"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
"Malam ini kita rapikan mimpi ini jadi rencana kerja."
Bima memutar laptop ke arah Raka sebelum kereta melewati Stasiun Manggarai.
Di layar hanya ada satu halaman. Sebelah kiri berisi uang yang mereka miliki. Sebelah kanan berisi uang yang belum mereka miliki tetapi sudah ingin mereka belanjakan.
Kolom kanan jauh lebih panjang.
"Kau sengaja membuatnya terlihat buruk?" tanya Raka.
"Saya membuatnya terlihat jujur, Pak Raka."
"Panggil Raka saja kalau tidak sedang ada orang."
"Belum, Pak Raka. Biar nama itu tercatat rapi sejak awal. Saya ingin pekerjaan ini benar-benar jadi."
Raka mendecakkan lidah. Namun ia duduk lebih tegak dan mulai menjawab pertanyaan Bima.
Bisnis apa yang bisa dimulai?
Keahlian apa yang ia miliki?
Siapa calon pelanggan pertama?
Raka tidak punya jawaban bagus. Ia hanya tahu satu hal: SAT dapat membantu menemukan orang yang salah dinilai pasar. Masalahnya, pengetahuan itu tidak mungkin ia jelaskan kepada Bima.
Malam itu, satu halaman tersebut selesai dengan lebih banyak tanda tanya daripada angka.
Pukul delapan tiga puluh keesokan paginya, mereka duduk di ruang rapat kecil Kantor Hukum Kusuma & Rekan, Jakarta. Raka mengenakan kemeja terbaiknya. Kerahnya mulai berjumbai, tetapi setidaknya sudah disetrika.
Nadia Kusuma masuk membawa tiga map.
Ia tidak tersenyum basa-basi. "Siapa yang akan menjadi pemegang saham pengendali?"
"Saya," jawab Raka.
"Direktur?"
"Saya juga."
"Bidang usaha?"
Raka mendorong satu lembar yang mereka buat semalam. "Manufaktur, perdagangan, konsultasi, teknologi, media, logistik, ekspor, impor, pendidikan, dan mungkin makanan."
Nadia membaca sampai akhir.
Lalu mendorongnya kembali.
"Tidak."
Raka berkedip. "Tidak yang mana?"
"Semuanya, kalau jawabannya masih 'mungkin'. Saya tidak akan memasukkan daftar keinginan ke dalam dokumen perusahaan lalu membiarkan Anda mengira semua kegiatan otomatis boleh dijalankan."
Bima menunduk untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat mirip senyum.
"Kita bisa menyesuaikan nanti," kata Raka.
"Bisa. Dengan dokumen dan proses yang benar. Sekarang jawab yang paling sederhana dulu. Produk pertama Anda apa?"
Raka menatap halaman merah kecil di meja. Buku Kas itu tidak menunjukkan panel apa pun.
Ia menyentuh sampulnya.
Dalam pandangannya, jendela SAT terbuka.
[Permintaan: rekomendasi bidang usaha.]
[Ditolak.]
[Keputusan strategis dan hukum merupakan tanggung jawab host dan profesional terkait.]
[Fitur tersedia: pemeriksaan konsistensi setelah keputusan dibuat.]
Raka menahan umpatan.
Sistem itu selalu muncul tepat waktu untuk mengatakan tidak.
"Kami belum punya produk," katanya akhirnya. "Tapi kami ingin memulai dari aset yang bisa dibeli atau disewa dengan jelas, lalu membangun produk dari tim yang kami rekrut."
Nadia menyandarkan punggung. "Setidaknya itu jawaban jujur."
Bima membuka tabelnya. "Kami membatasi tahap pertama pada manufaktur dan perdagangan. Ruang digital disiapkan untuk produk berikutnya, tetapi tidak dijalankan sebelum model dan kewajibannya jelas. Ini proyeksi tiga puluh hari, termasuk biaya notaris, rekening perusahaan, pajak, tenaga kerja, dan cadangan."
Nadia mengambil lembar itu.
Kali ini ia tidak langsung mengembalikannya.
"Anda siapa di perusahaan?"
"Calon Kepala Operasi dengan surat minat bersyarat," jawab Bima. "Bukan pemegang saham. Bukan pemilik saham titipan."
Raka menoleh. Bima sengaja menekankan kalimat terakhir.
Nadia menangkapnya. "Bagus. Banyak perusahaan baru mulai rusak dari saham yang 'hanya dititipkan sebentar'. Kita tidak melakukan itu."
Selama dua jam berikutnya, ruang rapat itu berubah menjadi tempat pembongkaran ambisi Raka.
Nadia mencoret kegiatan yang belum punya dasar. Bima memindahkan anggaran. Raka dipaksa memilih siapa yang boleh menandatangani apa, keputusan mana yang bisa ia ambil sendiri, dan dokumen mana yang tetap membutuhkan proses perusahaan.
"Akta pendirian mencatat dasar perusahaannya," kata Nadia sambil menunjuk map pertama. "Konfirmasi badan hukum diproses melalui AHU. Setelah itu ada OSS dan NIB untuk identitas berusaha, lalu perizinan lanjutan tergantung kegiatan dan risikonya. Jangan pernah berkata kepada calon pelanggan bahwa satu akta berarti Anda sudah boleh melakukan semuanya."
