NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Mata yang Berkedip

Pesan dari ID tersembunyi itu tidak menjelaskan siapa pengirimnya.

Namun keesokan paginya, Dokter Ryan menelepon Keira.

"Datang pukul sembilan. Saya sudah meminta persetujuan keluarga pasien untuk pemeriksaan respons sadar."

"Selena mengizinkan?"

"Saya tidak meminta izin direktur untuk menjalankan tugas dokter."

Ketika Keira tiba di RS Pondok Indah, Daniel berdiri di depan kamar Evelyn. Wajahnya lebih pucat daripada malam saat ia dipaksa berlutut. Dua petugas keamanan berjaga di ujung koridor, tetapi kali ini kartu akses berada di tangan Daniel.

"Aku wali keluarga terdekatnya," katanya. "Kamu masuk karena Eve bereaksi terhadap namamu. Hanya karena itu."

Keira tidak menjawab. Ia melewatinya dengan tongkat menyangga kaki kiri.

Evelyn sudah membuka mata.

Tatapannya belum mampu mengikuti semua gerakan. Bibirnya bergerak tanpa suara. Selang oksigen menempel di bawah hidung, sementara telunjuk kanannya terbaring di atas sensor denyut.

Daniel mendekati sisi ranjang. "Eve, ini Koko."

Air mata berkumpul di mata Evelyn.

Ryan memeriksa refleks pupil dan meminta Evelyn mengikuti cahaya kecil. Setelah itu ia meletakkan papan putih di samping ranjang. Di sana tertulis dua aturan sederhana.

`Satu kedipan: ya.`

`Dua kedipan: tidak.`

"Kemampuan bahasanya mengalami kemunduran setelah lima tahun tanpa komunikasi," jelas Ryan. "Dia mungkin memahami pertanyaan, tetapi belum bisa membentuk kata. Kita mulai dari hal yang jawabannya sudah diketahui. Jangan bertanya cepat. Jangan mengarahkan."

Ryan menyebut nama Evelyn dan bertanya apakah Daniel berada di ruangan. Satu kedipan.

Ia bertanya apakah lampu kamar mati. Dua kedipan, terpisah jelas.

Daniel menunduk. Bahunya bergetar satu kali sebelum kembali kaku.

Ryan memandang Keira. "Sekarang."

Keira berdiri di sisi kanan ranjang agar Evelyn tidak perlu memutar kepala. Tangannya mencengkeram tongkat begitu erat hingga empat jarinya memutih.

"Eve, apakah aku yang mendorongmu?"

Kelopak mata Evelyn turun.

Sekali.

Lalu sekali lagi.

Dua kedipan.

Tidak.

Suara monitor tetap teratur, tetapi napas Keira pecah. Lima tahun ruang sempit, enam tongkat yang mematahkan kakinya, air toilet, jarum, ginjal yang hilang, dan tidak satu pun kunjungan keluarga tidak lenyap karena dua kedipan. Tubuhnya masih membawa semuanya.

Namun untuk pertama kalinya, seseorang yang ada di tangga itu menjawabnya.

Keira menahan tepi ranjang. "Apakah Vanessa yang mendorongmu?"

Evelyn berkedip sekali.

Ya.

Daniel mundur sampai pinggangnya menghantam meja. Tatapannya jatuh pada kaki kiri Keira, lalu berpindah ke wajah adiknya.

"Eve," suaranya serak, "kamu yakin?"

Satu kedipan.

Air mata mengalir ke kedua sisi wajah Evelyn. Napasnya menjadi cepat. Ryan mengangkat tangan agar Daniel tidak menambah pertanyaan.

Keira menunggu grafik denyut turun. "Apakah ada orang lain yang melihat Vanessa mendorongmu?"

Satu kedipan.

"Orang dari keluarga Pratama?"

Satu kedipan.

Mata Evelyn bergerak ke arah pintu. Bukan sekadar melirik. Tatapannya melebar seolah orang yang ia takutkan bisa muncul kapan saja.

Keira menurunkan suara. "Apakah Edmond melihatnya?"

Kelopak Evelyn mulai turun.

Pintu terbuka sebelum kedipan selesai.

Selena masuk bersama kepala perawat dan dua petugas keamanan. Ia langsung mencabut papan putih dari sisi ranjang.

"Pemeriksaan dihentikan. Pasien mengalami peningkatan denyut dan tekanan emosional. Semua keluar."

