Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pagi itu, Rio datang ke kantor Haris Group. Sesuai perkataannya kepada Haris saat pemakaman Evan, bahwa ia yang akan melanjutkan memimpin kerjasama.
Sebagai asisten pribadi Evan, ia mengetahui hampir seluruh perkembangan proyek yang sedang berjalan. Ia juga memahami berbagai kesepakatan yang sebelumnya ditangani langsung oleh Evan.
Haris menyambutnya di ruang rapat. "Silakan duduk, Pak Rio."
"Terima kasih, Pak Haris." Rio membuka sebuah map. "Saya datang untuk membicarakan kelanjutan kerja sama proyek yang sebelumnya ditangani Pak Evan."
Haris mengangguk. "Saya memang sudah menunggu kabar darimu."
"Setelah kepergian Pak Evan, dewan direksi memberikan saya tanggung jawab untuk memastikan proyek ini tetap berjalan." Rio menyerahkan beberapa dokumen. "Saya sudah mempelajari kembali seluruh perkembangan proyek. Ada beberapa bagian yang perlu disesuaikan, tetapi secara umum kerja sama tetap berjalan sesuai kesepakatan."
Haris membaca dokumen tersebut dengan teliti. "Saya menghargai keseriusan Evara Capital."
"Saya juga tidak ingin kepergian Pak Evan membuat kerja sama yang sudah dibangun jadi berhenti."
Haris tersenyum tipis. "Baik. Kalau begitu, kita lanjutkan."
Rio mengangguk. "Terima kasih atas kepercayaannya."
Pertemuan berlangsung cukup lama. Rio menjelaskan beberapa perkembangan terbaru, menyampaikan revisi jadwal, serta memastikan komunikasi antara kedua perusahaan tetap lancar.
Tidak ada satu pun yang mencurigakan. Semuanya tampak profesional. Namun setelah rapat selesai, Rio tidak langsung meninggalkan gedung. Ia berdiri di dekat jendela koridor lantai atas. Dari sana, ia dapat melihat beberapa karyawan yang sedang bekerja.
Tatapannya kemudian berhenti pada seseorang. Indri. Wanita itu sedang berjalan bersama Riko sambil membawa beberapa dokumen.
Riko tampak mengatakan sesuatu. Dan Indri mendengarnya sambil tersenyum kecil.
Rio memperhatikan mereka beberapa saat. Kemudian tangannya bergerak mengambil ponsel. Ia mengetik sebuah pesan singkat.
Setelah pesan terkirim, ia memasukkan kembali ponselnya ke saku. Wajahnya tetap tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, Indri dan Riko sedang membahas laporan proyek.
"Bagian ini sudah saya perbaiki," kata Riko sambil menunjuk salah satu halaman.
Indri memeriksa dokumen tersebut. "Lebih baik."
"Saya juga sudah menambahkan data pendukung," lanjut Riko.
"Kamu semakin cepat memahami pekerjaan."
Riko tersenyum. "Karena saya punya orang yang cukup sabar mengajari."
Indri menatapnya. "Kamu sedang memujiku?"
"Kalau Ibu menganggapnya pujian, berarti iya."
Indri tertawa kecil. "Kamu pandai sekali bicara."
Percakapan itu terdengar sederhana. Namun dari kejauhan, Rio kembali memperhatikan.
Tatapannya berpindah dari Riko kepada Indri. Kemudian kembali mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan lalu mengirimnya.
...
Siang harinya, Indri kembali merasa mual. Ia berhenti di depan meja dan memejamkan mata.
Riko yang kebetulan berada di dekatnya langsung menyadari. "Bu Indri?"
Indri membuka mata. "Ya?"
"Ibu tidak apa-apa?"
"Sedikit pusing."
Riko mengambilkan air putih. "Minum dulu."
Indri menerima gelas tersebut. "Terima kasih."
"Belakangan ini Ibu sering seperti ini."
Indri tersenyum. "Mungkin karena kurang istirahat."
"Kalau begitu Bu Indri harus banyak istirahat."
"Kalau semua pekerjaan selesai."
Riko menggeleng. "Kalau menunggu pekerjaan selesai, mungkin Ibu tidak akan pernah istirahat."
Indri tertawa pelan. "Ada benarnya juga."
Riko kemudian membantu membawa beberapa dokumen. "Saya yang antar ke ruang Pak Haris."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Dari ujung koridor, Rio kembali melihat interaksi tersebut.
Kali ini ia tidak langsung mengirim pesan. Ia hanya berdiri diam.
Ada sesuatu yang membuatnya semakin penasaran. Bukan sekadar kedekatan Riko dengan Indri. Tetapi perubahan ekspresi Indri setiap kali berbicara dengan pria tersebut. Indri terlihat lebih ringan. Lebih nyaman. Jauh berbeda dibandingkan ketika Evan masih hidup.
Rio akhirnya mengambil ponsel.
Ia mengetik... Pesan terkirim.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk. Rio membacanya.
Ekspresinya tidak berubah. Ia hanya mengetik balas, kemudian ponsel kembali disimpan.
...
Sore menjelang. Rio kembali bertemu Haris untuk membahas perkembangan proyek. "Saya rasa setelah ini komunikasi kita akan lebih sering," ujar Haris.
"Tentu, Pak Rio."
"Kalau ada masalah, langsung hubungi saya."
"Baik."
Rio berdiri. Namun sebelum pergi, ia sempat berkata, "Pak Haris."
"Ya?"
"Bagaimana keadaan Bu Indri?"
Haris sedikit heran. "Indri?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Saya hanya melihat Bu Indri beberapa kali tampak kelelahan."
Haris tersenyum. "Memang akhir-akhir ini dia banyak pekerjaan."
Rio mengangguk. "Kalau begitu, sebaiknya dia lebih banyak beristirahat."
"Benar."
Rio kemudian pamit. Begitu keluar dari ruangan Haris, wajahnya kembali berubah serius.
Ia berjalan menuju lift.
Pintu lift terbuka. Rio masuk seorang diri. Ponselnya kembali dikeluarkan. Satu pesan dikirim. Ia menunggu beberapa saat. Balasan masuk.
Rio membaca pesan tersebut. Tatapannya kosong. Kemudian layar ponsel dimatikan.
...
Sementara itu, Indri pulang menjelang malam. Tubuhnya kembali terasa lelah. Ia sempat merasa mual saat perjalanan pulang, tetapi tidak terlalu memikirkannya.
Sesampainya di kamar, ia merebahkan diri. Pikirannya kembali kepada pekerjaan. Kemudian kepada Evan. Dan tanpa sadar, kepada Riko.
Perhatian Riko akhir-akhir ini membuatnya merasa sedikit nyaman. Namun Indri belum siap membuka hati kepada siapa pun.
Ia masih memiliki terlalu banyak luka. Terlalu banyak rahasia. Dan terlalu banyak rasa bersalah.
Ia memejamkan mata. "Aku hanya ingin hidup tenang."
Kalimat itu menjadi doa yang ia ulangi hampir setiap malam.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