Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dari Bab 1: Darah di Atas Giok
Byur!
Air kotor dari ember pel tumpah, membasahi sepatu kanvas usang milik Ye Chen.
"Dasar sampah tidak berguna! Mengepel lantai saja kau tidak becus. Untuk apa keluarga Su memberi makan anjing sepertimu selama tiga tahun?!"
Suara melengking Zhao Mei, ibu mertuanya, bergema tajam di ruang tamu vila keluarga Su yang mewah. Wanita paruh baya itu menatap Ye Chen dengan rasa jijik yang mendarah daging, seolah menatap serangga yang merayap di lantai marmernya.
Ye Chen menunduk, menyembunyikan kilatan di matanya. Ia buru-buru mengambil kain lap dan membersihkan genangan air. "Maaf, Ibu. Saya akan mengepelnya lagi."
"Tutup mulutmu! Jangan panggil aku Ibu!" Zhao Mei mendengus kasar, melipat lengannya di dada. "Hari ini Grup Su sedang menghadapi krisis keuangan. Perusahaan butuh suntikan dana lima puluh juta yuan hari ini juga atau kita akan bangkrut! Apa yang bisa kau lakukan, hah? Kau hanya bisa menyapu, memasak, dan mencuci pakaian dalam kami! Berbeda jauh dengan Tuan Muda Wang Hao yang bersedia memberikan dana itu tanpa berkedip."
Tepat saat nama itu disebut, pintu depan terbuka.
Seorang pria muda dengan setelan jas desainer seharga ratusan ribu yuan berjalan masuk dengan senyum arogan. Di belakangnya, masuk pula Su Yuhan, istri Ye Chen.
Su Yuhan memiliki kecantikan yang bisa menjatuhkan sebuah kota—kulitnya seputih pualam, wajahnya dipahat sempurna, namun selalu memancarkan aura sedingin es. Hari ini, keangkuhan es itu tampak retak. Wajahnya pucat dan kelelahan, memancarkan keputusasaan yang mendalam.
"Bibi Zhao, kau terlalu memujiku," ucap Wang Hao berbasa-basi, meski matanya menatap Ye Chen dengan tatapan merendahkan, layaknya melihat seekor kecoak.
"Oh, Tuan Muda Wang! Silakan duduk, silakan!" Zhao Mei langsung berubah ramah. Wajahnya yang tadi bengis kini dipenuhi senyum lebar yang menjilat.
Wang Hao duduk santai di sofa kulit mahal, lalu menatap Su Yuhan yang berdiri diam di dekat pintu.
"Yuhan, tawaranku masih berlaku. Aku akan menyuntikkan lima puluh juta yuan ke perusahaanmu hari ini juga. Syaratnya hanya satu..." Wang Hao menyeringai, lalu menunjuk ke arah Ye Chen yang memegang gagang pel. "...ceraikan sampah ini besok pagi, dan jadilah istriku."
Wajah Ye Chen mengeras. Jemarinya mencengkeram gagang pel hingga buku-buku jarinya memutih. Tiga tahun dia dihina, dia bisa menahannya. Tapi mencoba merampas istrinya secara terang-terangan di depannya? Itu melewati batas.
"Tuan Muda Wang, tolong jaga ucapanmu. Yuhan adalah istriku yang sah!" sahut Ye Chen, suaranya berat dan tegas.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Ye Chen. Kepalanya terpelanting ke samping, meninggalkan jejak merah berbentuk lima jari di wajahnya.
Zhao Mei berdiri di depannya dengan dada naik turun, matanya melotot tajam. "Beraninya kau membentak Tuan Muda Wang?! Kau pikir kau siapa? Kau hanya menantu benalu yang kami pungut dari jalanan! Yuhan, cepat tanda tangani surat cerai ini. Ibu sudah menyiapkannya!"
Zhao Mei melempar sebuah dokumen ke atas meja.
Su Yuhan menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Dia menatap Ye Chen dengan tatapan rumit—campuran antara kasihan, marah, dan putus asa.
