Aisyah refleks menciut. Genggaman tangannya pada jemari Aisyah seketika mengendur, dan langkah kakinya mundur setengah pijakan ke belakang punggung istrinya, kembali pada tabiat aslinya sebagai anak mami yang penakut jika berhadapan langsung dengan amarah sang ibu.
"M-Mami..." gagap Dimas dengan suara yang pelan, sambil menunduk menatap lantai marmer. "Mami... tadi subuh kan kita udah bangun, cuma Pak Sopir aja yang agak lambat jalan..."
"Jangan menyalahkan orang lain, Dimas!" potong Rosma cepat, suaranya meninggi satu nada, dan memotong perkataan anaknya tanpa ampun. "Kamu itu sudah Mami kasih tau dari semalam! Tapi kamu malah enak-enakan tidur sampai bablas di sana! Kamu pikir Mami tidak punya pekerjaan lain selain menunggu kalian?!"
Aisyah yang melihat Dimas makin terpojok hanya menelan ludah pahit. Ia mengingat nasihat Bu Rahmi semalam bahwa ia harus bersikap sopan dan mencoba melunakkan hati mertuanya dengan akhlak.
Kemudian Aisyah memberanikan diri melangkah satu pijakan ke depan, dan menundukkan kepalanya secara takzim di hadapan Rosma.
"Mohon maaf, Bu Rosma..." tutur Aisyah dengan nada suara yang sangat lembut dan tertata. "Ini semua salah Aisyah. Aisyah yang lambat berkemas semalam hingga Mas Dimas kelelahan dan tertidur. Mohon jangan salahkan Mas Dimas atau Pak Dudung."
"Huh!."
Rosma mendengus keras. Ia lalu melangkah mendekati Aisyah, dan berhenti tepat di hadapan wanita muda itu hingga aroma parfum Chanel mewahnya mendominasi udara di sekitar mereka.
"Kamu tidak perlu sok pasang badan dan berlagak jadi pahlawan di depan saya, Aisyah," bisik Rosma tajam, matanya menatap Aisyah dengan kilatan amarah yang membara. "Saya tau persis taktik wanita seperti kamu. Jangan pikir setelah kamu berhasil masuk ke rumah ini dan tidur satu kasur dengan anak saya, kamu bisa mengatur atau mengambil hati saya!"
Aisyah membisu, dadanya terasa sesak dihantam kata-kata pedas tersebut. Namun ia tetap mempertahankan posisinya yang menunduk santun, dan menahan air mata yang mulai mendesak di pelupuk matanya.
Rosma lalu memutar badannya dan menatap Pak Dudung yang berdiri canggung sambil memegang koper tua Aisyah.
"Dudung! Bawa koper kumal itu masuk lewat pintu belakang!" perintah Rosma tanpa perasaan. "Jangan sampai ada kotoran atau kuman dari kampung yang menempel di karpet ruang tamu saya!"
Pak Dudung pun menunduk turut. "Nggih, Bu..." jawabnya pelan sambil bergegas membawa koper Aisyah menyusuri jalan samping menuju pintu belakang.
"Dan kalian berdua," lanjut Rosma menatap Dimas dan Aisyah, "Masuk sekarang! Mami mau bicara di dalam!"
**
Ruang tamu utama rumah mewah keluarga Wiraguna terasa bagaikan auditorium megah yang hampa. Sofa kulit berwarna putih bersih mengelilingi meja kaca tebal, dan lampu kristal raksasa memancarkan cahaya terang di atas pualam yang berkilau.
Rosma kini duduk di sofa utama dengan posisi bersedekap dada dan kaki yang terlipat anggun. Di depannya, Dimas dan Aisyah duduk berdampingan di sofa panjang.
Dimas terus meremas-remas jemarinya sendiri, sementara Aisyah duduk kaku dengan pandangan yang terarah ke lantai.
Lalu, seorang asisten rumah tangga paruh baya bernama Mbok Nah melangkah cepat sambil membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat dan menyajikannya di atas meja dengan tangan gemetar, lalu bergegas mundur kembali ke dapur karena takut terkena imbas ketegangan.
