Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masih sama
Pesawat dari Amerika akhirnya mendarat. Setelah melewati pemeriksaan dan mengambil barang bawaannya, Julian berjalan keluar dari area kedatangan bersama seorang wanita yang sejak tadi berada di sampingnya.
Tangannya menggenggam tangan wanita itu dengan santai, seolah sudah terbiasa berjalan berdampingan dengannya.
"Ke Solaria aja?" tanya Julian sambil melihat sekeliling.
Wanita itu menggeleng.
"Aku mau ramen."
Julian menghela napas kecil, tetapi akhirnya tersenyum.
"Baru sampai Indonesia sudah minta ramen."
"Memangnya kenapa?"
"Enggak apa-apa."
Mereka akhirnya berjalan menuju restoran ramen di area bandara. Julian menarik kursi untuk wanita itu sebelum duduk di hadapannya.
Setelah memesan, wanita tersebut tampak lebih ceria.
Julian hanya memperhatikannya sambil tersenyum tipis. Selama beberapa tahun berada di Amerika, wanita itu menjadi salah satu orang yang membuat kehidupannya terasa lebih ringan.
Namun jauh di dalam pikirannya, Julian tahu kepulangannya kali ini bukan hanya untuk berlibur.
Ayahnya meminta Raffi menjemputnya.
Nama Raffi saja sudah cukup membuat ekspresinya sedikit berubah.
Hubungan mereka memang jauh lebih baik dibandingkan masa kecil, tetapi tetap ada jarak yang tidak pernah benar-benar hilang.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, dari sisi lain area restoran, seseorang baru saja tiba di bandara.
Raffi.
Ia berdiri sambil membawa tas kecil, matanya menyapu area kedatangan untuk mencari Julian.
Namun langkahnya berhenti ketika pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sosok yang sangat dikenalnya.
Julian.
Dan seorang wanita yang tangannya masih digenggam erat oleh kakaknya itu.
Raffi tersenyum kecil.
"Sepertinya aku datang terlalu cepat."
Ia kemudian berjalan mendekat.
Kepulangan Julian yang seharusnya sederhana perlahan mulai membuka cerita baru dalam keluarga Pratama.
Julian baru saja selesai makan ketika melihat Raffi berdiri tidak jauh dari meja mereka.
"Raffi."
Raffi mendekat dan tersenyum tipis.
"Selamat datang."
Julian berdiri lalu menepuk bahu adiknya.
"Makasih sudah jemput."
Kemudian Julian menoleh kepada wanita di sampingnya.
"Oh iya, kenalin. Ini Dewi, pacarku."
Dewi tersenyum ramah.
"Hai, Raffi."
Raffi mengangguk sopan.
"Hai."
Julian kemudian menjelaskan bahwa Dewi masih satu kampus dengannya di Amerika dan mengambil jurusan kuliner. Mereka sudah cukup lama dekat sebelum akhirnya menjalin hubungan.
"Dia jago masak," kata Julian sambil tersenyum.
Dewi langsung tertawa kecil.
"Jangan dilebih-lebihkan."
Raffi hanya ikut tersenyum.
Namun entah mengapa, sejak pertama kali melihat Dewi, ada perasaan tidak nyaman yang muncul di dalam dirinya. Bukan karena Dewi melakukan sesuatu yang salah. Perempuan itu bahkan terlihat cukup ramah.
Raffi sendiri tidak tahu kenapa perasaan itu muncul.
Mungkin karena ia belum terbiasa melihat Julian begitu dekat dengan seseorang.
Atau mungkin karena selama ini ia masih merasa ada jarak tertentu antara dirinya dan Julian, sehingga kehadiran orang baru dalam kehidupan kakaknya membuatnya semakin asing.
Raffi memilih tidak mengatakan apa pun.
"Ayo, kita pulang. Ayah sudah menunggu."
Julian mengangguk.
Dewi ikut berdiri dan mengambil tasnya.
Saat berjalan menuju pintu keluar, Raffi berjalan sedikit di depan. Sesekali ia melirik ke belakang dan melihat Julian menggandeng tangan Dewi.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Namun ia menahannya.
