Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
Langit pagi ibu kota mendung, menyisakan hawa sejuk yang menyelimuti jalanan aspal basah di sekitar kawasan komersial semi-urban yang terletak agak jauh dari pusat kota. Di antara deretan ruko-ruko tua berlantai dua yang berjajar rapi, seorang wanita berbalut mantel panjang berwarna abu-abu gelap tampak berdiri tenang di trotoar.
Ia mengenakan kacamata hitam berukuran besar untuk melindungi matanya dari debu jalanan, sementara rambut pendeknya dibiarkan tergerai tertiup angin pagi.
Itu adalah Kirana.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir—atau bahkan sejak ia resmi berstatus sebagai nyonya di rumah besar keluarga Pratama—Kirana menginjakkan kakinya di luar gerbang rumah tanpa menggunakan mobil mewah ber-AC, tanpa sopir pribadi yang membukakan pintu, dan tanpa pengawalan apa pun.
Tadi pagi, ia meninggalkan rumah besar itu secara diam-diam saat fajar, berjalan kaki selama beberapa blok menuju halte terdekat, lalu menaikkan dirinya ke dalam sebuah angkutan umum kota. Pengalaman berdesakan di dalam angkot dengan aroma bensin dan suara mesin tua yang berdengung keras sama sekali tidak membuatnya gentar. Sebaliknya, setiap goncangan kendaraan umum itu terasa seperti detak jantung kebebasannya sendiri—sebuah bukti nyata bahwa ia masih hidup, mandiri, dan mampu bergerak tanpa bergantung pada fasilitas suaminya.
Kirana berhenti tepat di depan sebuah ruko dua lantai berukuran sedang yang papan penandanya bertuliskan: “Disewakan.”
Ia mengeluarkan selembar catatan kecil dari saku mantelnya, mencocokkan nomor telepon agen properti yang tertera di spanduk dengan catatan yang ia buat setelah berdiskusi secara daring dengan beberapa agen malam sebelumnya. Matanya meneliti setiap sudut bangunan tersebut dengan saksama—letak pintunya yang strategis dekat dengan area pasar lokal, kondisi fisik bangunan yang cukup kokoh meskipun membutuhkan sedikit pengecatan ulang, serta potensi keramaian lalu lintas di sekitarnya.
Ini adalah rencana besarnya. Uang tunai dari hasil penjualan maharnya memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga Pratama, namun modal itu cukup untuk membayar uang muka sewa tempat selama beberapa bulan ke depan, merintis sebuah usaha kecil di bidang pasokan bahan makanan sehat atau toko buku tematik yang dikelolanya sendiri.
Kirana mengangkat ponsel pintarnya yang sederhana—telepon genggam lama bernomor baru yang tidak terhubung dengan jaringan keluarga Pratama—lalu mendial nomor agen properti tersebut untuk mengatur jadwal kunjungan ke dalam ruangan ruko.
Namun, di balik sebatang pohon angsana tua yang berdiri sekitar sepuluh meter di seberang jalan, sebuah mobil SUV hitam mewah terparkir di tepi jalan dengan mesin menyala pelan.
Di dalam kabin mobil yang pengap, Arka duduk di kursi pengemudi dengan kedua tangan mencengkeram erat setir kemudi. Kemeja kerjanya tampak kusut, dan wajahnya dipenuhi oleh bayangan kelelahan yang teramat sangat.
Sejak pagi tadi, ketika ia mendapati kamar pojok di lantai bawah dalam keadaan kosong dan menduga Kirana kembali nekat pergi sendirian, kepanikan luar biasa langsung mencengkeram dadanya. Tanpa pikir panjang, Arka menyambar kunci mobilnya, membuntuti langkah istrinya secara sembunyi-sembunyi dari jarak aman, takut kehilangan jejak wanita itu di tengah kerumunan kota.
Selama perjalanan berjam-jam, Arka terus menguntit. Ia melihat dengan kepedihan yang tak terkira bagaimana istri seorang CEO konglomerat raksasa—wanita yang dulunya terbiasa diantar-jemput dengan sedan mewah berbalut jok kulit—kini harus berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum, naik berdesakan bersama penumpang lain, dan berjalan kaki di bawah teriknya cuaca tanpa payung.
Dan sekarang, melihat Kirana berdiri seorang diri di depan ruko sewaan tua, mencatat nomor telepon agen properti, dan merencanakan masa depan tanpa menyertakan namanya sedikit pun... pemandangan itu menghantam Arka bagaikan hantaman palu godam tepat di ulu hati.
Air mata panas meleleh begitu saja membasahi pipi Arka.
Pria itu menenggelamkan wajahnya di atas kedua lengannya yang bersilang di atas setir mobil. Isak tangis tertahan lolos dari bibirnya, menggema di dalam kabin mobil yang senyap.
Ia merasa telah menjadi pria paling gagal dan paling bodoh di dunia. Selama ini, ia mengira bahwa memberikan kemewahan materi, kartu kredit hitam berlimit tak terbatas, dan rumah megah adalah bentuk perlindungan terbaik bagi istrinya. Ia sombong dengan kekuasaannya, mengabaikan kehadiran emosional Kirana, hingga membuat wanita itu merasa lebih aman hidup di dalam penderitaan kemandirian daripada hidup bergelimang harta di dalam sangkar emas bersamanya.
Kirana tidak sedang mencari pelarian sesaat. Wanita itu sedang membangun jalan keluar yang permanen—jalan di mana Arka Pratama sama sekali tidak memiliki tempat di dalamnya.
Di seberang jalan, Kirana mengakhiri panggilan teleponnya setelah agen properti berjanji akan datang dalam waktu tiga puluh menit untuk membukakan pintu ruko. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel, menarik napas dalam-dalam menghirup udara pagi, dan menatap lurus ke depan dengan senyuman tipis penuh keyakinan di bibirnya.
Arka mendongak perlahan dari balik setir, menatap sosok istrinya dari kejauhan melalui kaca depan mobil yang berembun. Ia tahu ia bisa saja menginjak pedal gas, melompat keluar dari mobil, dan memohon agar Kirana kembali ke rumah. Namun ia juga tahu, setiap langkah yang ia ambil mendekat justru hanya akan membuat wanita itu semakin berlari menjauh.
Dengan dada yang sesak oleh penyesalan yang membakar, Arka hanya bisa mengepalkan tangannya di atas setir—menyaksikan dari jauh bagaimana wanita yang dulu sangat ia abaikan kini menjelma menjadi sosok mandiri yang tidak lagi membutuhkan air mata maupun ampunannya.