Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
001
Lantai marmer putih Italia di kediaman Carser terasa sedingin es yang meresap hingga ke balik tulang. Namun, dinginnya ubin di bawah telapak kaki Aurora Borealis yang gemetar tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang menghantam tubuhnya.
Setiap incinya berdenyut kepayahan. Bekas jahitan operasi caesar yang belum genap tiga bulan berlalu itu menyengat ngilu setiap kali ia mengayunkan langkah yang terlalu lebar, seolah benang-benang di bawah kulitnya dipaksa membentang di batas putus.
Di dalam dekapannya, Draco—putra kecilnya—terkulai lemas.
Bayi mungil itu baru saja menerima suntikan cairan infus di ruang gawat darurat akibat dehidrasi dan demam tinggi. Napasnya yang kecil terasa hangat berembus kencang di ceruk leher Aurora, rapuh seperti kepakan sayap burung gereja di tengah badai.
Aurora mengecup puncak kepala bayinya yang halus, menghirup aroma bedak dan antiseptik rumah sakit yang bercampur di sana. Matanya sayu, dinaungi lingkaran hitam pekat dari malam-malam tanpa tidur.
Namun, di dalam istana bergaya neoklasik yang berdiri megah di kawasan elit ini, ketenangan adalah kemewahan yang tak pernah sudi disinggahi.
"Bisakah kau bergerak lebih cepat, Aurora Borealis?!"
Suara Jonathan Carser—suaminya—menggelegar dari balik pilar gading di ruang tengah.
Suaranya memantul kasar di langit-langit yang dihiasi lukisan fresco, memecahkan kesunyian rumah yang dingin. Jonathan berdiri tegak di dekat tangga melingkar, tampak begitu sempurna tanpa cela.
Pria itu dibalut setelan tuxedo pesanan khusus dari penjahit ternama di Milan—potongan bahunya yang tegas dan warna hitam pekatnya membuat Jonathan tampak bak pangeran yang melangkah keluar dari sampul majalah bisnis internasional.
Tanpa sedikit pun melirik ke arah Aurora yang bersusah payah melangkah, Jonathan menatap jam tangan Chronograph kemewahannya dengan raut wajah yang dipenuhi kekesalan.
"Kau terlalu lambat! Jangan biarkan kolega terpenting ku menunggu di restoran hanya karena kau tidak punya otak untuk mengatur waktu!" bentak Jonathan lagi.
Wajah tampannya yang terukir sempurna kini mengeras oleh amarah. Seolah-olah setiap detik yang terbuang dari hidupnya adalah kerugian bernilai jutaan dolar yang tak terampuni.
Aurora menghentikan langkahnya di dekat pilar. Bahunya naik turun menyusun napas yang compang-camping.
"Aku baru saja kembali dari rumah sakit, Jonathan," bisiknya. Suaranya parau, tersendat di tenggorokan yang kering.
"Draco dehidrasi parah. Tubuhnya sempat kejang tadi siang. Aku butuh waktu sebentar saja untuk menidurkannya, memberi instruksi pada pengasuh, dan berganti pakaian. Aku... aku sangat lelah."
Bukannya luluh, kata 'lelah' itu justru menyulut sulur api di mata Jonathan. Langkah kakinya yang mantap terdengar mengancam di atas lantai marmer saat ia mendekat.
Pria itu tidak menghampiri untuk membelai pipi istrinya yang pucat, tidak pula untuk memeriksa suhu tubuh anaknya yang terlelap. Sebaliknya, Jonathan mencengkeram rahang Aurora dengan jemarinya yang kaku, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya yang sedingin baja.
"Lelah?" Jonathan mendengus sinis, bibirnya terangkat membentuk cemoohan yang tajam. "Kau terlalu banyak menghabiskan waktu bertingkah sentimental bersama putramu itu sampai lupa siapa yang memberimu makan di rumah ini! Sedikit-sedikit putramu, sedikit-sedikit Draco menangis. Kau sengaja mencari-cari alasan konyol untuk menghindari kewajibanmu sebagai Nyonya Carser di sampingku!"
Aurora merintih, bukan hanya karena cengkeraman pada rahangnya, melainkan karena sebutan itu. Putramu.
Kata itu diucapkan Jonathan bagaikan mata belati berkarat yang dihunus tanpa ampun, merobek dada Aurora berkali-kali.