Bagaimanapun, Dewi adalah pilihan Julian.
Dan Raffi tidak ingin membuat kepulangan kakaknya menjadi tidak nyaman hanya karena perasaan aneh yang bahkan dirinya sendiri belum mengerti.
Setelah Dewi dijemput oleh bibinya bersama saudaranya, suasana mendadak terasa lebih sepi. Raffi akhirnya memutuskan pulang bersama Julian. Sepanjang perjalanan, Raffi lebih banyak diam sambil memikirkan rencananya untuk pergi ke pabrik. Ia sudah bertekad untuk mulai bekerja dan tidak ingin terus bergantung pada orang lain.
Begitu sampai, Raffi bersiap turun dari kendaraan. Namun, Julian yang mendengar rencana Raffi langsung menatapnya dengan wajah terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka Raffi akan memilih bekerja di pabrik.
"Kamu serius mau kerja di pabrik?" tanya Julian, seolah masih sulit mempercayainya.
Raffi hanya mengangguk. Baginya, keputusan itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Ia ingin memiliki penghasilan sendiri, sekaligus membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Julian terdiam beberapa saat. Ada rasa heran sekaligus tidak nyaman melihat Raffi begitu yakin dengan pilihannya. Selama ini ia tidak pernah membayangkan Raffi akan benar-benar terjun bekerja di pabrik. Bahkan, mendengar rencana itu membuat pandangannya terhadap Raffi sedikit berubah.
Raffi sendiri tidak terlalu memedulikan keterkejutan Julian. Ia hanya menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Dalam hatinya, ia tahu mungkin perjalanan ini tidak akan mudah. Namun, setidaknya untuk pertama kalinya, ia merasa sedang berusaha menentukan hidupnya sendiri.
Raffi perlahan sudah tidak lagi memikirkan hotel itu. Baginya, urusan hotel bukan sesuatu yang ingin ia perjuangkan. Jika suatu hari nanti tiba waktunya, ia akan menyerahkan semuanya kepada Julian. Ia percaya Julian lebih cocok berada di dunia itu dan mampu meneruskan apa yang selama ini menjadi bagian dari keluarga mereka.
Raffi justru merasa lebih tenang ketika membayangkan dirinya jauh dari urusan hotel. Ia ingin belajar banyak hal dari bawah, merasakan bagaimana dunia kerja sebenarnya, dan memahami setiap proses yang selama ini hanya ia dengar dari orang lain. Bekerja di pabrik bukan sesuatu yang membuatnya malu. Justru dari sana ia berharap bisa mendapatkan pengalaman yang berguna untuk masa depannya.
Di dalam hatinya, Raffi juga mulai menyimpan impian lain. Ia ingin membangun usaha kuliner miliknya sendiri. Bukan sekadar usaha kecil yang dijalankan tanpa arah, tetapi sesuatu yang benar-benar ia bangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
Untuk pertama kalinya, Raffi merasa tidak perlu mengejar apa yang sudah disiapkan keluarganya. Ia ingin memiliki jalan hidupnya sendiri. Mungkin jalan itu lebih panjang dan melelahkan, tetapi Raffi tidak keberatan. Ia ingin suatu hari nanti bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri dan mengatakan bahwa semua yang dimilikinya adalah hasil dari perjuangannya.
Hotel boleh menjadi milik Julian di masa depan. Namun, Raffi ingin memiliki sesuatu yang lahir dari tangannya sendiri—sebuah usaha kuliner yang menjadi bukti bahwa ia mampu menciptakan masa depan tanpa harus bergantung pada nama besar keluarganya.
Julian baru saja memasuki rumah ketika ibunya langsung menyambut dengan wajah penuh kerinduan. Sudah cukup lama ia tidak melihat putranya berada di rumah selama itu. Tanpa banyak bicara, sang ibu memeluk Julian erat, seolah ingin melampiaskan rasa rindu yang selama ini ia pendam.
