NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23: Keberangkatan Dinas ke Ibukota

Waktu berlalu, kini roda-roda taksi online membawa mereka menyusuri jalanan kota kecil yang sudah diterangi matahari secara penuh. Azka dan Visha sedang dalam perjalanan menuju bandara.

Mereka duduk berdampingan di kursi belakang, terdiam sejak beberapa menit lalu. Tidak ada percakapan panjang, hanya suara musik lembut dari radio ditemani deru mesin yang mengisi ruang di antara mereka. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, seperti sedang mencari cara untuk tidak terlalu larut dalam perasaan.

Mereka memilih naik transportasi online karena Visha memang tak bisa menyetir. Tapi di balik alasan sederhana itu, Azka juga memiliki keinginan menghabiskan waktu lebih lama bersama, meski hatinya sudah terbagi untuk wanita lain.

Visha menatap lurus ke depan, sesekali melirik jendela, sementara tangannya menggenggam ujung tas kecil yang dipangku erat. Azka mencuri pandang ke arahnya, lalu mengalihkan pandangan kembali keluar. Gedung-gedung mulai berganti dengan hamparan jalan panjang, kosong seakan tak berujung.

Dengan lembut, Azka kemudian memegang tangan Visha erat. Ia mengucapkan permohonan maaf kesekian kali karena tidak bisa merayakan hari ulang tahunnya tepat waktu.

“Kan aku sudah bilang, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu memikirkannya. Lebih baik, kamu fokus pada pekerjaanmu. Jangan sampai melakukan kesalahan.”

“Kamu baik sekali, aku curiga kamu bukan manusia, tapi bidadari yang turun dari khayangan,” gombal Azka.

Visha tertawa karena mendengar rayuan dari suaminya. Bahkan sopir taksi online pun ikut tersenyum geli.

Setiba di bandara, mereka langsung berpisah karena mepet dengan waktu keberangkatan pesawat. “Aku langsung masuk ya,” kata Azka sambil memberikan pelukan perpisahan.

“Hati-hati, jangan lupa kabari aku.”

Azka kemudian berjalan menuju pintu masuk bandara. Sebelum benar-benar berpisah, ia sempat melambaikan tangan ke arah Visha.

Setelah masuk di dalam, Azka segera merogoh kantong, mengeluarkan handphone, segera menelpon seseorang. “Kamu sudah di gate 5?”

“Aku baru di pintu masuk bandara nih,” sambung Azka berjalan cepat sambil mendorong tas beroda yang cukup besar.

Beberapa menit kemudian, ia sampai di gate 5. Seorang wanita muda berdiri dari tempat duduk, menyambutnya dengan senyuman.

“Kenapa lama sekali sih, Pak?” keluh Kayla yang sudah menunggu sendirian hampir dua jam.

“Maaf ya, tadi kebetulan ada hal penting harus diselesaikan dulu, tidak bisa ditunda,” ujar Azka.

Ia tidak memberitahu Kayla alasan keterlambatan karena mengambil hadiah kalung berlian untuk ulang tahunnya.

Hanya selang beberapa waktu, terdengar pengumuman jika pesawat sudah siap lepas landas. Azka dan Visha berdiri, berjalan menuju pintu lorong menuju pesawat.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di dalam pesawat. Azka yang kini duduk di sebelah Kayla kemudian mengambil handphonenya. Ia mengirimkan pesan ke istrinya, memberitahu kalau ia telah masuk ke dalam pesawat.

Tiba-tiba saja, “Aku sudah di pesawat ya sayang,” ucap Kayla menggoda Azka.

Seketika wajahnya memerah, merasa malu karena disindir seperti itu. Dalam hati, ia bertanya apakah Kayla cemburu karena mengetahui ia menghubungi Visha.

Melihat perubahan Azka yang terasa kikuk, Kayla memberikan klarifikasi. “Santai saja Pak, aku cuma bercanda. Lagian juga wajar kok. Namanya juga suami istri, wajib kasih kabar, ya kan? Aku juga kalau sudah nikah nanti, ingin punya suami seperti Pak Azka. Romantis, baik, jujur, selalu kasih kabar dan yang paling penting, setia,” jelas Kayla yang terasa sangat kontras.

Azka merasa sangat terkejut dengan ucapan itu, terutama kata terakhirnya. Sejenak ia bahkan sempat berpikir apakah Kayla sedang menyindirnya.

Pesawat pun lepas landas. Azka dan Kayla melanjutkan perjalanan menuju pusat ibukota.

***

Pesawat telah mencapai ketinggian jelajah. Getaran awal perlahan mereda, suara mesin semula mendominasi kini berubah menjadi dengung halus menyatu dengan desir awan.

