Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Anggap Saja Seratus Ribu Dolar
Bos di balik organisasi Black Fox sudah pernah melihat banyak pembunuh bayaran yang tangannya berlumuran darah. Ia juga pernah berhadapan dengan agen-agen kejam yang tidak segan membunuh.
Namun, orang-orang seperti itu selalu memiliki aura ganas dan brutal yang terpancar jelas dari tubuh mereka.
Sementara pemuda di hadapannya justru mengenakan celana pendek paling murah dan sandal jepit. Di tangannya terdapat laras senjata yang masih mengepulkan asap.
Yang lebih mengerikan—
Tubuh pemuda itu bahkan tidak berlumuran darah sedikit pun.
Dibandingkan sosok itu, pria yang baru saja ia habisi sebelumnya terasa tidak lebih dari seekor anjing liar.
Bos Black Fox merasa pemuda di hadapannya jauh lebih menakutkan.
“Uang! Uangnya ada di sana!”
Bahkan sebelum Adrian sempat mengatakan apa-apa lagi, bos Black Fox sudah merangkak keluar dari bawah meja.
Ia bergegas menuju sebuah brankas besar di sudut ruangan.
Tangannya yang putih dan gemuk akibat hidup serba berkecukupan kini gemetar hebat. Ia bahkan harus memasukkan kode beberapa kali sebelum akhirnya berhasil.
Klik.
Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya terdapat ruang penyimpanan yang bahkan lebih besar daripada brankas yang sebelumnya ditemukan Adrian.
Bundelan uang dolar.
Deretan emas batangan.
Bahkan beberapa kotak berisi berlian yang sudah dipotong sempurna.
Semua benda itu memancarkan kilauan menggoda di bawah cahaya lampu yang nyaris roboh.
“Ambil semuanya! Semuanya untukmu!”
“Jangan bunuh aku!”
“Aku masih punya ibu yang sudah berusia delapan puluh tahun dan anak berusia tiga tahun!”
Bos Black Fox menangis tersedu-sedu sambil menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk menyeret seluruh isi brankas keluar.
Ia mendorong semuanya ke arah kaki Adrian seperti seorang pengikut fanatik yang sedang mempersembahkan korban kepada dewa.
Namun Adrian bahkan tidak melirik tumpukan uang, emas, dan berlian tersebut.
Ia justru merogoh saku celana pendeknya.
Dari sana, ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil seukuran telapak tangan yang didapatnya secara gratis ketika berbelanja di supermarket.
Di sampulnya tertulis:
“Semoga Orang Baik Selalu Selamat.”
Adrian juga mengeluarkan sebuah pulpen.
Ia berdeham.
Kemudian mulai menghitung dengan wajah serius.
“Baiklah. Mari kita hitung.”
Ujung pulpen diketukkannya ke buku catatan.
Tok. Tok. Tok.
“Sesuai iklan pekerjaan, gaji harian sepuluh ribu dolar. Itu gaji pokok.”
“Setelah pukul sepuluh malam dihitung sebagai lembur. Untuk tunjangan kerja malam, kita anggap sepuluh ribu dolar.”
Bos Black Fox yang berlutut di lantai langsung mengangguk berkali-kali seperti ayam mematuk makanan.
Ia bahkan tidak berani mengeluarkan suara.
“Berikutnya, kompensasi kerugian mental.”
Adrian mengerutkan kening, seolah sedang melakukan perhitungan yang sangat rumit.
“Kalian tadi mencoba menipuku dan merampok hasil kerjaku. Itu membuat suasana hatiku sangat buruk dan jelas memengaruhi semangat kerjaku.”
“Selain itu, pria yang kalian panggil dengan julukan itu tadi menodongkan senjata kepadaku.”
“Bisa dibilang aku mengalami perundungan di tempat kerja.”
Bos Black Fox semakin pucat.
“Belum lagi lingkungan kerja kalian sangat buruk.”
“Tidak ada kamar mandi pribadi. Bahkan toilet yang layak saja tidak punya.”
“Itu jelas membahayakan kesehatan jasmani dan rohaniku.”
Adrian berhenti menulis sejenak.
“Oh, iya.”
“Mi instanku juga ketinggalan.”
Ia kembali mencoret-coret buku catatan selama beberapa detik.
Akhirnya, Adrian mengangguk puas.
“Begini saja.”
“Angka kecil di belakang aku hapus.”
“Untuk kompensasi kerugian mental, tunjangan kecelakaan kerja, tunjangan panas, dan sebagainya, aku hitung delapan puluh ribu dolar.”
Ia mengangkat kepala dan menatap bos Black Fox dengan ekspresi seolah-olah sedang berusaha membantunya.
“Gaji pokok sepuluh ribu.”
“Tunjangan kerja malam sepuluh ribu.”
“Berbagai biaya tambahan delapan puluh ribu.”
“Totalnya seratus ribu dolar.”
Adrian tersenyum.
“Lihat? Aku orangnya sangat adil. Tidak meminta satu dolar pun lebih dari yang seharusnya.”
Bos Black Fox mana berani membantah?
Ia langsung menunjuk tumpukan uang di lantai.
“Cukup! Cukup!”
