NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Julian!

Mobil SUV hitam itu akhirnya melipir dan berhenti di bahu jalan yang agak sepi, dinaungi rindangnya pepohonan kota yang temaram.

Mesin mobil tetap menyala halus, memancarkan pendingin udara yang sejuk dan lantunan musik instrumental pelan yang mengalun menenangkan di dalam kabin.

Julian mematikan lampu utama mobil, menyisakan pendar redup dari layar dashboard. Ia memutar posisi duduknya, menatap Sabrina yang duduk di sampingnya.

"Sab..." panggil Julian lembut. Tangannya terangkat, mengusap pelan jemari Sabrina yang bertengger di atas pangkuan gadis itu.

"Soal yang tadi sore... maafin aku ya. Aku malah nyuruh kamu naik taksi online dan gak mengantar kamu pulang sendiri."

Sabrina menoleh, menatap mata Julian yang kini dipenuhi kehangatan. Ia menggelengkan kepala pelan, mengulas senyum tanpa ada sedikit pun rasa marah di raut wajahnya.

"Tidak apa-apa, Kak Julian. Beneran," Kata Sabrina halus, membalas genggaman tangan Julian.

"Aku paham kok Kakak lagi ada urusan sama teman-teman. Yang penting sekarang Kakak udah ada di sini."

Respons penuh pengertian itu justru membakar dada Julian dengan gelombang hasrat dan rasa kepemilikan yang teramat dalam.

Tatapan matanya yang semula lembut perlahan berubah menjadi makin dalam dan pekat. Kehadiran Sabrina yang begitu dekat, aroma manis rambutnya yang memenuhi kabin, serta piyama yang membingkai tubuh molek gadis itu mendadak mengikis sisa-sisa pertahanan diri Julian.

Julian tak lagi bersuara. Tangannya bergerak naik, menangkup lembut rahang Sabrina, lalu ibu jarinya mengusap bibir bawah gadis itu secara perlahan.

Napas Sabrina tertahan seketika. Binar matanya bergetar menatap Julian yang kini makin terkikis jarak darinya.

Julian memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangat yang membawa aroma maskulin bercampur sisa alkohol tipis menerpa kulit wajah Sabrina.

Tanpa menunggu lagi, Julian mendaratkan bibirnya di atas bibir Sabrina, awalnya berupa sentuhan lembut, namun perlahan berubah menjadi lumatan menuntut yang makin dalam dan pekat.

Sabrina tersentak, jemarinya meremas kuat kemeja di bagian dada Julian. Ia yang belum pernah merasakan keintiman sedalam ini merasa sensasi asing yang memabukkan sekaligus mendebarkan menjalar ke seluruh aliran darahnya.

Julian menelusupkan jemarinya ke sela-sela rambut panjang Sabrina, menahan tengkuk gadis itu agar penyatuan mereka makin lekat.

Desahan halus lolos dari sela bibir Sabrina saat Julian mengubah sudut ciumannya, menyedot habis kesadaran dan kepasrahan gadis itu di dalam kabin mobil yang makin hangat dan sarat akan gairah terlarang.

Di dalam kabin mobil yang remang dan hangat, napas keduanya mulai memburu, beradu dalam keheningan malam yang sunyi.

Genggaman Julian pada tengkuk Sabrina perlahan meluncur turun. Jemari lelaki itu bergerak berani menelusuri garis leher Sabrina, menyusup ke balik kardigan rajut yang longgar, lalu tangannya mulai menurunkan mengusap lembut bahu gadis itu.

Sabrina tersentak pelan di tengah ciuman mereka. Sensasi hangat dan asing dari sentuhan langsung jemari Julian membuat tubuhnya gemetar halus.

Tak berhenti di sana, tangan Julian terus bergerak turun dengan nakal, mengusap pinggang Sabrina dan perlahan mencoba menyusup ke dalam piyama kain yang membungkus tubuhnya.

Tangannya menarik tubuh kecil Sabrina agar semakin menempel erat pada dadanya, memangkas habis setiap sisa jarak di antara mereka.

"Emph... Kak..." bisik Sabrina terengah saat Julian memindahkan ciumannya ke garis rahang dan leher mulusnya.

Jemari Sabrina yang meremas kemeja Julian makin mengencang. Ada pergulatan hebat di dalam dirinya, antara rasa cemas akan batas yang hampir dilanggar, dan kepasrahan atas nama rasa cinta yang begitu besar untuk lelaki yang kini sepenuhnya menguasai napas dan kesadarannya.

Julian menghentikan gerakan bibirnya di leher Sabrina, menggantung napasnya yang memburu. Sentuhan jemarinya yang semula nakal di balik pakaian Sabrina tertahan sejenak saat merasakan getaran halus dari tubuh gadis itu yang masih begitu tegang.

