NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

“Aku mau mandi!” Suara pria itu terdengar serius. Tatapannya pun tak kalah tegas. Tirta hanya menggeleng pelan.

“Tidak. Kamu masih sakit.” Sahutnya dengan kedua tangan bertolak pinggang. Pria keras kepala ini benar-benar sulit ditaklukkan.

“Sudah dua hari aku tidak mandi dan terus mengalah denganmu yang keras kepala itu.” Marchel mendecak kesal. Selama ini Tirta hanya mengelap tubuhnya menggunakan air hangat. Jujur saja, tubuhnya terasa lengket dan gerah. Selain itu, ada alasan lain yang membuatnya begitu bersikeras ingin mandi.

“Kamu lupa kemarin? Baru menyiram tubuh dengan air dingin sebentar saja, malamnya demammu naik lagi.” Tirta benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa pria dewasa ini memiliki sifat sekeras kepala balita?

Memang itu tujuanku mandi. Biar suhu tubuhku naik lagi dan kamu tetap tinggal di kamar ini.

Marchel tersenyum tipis dalam hati.

“Itu kemarin. Sekarang aku sudah sehat dan aku ingin mandi. Tidak ada bantahan lagi.” Nada bicaranya mulai terdengar galak.

Tirta mengembuskan napas panjang. Kalau begini terus, sepertinya dia benar-benar harus meminta izin tidak masuk kerja. Waktunya hanya habis untuk berdebat dengan pria yang duduk di kursi roda ini.

“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Tapi ada syaratnya. Sore nanti kamu harus ikut jalan-jalan denganku ke taman depan rumah.” Ini adalah ancaman terbaik yang bisa ia gunakan. Selama ini Marchel selalu menolak keluar rumah. Berada di keramaian sering membuatnya gelisah hingga mengalami panic attack.

“Aku setuju.” Mata Tirta langsung membulat.

“Hah?”

“Aku juga akan membuka semua tirai dan jendela kamar ini setiap hari supaya cahaya matahari masuk.”

“Aku setuju.”

Tirta mulai kehabisan akal.

“Aku juga akan mencukur semua brewokmu hari ini.”

Marchel sempat mengernyit beberapa detik.

Yes! Berhasil.

Tirta diam-diam bersorak dalam hati. Kali ini pasti pria itu akan mengurungkan niatnya.

“Baiklah. Setuju.”

“Hah?” Kini Tirta benar-benar ternganga. Pria itu menyetujui semua ancamannya begitu saja. Dengan curiga ia melangkah mendekat, lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Marchel untuk memastikan suhu tubuhnya. Tidak panas, juga tidak dingin. Justru telapak tangannya sendiri yang terasa semakin hangat.

“Apa ada yang salah dengan otakmu? Kenapa kamu menyetujui semuanya?”

“Tirta....” Nada rendah Marchel langsung membuat gadis itu menelan ludah.

“Baik... baik. Aku bantu.” Tanpa banyak bicara lagi, Tirta mendorong kursi roda Marchel menuju kamar mandi.

**

Begitu masuk ke dalam kamar mandi yang luas dan mewah itu, Tirta segera menyiapkan air hangat di bathtub. Tangannya bergerak pelan, tetapi jantungnya justru berdetak semakin cepat.

“Sebenarnya alasanmu tidak mau aku mandi karena kamu takut harus memandikanku?” Tebakan Marchel tepat sasaran. Saat mengelap tubuh pria itu kemarin saja Tirta sudah mati-matian menjaga pikirannya tetap waras. Sekarang dia harus memandikannya secara langsung.

“Tidak! Siapa bilang? Aku tidak takut.” Jawabannya terdengar terlalu cepat. Ia segera menghampiri Marchel lalu mulai membuka satu per satu kancing kemeja pria itu.

“Kalau begitu, kenapa tanganmu gemetar?” Marchel tersenyum geli. Tirta hanya menunduk malu.

Tubuh pria lumpuh itu benar-benar terlalu sempurna untuk diabaikan. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan otot perutnya masih terlihat jelas meski berat badannya sedikit turun selama sakit.

Astaga... fokus, Tirta!

“Jauhkan pikiran kotormu dari tubuhku, Tirta.” Godaan itu membuat Marchel diam-diam merasa senang. Ternyata gadis itu benar-benar gugup berada sedekat ini dengannya. Di dalam dadanya, kupu-kupu kecil mulai beterbangan.

