Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 Hollowreach
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak. Arden berdiri membelakangi Ilsa, liontin masih tergenggam erat dalam kepalan tangannya, dan malam di sekitar mereka terasa jauh lebih sunyi dari yang seharusnya, hanya diselingi derik jangkrik dan gemerisik dedaunan tertiup angin.
"Aku tidak akan bertanya lagi," kata Ilsa akhirnya, suaranya lembut, tanpa jejak sarkasme yang biasa menyertai kata-katanya. "Aku sudah janji, dan aku akan menepatinya. Tapi aku ingin kau tahu satu hal, Arden."
Arden menoleh sedikit, cukup untuk menunjukkan ia mendengarkan, meski matanya belum sepenuhnya bertemu dengan tatapan Ilsa.
"Apa pun yang kau bawa di sana," lanjut Ilsa, menatap ke arah tangannya yang masih menggenggam liontin itu, "aku bisa melihat betapa beratnya itu bagimu, bahkan tanpa tahu apa isinya. Kau tidak harus memikul semuanya sendirian selamanya."
"Aku tahu," kata Arden, suaranya lebih rapuh dari yang ia inginkan. "Aku hanya belum siap."
"Aku mengerti." Ilsa mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis, mencoba mengembalikan sedikit kehangatan yang biasa ada di antara mereka. "Kembalilah ke api. Malam masih panjang, dan kita perlu istirahat sebelum melanjutkan perjalanan besok."
Arden mengangguk, menyembunyikan liontin itu kembali ke balik bajunya, dan berjalan bersama Ilsa kembali menuju lingkaran cahaya api, di mana percakapan lain sudah berlangsung, tidak ada yang mempertanyakan ketidakhadiran mereka berdua terlalu lama.
...----------------...
Hollowreach muncul di kejauhan keesokan siangnya, sebuah desa kecil yang terhampar di lembah dangkal, dikelilingi ladang gandum yang mulai menguning dan pagar kayu sederhana yang menandai batas permukiman. Dari jauh, tempat itu terlihat seperti gambaran ideal kehidupan pedesaan, atap-atap jerami berjajar rapi, asap tipis mengepul dari beberapa cerobong, dan sebuah menara lonceng kecil berdiri di tengah desa, menjulang lebih tinggi dari bangunan-bangunan di sekitarnya.
Tapi ketika rombongan semakin mendekat, sesuatu terasa tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran itu.
"Terlalu sepi," gumam Tomas, matanya menyapu jalan utama desa yang seharusnya ramai menyambut kedatangan karavan dagang, sebuah kejadian yang biasanya cukup jarang terjadi di desa perbatasan seperti ini untuk tidak menarik perhatian.
Beberapa penduduk memang terlihat, tapi gerakan mereka terburu-buru, jarang ada yang berdiri lama di luar rumah, dan mata mereka sering melirik ke arah perbatasan hutan di sisi timur desa dengan kewaspadaan yang tidak wajar untuk sekadar kehidupan desa biasa.
Kepala desa, seorang pria tua bernama Aldric dengan janggut putih dan mata yang tampak lelah melebihi usianya, menyambut mereka di gerbang kayu sederhana, senyumnya ramah tapi terkesan dipaksakan.
"Kalian datang tepat waktu," katanya, membantu para pedagang mengarahkan gerobak mereka menuju halaman penyimpanan di dekat balai desa. "Kami sudah menunggu barang-barang ini beberapa hari."
"Semuanya baik-baik saja di sini?" tanya Arden, memperhatikan bagaimana mata Aldric sesaat melirik ke arah hutan sebelum kembali fokus padanya.
"Baik-baik saja," kata Aldric, terlalu cepat, terlalu ringan untuk terdengar sepenuhnya jujur. "Hanya... musim ini agak berbeda dari biasanya. Beberapa keluarga memutuskan pindah ke kota lebih awal tahun ini."
Corym, yang berdiri di sisi Arden, mengamati sekeliling dengan mata yang lebih jeli, memperhatikan beberapa rumah di ujung jalan yang jendelanya tertutup rapat, pintunya terkunci, tanpa tanda kehidupan sama sekali meski masih siang hari.