Ryan berdiri di antara Selena dan ranjang. "Sebagai dokter yang merawatnya, aku berhak berada di sini. Responsnya konsisten dan tanda vitalnya masih dalam batas yang bisa dipantau."

"Sebagai direktur, saya bertanggung jawab atas risiko rumah sakit ini. Anda melakukan interogasi terhadap pasien neurologis yang baru sadar tanpa tim etik."

"Tiga pertanyaan orientasi dan empat pertanyaan ya-tidak bukan interogasi."

"Keputusan sudah dibuat."

Daniel melangkah maju. "Aku keluarganya. Aku tidak mencabut persetujuan."

Selena menatapnya seperti menilai angka dalam laporan. "Kalau Anda ingin adik Anda mengalami krisis kedua, silakan lanjutkan dan tanda tangani seluruh tanggung jawabnya."

Kata-kata itu membuat Daniel berhenti sepersekian detik. Cukup bagi petugas keamanan untuk mendekati ranjang.

Keira membiarkan Ryan membawanya keluar. Dua kedipan telah meruntuhkan satu kebohongan; ketakutan Evelyn saat nama Edmond disebut membuka kebohongan berikutnya.

Ryan menyusul sampai pintu tangga darurat, menjauh dari kamera koridor.

"Catatan hari ini membuktikan responsnya konsisten, belum membuktikan siapa pelakunya," kata Ryan. "Tim independen harus mengulang pemeriksaan dengan rekaman."

"Selena tidak akan membiarkan itu."

Ryan mengangkat ponselnya. "Salinan bertanda waktu sudah terkunci."

"Jangan biarkan Evelyn sendirian," katanya.

Daniel yang berdiri beberapa langkah dari mereka menjawab, "Mulai hari ini, aku yang berjaga."

Keira menatapnya. "Lima tahun terlambat. Jangan terlambat satu menit lagi."

Di koridor, Daniel meraih lengan kanan Keira. Ia segera melepaskan saat Keira menatap tangannya.

"Lapas itu," katanya. "Aku membayar mereka karena aku percaya kamu menghancurkan hidup Eve."

"Kamu tidak pernah datang menanyakan kebenaran."

"Keira Pratama..."

"Simpan penyesalanmu sampai adikmu aman dari orang yang tadi mencoba membunuhnya."

Keira pergi sebelum Daniel menemukan jawaban.

Menjelang malam, Edmond sedang duduk di ruang keluarga Pratama bersama Yolanda dan Vanessa. Kevin, yang belum pulih dari operasi lambung, berada di kursi berlengan dengan wajah pucat. Lucas berdiri di bagian ruangan yang tidak terkena lampu, seolah kunjungannya kepada Vanessa harus disembunyikan.

Keira masuk tanpa melepas sepatu.

Ia meletakkan salinan catatan waktu pemeriksaan di atas meja.

"Evelyn sudah sadar," katanya.

Gelas teh di tangan Vanessa beradu dengan tatakannya.

Edmond tidak bergerak. "Kondisinya belum stabil. Jangan membuat kesimpulan dari gerakan pasien sakit."

"Dua kedipan berarti tidak. Satu berarti ya." Keira memandang langsung ke wajahnya. "Aku bukan orang yang mendorongnya. Vanessa pelakunya."

Vanessa bangkit. "Orang yang baru sadar bisa salah memahami pertanyaan. Kak Keira pasti menakut-nakuti Eve."

"Dokter Ryan menguji orientasinya lebih dulu. Daniel ada di sana."

"Ko Daniel membencimu. Dia tidak akan membenarkan cerita itu."

Keira memutar rekaman suara pendek di ponselnya. Suara Ryan terdengar menyebut aturan satu kedipan dan dua kedipan. Lalu pertanyaan tentang Keira, jeda dua kedipan, pertanyaan tentang Vanessa, dan satu kedipan. Rekaman berakhir saat Selena membuka pintu.

Kevin mengulurkan tangan. "Kirim kepadaku. Aku akan meminta pemeriksaan independen dan salinan rekam medis."

Edmond merebut ponsel itu, tetapi Keira sudah mengirim berkasnya. Layar hanya menampilkan pemberitahuan bahwa salinan tersimpan di dua alamat.

"Kalian tidak akan membawa urusan ini keluar," katanya.