Di dalam kabin, lampu redup menyinari deretan kursi yang mulai tenang. Mayoritas penumpang telah menemukan posisi nyaman mereka. Menyandarkan kepala ke jendela, menyelubungi diri pakai jaket, tak sedikit pula mata dipejamkan tanda ingin terlelap.

Pramugari berjalan perlahan menyusuri lorong, memastikan semuanya dalam keadaan baik. Obrolan yang tadinya terdengar di sana-sini menghilang, digantikan suasana sunyi hampir sakral, seakan semua orang di dalam pesawat diam-diam menyerahkan dirinya pada langit.

Di antara mereka, Azka duduk diam dengan sabuk pengaman terpasang erat. Ia tak memejamkan mata seperti yang lain. Kepalanya bersandar, namun pikiran justru sangat aktif, lebih jauh dari ketinggian yang sedang mereka tempuh.

Sedangkan di luar jendela, hamparan awan membentang luas seputih harapan.

Mengisi momen itu, Kayla tiba-tiba mengucapkan rasa syukur kepada Azka. Ia mengaku sangat beruntung memiliki atasan seperti dirinya.

“Jika ada kata yang lebih tinggi dari ucapan terima kasih. Aku pasti akan mengatakannya untukmu,” ujarnya.

Menanggapi perkataan itu, Azka menjawabnya santai. “Tidak perlu dibesar-besarkan. Kalau bisa, aku pasti akan bantu.”

Dengan cepat Sesilia menyanggahnya.

“Aku serius Pak, kamu mungkin tidak bisa membayangkan betapa besar hal ini buatku. Begitu juga untuk ibuku. Sejak kecil, aku dirawat oleh beliau, sendirian. Bahkan tanpa bantuan dari keluarga. Ibuku dikucilkan karena memilih menikah dengan ayahku. Tapi setelah aku lahir, ayah mengalami kecelakaan, meninggal dunia. Sejak saat itu, hidup ibu dan aku sempat terlunta,” jelasnya sambil menahan tangis.

“Untungnya ibu tidak menyerah. Dia berjuang demi aku. Tanpa mengenal rasa lelah, dia berhasil membesarkanku, menyekolahkanku, hingga aku bisa lulus kuliah. Itu semua berkat pengorbanan ibuku,” sambungnya yang kini sudah berhasil menguasai kesedihan.

Mendengar cerita Kayla yang begitu menyedihkan, Azka bertanya tentang alasan dirinya bersedia untuk bekerja di tempat yang begitu jauh dari ibukota.

“Kenapa kamu tidak mengajukan stay di pusat saja? Bukankah seharusnya hal itu bisa dilakukan, mengingat kondisi ibu kamu membutuhkan perawatan khusus,” tanya Azka.

Seketika saja wajah Kayla menjadi tegang. Azka merasakan sesuatu yang berbeda, tapi ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut. “Maaf ya kalau pertanyaan aku terlalu lancang,” kilah Azka melihat gelagat Kayla seperti enggan menjawab.

“Tidak apa-apa kok. Aku hanya bingung, harus memulai dari mana,” ungkap Kayla.

Azka bisa memahami. Ia benar-benar tidak memaksakan, tapi dari raut wajahnya, Kayla seperti ingin bercerita, namun ada keraguan. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Mencoba rileks mengulangi beberapa kali.

“Baik Pak, aku sudah siap. Tapi mungkin ceritanya agak panjang ya, tidak apa-apa?”

“Seperti yang kamu tahu, satu jam kedepan, kita free,” kata Azka.

Kayla kemudian mengungkit masa lalunya. Alasan kenapa ia ditugaskan ke luar daerah.

“Dulu, waktu aku pertama kali masuk ke PT. Sandi Utama, aku merasa itu seperti mimpi. Aku tidak pernah membayangkan bisa masuk perusahaan konstruksi terbesar idaman banyak orang,” ujarnya mengawali cerita.

Azka masih menyimak setiap kalimat yang diucapkan sambil memandangi wajah Kayla. Ia sempat berpikir hal-hal lain termasuk mengagumi kecantikan wajah wanita di sebelahnya.

“Pak Azka kenal dengan Pak Bimo?”

Perubahan wajah Azka mirip seperti Kayla sebelumnya. Ia menjadi tegang. Seperti rahasia lama kembali menguap ke permukaan. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang. “Kenal, kenapa sama dia?”

“Sepertinya sudah menjadi rahasia umum kalau Pak Bimo merupakan direksi paling sering menyulitkan bawahan, terutama mereka yang menyinggung. Aku termasuk salah satu diantaranya,” jelas Kayla.

Kini Azka mulai memahami tentang apa yang telah terjadi pada padanya tapi masih menutupi. “Maksudnya?” tanya Azka singkat.

Kayla memiringkan tubuh, berusaha untuk berbicara dengan posisi lebih nyaman.

