"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 2
Empat tahun lalu...
"Brak!''
Tubuh Layla terjatuh ke tanah setelah Merry mendorongnya tanpa belas kasihan.
Wanita paruh baya itu menunjuk wajah Layla dengan mata dipenuhi kebencian.
Merry meninggikan intonasinya.
"Pergi kamu dari sini!!"
"Kamu tidak berhak tinggal di rumah anaku."
"Dasar pembunuh."
Layla menitikan air mata. Hatinya terasa perih bagai ribuan jarum yang menusuk kalbu.
Layla bersimpuh di hadapan sang mertua.
Ia menangis...
"Tolong maafkan saya bu."
Spontan Merry membalas permohonan maaf Layla dengan keji.
"Aku tak akan pernah memaafkan mu, Layla. Dan kau tak akan pernah pantas untuk menerima semua yang di tinggalkan Hendi."
Layla terdiam sejenak dengan air mata yang masih mengalir.
"Tapi ibu, anak-anak Hendi berhak atas harta peninggalan itu bu, untuk masa depan mereka."
Sekali lagi Merry mengusir mereka dengan lantang.
"Pergi dari sini!! Bawa anak-anak kamu juga!!"
Rasa kehilangan Merry kepada Hendi terlalu dalam.
Sejak Hendi meninggal, Merry kehilangan alasan untuk berpikir jernih. Kesedihan berubah menjadi kebencian, dan seluruh kemarahannya dilimpahkan kepada Layla.
Namun ia lupa bahwa Layla adalah menantunya. Alif dan Lisa adalah cucunya. Darah dagingnya.
Kemudian Layla pergi dengan langkah yang lunglai dan hati yang hancur.
Ia segera menyeka air mata terakhirnya agar Alif dan Lisa melihatnya sebagai sosok ibu yang tegar.
Setelah Layla pergi.
Merry duduk lunglai sambil memukuli dadanya. Terasa sesak dan sakit di sana.
"Semua gara-gara wanita itu," ucap Merry dengan tatapan mata tajam dan berlinang air mata.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Layla akhirnya tiba di rumah orang tuanya.
Dulu Layla tinggal di rumah mewah. Kini ia tinggal di rumah yang sederhana namun penuh kenangan masa kecilnya.
Rumah itu memang kecil dan sederhana. Cat temboknya mulai memudar, atap sengnya berkarat di beberapa bagian. Namun bagi Layla, tempat itu selalu menjadi rumah yang sesungguhnya.
Layla berhenti sejenak di depan rumah.
Ia masih ingat, dulu ia sering bermain di tanah lapang samping rumah. Namun kini tanah itu sudah menjadi rumah yang megah.
Layla menarik nafas sambil tersenyum. Air matanya hampir jatuh.
Layla merendah di hadapan Alif yang sedang menggendong Lisa yang masih kecil.
Layla menggenggam erat tangan Alif.
"Alif... Lisa...Ibu janji. Ibu akan jaga kalian sebaik-baiknya. Kalian percaya ibu kan?"
Alif yang sudah paham maksud ibunya hanya diam dan mengangguk pelan.
Kemudian mereka melangkah masuk dan memulai babak baru kehidupan.
Di ambang pintu Layla kembali berhenti.
Tak ada sambutan meriah yang menyapa. Melainkan pemandangan yang mengiris hati.
Ayah Layla duduk dengan raut wajah yang pucat. Suara batuknya tak kunjung berhenti semenjak ia baru sampai menginjakan kaki di depan rumah.
Kulit keriput Ibunya tak bisa menyembunyikan seberapa tua, Sulastri. Tubuhnya yang ringkih terkadang masih di paksa mencari nafkah untuk tambah-tambah biaya berobat suaminya.
Dan adiknya, Lyly duduk termenung memikirkan masalah pribadinya.
"Pak, Bu, Ly aku pulang,'' ucap Layla sedikit lantang.
Suara yang tak asing itu membuat mereka menoleh.
"Layla...," ucap sang ibu pelan.
Layla tersenyum dan membuka tangannya lalu memeluk sang ibu.
Baginya pelukan ibu adalah rumah yang paling nyaman.
Mereka saling berpelukan melepas rindu.
Malam itu...