"Urusan ini sudah keluar sejak polisi membawa anakmu yang tidak bersalah," jawab Keira.

"Itu bukan bukti hukum," kata Edmond terlalu cepat.

Keira tersenyum dingin. "Papa, aku tahu kamu juga tahu kebenarannya. Lima tahun lalu, kamu melihat semuanya."

Warna di wajah Edmond lenyap.

Kevin bangkit setengah berdiri, lalu memegangi bekas operasinya. "Papa melihat apa?"

"Dia mengarang," bentak Edmond.

"Kalau aku mengarang, kenapa wajahmu berubah?" Keira mendekat. "Kenapa CCTV tangga hilang sebelum polisi datang?"

Yolanda berdiri. "Mama hanya menghapus rekaman itu karena Papa bilang keluarga akan hancur kalau Van dibawa polisi!"

Ruangan mendadak sunyi.

Yolanda menutup mulutnya sendiri.

Kevin menatap kedua orang tuanya bergantian. "Jadi kalian tahu. Kalian membiarkan Kei dipenjara."

"Vanessa masih muda," kata Edmond. "Kami harus memilih kerugian yang paling kecil demi keluarga. Keira sudah terbiasa hidup sulit. Dia lebih kuat."

Kevin menatap ayahnya dengan ngeri. "Lima tahun penjara adalah kerugian kecil?"

"Pratama Group mempekerjakan ribuan orang. Skandal pidana bisa menghancurkan semuanya."

"Jadi Papa menyerahkan satu anak sebagai biaya operasional."

Edmond tidak menyangkal. Ia hanya memandang Keira seakan pengorbanan itu masih masuk akal bila ditulis dalam kolom yang tepat.

Kata-kata itu memutus sesuatu yang sudah retak selama delapan tahun.

Di atas meja ada piring buah dan sebilah pisau kecil. Keira mengangkat pisau itu.

Edmond langsung berdiri dan mundur. "Turunkan. Kamu mau membunuh Papa sendiri?"

"Tiga orang melihat kebenaran. Evelyn kehilangan lima tahun. Aku kehilangan lima tahun. Kamu tetap pulang dan makan malam setiap hari."

Tiga kali kilatan logam bergerak sebelum Kevin sempat mencapai mereka.

Edmond jatuh di samping sofa. Darah menyebar dari bahu, lengan atas, dan paha luarnya. Luka-luka itu tidak mengenai bagian vital, tetapi cukup membuat teriakannya memenuhi rumah.

Keira menatap pisau di tangannya seperti baru menyadari benda itu ada di sana.

Vanessa meraih Yolanda dari belakang dan mendorong tubuh ibunya ke depan sebagai pelindung. Yolanda tersandung ke arah Keira.

"Van!" jeritnya.

Keira menjatuhkan pisau. Benda itu berdenting di lantai marmer.

Kevin menekan kain sofa ke bahu Edmond sambil berteriak meminta ambulans. Vanessa bersembunyi di belakang ibunya. Lucas bergerak menuju Keira, tetapi ia mundur lebih dulu.

Suara-suara di ruangan berubah menjadi dengung. Napas Keira terlalu pendek. Dinding terasa mendekat. Ia melihat darah Edmond, lalu melihat kembali lantai penjara yang basah dan tongkat keenam terangkat di atas kakinya.

Ia berbalik dan berjalan terpincang menuju balkon.

"Kei, berhenti." Kevin berusaha bangkit, tetapi darah di tangannya dan luka operasinya menahan tubuhnya.

Pintu kaca terbuka. Angin malam menyapu baju tipis Keira. Ia naik ke sisi luar pagar balkon tanpa menoleh ke bawah lebih dari sesaat. Lima lantai memisahkannya dari halaman.

Dari balik napas yang putus-putus, pagar itu tampak seperti satu-satunya pintu yang masih terbuka.

Lucas menerjang dari ambang pintu dan menangkap pergelangan tangan kanannya.

"Kamu pernah berjanji tidak akan meninggalkanku!"

Keira tidak menjawab. Kuku Lucas menekan kulitnya. Kevin memanggil namanya dari dalam, suaranya patah oleh sakit.

Keira menunduk.

Sebuah Alphard hitam berhenti di halaman. Pintu belakangnya terbuka. Seorang laki-laki keluar, lalu mengangkat wajah ke balkon.

Cahaya bulan jatuh pada garis wajahnya.

Rayhan Hartono.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!