Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.
Laju mobil yang dikemudikan ayah Keira mulai memperlambat ketika memasuki sebuah kawasan yang terasa tidak asing.
Keira yang sepanjang perjalanan hanya memandang keluar jendela perlahan menegakkan tubuhnya. Alisnya mengerut ketika pagar tinggi di depan mereka terbuka. Ia mengenali tempat itu, bahkan terlalu mengenalinya.
“Ayah...”
"..."
Tidak ada jawaban.
Mobil terus bergerak melewati halaman luas sebelum akhirnya berhenti tak jauh dari pintu utama kediaman Arkatama.
Keira menatap bangunan di hadapannya selama beberapa detik, lalu pandangannya perlahan berpindah ke kedua orang tuanya. Tak jauh dari mobil yang mereka tumpangi, ada lebih dari dua mobil lain sudah terparkir di sana
“Keluarga terhormat yang Ayah maksud adalah keluarga Arkatama?”
Ayah Keira hanya tersenyum tipis sambil mematikan mesin. “Sekarang kamu sudah tahu.”
Keira belum sempat mengatakan apa pun ketika ibunya sudah membuka pintu.
“Ayo.”
“Ibu bahkan tidak bilang kita akan kemari,” protes Keira.
“Kalau Ibu bilang dari rumah, kamu pasti bertanya sepanjang perjalanan.”
Keira mendengus pelan. “Sekarang punya banyak pertanyaan yang harus Ibu jawab.” sahutnya seraya turun dari mobil.
Seorang pelayan segera menyambut dan membawa mereka masuk. Semakin jauh langkah Keira memasuki rumah, semakin kuat perasaan bahwa makan malam ini tidak sesederhana undangan biasa. Dan perasaan itu terbukti ketika mereka tiba di ruang keluarga.
Raksa berada di sana bersama Damar dan Meira. Ravian duduk tidak jauh dari Savera.
Arina dan Gatra pun hadir. Namun tatapan Keira berhenti pada tiga orang lain yang tidak ia duga akan berada di sana. Bram, Radinka, dan... Elang.
Elang yang sebelumnya tengah mendengarkan sesuatu dari Raksa mengangkat wajah hampir bersamaan dengan kedatangan mereka.
Tatapan mereka bertemu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Keduanya sama-sama terdiam. Elang jelas tidak menduga akan melihat Keira, begitu pula sebaliknya.
Keira bahkan nyaris lupa bahwa kedua orang tuanya masih berdiri di sisinya sampai Raksa bangkit menyambut.
“Selamat datang.”
Ayah Keira menjabat tangan Raksa dengan hangat. “Terima kasih sudah mengundang kami, Pak Raksa. Itu merupakan kehormatan bagi kami.”
“Justru saya yang harus berterima kasih karena kalian bersedia datang,” sahut Raksa tanpa menghilangkan senyum bersahaja di wajah tuanya
Beberapa sapaan lain segera menyusul. Keira turut memberi salam kepada Damar dan Meira sebelum akhirnya mengambil tempat bersama keluarganya.
Posisi duduk membuatnya berada tidak terlalu jauh dari Ravian. Sementara Elang berada di sisi berbeda bersama Bram dan Radinka.
Keira sempat melirik ke arah Elang, dan pemuda itu hanya membalas dengan sedikit anggukan yang terasa lebih sopan dalam penglihatan Keira.
Savera yang duduk di samping Arina pun mulai terlihat tidak tenang. Tatapannya sesekali berpindah pada Ravian, lalu kepada keluarga Keira.
Ia belum tahu apa yang sedang terjadi. Namun nalurinya mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan akan segera terjadi.
Percakapan awal berlangsung ringan. Tentang keadaan Damar, Daneswara yang baru menyelesaikan pekerjaan dengan Arkatama, hubungan lama antara beberapa keluarga bisnis yang ternyata sudah saling mengenal meski tidak terlalu dekat.
Namun di tengah percakapan hangat antar keluarga yang terngah mengalir, pikiran empat orang di antara mereka tidak berada di sana.
Raksa tidak langsung membawa pembicaraan pada tujuan sebenarnya, ia bahkan membiarkan makanan disajikan.Baru ketika suasana sudah lebih tenang, pria tua itu meletakkan sendoknya.
“Sebenarnya ada alasan lain saya mengundang kalian malam ini,” ucap Raksa mengarahkan pandangannya pada ayah Keira.
Gerakan beberapa orang berhenti hampir bersamaan. Keira yang semula menunduk hendak menyantap hidangan di hadapannya perlahan mengangkat wajah.
Gerakan saat Ravian saat akan meneguk air dari gelasnya pun terhenti dan menurunkan gelasnya kembali.
Raksa menatap kedua keluarga secara bergantian -keluarganya dan keluarga Keira-.
“Saya tidak ingin membuat ini terdengar lebih besar daripada yang sebenarnya,” Raksa memulai.
Meira mulai merasa tidak nyaman, entah mengapa satu kecurigaan masuk ke pikirannya.
Damar yang sudah mengetahui rencana itu hanya diam.
Raksa melanjutkan, “Saya hanya berpikir dua orang muda di sini yang mungkin tidak ada salahnya saling mengenal lebih jauh.”
Keira tidak bergerak. Ravian juga belum menangkap arah pembicaraan sampai Raksa menyebut nama mereka.
“Ravian dan Nona Keira.”
Ruangan yang sebelumnya terasa hangat kini menjadi benar-benar sunyi.
Sendok Savera berhenti beberapa sentimeter dari piring, tatapannya beralih kepada ibunya dan tidak menemukan keterkejutan di wajah wanita itu. Menjadi penegas jika kedua orang tuanya sudah tahu.
Keira mengembuskan napas pelan, kemudian perlahan mengalihkan pandangan kepada Ravian, berharap pria yang ia ketahui sebagai cucu dari pendiri Arkatama Group membuka suara.
Ravian sendiri tampak jauh lebih terkejut, netranya refleks mencari Savera. Tatapan mereka bertemu. Savera tidak mengatakan apa pun, namun Ravian tahu persis apa yang sedang ditunggu wanita itu.
Satu penolakan.
Beberapa hari lalu ia sudah berjanji hanya membutuhkan sedikit waktu sebelum berbicara kepada keluarga tentang hubungannya dengan Savera. Dan sekarang, keluarga justru sedang memperkenalkan wanita lain di hadapannya.
Ravian membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar. Tatapannya kemudian jatuh pada Kakeknya, beralih pada ayahnya, lalu ibunya. Sesaat kemudian berpindah pada kedua orang tua Keira dan pada wanita yang belum ia kenal di luar batas profesional pekerjaan.
Bukan hanya mereka saja, tapi juga ada keluarga lain yang menyaksikan, terlalu banyak orang yang menunggu jawaban. Dan seperti sebelumnya, keberaniannya kembali berhenti sebelum sempat menjadi kalimat.
Savera perlahan meletakkan sendoknya, senyum yang sejak tadi masih tersisa di wajahnya menghilang sepenuhnya.
Keira menangkap perubahan kecil itu, namun ia sendiri sedang menghadapi masalah yang tak jauh berbeda. Tanpa sadar, tatapannya bergerak ke arah Elang, berharap pemuda yang beberapa hari terakhir sering mengganggu pikirannya itu mengatakan sesuatu.
. . .
. . .
To be continued...
semoga setelah ni kebenaran segera di bongkar biar si Bram mempertanggung jawab kan perbuatan ny ,,
ayoo kak zira jgn lama2 ,,