NovelToon NovelToon
Cerita Angga'S

Cerita Angga'S

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Warning!! bijaklah dalam memilih bacaan.

Anggara hanya ingin terbebas dari belenggu keluarganya. Dia ingin menjalani hidupnya sesuka hati, tanpa aturan apalagi kekangan dari sang ayah yang sangat di bencinya.

Persahabatan dengan Andra membuatnya terjun pada pekerjaan yang yang tak pernah dia bayangkan.

Hingga suatu hari mereka bertemu dengan Maharani, dalam sebuah insiden yang membuat Angga terluka, yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curiga

*

*

Sagara menatap Anggara dengan curiga, dia mengenal adik laki-lakinya itu seperti apa. Pergaulan bebasnya yang memungkinkan pemuda 22 tahun itu bisa saja melakukan hal buruk kepada karyawan tunangannya itu.

"Kenapa lu lihat gue kayak gitu?" Angga yang merasa tengah diperhatikan.

"Lu apain Rani?" Sagara akhirnya buka mulut.

"Nggak gue apa-apain. Gue cuma nanya." jawab Angga, merasa bosan dengan pertanyaan yang sama.

"Cuma nanya tapi bikin dia histeris kayak gitu?" Sagara masih tak percaya.

"Yaelah, masih nggak percaya aja gue ngmong?"

"Gue tahu lu kayak gimana. Nggak mungkin cuma nanya doang bisa bikin Rani nangis kayak gitu."

"CK!" Angga menghempaskan punggungnya di dinding. "Serah lu deh." melipat kedua tangannya di dada.

Pintu kantor Virra terbuka setelah 30 menit, tampak perempuan 25 tahun itu keluar. Dengan pelan dia menutup kembali pintu ruangannya rapat-rapat.

"Gimana kak?" Angga bangkit.

Virra menggelengkan kepala. "Dia masih nggak mau ngomong."

Angga menghela napasnya pelan. "Masih nangis?" tanya nya.

"Udah nggak. Tapi dia belum bisa ditanya apa-apa. Kayaknya dia shock deh." jawab Virra, menatap dua pria didepannya bergantian. Lalu mengisyaratkan untuk berpindah tempat, yang kemudian diikuti dua kakak adik itu ke arah depan swalayan.

***

"Sekali lagi gue tanya, lu apain Rani?" Sagara kembali bertanya.

"Astaga! masih nggak percaya aja nih orang?" keluh Angga, sambil mengusap wajahnya kasar. "Dibilang tadi gue cuma tanya doang," lanjutnya, dengan kesal.

"Apa yang kamu tanya?" giliran Virra yang bertanya.

Angga terdiam, mengulum bibirnya kuat-kuat. Dua orang didepannya menunggu jawaban dengan penasaran.

"Gue cuma tanya kenapa tangannya ada banyak bekas luka, luka di tangan kirinya malah kayak masih baru. Belum dia jawab, dia udah mewek duluan. Histeris lagi." akhirnya dia menjelaskan.

"Oh ya?" Virra seakan tak percaya.

"Lu periksa aja sendiri tangannya." ucap pemuda itu, masih tampak kesal.

Virra dan Sagara saling pandang.

"Apa dia kena kdrt ya?" Virra bergumam.

"Mana ada, dia cuma tinggal sama ibunya yang tiap hari kerjanya pergi subuh pulang malem." sergah Angga.

"Ya bisa aja ibunya galak, tiap pulang kerja nyakitin dia." Virra curiga.

"Nggak mungkin. Tiap pagi dia dimasakin makanan yang enak-enak. Dibikinin bekal juga buat dibawa kerja. Masa iya ibunya nyakitin dia? lagian dia udah dewasa juga, pasti bisa ngelawan lah kalau di apa-apain." tiba-tiba Angga ingat kejadian di ruang dosen Irwan tempo hari. Ketika gadis itu bahkan terlihat tak berdaya ketika dirinya berada dalam bahaya.

Iya gitu? dirinya juga tak percaya.

"Terus kenapa dong?" Sagara akhirnya menimpali.