Dengan napas yang berat, Julian menegakkan tubuhnya sedikit. Matanya yang pekat oleh gairah menatap intens ke dalam manik mata Sabrina yang berkaca-kaca, dipenuhi kecemasan sekaligus kepasrahan yang polos.

Julian menangkup kedua pipi Sabrina, ibu jarinya mengusap lembut bekas kecupan di sudut bibir gadis itu.

"Sab..." bisik Julian parau, suaranya terdengar begitu dalam di dalam kabin mobil yang hening.

"Ini... pertama kalinya buat kamu?"

Mendengar pertanyaan itu, rona merah seketika membakar seluruh wajah hingga telinga Sabrina.

Rasa malu yang luar biasa membuatnya tak sanggup menatap mata Julian secara langsung.

Sabrina menundukkan kepalanya dalam-dalam, menggigit bibir bawahnya yang terasa sedikit basah.

Dengan sangat pelan dan ragu-ragu, ia menganggukkan kepalanya, sebuah pengakuan tulus yang menegaskan kepolosan dirinya di hadapan Julian.

Jawaban itu menghantam dada Julian dengan kepuasan ego yang tinggi, sekaligus lonjakan rasa memiliki yang kian tak terkendali.

Mengetahui bahwa dirinya adalah pria pertama yang menyentuh dan merasakan keintiman ini dari Sabrina membuat pertahanan akal sehat Julian benar-benar runtuh malam itu.

Julian mengecup kening Sabrina pelan, menahan posisinya di sana selama beberapa detik untuk merasakan kehangatan kulit gadis itu.

Napasnya masih terengah, berhembus hangat di terpaan angin pendingin udara kabin.

Dengan perlahan, Julian merendahkan posisinya hingga menatap lurus ke dalam manik mata Sabrina yang basah dan penuh keraguan. Tatapannya begitu dalam, mengunci seluruh fokus Sabrina hanya padanya.

"Aku cinta sama kamu, Sab. Beneran cinta," bisik Julian parau, menyuntikkan seluruh intonasi kelembutan yang ia miliki ke dalam tiap kata.

Jemari Julian mengusap lembut rahang Sabrina, menyibak helai rambut yang menutupi wajah manis itu, lalu menyusupkan tangannya ke tengkuk Sabrina.

"Malam ini... aku sangat ingin kamu," lanjut Julian dengan suara yang kian berat dan menuntut, tak lagi menyembunyikan gairah yang membakar dadanya.

"Bisakah kamu berikan itu buat aku, Sab?"

Kalimat itu meluncur begitu halus, sarat akan tekanan emosional yang memanfaatkan kepolosan serta besarnya rasa percaya Sabrina padanya.

Sabrina terpaku, dadanya naik turun cepat. Kata-kata cinta yang diucapkan Julian beradu hebat dengan ketakutan di dalam dirinya, menyisakan dilema besar di dalam mobil yang makin remang dan sepi itu.

Melihat keraguan dan ketakutan yang terpancar makin jelas dari mata Sabrina, Julian berbisik lebih rapat. Ia mendekatkan wajahnya hingga dahinya bersentuhan dengan dahi Sabrina, memangkas seluruh sisa ruang di antara mereka.

"Aku nggak akan pernah tinggalin kamu, Sab. Aku janji," bisik Julian penuh penekanan, suaranya terdengar begitu meyakinkan.

Jemari Julian merengkuh pinggang Sabrina, menarik tubuh gadis itu makin rapat ke dalam pelukannya.

"Kamu percaya sama aku, kan? Aku bakal tanggung jawab atas semua yang terjadi antara kita. Aku milik kamu, Sab, cuma kamu."

Bisikan janji manis itu meluncur mulus, dibungkus oleh tatapan mata yang seolah menawarkan kepastian.

Bagi Sabrina yang belum pernah menyerahkan hatinya sejauh ini pada pria mana pun, ucapan Julian menjadi benteng pertahanan terakhir yang runtuh, menenggelamkan rasa takutnya ke dalam jurang kepercayaan yang begitu dalam pada lelaki di hadapannya.

1
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
Siti Yatmi
masih teka teki banget..hemmmm...ayo thor...jadi penasaran tingkat dewa...wk2
Maple latte: 🥰🥰 Sabar ya, pelan2 aja🤭
total 1 replies
Siti Yatmi
ya ampun julian....org mah ikut kata hati, bukan kata temen, ya kali temen lu mati, lu juga ikut..dablek banget ih...
Siti Yatmi
kaya nya julian cinta sama sabrina,tapi ego nya terlalu tinggi, kasian sabrina ..
Riska Salahudin
masih penasaran apa yg membuat sabrina bundir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!