"Ye Chen... maafkan aku," suara Yuhan bergetar pelan. "Tapi Grup Kosmetik Su adalah peninggalan kakek. Itu jerih payahnya seumur hidup. Aku... aku tidak bisa membiarkannya hancur."
"Yuhan, kau tidak perlu melakukan ini. Aku bisa mencari jalan keluar. Beri aku waktu," kata Ye Chen, melangkah maju dan mencoba memegang tangan istrinya untuk menenangkannya.
"Singkirkan tangan kotormu dari calon istriku!"
Wang Hao melompat berdiri, mengayunkan kakinya dan menendang perut Ye Chen dengan keras.
Brak!
Tubuh kurus Ye Chen terpental ke belakang. Kepalanya membentur ujung meja marmer dengan suara retakan yang mengerikan. Darah segar seketika menyembur dari pelipisnya, menetes deras ke lantai.
"Ye Chen!" Su Yuhan menjerit panik, instingnya membuatnya ingin berlari mendekat, namun tangannya ditahan kuat-kuat oleh Zhao Mei.
"Biarkan saja sampah itu mati! Jangan kotori tanganmu!" desis ibu mertuanya.
Pandangan Ye Chen mengabur. Rasa sakit yang luar biasa menusuk tengkoraknya. Darah hangat mengalir dari kepalanya, turun ke leher, membasahi dadanya, dan meresap ke dalam sebuah liontin giok hitam kusam yang selalu ia kalungkan sejak kecil.
Pada detik darahnya menyentuh permukaan giok, ukiran naga di atasnya menyala.
Sebuah cahaya keemasan yang hanya bisa dilihat oleh Ye Chen melesat dari giok itu, menembus tepat ke tengah alisnya. Panas yang membara meledak di dadanya, menyebar bagai lava ke seluruh pembuluh darah dan meridian tubuhnya.
Di dalam kesadarannya yang gelap gulita, sebuah suara kuno yang penuh keagungan bergema, menggetarkan jiwanya.
"Aku adalah Penguasa Tabib Naga Kuno. Pewarisku, kau memiliki darah suci Keluarga Ye namun hidup bergelimang hinaan. Keturunanku tidak boleh merangkak layaknya anjing! Hari ini, aku mewariskan padamu Kitab Medis Kehidupan dan Kematian serta Teknik Bela Diri Penakluk Naga. Bangkitlah... dan buatlah langit serta bumi berlutut di bawah kakimu!"
Dalam sekejap, ledakan informasi menyapu otak Ye Chen. Jutaan resep pil dewa, teknik akupunktur magis yang mampu membangkitkan orang mati, hingga seni bela diri tingkat tinggi terukir secara permanen dalam ingatannya.
Seiring dengan itu, energi spiritual merayap ke luka di kepalanya. Pendarahannya berhenti seketika, dan daging yang robek menyatu kembali dalam hitungan detik.
Di ruang tamu, Wang Hao tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Pria arogan itu tertawa keras sambil mencoba memeluk pinggang Su Yuhan. "Yuhan, biarkan saja anjing itu pingsan di situ. Mari kita rayakan kesepakatan ki—"
"Singkirkan tanganmu darinya."
Sebuah suara dingin, seberat gunung dan sedingin gletser, membekukan seisi ruangan.
Semua orang menoleh. Ye Chen perlahan berdiri. Postur tubuhnya yang biasanya membungkuk kini tegak lurus bagai pedang takhta yang baru dicabut dari sarungnya. Tatapan matanya yang dulunya redup dan patuh, kini setajam elang pemangsa, memancarkan aura intimidasi yang membuat napas siapa pun tercekat.
"K-kau belum mati?" Wang Hao terkejut melihat Ye Chen berdiri tegak tanpa setetes pun darah baru yang mengalir, namun segera mendengus remeh. "Dasar kecoak. Berani kau menatapku seperti itu—"
Sebelum Wang Hao menyelesaikan kalimatnya, bayangan Ye Chen berkedip. Terlalu cepat untuk diikuti mata telanjang.
Brak!
Wang Hao tiba-tiba sudah terkapar di lantai. Kaki kanan Ye Chen menginjak dada pria arogan itu dengan kekuatan mengerikan.