“Pak Bimo suka sama aku, dia memintaku untuk jadi pacarnya. Aku langsung menolak, aku tidak bisa menerima dia. Bukan karena dia seorang duda, tapi memang aku tidak punya perasaan apapun sama dia.”

Ia kemudian menceritakan kalau Bimo terus mengejarnya. Kayla tidak bergeming, ia tetap tidak bisa menerima Bimo.

Namun ternyata penolakan itu berujung pada rasa kesal Bimo yang selanjutnya selalu mempersulit pekerjaan Kayla di kantor.

Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh Kayla akan disalahkan. Meskipun ia sudah melakukan dengan benar, tanpa cela sedikitpun, Bimo tetap menolak laporan menggunakan berbagai alasan tidak masuk akal.

Posisinya sebagai kepala departemen quality control pusat pun kemudian juga diturunkan menjadi anggota divisi.

Hingga pada satu titik Kayla berniat untuk mengundurkan diri karena sudah tidak tahan lagi. Tapi ketika ia mempersiapkan surat pengunduran diri, ia mendapatkan kabar kalau salah satu kantor cabang membutuhkan kepala divisi quality control baru.

“Aku yang tadinya sudah putus asa, seperti melihat kesempatan untuk masa depan lebih baik,” kata Kayla, matanya berkaca-kaca.

Mendengar cerita itu, Azka terlihat kesal. Pada saat bersamaan, ia juga semakin mengagumi sosok Kayla sebagai wanita yang sangat tangguh.

“Kantor cabang yang kamu ceritakan, tempat kamu bekerja sekarang ya? Lalu bagaimana caramu bisa mendapatkan posisi ini? Aku yakin Pak Bimo tidak akan mungkin membiarkan begitu saja, kan?” ucap Azka memberondong sejumlah pertanyaan.

Kayla melanjutkan obrolan. Ia mengatakan kalau dirinya langsung merencanakan agar bisa mendapatkan kesempatan itu. Tapi ia menyadari tidak mungkin melakukan secara terbuka.

Diam-diam, ia menemui sejumlah direksi lain agar memberikan kesempatan. Dengan membawa sejumlah bukti berupa laporan-laporan dan hasil kerja yang selama ini telah dilakukan, Kayla berusaha meyakinkan mereka.

Sebagai tambahan, Kayla juga turut menceritakan situasinya yang memiliki konflik personal dengan Bimo. Tentu saja ia memberitahu sambil berlinang air mata.

Para direksi mengetahui hal tersebut menjadi iba dan mengungkapkan penyesalan. Mereka memberikan dukungan untuk Kayla, tapi sekaligus minta maaf karena tidak bisa membantu dalam menegakkan keadilan.

Hal ini lantaran Bimo merupakan salah satu direksi senior yang telah menjabat dari awal perusahaan dibentuk. Selain egois dan licik, Bimo juga memiliki kepintaran yang membuat PT. Sandi Utama menjadi besar seperti sekarang.

Pengaruhnya sangat besar untuk kemajuan perusahaan, sehingga tidak bisa diintervensi begitu saja. Namun mereka berjanji akan berusaha semampu mereka supaya memindahkan Kayla ke kantor cabang yang ia inginkan.

“Begitulah ceritanya sampai aku bisa ada di sini, sama kamu,” tutup Kayla mengakhiri cerita.

Kini giliran Azka yang menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. “Aku mengerti sekarang.”

Ia meletakkan telapak tangannya ke kepala Kayla, lalu mengusap rambutnya.

“Kamu hebat!” puji Azka singkat sambil tersenyum.

“Makasih Pak. Ya beginilah nasib bawahan. Bersyukur sekali saya punya atasan seperti Pak Azka. Selain ganteng, hatinya juga baik.”

Seketika wajah Azka berubah. Senyum yang tadinya hanya sekilas tertahan di ujung bibir, menjadi lebih lebar sementara matanya ikut membesar, terkejut sekaligus berbinar.

Kayla baru saja melemparkan sanjungan yang terdengar sederhana, tapi bagi Azka, kalimat itu bagaikan percikan kecil menyulut hangat di jiwa. Ia berusaha tetap tenang, namun cara ia merapikan lengan kemeja yang tak berantakan, serta tawa kecil terlalu cepat keluar, justru membuatnya tampak canggung.

Melanjutkan dengan tersenyum tipis, Kayla mengerti dampak dari ucapannya. Sementara itu, Azka hanya bisa membuang pandang ke arah lain, mencoba mengatur nafas, menyembunyikan rona hangat yang mulai naik tidak terkendali.

Di dalam hatinya, ada rasa senang sulit dijelaskan, akibat pujian dari seseorang yang diam-diam begitu berarti, punya cara aneh untuk membuat dunia terasa lebih bermakna.

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!