"Rumah-rumah itu," katanya, menunjuk dengan dagu, "kosong?"
Aldric mengikuti arah tatapannya, dan untuk sesaat, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekhawatiran musiman muncul di matanya. "Keluarga Harmon dan Pell," katanya, suaranya lebih pelan sekarang. "Mereka pergi mendadak, sekitar seminggu lalu. Tidak sempat berpamitan dengan tetangga, hanya mengemas barang secukupnya dan pergi malam hari."
"Kenapa?" tanya Arden.
Aldric ragu sejenak, matanya menyapu sekeliling seolah memastikan tidak ada yang mendengarkan lebih dari yang perlu, sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu pasti. Mereka bilang mereka merasa tidak aman di sini belakangan ini. Tapi kupikir itu hanya ketakutan berlebihan. Kami tidak pernah punya masalah besar di Hollowreach."
Ia buru-buru mengalihkan pembicaraan setelah itu, menunjukkan tempat penginapan sederhana yang bisa mereka gunakan selama singgah, dan menawarkan sekilas soal makan malam bersama di balai desa untuk merayakan kedatangan barang dagangan yang dinanti-nanti. Tapi ketegangan yang sempat muncul di wajahnya tidak sepenuhnya hilang, hanya terselubung kembali di balik keramahan yang dipaksakan.
...----------------...
Sister Yuna, yang selama ini lebih memilih diam mengamati daripada bertanya langsung, menyempatkan diri berkeliling desa sendirian sore itu, mengunjungi kapel kecil Hollowreach yang berdiri sederhana di dekat balai desa, bangunan kayu tua dengan lonceng kecil di puncaknya dan sebuah altar polos di dalamnya, jauh berbeda dari kemegahan kapel-kapel kota besar.
Ia duduk sebentar di bangku kayu, menikmati kesunyian yang lebih tulus dibanding ketegangan yang terasa di jalan-jalan desa, sebelum seorang wanita tua masuk untuk menyalakan lilin di dekat altar, gerakannya lambat tapi penuh kebiasaan yang sudah bertahun-tahun terbentuk.
"Kau salah satu dari mereka yang mengawal karavan," kata wanita itu, tidak menoleh, suaranya serak karena usia.
"Benar," kata Yuna, lembut. "Namaku Yuna. Aku hanya ingin berdoa sebentar sebelum melanjutkan perjalanan."
Wanita itu mengangguk, menyalakan lilin terakhirnya, lalu duduk di bangku terdekat, menghela napas panjang seperti seseorang yang sudah lama menahan sesuatu tanpa punya tempat untuk membaginya.
"Kalian datang di waktu yang aneh," katanya akhirnya.
"Aneh bagaimana?" tanya Yuna, hati-hati, tidak ingin memaksa tapi cukup peka untuk mengenali kesempatan ketika seseorang siap berbicara.
"Ada orang-orang lewat, beberapa hari lalu," kata wanita itu, suaranya turun menjadi bisikan meski hanya mereka berdua di dalam kapel. "Malam hari, lewat jalan di sisi hutan. Aku melihatnya dari jendela, tidak bisa tidur karena usia tua ini. Berjubah gelap, berjalan dalam diam, tidak seperti pedagang atau pemburu biasa yang lewat sini."
"Berapa banyak?" tanya Yuna.
"Cukup banyak untuk membuatku takut," kata wanita itu, tangannya bergetar sedikit saat mengingatnya. "Mereka tidak berhenti di desa, tidak mengganggu siapa pun secara langsung. Hanya lewat, seperti bayangan, menuju arah hutan di sisi timur. Tapi sejak itu, tidak sedikit dari kami yang tidak bisa tidur nyenyak lagi."
"Apa kepala desa tahu soal ini?"
"Dia tahu," kata wanita itu, mengangguk pelan, "tapi dia bilang lebih baik kita tidak membicarakannya keras-keras, takut membuat kepanikan yang tidak perlu, atau menarik perhatian yang lebih buruk kalau memang mereka masih ada di sekitar sini."
