Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20.Senyum yang Tak Sengaja Terukir
Sejak hari itu, perubahan kecil namun nyata mulai terlihat di antara Kenzo dan Anisa. Dulu, ke mana pun mereka pergi, pasti saling menjauh dan tampak seakan tak saling mengenal. Namun kini, hal itu berubah perlahan. Mereka mulai berjalan beriringan menuju kelas bersama-sama di pagi hari. Saat istirahat, terlihat mereka duduk berdampingan di kantin, berbicara dengan wajah yang tenang dan sesekali tersenyum lembut satu sama lain. Tak ada lagi bentakan, tak ada lagi tatapan tajam yang saling beradu. Sebaliknya, kini yang tampak adalah tatapan mata yang saling mencari, senyum-senyum tipis yang tersembunyi, dan perhatian-perhatian kecil yang saling diberikan secara diam-diam.
Perubahan sedemikian besar tentu saja tak luput dari perhatian teman-teman sekelas. Kabar itu pun perlahan menyebar bagai angin segar yang berhembus di antara mereka.
"Lihat deh... sejak kapan dua orang yang selalu berperang itu tiba-tiba berdamai sedemikian rupa?" bisik seorang teman sambil melirik ke arah meja Kenzo dan Anisa dengan tatapan penuh selidik. "Dulu duduk berdekatan saja tidak mau, sekarang malah berjalan masuk kelas bersama-sama sambil tersenyum. Aneh sekali."
"Benar-benar tidak biasa," timpal teman lainnya sambil menatap mereka bergantian. "Lihat, Kenzo yang biasanya kaku dan dingin itu... sekarang malah menata buku catatan Anisa yang berantakan begitu? Dan Anisa? Dulu tak pernah takut melawannya, sekarang malah menunduk tersipu begitu saja saat bicara dengannya? Pasti ada sesuatu yang terjadi, aku yakin."
Rasa penasaran teman-teman semakin memuncak setiap kali melihat mereka bersama. Saat Anisa tak sengaja menjatuhkan pulpen, Kenzo adalah orang pertama yang sigap memungutnya dan menyodorkannya kembali dengan senyum yang begitu lembut—sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Saat Kenzo tampak kelelahan dan tak ikut berbaris di lapangan, Anisa diam-diam membawakannya segelas air putih dan sepotong roti tanpa banyak bicara. Setiap gerak-gerik mereka seakan berubah serasi dan penuh perhatian, hal yang sama sekali tak pernah mereka tunjukkan sebelumnya.
Suatu siang saat jam istirahat, sekelompok teman-teman berani mendekat dengan senyum penuh arti di wajah mereka. Mereka mengerubungi meja tempat Kenzo dan Anisa sedang duduk berdua sambil berdiskusi tenang.
"Wah, pemandangan apa ini?" seru salah seorang teman sambil tersenyum lebar, matanya berkedip-kedip penuh makna. "Pasangan yang dulu paling sering bertengkar, sekarang malah duduk berdampingan begitu rukunnya. Cerita dong... apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua akhir-akhir ini?"
Anisa seketika memerah padam. Ia buru-buru menunduk membetulkan letak bukunya yang sebenarnya sudah rapi, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang meluap-luap. "Tidak ada apa-apa... kami hanya sekadar menyelesaikan tugas kelompok saja. Kalian ini berlebihan sekali," jawabnya dengan suara yang terdengar sedikit gugup, berusaha tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang.
Namun jawaban itu sama sekali tak memuaskan rasa ingin tahu teman-teman. Mereka justru tertawa kecil sambil saling berpandangan. "Tugas kelompok sampai senyum-senyum sendiri begitu? Sampai saling membelikan makanan dan saling perhatian begitu? Anisa... jangan berkilah begitu, wajahmu tak bisa berbohong lho!"
Sementara itu, Kenzo yang sedari tadi diam mendengarkan akhirnya bersuara. Wajahnya tetap tenang dan terkendali meskipun samar terlihat telinganya yang memerah pelan. Ia menatap teman-temannya dengan lembut namun tegas.
"Memang benar kami sedang menyelesaikan tugas bersama. Namun memang benar juga... belakangan ini kami mulai saling memahami satu sama lain lebih baik," ucap Kenzo perlahan, suaranya tenang namun terdengar tulus. "Ternyata, selama ini banyak hal yang salah kami pahami. Sekarang... kami memilih untuk tidak lagi berselisih. Bukankah itu hal yang baik?"
Ucapan Kenzo justru memicu sorak-sorai kecil teman-teman di sekitarnya.
"Wah, jujur saja kan!" seru teman lainnya tak kalah antusias. "Kira-kira sekadar berdamai atau sudah lebih dari itu nih? Lihat saja tatapan matanya satu sama lain... sungguh berbeda dari dulu! Pasti ada rahasia yang tak diceritakan kepada kami, bukan?"
Anisa semakin menunduk dalam, pipinya terasa panas sekali. Ia berani menatap siapa pun saat sedang marah, namun kali ini justru merasa begitu malu hingga tak sanggup mengangkat wajahnya kembali. Di sampingnya, Kenzo menyadari kegugupan Anisa. Tanpa disadari teman-teman, tangannya perlahan bergerak mendekat ke siku Anisa, menyentuhnya dengan lembut seakan memberi isyarat tenang. Sentuhan itu seketika membuat Anisa menoleh ke arahnya, dan saat tatapan mata mereka saling bertemu... teman-teman yang menyaksikan itu serentak bersorak pelan namun penuh kemenangan.
"Tuh! Lihat saja! Bukankah sudah kubilang?" bisik mereka riuh rendah. "Pasti ada sesuatu yang lebih dari sekadar berdamai! Tatapan mata itu... tak mungkin berbohong!"
Hari itu, meskipun Kenzo maupun Anisa sama-sama tak pernah mengakuinya secara terang-terangan, satu hal menjadi jelas bagi seluruh teman sekelas: hubungan dua orang yang dulu bagai air dan api itu telah berubah sepenuhnya. Dan meskipun mereka tak mengucapkannya secara langsung, senyum-senyum malu, perhatian-perhatian halus, serta tatapan mata yang kini penuh kehangatan telah menjadi saksi bisu—bahwa di antara mereka berdua, benih rasa yang jauh lebih indah dari sekadar pertemanan perlahan mulai tumbuh. Dan teman-teman sekelas pun semakin yakin... bahwa kisah yang sesungguhnya baru saja dimulai.
BERSAMBUNG...