"Jadi mendirikan perusahaan bukan satu stempel."
"Bukan. Dan direktur bukan orang yang boleh memakai uang perusahaan sesuka hati."
Bima mengetuk tabel kas dengan ujung pena. "Saya suka bagian itu."
Raka menatapnya. "Aku belum menggajimu dan kau sudah menikmati pembatasan wewenangku."
"Itu alasan Anda merekrut saya."
Telepon Nadia berbunyi. Ia membaca pesan, kemudian menatap Raka.
"Ada satu masalah lagi. Sumber modal awal."
Raka sudah menduganya.
"Dananya legal."
"Semua orang bilang begitu sebelum diminta dokumen." Nadia menyilangkan tangan. "Siapa pemberinya? Apa dasar transfernya? Apakah utang, hibah, investasi, atau pembayaran? Siapa penerima manfaat akhirnya?"
Raka tidak mungkin menjawab bahwa uang tersebut berasal dari layar transparan yang hanya bisa dilihatnya.
Panel SAT muncul.
[Dokumen Pendanaan Usaha dapat dibuat.]
[Sifat dana: dukungan usaha bersyarat, hanya untuk transaksi legal dan terverifikasi.]
[Penerima: badan usaha setelah memenuhi verifikasi.]
[Kewajiban: pencatatan, pelaporan pajak, larangan penggunaan pribadi, pemeriksaan lawan transaksi.]
[Catatan: dokumen tidak menggantikan pemeriksaan bank.]
Raka membaca setiap baris dua kali. Tidak ada nama investor palsu. Tidak ada klaim pemerintah. Hanya kontrak pendanaan dengan syarat yang dapat diperiksa.
Ia membuka dokumen itu di ponsel lalu menyerahkannya kepada Nadia.
"Ini dasarnya. Saya belum menggunakannya karena rekening perusahaan belum ada."
Nadia membaca dengan wajah tanpa ekspresi. Bima berdiri di sampingnya.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
"Strukturnya bisa dipakai sebagai dasar awal," kata Nadia. "Tapi bank tetap akan meminta identitas pihak pemberi, asal dana, data penerima manfaat, dan dokumen pajak yang relevan. Kita siapkan semuanya. Jika ada bagian yang tidak lolos pemeriksaan, dananya tidak masuk. Jelas?"
"Jelas."
Raka tidak merasa kalah. Sebaliknya, untuk pertama kali ia memahami bentuk kekuatan yang diberikan SAT.
Sistem tidak memberinya koper uang.
Sistem memberinya peluru yang hanya bisa ditembakkan melalui senjata legal.
Kalau ia tidak mampu membangun senjatanya, peluru itu tidak berguna.
Menjelang pukul sebelas, Nadia meletakkan dokumen terakhir di tengah meja.
Di bagian atas tertulis nama yang telah mereka pilih.
PT Arunika Karya Nusantara.
Arunika, cahaya fajar.
Nusantara, tempat mereka ingin tumbuh.
"Baca sekali lagi," kata Nadia. "Jangan menandatangani sesuatu hanya karena waktumu sedikit."
SAT menunjukkan sisa waktu lima puluh dua menit.
Raka membaca setiap halaman. Bima memeriksa angka modal dan kewenangan. Nadia memperbaiki satu kesalahan alamat.
Baru setelah itu Raka menandatangani.
Nadia mengirim pengajuan tersebut. Suara notifikasi dari komputernya terdengar kecil, hampir biasa saja.
Namun panel biru di atas Buku Kas Merah meledak menjadi garis cahaya.
[Misi Awal selesai.]
[Akta Pendirian Nomor 17 telah diajukan.]
[Fasilitas baru dibuka: Pembayaran Usaha Terverifikasi.]
[Pembatasan: aktif setelah rekening perusahaan dan verifikasi transaksi tersedia.]
Raka mengembuskan napas panjang.
Ia belum punya produk. Belum punya kantor. Belum punya pelanggan.
Tetapi untuk pertama kali, ia memiliki sesuatu yang kemarin bahkan tidak ada di dunia: sebuah perusahaan dengan namanya di atas dokumen.
Di luar kantor, panas Jakarta menyambut mereka. Saldo pribadi Raka nyaris habis setelah membayar biaya awal yang wajib ditanggungnya.
Bima berdiri di trotoar, memandang salinan tanda terima pengajuan.
"Selamat, Pak Raka. Sekarang Anda resmi punya masalah yang lebih mahal."
Nadia menutup mapnya. "Saya akan menghubungi Anda setelah konfirmasi berikutnya dan daftar dokumen rekening siap. Jangan menandatangani kontrak operasional besar sebelum status serta izinnya jelas."
Raka mengangguk.
Panel SAT muncul sekali lagi.
[Tim awal: 1/10.]
Bima mengikuti tatapan Raka ke ruang kosong di udara, tetapi tentu saja tidak melihat apa pun.
"Perusahaan hampir ada," katanya. "Pertanyaan berikutnya sederhana."
Ia menepuk satu halaman rencana yang masih penuh tanda tanya.
"Kita mau menjual apa?"