"Dengar baik-baik, Aisyah," Rosma membuka pembicaraan. Suaranya bergema halus di ruangan luas itu. "Saya setuju merestui dan menggelar pernikahan mewah kemarin bukan karena saya menerima kamu sebagai menantu idaman saya. Kamu tau betul itu."
Aisyah pun mengangguk pelan. "Saya paham, Bu Rosma..."
"Bagus kalau kamu paham," sahut Rosma dingin. "Saya menggelar pesta ratusan juta itu murni demi menyelamatkan nama baik keluarga Wiraguna dari skandal murahan yang dibuat oleh warga kampung kamu! Saya tidak mau rekan bisnis dan relasi pejabat saya berpikir anak tunggal saya menikahi wanita sembarangan karena ditangkap warga!"
Dimas mendongak pelan, dan mencoba menyela. "Mami... kan Aisyah sekarang udah sah jadi istri Dimas. Mami jangan galak-galak banget dong sama Aisyah..."
"Diam kamu, Dimas!" bentak Rosma dengan tatapan mendelik tajam ke arah putranya. "Kamu tidak tau apa-apa! Kalau bukan karena Mami yang membereskan semua kebodohan kamu malam itu, posisi kamu di perusahaan sudah digeser oleh sepupu-sepupu kamu!"
Dimas seketika bungkam, dan kembali menundukkan kepalanya yang sedikit ketakutan.
Lalu, Rosma kembali mengarahkan pandangannya pada Aisyah, dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan gaya yang angkuh.
"Mulai hari ini, kamu tinggal di rumah ini. Tapi ingat, status kamu di sini harus tau diri," tegas Rosma, dengan menekankan setiap katanya. "Kamu bukan nyonya muda yang bisa santai-santai menikmati fasilitas kemewahan keluarga ini. Ada aturan ketat yang harus kamu ikuti!"
Rosma kemudian menyebutkan aturan-aturannya satu per satu dengan jari tangannya yang bertabur perhiasan.
"Pertama, Kamar kalian ada di lantai dua ujung kanan. Jangan pernah berani mengubah tata letak barang atau dekorasi di rumah ini tanpa izin saya!"
"Kedua, Meskipun ada Mbok Nah, kamu wajib bangun jam empat pagi setiap hari untuk menyiapkan sarapan dan keperluan Dimas! Saya tidak mau anak saya makan makanan sembarangan!"
"Ketiga, Jika ada tamu atau teman-teman saya yang datang, kamu harus jaga sikap! Jangan pernah memalukan saya dengan bahasa atau tingkah laku kampung kamu!"
"Keempat, Kamu tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa izin tertulis dari saya, termasuk kalau mau pulang mengunjungi ibu kamu di kampung!"
Aisyah mendengarkan setiap aturan yang dijatuhkan padanya bagaikan vonis hukuman penjara. Aturan nomor empat terasa paling menyayat hatinya karena ia seolah dipisahkan dari Bu Rahmi secara tidak langsung.
Namun, mengingat nasihat ibunya untuk tetap bersabar dan taat, Aisyah hanya bisa menarik napas panjang dan mengangguk dengan pelan.
"Baik, Bu Rosma. Insya Allah semua aturan Bu Rosma akan Aisyah jalankan dengan baik," jawab Aisyah dengan pasrah.
Rosma sedikit terkejut melihat ketenangan Aisyah yang tidak memprotes atau menangis sedikit pun. Namun, keangkuhan Rosma menutupi rasa terkejutnya itu.
"Bagus. Sekarang, bawa barang-barang kamu ke atas! Dimas, antarkan dia ke kamar!" titah Rosma seraya berdiri dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya tanpa berpaling lagi.
Dimas dan Aisyah pun melangkah menaiki tangga melingkar berhias pagar besi tempa menuju lantai dua. Suasana di lantai atas itu terasa lebih hening. Karpet tebal seakan meredam setiap jejak langkah kaki mereka.