"Ya makannya gue tanya, eh dianya malah nangis. Nggak tahu deh,"

Akhirnya mereka bertiga pun terdiam.

*

*

Maharani keluar dari ruangan Virra setelah dia mampu menguasai dirinya, dengan mata yang sembab bekas tangisan tentunya. Sesekali isakan masih terdengar keluar dari bibir mungilnya. Tantri, sang kasir yang bertugas di depan memberinya air minum yang kemudian diserap oleh gadis itu dengan cepat.

Angga menyodorkan jaket kulit hitamnya kepada Maharani.

Gadis itu mendongak.

"Pakai, dingin." katanya.

Maharani terdiam.

Angga menarik napas pelan. Lalu memakaikan jaket tersebut kepadanya yang diam tanpa reaksi sedikitpun.

"Nanti kamu kedinginan, Ga." Maharani membuka suara.

"Nggak akan. Aku udah biasa. Aku kan ngojek, jadi udah akrab sama udara dingin." pemuda itu berkelakar.

Maharani sedikit mengulum senyum.

"Ayo pulang." ucap Angga, berjalan ke arah motor besarnya yang sudah siap di luar.

Maharani menurut, mengikuti langkah pemuda itu.

Angga seperti biasa memakaikan helm dikepala gadis itu dengan tenang, tanpa ekspresi berlebihan, dan tanpa kata-kata. Dan memastikan kuncinya terpaut dengan sempurna agar kepala gadis itu benar-benar aman.

Merekapun menaiki kuda besi tersebut yang membawa keduanya keluar dari area swalayan menuju rumah Maharani yang berjarak setengah jam perjalanan.

***

CBR 250R itu berhenti tepat didepan pagar rumah sederhana bertingkat dua itu. Mereka berdua turun, Angga melepaskan helm yang dipakainya, kemudian beralih kearah Maharani yang menunggu dengan tenang dibelakang. Lalu melepaskan helm yang dipakai gadis itu, seperti biasanya.

"Sana masuk, udah malem." ucap Angga, setelah menerima jaket kulit miliknya dari tangan Maharani, lalu mengenakannya seraya memutar tubuhnya bermaksud pergi, namun gerakannya terhenti ketika gadis itu meraih tangannya yang terayun.

Angga menoleh, lalu berbalik lagi.

"Ya?"

"Maaf." gadis itu buka suara.

"Kenapa minta maaf?" Angga menjengit, dia kembali ke hadapan gadis itu.

"Aku nggak bisa ngomong sekarang. Aku nggak siap." Maharani dengan mata berkaca-kaca, dia hampir menangis lagi.

Tanpa aba-aba Angga mengulurkan tangannya, meraih kepala gadis itu untuk kemudian menenggelamkannya di dada bidangnya.

"Sssshhh, ... jangan dibahas lagi." Angga memeluk tubuh mungil itu dengan erat, hatinya terasa diiris, perih.

"Maaf aku tadi maksa, aku cuma penasaran. Tapi kalau kamu nggak mau ngomongin itu ya nggak usah." Angga berujar.

Tubuh kecil itu berguncang. Kedua tangan Maharani kini melingkar ditubuh Angga, memeluknya dengan tak kalah eratnya. Hingga setelah beberapa menit barulah tangisan gadis itu berhenti.

"Udah?" Angga berbisik, ketika dirasa Maharani sudah tenang.

Gadis itu mengangguk, lalu melepaskan lilitan tangannya di tubuh Angga.

"Ya udah," diapun melepaskan tubuh Maharani. Menyeka kedua pipi gadis itu yang basah oleh air mata. "Sana masuk. Udah malem. Cuci kaki, cuci muka, minum susu, terus bobo." Angga mencoba bercanda.

Maharani sedikit terkeheh, "Aku bukan bayi." katanya, sambil menyeka sudut-sudut matanya yang masih basah.

"Bukan bayi tapi nangisnya sampai segitunya?" Angga kini menggodanya, dan sepertinya dia berhasil karena gadis didepannya tampak mengulum senyum.