Sejak hari pertama Draco lahir ke dunia, Jonathan menolak mengakui bayi itu.
Pria itu membangun benteng tuduhan yang tak tertembus, menjadikan kehadiran Draco sebagai senjata psikologis untuk menyiksa batin Aurora setiap hari.
"Bagaimana mungkin Draco hanya putraku, Jonathan?" Suara Aurora bergetar hebat, diselimuti tangis yang tertahan di balik kelopak matanya.
Tapi di dasar jiwanya yang paling dalam, ada percikan keberanian yang menolak untuk padam. "Dia anakmu juga! Berhenti bicara seolah-olah kau tidak punya andil dalam kehadirannya di dunia ini. Dia darah dagingmu!"
Mendengar itu, Jonathan justru tertawa. Tawa yang keluar dari tenggorokannya terasa begitu kering, dingin, dan sama sekali tak menyisakan kehangatan manusiawi.
Pria itu memiringkan kepalanya, membisikkan kata-kata beracun tepat di samping telinga Aurora—napas hangatnya terasa seperti hembusan angin dari neraka.
"Darah dagingku? Bagaimana mungkin kau dinyatakan hamil delapan minggu di saat usia pernikahan kita baru berjalan dua minggu? Jawab aku, Aurora Borealis! Secara Medis, itu konyol. Secara medis, itu mustahil!"
DEG.
Tubuh Aurora seketika membeku. Seluruh darah di dalam pembuluh darahnya serasa berhenti mengalir.
Rahasia yang selama ini menggerogoti jiwanya—kebingungan dan ketakutan luar biasa yang bahkan tak berani ia telusuri sendiri jawabannya—kini dihantamkan Jonathan tepat di hadapan wajahnya.
Pernikahan mereka beberapa bulan lalu digadang-gadang sebagai Wedding of the Century.
Pesta megah digelar tiga hari tiga malam, mempertemukan konglomerat bisnis dan pejabat tinggi negara. Namun, baru dua minggu mengarungi hidup sebagai suami istri, Aurora jatuh pingsan di tengah acara jamuan teh.
Dan saat dilarikan ke rumah sakit, vonis dokter membalikkan dunianya seketika: usia kandungannya sudah akan memasuki minggu kesembilan.
Sejak detik berdarah itu, surga semu yang dijanjikan Jonathan hancur tak berbekas.
Tatapan memuja dan perlakuan lembut pria itu berganti menjadi kebencian dingin yang pekat. Jonathan menolak tidur di kamar yang sama. Ia mengunci pintu hatinya, menjadikan Aurora tak lebih dari sekadar pajangan berkelas yang hanya dipamerkan di depan kamera media atau jamuan kolega tinggi.
"Kau tahu aku tidak pernah mengkhianatimu, Jonathan," bisik Aurora, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang tirus. "Aku milikmu sejak malam pertama kita... aku tidak pernah disentuh pria lain sejak kita bersama."
"Milikku?" Jonathan melepaskan cengkeramannya pada rahang Aurora secara kasar, membuat wanita itu tersentak ke belakang. Ia memandang Aurora dari atas ke bawah dengan pandangan paling merendahkan yang bisa dihimpun seorang manusia.
"Jangan pernah berani bersumpah palsu di depanku. Kau pikir aku lupa siapa yang memilikimu sebelum aku? Kau pikir aku lupa pada sosok Braxley Valerio-Desmon?"
Nama itu diucapkan Jonathan seperti sebuah kutukan. Aurora merasa napasnya tertahan di kerongkongan.
"Pria arogan itu tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang pernah menjadi 'miliknya' pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak, bukan?" lanjut Jonathan dengan suara merendah yang sarat ancaman.
"Kau sendiri yang mengaku padaku sebelum kita menikah bahwa kau sudah tidak lagi murni! Kau yang bilang padaku bahwa Braxley telah mengambil segalanya darimu di Los Angeles! Jadi, jangan bersikap seolah aku pria bodoh yang bisa kau tipu dengan hitungan kalender kehamilan konyolmu ini!"
"Tidak! Demi Tuhan, Jonathan, itu tidak benar!" jerit Aurora tertahan, matanya membelalak panik. "Aku dan Braxley sudah benar-benar selesai! Kami putus hubungan secara total dua tahun penuh sebelum aku pertama kali bertemu denganmu!"