Yuna mendengarkan dengan seksama, hatinya terasa berat mendengar ketakutan yang tersembunyi rapi di balik kehidupan desa yang tampak tenang dari luar. Ia meletakkan tangannya lembut di atas tangan wanita tua itu, mencoba memberikan sedikit ketenangan yang bisa ia tawarkan.
"Terima kasih sudah menceritakannya padaku," katanya. "Aku akan memastikan orang-orangku tahu soal ini juga. Kalian tidak sendirian menghadapi ini."
Wanita itu menatapnya, matanya berkaca-kaca sesaat, sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis, sebuah senyum lelah tapi tulus. "Terima kasih, Suster. Sudah lama tidak ada yang benar-benar mendengarkan kami."
...----------------...
Yuna kembali ke penginapan sesaat sebelum makan malam bersama di balai desa, menemukan Arden dan sebagian besar rombongan sudah berkumpul, membahas rencana keberangkatan mereka esok hari setelah barang dagangan diserahkan sepenuhnya kepada penduduk desa.
"Ada sesuatu yang perlu kalian dengar," katanya, mendekati kelompok itu, suaranya lebih serius dari biasanya.
Ia menceritakan apa yang ia dengar dari wanita tua di kapel, kata demi kata, memastikan tidak ada detail yang terlewat. Ekspresi di sekitar meja berubah seiring ceritanya berlanjut, dari perhatian biasa menjadi kewaspadaan yang lebih tajam.
"Orang-orang berjubah gelap," ulang Corym, menatap Arden. "Sama seperti kain yang kita temukan di Menara Verlanth."
"Mungkin," kata Arden, meski pikirannya sendiri sudah mulai menghubungkan titik-titik yang terasa semakin sulit diabaikan. "Atau mungkin dua kejadian yang tidak berhubungan."
"Kau sendiri tidak percaya itu," kata Ilsa, menatapnya tajam.
Arden tidak membantah, karena memang tidak bisa. Ia menatap sekeliling meja, seluruh rombongan menunggu keputusannya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Hollowreach, ia merasakan beban tanggung jawab yang jauh lebih berat dari sekadar kontrak pengawalan biasa.
"Kita tingkatkan jaga malam," katanya akhirnya. "Dua orang bergantian setiap dua jam, bukan hanya satu seperti biasa. Doran, kalau kau dan Ashe cukup segar, aku ingin kau memeriksa perbatasan hutan sebelum gelap sepenuhnya."
"Akan kulakukan," kata Doran, sudah berdiri.
Makan malam bersama warga desa berlangsung lebih hangat dari yang diperkirakan mengingat ketegangan yang mereka ketahui, penduduk Hollowreach berusaha keras menampilkan keramahan mereka yang biasa, anak-anak berlarian di antara meja panjang, beberapa orang bahkan mulai bernyanyi pelan mengiringi makan malam sederhana itu. Tapi di balik semua itu, Arden bisa melihat dengan jelas sekarang, setelah mendengar cerita Yuna, betapa banyak dari senyum-senyum itu yang menyembunyikan kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar mereda.
Malam turun perlahan, membawa udara dingin khas pedesaan, dan rombongan kembali ke penginapan mereka dengan pengaturan jaga yang sudah disepakati, sebagian besar beristirahat lebih awal setelah perjalanan panjang, sementara yang lain mengambil giliran pertama berjaga di sekitar area penginapan dan perbatasan desa.
Arden sendiri tidak bisa tidur, duduk di dekat jendela kamar sederhana yang disediakan untuknya, menatap keluar ke arah hutan gelap di sisi timur desa, pikirannya masih dipenuhi kata-kata Yuna, ditambah beban yang sudah ia bawa sejak insiden di Menara Verlanth.
Ia baru saja mulai merasakan kelopak matanya menjadi berat, tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan hari itu, ketika suara pertama memecah kesunyian malam.
Lonceng.
Bukan bunyi lonceng biasa yang menandai waktu, melainkan dentangan cepat dan berulang, panik dan mendesak, berasal dari menara kecil di tengah desa, bergema jauh melintasi lembah, menembus ketenangan malam yang baru saja mereka nikmati.
Dari arah perbatasan hutan di sisi timur.