Angga pun tertawa. Lalu mengusap puncak kepala Maharani dengan lembut.

"Aku masuk." ucap Maharani.

Angga mengangguk. Tapi gadis itu masih berdiri disana.

"Sana." Angga menggendikkan dagu.

"Aku mau lihat kamu pergi." gadis itu bicara lagi.

"Oke." Angga memutar tubuh, menaiki motor besarnya.

"Ga?" Maharani memanggil lagi.

"Ya?" pemuda itu menoleh lagi.

"Kamu pulang?" tanyanya.

"Aku ada kerjaan sebentar." jawab Angga, agak ragu.

"Ngojek?" Maharani, penasaran.

Angga terdiam, menatap wajah polos itu dari balik helm yang telah dikenakannya.

"Iya." Angga akhirnya menjawab.

"Jangan pulang terlalu malam, ya? besok kuliah pagi." Maharani mengingatkan.

Angga mengangguk. Lalu menghidupkan mesin motornya, kemudian segera pergi dari sana.

*

*

*

"Kusut amat lu?" Andra yang baru saja tiba, mendapati sahabatnya yang duduk setengah merebahkan tubuh jangkungnya di sofa sebuah klub malam.

Angga hanya melirik, lalu kembali menyesap minuman beralkohol ditangannya dengan pelan.

"Ada masalah apa?" Andra bertanya, menangkap sikap tak biasa pada sahabatnya.

"Tau, gue bingung." Angga menjawab.

"Bingung?" Andra hampir tertawa.

Angga mengangguk.

"Tumben lu bingung, biasanya cuek aja."

Angga mencebik.

"Kenapa lu?"

"Rani ..."

"Kenapa Rani?" Andra menyela.

"Lu bilang lu kenal dia dari awal orientasi?"

Andra mengangguk. "Iya."

"Gimana dia dulu?"

"Biasa aja. Dia normal-normal aja kayak anak cewek pada umumnya. Centil, ceria, tapi juga pinter. Dia juga aktif dikelas. Akrab sama semua orang." Andra tampak mengingat-ingat.

"Tapi, ... belakangan dia kayaknya berubah." lanjut pemuda itu, menyadari sesuatu.

"Apanya yang berubah?" Angga bangkit. Membenahi posisi duduknya.

"Dia jadi pendiam, terus kayak menarik diri gitu. Menjaga jarak dari orang-orang. Terutama anak cowok."

"Sejak kapan?" Angga penasaran.

Andra mengingat lagi. "Kayaknya, nggak terlalu lama deh sebelum lu pindah kesini."

Angga berpikir. "Itu berarti dua tahun yang lalu dong? gue kan baru dua tahun kuliah disini."

Andra mengangguk, "Iya kayaknya."

"Lu tahu nggak, itu kira-kira kenapa?" Angga bertanya lagi.

Andra menggelengkan kepala. "Nggak tahu. Tiba-tiba dia nggak masuk kuliah beberapa Minggu, terus pas masuk lagi dia jadi gitu."

Angga menarik napasnya dalam-dalam.

"Kenapa emang?" kini Andra yang merasa penasaran.

"Lu nyadar nggak selama ini dia selalu pakai baju yang tangannya panjang? nggak pernah gitu kita lihat dia pakai yang lengannya pendek.?"

Andra menggeleng.

"Hari ini gue nemu banyak bekas luka di tangannya. Bahkan ada luka yang kayaknya masih baru. Masih kelihatan darahnya."

"Masa?" Andra kini mulai serius.

"serius, Ndra."

"Itu kenapa?" Andra bertanya.

"Ya itu, tadi gue tanya. Masalahnya, bukannya dijawab tapi tuh anak malah nangis histeris." Angga kembali merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Nangis?" Andra mengerutkan dahi.

"Kenceng banget." Angga mengangguk.

Andra terdiam.

"Lu tahu, kemaren kenapa gue sama dia cabut dari kampus?" Angga bangkit lagi, lalu mencondongkan tubuhnya kearah sahabatnya itu.

"Kenapa?"