“Kamu terlalu percaya diri.” Tirta mendengus pelan sambil melepas pakaian atas pria itu. Namun pekerjaan berikutnya membuatnya langsung membeku. Ia harus membuka celana Marchel. Mau tak mau, pandangannya pasti akan mengarah ke sana.

Selama berpacaran dengan Jordan, Tirta memang belum pernah melakukan hal yang terlalu jauh. Namun Lala sering sekali menceritakan pengalaman-pengalaman orang dewasa, bahkan beberapa kali mengirimkan video yang membuat wajah Tirta memerah hingga berhari-hari.

“Buka sendiri saja.” Ia memalingkan wajah saat tangannya berhenti tepat di dekat resleting celana pria itu.

“Bukakan.” Marchel sengaja menggodanya.

“Tanganmu tidak patah. Kamu masih bisa melakukannya sendiri.”

“Sayangnya tanganku sedang malas.” Rasanya Tirta ingin menghantam kepala pria itu dengan bata. Dengan napas panjang ia akhirnya mengulurkan tangan dan perlahan menurunkan resleting celana itu. Tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh bagian sensitif pria tersebut. Mata Tirta langsung membelalak. Ia buru-buru mendongak. Marchel justru sedang menatapnya dengan senyum penuh arti.

“Kamu menyentuhnya.” Tawanya akhirnya pecah. Melihat wajah Tirta yang memerah dan tegang ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.

“Berhenti tertawa!” Tirta buru-buru berdiri.

“Aku akan membantumu pindah ke bathtub.” Pipinya masih terasa panas. Marchel mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat agar Tirta memeluk tubuhnya untuk membantu berpindah. Senyumnya tak kunjung hilang. Dalam hati, ia berharap suatu hari nanti benar-benar bisa berdiri tegak sebagai pria yang utuh di hadapan gadis yang selalu merawatnya ini.

“Kenapa badanmu panas sekali?” Godaan itu kembali keluar. Ia bisa merasakan jelas hangat tubuh Tirta yang menempel di dadanya.

“Diamlah, Tuan Tua. Atau aku benar-benar akan melemparmu ke bathtub.” Ancaman itu justru terdengar lucu di telinga Marchel. Entah kenapa dipanggil "tuan tua" oleh Tirta sama sekali tidak membuatnya kesal.

“Kamu mencari kesempatan di kondisiku begini, ya?” Tanyanya sambil tetap merangkul pinggang gadis itu agar keseimbangannya terjaga. Anehnya, kini bukan hanya Tirta yang gugup. Marchel sendiri mulai merasa napasnya tidak tenang setiap kali tubuh mereka saling bersentuhan.

“Bisakah Anda diam—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kaki Tirta terpeleset di lantai yang basah.

“Ah!”

Byur!

Keduanya tercebur ke dalam bathtub.

Tubuh Tirta jatuh tepat di atas Marchel, sementara kepala pria itu membentur sisi bathtub.

“Akh!” Marchel meringis pelan.

Meski kesakitan, kedua tangannya tetap merangkul pinggang Tirta agar gadis itu tidak ikut terbentur. Air hangat membasahi pakaian mereka. Kini Tirta tanpa sadar duduk di pangkuan Marchel, sedangkan pria itu masih bersandar dengan kedua kaki lurus di dalam bathtub.

“Maaf! Kepalamu tidak apa-apa?” Tirta langsung panik.

Namun Marchel sama sekali tidak menjawab. Napasnya justru tercekat. Baju putih yang dikenakan Tirta kini basah kuyup hingga sedikit menerawang. Warna bra hitam yang dikenakan gadis itu terlihat samar di balik kain tipis yang menempel pada tubuhnya. Marchel buru-buru mengalihkan pandangan.

“Bangunlah... kamu berat.” Suaranya terdengar serak. Ia berdeham beberapa kali, berusaha mati-matian mengusir pikiran-pikiran yang mulai tidak terkendali. Sementara itu Tirta yang baru menyadari posisinya refleks melirik ke arah bawah tubuh Marchel.

Tak ada reaksi apa pun.

Rasa bersalah langsung memenuhi dadanya. Ingat, Tirta. Dia impoten... Jangan sampai sikapmu membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan wajah yang berubah iba, Tirta segera bangkit dari pangkuan Marchel. Ia tidak ingin pria itu merasa semakin rendah diri hanya karena kondisinya sekarang.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!