“Ambil semuanya! Kalau masih kurang, saya bisa mengambil lebih banyak lagi!”
“Tidak perlu.”
Adrian mengangguk puas.
Ia berjongkok dan membuka penuh ritsleting karung plastik merah-putih-biru yang dibawanya.
Kemudian, seperti sedang membersihkan sampah, ia mengumpulkan uang dan emas di lantai dengan kedua tangannya lalu memasukkannya ke dalam karung.
Dalam waktu singkat, karung itu sudah menggembung dan terasa sangat berat.
Adrian menutupnya rapat-rapat.
Ia mengangkat karung itu ke bahunya dan sedikit mengayunkannya untuk merasakan beratnya.
Senyum puas muncul di wajahnya.
Ini bukan uang hasil kejahatan.
Ini jelas uang hasil kerja kerasnya.
Uang lembur.
Uang hasil mempertaruhkan nyawa.
Uang hasil kerja keras seorang pekerja musiman yang rajin.
Adrian membawa karung itu dan berbalik menuju pintu.
Melihat sosok itu semakin menjauh, ketegangan yang sejak tadi mencengkeram tubuh bos Black Fox akhirnya sedikit mengendur.
Ia langsung terduduk di lantai.
Rasanya seperti baru saja keluar dari neraka.
Seluruh tubuhnya lemas.
Namun—
Ketika satu kaki Adrian sudah melewati ambang pintu, langkahnya tiba-tiba berhenti.
Ia tidak menoleh.
Hanya mengangkat tangan kanannya.
Entah sejak kapan, pistol Glock 17 yang sebelumnya ia ambil dari penjaga Black Mamba sudah berada di tangannya.
Dor!
Satu suara tembakan menggema di antara reruntuhan.
Bos Black Fox menjerit histeris.
Ia langsung memegangi kaki kanannya dan berguling-guling di lantai.
Sebuah lubang peluru menganga di bagian lututnya, darah mengalir deras.
Suara Adrian terdengar santai dari arah pintu.
“Ini hukuman karena menunggak gaji pekerja.”
“Lain kali, bayar gaji tepat waktu.”
“Kalau tidak, akan ada orang lain yang datang menagih.”
Setelah mengatakan itu, Adrian tidak menoleh lagi.
Ia mengangkat karung plastik di bahunya dan berjalan santai menuruni tangga.
Sosoknya perlahan menghilang dari reruntuhan markas Black Fox.
Begitu keluar dari bangunan markas Black Fox yang sudah berubah menjadi puing-puing, Adrian menarik napas dalam-dalam.
Udara malam bercampur aroma mesiu memenuhi paru-parunya.
Aneh.
Ia justru merasa sangat segar.
Pada saat itulah suara mekanis yang sudah sangat dikenalnya kembali terdengar tepat waktu di dalam pikirannya.
[Ding!]
[Selamat kepada tuan rumah karena telah menyelesaikan misi pekerja musiman berisiko tinggi pertama dengan sempurna: Pekerja Musiman Black Fox — Versi Lanjutan!]
[Perhitungan hadiah misi sedang berlangsung...]
[Gaji pokok telah diambil sendiri oleh tuan rumah.]
[Hasil rampasan tambahan berupa uang tunai, emas batangan, senjata, dan sebagainya menjadi milik pribadi tuan rumah.]
[Perhitungan hadiah sistem selesai!]
[Selamat! Tuan rumah memperoleh hadiah tingkat Dewa: Prediksi Krisis Dasar!]
[Catatan: Kemampuan ini merupakan kemampuan pasif. Ketika tuan rumah menghadapi ancaman mematikan, kemampuan tersebut akan secara otomatis memberikan peringatan kepada otak 0,5 detik sebelumnya.]
[Selamat! Ruang Sistem telah ditingkatkan.]
[Ruang Penyimpanan Sementara diperluas menjadi 10 meter kubik!]
Aliran udara sejuk tiba-tiba mengalir ke dalam otak Adrian.
Dunia di sekelilingnya seakan berubah.
Suara angin.
Gonggongan anjing yang terdengar samar dari kejauhan.
Bahkan sensasi halus cahaya bulan yang menyentuh butiran pasir di bawah kakinya.
Semuanya menjadi sangat jelas.
Adrian merasa indra keenamnya telah diperkuat berkali-kali.
Seolah-olah ia mampu merasakan setiap niat buruk yang tersembunyi di dalam kegelapan sebelum bahaya itu benar-benar muncul.
Ia merasakan kemampuan baru yang muncul di dalam pikirannya.
Kemudian ia mengangkat sedikit karung berat di bahunya.
Isinya setidaknya bernilai tiga ratus ribu dolar dalam bentuk uang tunai dan barang berharga.
Satu hari.
Baru hari pertama bekerja.
Adrian tidak bisa menahan senyum lebarnya.
Ia berdiri di depan reruntuhan markas Black Fox, menatap langit malam Darsen yang kelabu.
Kemudian sebuah kalimat keluar dari lubuk hatinya.
“Pekerja musiman ini ternyata terlalu menguntungkan!”
“Siapa yang masih mau pulang dan kerja jadi pelayan restoran?”