Di ruang tengah, nenek Julian kini duduk di atas kursi roda. Kondisinya yang semakin lemah membuat Julian sempat terdiam. Ia menghampiri neneknya, mencium tangannya, lalu tersenyum lembut. Ada rasa sedih melihat sosok yang dulu begitu kuat kini harus bergantung pada kursi roda, tetapi kehadiran Julian membuat wajah neneknya terlihat jauh lebih bahagia.
Saat makan siang bersama, suasana rumah terasa hangat. Ibunya terus memperhatikan Julian dengan senyum yang sulit disembunyikan. Mendengar Raffi tidak berniat memimpin hotel dan memilih menjalani hidupnya sendiri, ada rasa lega yang perlahan memenuhi hati sang ibu.
Dalam pikirannya, memang Julian yang paling pantas meneruskan hotel keluarga. Sejak dulu, ia melihat Julian lebih memiliki ketertarikan dan kemampuan dalam mengurus bisnis. Karena itu, keputusan Raffi justru membuatnya merasa tenang. Setidaknya tidak ada lagi persaingan di antara kedua putranya untuk memperebutkan masa depan perusahaan.
Namun, di balik kebahagiaannya, sang ibu tetap berharap kedua anaknya bisa menjalani hidup masing-masing tanpa saling menjauh. Baginya, hotel hanyalah sebuah warisan, sementara keluarga adalah sesuatu yang jauh lebih berharga.
Julian yang melihat senyum ibunya hanya bisa terdiam. Ia tahu, mulai saat itu, tanggung jawab besar perlahan akan berada di pundaknya. Ada kebanggaan yang muncul, tetapi bersamaan dengan itu ada pula rasa takut. Meneruskan hotel bukan perkara mudah, dan ia sadar jalan yang dipilih Raffi mungkin justru membuat mereka berdua menemukan kebahagiaan dengan cara masing-masing.
Suasana makan siang yang semula hangat mendadak berubah ketika Bu Naura mulai membicarakan Raffi. Nada bicaranya terdengar meremehkan, seolah keputusan Raffi untuk tidak meneruskan hotel adalah sesuatu yang memalukan. Ia bahkan menyindir pilihan Raffi yang ingin bekerja di pabrik dan membangun usaha kuliner sendiri.
"Kalau memang tidak sanggup memimpin hotel, lebih baik dari awal jangan banyak berharap," ucap Bu Naura dengan nada tajam. "Mau bekerja di pabrik? Memangnya itu pantas untuk anak dari keluarga seperti kita?"
Julian hanya diam mendengar perkataan ibunya. Ia tahu ucapan itu sudah berlebihan, tetapi tidak segera menyela. Sementara itu, neneknya yang sejak tadi hanya menikmati makan siang perlahan meletakkan sendoknya.
Wajah wanita tua itu berubah. Tatapannya langsung mengarah kepada Naura dengan sorot mata kecewa. Ia tidak menyangka putrinya sendiri tega merendahkan Raffi hanya karena cucunya memilih jalan hidup yang berbeda.
"Jangan bicara seperti itu tentang Raffi," tegurnya tegas.
Bu Naura terdiam, sementara Julian ikut menatap neneknya.
"Dia tidak mengambil apa pun dari siapa pun. Dia justru memilih berusaha dengan caranya sendiri. Kalau dia ingin belajar bekerja di pabrik dan membangun usaha kuliner, apa salahnya?" lanjut sang nenek.
Naura terlihat tidak terima, tetapi ia memilih diam ketika melihat kemarahan di wajah ibunya. Bagi sang nenek, pekerjaan bukanlah sesuatu yang menentukan harga diri seseorang. Ia justru bangga pada Raffi karena cucunya itu berani memilih jalan yang tidak mudah.
Di dalam hatinya, nenek merasa sedih. Seharusnya keluarga menjadi tempat pertama bagi Raffi untuk mendapatkan dukungan, bukan tempat ia direndahkan. Ia hanya berharap suatu hari nanti Naura menyadari bahwa tidak semua anak harus menjalani kehidupan sesuai keinginan orang tuanya.