"Lalu jelaskan padaku kenapa Draco lahir dengan bentuk mata yang tajam, garis rahang, dan aura pemberontak yang sama sekali tidak mirip denganku?!" bentak Jonathan, suaranya menggelegar memenuhi lorong.
Gertakan keras itu memecahkan kesunyian. Draco yang berada dalam pelukan Aurora tersentak kaget dari tidur lelapnya.
Bayi mungil itu mulai menangis melengking, jeritannya sarat akan ketakutan mendalam.
Jonathan sama sekali tak tersentuh oleh tangisan darah daging yang selalu ia sangkal itu. Pria itu menunjuk wajah Aurora dengan jari telunjuknya yang kaku.
"Bawa anak itu ke atas sekarang! Ganti bajumu! Pakai gaun malam hitam yang kubelikan minggu lalu, dan tutupi wajah pucatmu itu dengan makeup tebal! Aku tidak sudi para kolega di pesta malam ini melihat istri seorang Jonathan Carser tampak lusuh dan berantakan seperti pelayan yang kelelahan!"
Tanpa menunggu balasan, Jonathan berbalik kasar. Langkah kakinya bergema tajam saat ia meninggalkan Aurora yang berdiri gemetar di tengah lorong yang dingin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di depan cermin meja rias bertatahkan ukiran emas di kamar utama, Aurora berdiri mematung. Jemarinya yang gemetaran hebat memegang erat sebuah tabung lipstik berwarna merah darah.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri di balik kaca transparan.
Di sana, berdiri sesosok wanita bergaun silk velvet hitam berpotongan off-shoulder yang memeluk lekuk tubuhnya yang tirus.
Riasan smokey eyes dan bedak padat menutup sempurna lingkaran hitam di bawah matanya, memoles wajahnya dengan kecantikan yang dingin dan tajam. Ia terlihat bagaikan mahakarya lukisan yang sempurna—cantik, megah, namun mati di dalam.
Bagaimana mungkin ia bisa hamil secepat itu?
Pertanyaan mengerikan itu adalah hantu yang selalu berbisik di telinganya setiap kali kegelapan malam tiba.
Sejak diagnosis kehamilan Delapan Minggu itu keluar, Aurora tidak pernah berani meminta pendapat dari dokter lain. Ia terlalu ketakutan. Ia takut jika ia menggali lebih dalam, sebuah kenyataan medis yang tak masuk akal akan terkuak dan memusnahkan sisa-sisa kehidupannya. Ia takut Jonathan akan menggunakan hasil laboratorium sebagai bukti sah untuk membuangnya ke jalanan, membencinya seumur hidup, dan yang paling mengerikan: merebut Draco darinya.
Secara tak sadar, memori Aurora terlempar kembali menembus waktu, melintasi ribuan mil menuju sebuah penthouse mewah di Los Angeles dua tahun lalu.
Malam terakhirnya bersama Braxley Valerio-Desmon.
Malam yang dipenuhi badai amarah, derai air mata keputusasaan, dan gairah liar yang menyakitkan saat hubungan mereka hancur berkeping-keping.
Belum siap kehilangan masa mudanya, dan yang paling utama, belum siap terikat selamanya dengan rasa takut akan penolakan keluarga Braxley Valerio-Desmon. Ia terus-menerus mengonsumsi obat kontrasepsi darurat secara diam-diam, hingga suatu hari Braxley menemukannya.
Hari itu adalah hari terakhir mereka sebagai pasangan. Braxley tidak berteriak. Ia hanya menatap Aurora dengan kekecewaan yang begitu dalam hingga Aurora merasa lebih baik dipukul.
"Kandunganmu akan rusak jika kau sering mengonsumsi obat itu secara berlebihan, Sayang," ujar Braxley dengan nada yang sangat lembut namun mematikan. Ia mengelus rambut Aurora untuk terakhir kalinya.
"Aku selalu menggunakan pengaman untuk selang-seling karena aku tidak ingin kau kenapa-kenapa. Aku menjagamu, tapi kau justru menghancurkan dirimu sendiri karena tidak percaya padaku."
Braxley Valerio-Desmon pergi membawa rasa sakitnya.
Namun, perpisahan itu sudah berlalu sangat lama sebelum ia mengenal Jonathan. Secara logika medis mana pun, tidak ada kehamilan yang bisa bersembunyi selama belasan bulan tanpa terdeteksi!