"Gue nemuin dia hampir dilecehin sama pak Irwan diruangan ya. Malah dia udah dipegang-pegang."

"Apa?"

Angga mengangguk, "Dan yang lebih gila lagi, hari ini Fikka ngadu ke gue kalau dia hamil sama tuh dosen."

"Serius?" Andra memekik, dia seakan tak percaya.

"Dan lu tahu, si Fikka ngapain? dia minta gue buat tanggung jawab ngasih status sama bayi yang dia kandung. Gila nggak tuh?"

"Hah? Terus gimana?"

"Ya nggak gimana-gimana."

"Lu nurutin Fikka? terus gimana Rani?"

"Ya kagak lah pea! ogah gue tanggung jawab sama yang bukan hasil kerja gue."

"Dih," Andra mencibir, "Bukannya lu sering maen sama dia, kali aja lu nyumbangin telinga sama mata buat tuh bayi?" pemuda itu mengejek.

"Anjim!" Angga menendang kaki sahabatnya, "Gue maen save sama dia, kagak pernah tanpa pengaman!"

"Ya kali aja bocor, Ga." Andra masih dengan ekspresi mengejek.

"Heleh, ... orang Fikka nya sendiri juga jujur kok kalau bayi nya bukan punya gue, tapi punya di Irwan."

Andra terdiam lagi.

"Kayaknya tuh orang harus dikasih pelajaran nih. Biar nggak lagi jatuh korban yang dia manfaatin." Angga bangkit.

"Kemana lu?" Andra mengikuti langkah sahabatnya dengan pandangan.

"Balik gue." meletakkan selembar uang seratus ribu di meja.

"Ada BO an dari gengnya Tante Lucy, tahu!" Andra berteriak ketika suara musik mulai menggema.

"Ogah, gue lagi nggak mood!" Angga bahas berteriak.

"Duitnya gede, Ga!"

"Buat lu aja ambil, gue nggak butuh!" Angga yang sudah berada diambang pintu.

"Terus gue bilang apa sama Tante Lucy? mereka maunya lu!"

"Serah lu, gue lagi nggak bisa!"

"Si pea!" Andra menggerutu.

*

*

*

Bersambung ...

Biasa atuh Genk, like koment sama vote nya. Biar emak semangat buat crazy up ..😂😂😂

1
NeNaNa Zeyeng
kereeeernnnn ihhhh

lope lope sekebon
Ciprut
emaknya Oneng ya Anom 🤣
Borahe 🍉🧡
Iya dong kang Jahe gitu lo😍
Borahe 🍉🧡
😂😂😂yg penting sombong aja dulu
Borahe 🍉🧡
Haha lucu banget weh anak kecil ini😂😂😂😂😂
Borahe 🍉🧡
Ngojek pakai CBR250🤭 apa gak terlalu keren
Borahe 🍉🧡
Bahkan sampai anaknya nanti sama" penyuka Cappuccino Cincau 😄😄
Borahe 🍉🧡
Ya Tuhan Ga😂😂😂😂 yg sopan napa
Borahe 🍉🧡
Hahaha nyerah aja pak kata gw mah😂😂
Borahe 🍉🧡
lu taukan Ga Selusin itu brp🤣🤣🤣
Borahe 🍉🧡
Hahaha😂😂😂 sekalian malu
Borahe 🍉🧡
Hahaha Ngaco😄😄😄
Borahe 🍉🧡
Hahah yg Sopan Angga😂 itu Dosen kmu
Borahe 🍉🧡
Kamu telat Ndra. Padahal sebelumnya kamu memiliki banyak kesempatan mengutarakan Perasaan tp skrg terlambat. Angga keburu curi star
Borahe 🍉🧡
Andra
Borahe 🍉🧡
Sebadung ini si Papa Angga.
Tami Andriani
Luar biasa
Ruwi Yah
baru tau bu maria sebesar itu trauma yg dirasakan rani
Ruwi Yah
cerita yg bikin candu padahal udah 2x baca ini yg ke3x nya
Ruwi Yah
bikin meleleh ngga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!