Krek!
Suara dua tulang rusuk yang patah bergema di ruang tamu yang mendadak sunyi senyap. Wang Hao menjerit histeris, wajahnya memerah karena kehabisan napas di bawah tekanan kaki Ye Chen.
"Sekali lagi kau menyentuh istriku, aku akan mencabut nyawamu," bisik Ye Chen. Suaranya datar, namun membekukan sumsum tulang.
Zhao Mei menjerit histeris, mundur hingga menabrak dinding. Su Yuhan menutup mulutnya tak percaya, matanya terbelalak lebar.
Apakah ini Ye Chen? Apakah ini suami pengecut yang selama tiga tahun tak pernah berani melawan saat ditampar dan dicaci maki? Aura pembunuh macam apa ini?!
"L-lepaskan aku! Beraninya kau, sampah! Keluarga Wang akan membunuhmu!" ancam Wang Hao dengan napas tersengal-sengal, darah merembes dari sudut bibirnya.
Tepat pada detik ketegangan itu memuncak, suara deru mesin mobil yang berat dan berwibawa terdengar dari halaman depan. Bukan hanya satu, tapi beberapa mobil sekaligus.
Lampu depan menembus jendela kaca vila. Empat mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat, masing-masing bernilai puluhan juta yuan, berbaris rapi di depan gerbang.
Pintu-pintu mobil terbuka serentak. Belasan pria berjas hitam dengan earpiece dan postur tegap—ciri khas pengawal elit tingkat tinggi—turun dengan cepat, mengamankan perimeter.
Dari mobil kedua, seorang pria tua berpakaian tradisional Changshan berwarna abu-abu melangkah keluar. Meski usianya sudah senja, langkahnya mantap dan auranya memancarkan otoritas mutlak.
Melihat pria tua itu masuk ke dalam rumah dari balik pintu yang terbuka, mata Wang Hao yang berada di bawah kaki Ye Chen nyaris melompat keluar. Wajahnya yang tadi marah kini berubah menjadi pucat pasi.
Itu adalah Penatua Lin! Kepala Pelayan dari Keluarga Ye di Jingcheng (Ibu Kota)—keluarga terkuat yang menguasai nadi ekonomi seluruh negeri! Bahkan ayah Wang Hao harus bersujud jika bertemu dengan asisten dari pria tua ini.
Apa yang dilakukan tokoh setingkat dewa ini di kota kecil Jiangcheng? Dan mengapa di vila keluarga Su yang nyaris bangkrut?!
Zhao Mei buru-buru merapikan pakaiannya, berniat menyambut dengan wajah menjilat maksimal. "T-Tuan besar, apakah Anda mencari—"
Penatua Lin mengabaikan Zhao Mei seolah wanita itu hanyalah udara kosong. Dia berjalan lurus melewati Su Yuhan, melewati Zhao Mei, dan berhenti tepat di depan Ye Chen yang masih menginjak dada Wang Hao.
Kemudian, di bawah tatapan tak percaya semua orang...
Bruk.
Pria tua dengan status luar biasa itu berlutut dengan satu kaki. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, dengan nada suara yang penuh rasa hormat hingga bergetar.
"Tuan Muda Ye, masa hukuman penyamaran Anda selama tiga tahun telah selesai. Tuan Besar memerintahkan saya untuk menjemput Anda kembali. Keluarga Ye di Ibu Kota... dan seluruh aset keluarga senilai tiga triliun dolar, kini menunggu Anda untuk mewarisinya."
Hening.
Ruang tamu itu sunyi senyap bak kuburan. Waktu seolah berhenti berdetak.
Rahang Zhao Mei jatuh hingga nyaris menyentuh lantai. Su Yuhan mematung bagai tersambar petir. Dan Wang Hao, yang masih berada di bawah sol sepatu Ye Chen, merasa jiwanya baru saja melayang meninggalkan tubuhnya.
Menantu benalu yang selama ini mereka jadikan keset kaki... adalah Tuan Muda Pewaris Tunggal dari keluarga paling berkuasa di seluruh daratan Tiongkok?!