Tapi mengapa... mengapa raut wajah Draco saat lahir membuat dadanya sendiri berdesir ketakutan? Mengapa mata bayi itu memiliki kilat ketajaman yang begitu familiar?
Aurora memejamkan mata rapat-rapat. Setetes air mata menetes, merusak garis eyeliner di sudut matanya.
Dengan cepat, ia mengusapnya kasar dan menorehkan lipstik merah menyala itu ke bibirnya. Warna merah yang berani itu adalah topengnya malam ini. Ia harus berpura-pura. Ia harus kembali memerankan lakon Nyonya Carser yang bahagia, terpelajar, dan dicintai di samping suaminya.
Setelah merapikan penampilannya, Aurora melangkah dengan anggun menuju kamar bayi di ujung lorong.
Di sana, seorang pengasuh berseragam rapi sudah menunggu. Aurora membungkuk di atas boks bayi, mendaratkan ciuman lembut di kening putranya yang hangat.
"Kau adalah anak Jonathan Carser, Sayang," bisik Aurora di telinga bayi mungilnya. Suaranya bergetar penuh tekad. "Ibu akan membuktikannya pada dunia. Ibu tidak pernah berbohong... Ibu tidak pernah mengkhianati ayahmu."
Di pelataran luar yang megah, mobil sedan hitam keluaran Jerman sudah menyala. Jonathan duduk di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan raut wajah kaku. Ketika Aurora membuka pintu penumpang dan duduk di sampingnya, tidak ada patah kata pujian yang keluar.
Tidak ada tatapan kagum pada gaun hitam yang membingkai tubuh istrinya.
"Pasang senyum terbaikmu," perintah Jonathan dingin saat mobil mulai melaju membelah malam yang basah oleh sisa hujan.
"Malam ini, para petinggi tertinggi dari Desmon Group akan hadir di perjamuan gala. Ini adalah proyek akuisisi bernilai triliunan rupiah yang menentukan masa depan perusahaan keluargaku. Jangan berani-berani mempermalukanku dengan wajah melankolismu di depan mereka!"
Mendengar nama konsorsium raksasa itu diucapkan, tubuh Aurora mendadak kaku.
Desmon Group.
Konglomerasi multinasional berskala global yang dikuasai penuh oleh dinasti keluarga Valerio-Desmon. Nama yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur dalam-dalam di dasar ingatan, kini mendadak muncul dan menghantam dadanya tanpa peringatan.
"Siapa... siapa yang akan hadir mewakili pihak Desmon malam ini?" tanya Aurora. Suaranya kecil dan goyah, hampir tenggelam oleh derum halus mesin mobil.
Jonathan melirik sekilas dari sudut matanya. Sebuah senyuman tipis yang sangat kejam dan penuh teka-teki tersungging di bibirnya yang kaku.
"CEO baru mereka. Seseorang yang baru saja menyelesaikan 'pelarian' panjangnya di Eropa setelah bertahun-tahun menghilang," jawab Jonathan dengan nada santai yang sarat racun. "Kau pasti mengenalnya dengan sangat baik, bukan?"
Bum!
Bagaikan disambar petir di tengah lautan es, Aurora mencengkeram tas genggam berbahan kulit di pangkuannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dunia di sekelilingnya seolah berputar hebat tanpa kendali.
Braxley Valerio-Desmon telah kembali.
Pria yang pernah menjadi badai terbesar dalam hidupnya, pria yang menjadi alasan dari seluruh penderitaan dan keraguan suaminya, kini telah menjejakkan kaki kembali di kota ini.
Dan dalam hitungan menit, Aurora harus melangkah ke dalam panggung perjamuan berkelas, berdiri di bawah sorotan lampu chandelier yang menyilaukan—sebagai istri dari pria yang membencinya, dan ibu dari seorang bayi yang menyandera rahasia tergelap dalam hidupnya.
Mobil sedan hitam itu terus melaju cepat, menembus kegelapan malam menuju gedung perkotaan yang menjulang tinggi. Aurora menatap keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota yang membias buram di balik kaca mobil yang basah—seburam masa depan dan takdir yang siap menerjangnya malam ini.
🌷🌷
Novel ini sequel dari novel "Not Our Time" Cerita Putra Austin Jaxon-Desmon (AJ). Happy reading 🦋
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