Dimas berjalan di depan sambil membawa koper tua Aisyah yang telah dipindahkan oleh Pak Dudung ke dekat tangga. Wajah pria muda itu tampak diliputi rasa bersalah yang amat besar pada istrinya.
Sesaat kemudian mereka tiba di depan sebuah pintu kayu mahoni di ujung koridor lantai dua. Dimas memutar gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar hingga memperlihatkan sebuah kamar tidur yang sangat luas dan mewah.
Tempat tidur berukuran King Size dengan kasur empuk berselimut sprei sutra putih yang mendominasi tengah ruangan. Di sudut kamar terdapat set meja rias mahal, sofa santai, dan pintu menuju kamar mandi pribadi yang luas berlantai marmer.
Namun, ruangan yang begitu indah itu terasa dingin dan kaku, sangat berbeda dengan kamar sempit di rumah kayu Aisyah yang terasa hangat dan penuh kasih sayang.
Dimas lalu meletakkan koper Aisyah di dekat lemari pakaian besar. Ia memutar badannya dan menatap Aisyah yang berdiri canggung di dekat pintu.
"Aisyah..." panggil Dimas.
Aisyah lantas menatap suaminya. "Iya, Mas Dimas?"
Dimas kemudian melangkah mendekat, dan memegang kedua bahu Aisyah dengan lembut. Matanya yang cokelat menatap lurus ke dalam mata Aisyah dengan raut wajah yang serba salah.
"Maafin Mami ya, Syah..." kata Dimas tulus. "Mami memang omongannya suka pedas dan keras kayak gitu. Mami dari dulu emang ngatur hidup aku banget... Aku tadi mau ngebela kamu, tapi aku takut Mami makin marah..."
Melihat raut penyesalan di wajah Dimas, sudut hati Aisyah yang tadinya beku perlahan mencair. Ia sadar bahwa Dimas bukanlah pria jahat. Suaminya ini hanyalah korban dari sistem pengasuhan ibunya yang terlalu dominan hingga membuatnya kehilangan keberanian untuk bersuara.
Aisyah tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan sejak tiba di rumah ini.
"Tidak apa-apa, Mas Dimas," tutur Aisyah lembut, sambil mengusap pelan lengan Dimas yang bertengger di bahunya. "Aisyah paham kok. Bu Rosma cuma belum kenal Aisyah saja. Lagipula, apa yang dikatakan Bu Rosma ada benarnya... Aisyah memang harus belajar banyak untuk jadi istri yang baik buat Mas Dimas."
Dimas terpana menatap senyuman Aisyah. Dalam balutan keraguan dan tekanan ibunya, kelembutan Aisyah terasa bagaikan oase segar di tengah gurun pasir.
Kekerasan hati dan sifat manja Dimas lumer seketika di hadapan kepasrahan anggun istrinya.
"Kamu... kamu gak marah sama aku kan, Syah?" tanya Dimas lagi, untuk memastikan dengan raut wajah polosnya.
"Tidak, Mas. Aisyah tidak marah," jawab Aisyah.
Tanpa diduga, Dimas langsung menarik Aisyah ke dalam pelukannya. Pria tinggi itu merengkuh tubuh Aisyah dengan erat, dan menyembunyikan wajahnya di celah leher Aisyah yang terbungkus hijab.
"Terima kasih ya, Syah..." bisik Dimas manja di telinga Aisyah, dengan pelukannya yang makin mengencang. "Aku janji deh... nanti kalau aku udah makin berani, aku bakal belain kamu di depan Mami. Tapi sekarang kamu bantu aku dulu ya..."
Aisyah sempat tersentak kaget oleh pelukan mendadak itu hingga jantungnya berdegup sangat kencang. Namun perlahan-lahan, Aisyah mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan suaminya, lalu mengelus punggung Dimas dengan penuh kelembutan.
"Aku istrinya, dan dialah suamiku..."
Bersambung...