Layla duduk termenung di teras rumah.
Lyly menghampiri Layla dengan langkah pelan. Lalu duduk di sampingnya.
Lyly mengengam erat tangan kakanya.
Ia berkata lembut.
"Kaka, yang sabar ya kak. Kita pasti bisa menghadapi ujian ini. Nanti Lyly bantu Kaka urus keponakan sambil cari kerja yang gajinya besar,"
Layla tersenyum...
Ia berkata pelan,
"Terimakasih Lyly, kamu selalu support Kaka. Sekarang kita berdua yang jadi tulang punggung keluarga."
Mereka berpelukan untuk saling menguatkan.
Kemudian Layla teringat sesuatu tentang sang adik.
"Bagaimana rencana pernikahan mu dengan Daeng?" tanya Layla serius.
Lyly diam...
Kemudian ia tersenyum
"Tenang kak aman," ucap Lyly.
Layla menatap mata sang adik, ia tau jawaban itu palsu.
"Tidak usah bohong. Aku tau kamu tadi siang duduk termenung. Pasti kepikiran soal itu kan?" ucap Layla
Lyly diam menggigit bibir bawah.
Ia mengangguk pelan.
Layla menghela nafas panjang seolah berkata masalah baru telah muncul.
Layla bertanya serius.
"Berapa uang adat yang mereka minta?"
Lyly menunduk dan berkata pelan.
"500 juta," ucapnya lirih.
Layla sontak terkejut dengan nominal yang begitu besar untuk keluarga sederhana seperti mereka.
Spontan Layla berkata,
"Apa tidak bisa di negosiasi?"
Lyly diam, ia menggelengkan kepala.
"Itu sudah keputusan final kak. Jika tidak bisa menyerahkan uang adat ke mereka. Pernikahan harus di batalkan kak," kata Lyly.
Layla tertunduk lesu. Ia mencubit batang hidungnya.
Layla merasa bingung dari mana mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
Melihat ekspresi sang kaka Lyly mencoba menenangkan hatinya.
"Kak..." panggil Lyly lembut.
Layla mengangkat kepala lalu melihat ke arah Lyly.
"Iya ada apa dek?" tanya Layla pelan.
Lyly tersenyum.
"Kak jikalau nanti aku batal menikah, itu enggak apa-apa kak. Anggap saja aku dan Daeng memang bukan jodoh." ucap Lyly.
Layla memasang wajah sedih, ia tau Lyly mencintai Daeng. Mereka sudah kenal lama. Bahkan sebelum Layla menikah dengan Hendi.
Berbulan-bulan lamanya Layla merasa terpuruk namun ia tetap berjuang untuk bangkit sedikit demi sedikit walau hari-harinya terasa semakin berat karena keadaan ekonomi negri ini sedang tidak stabil.
Di suatu titik paling rendah muncul secercah harapan baru, namun di balik harapan ini ada pengorbanan yang harus di lakukan.
Jauh dari keluarga terasa berat bagi Layla, terutama meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil.
Ada rasa penyesalan di hatinya, dia menyesal tidak bisa melihat tumbuh kembang anak-anaknya secara langsung. Dia akan menjadi ibu yang sangat merindukan anak-anaknya.
Setalah mencoba melamar kesana kemari. Akhirnya Layla di terima bekerja di pabrik elektronik otomotif terbesar di Singapura.
Sebelum keberangkatan Layla, calon suami Lyly dan keluarga datang ke rumah untuk membahas pernikahan.
Karena uang adat tidak terkumpul tepat waktu, pernikahan mereka di batalkan.
Kemudian tibalah hari keberangkatan Layla ke Singapura, perpisahan itu di warnai air mata dan harapan.
Tak terasa Layla sudah tiga bulan di Singapur, gaji yang di dapatnya benar-benar bisa membantu perekonomian keluarga di kampung.
Lyly juga tak mau kalah, ia juga ikut kerja keras membanting tulang, mulai dari berjualan di pasar sampai membuka jasa cetak printing sablon di rumahnya yang kecil. Hasilnya juga lumayan untuk tambah-tambah biaya pengobatan sang ayah.
Rasa rindu Lyly kepada sang kakak mendorong dirinya untuk menelfon dan menanyakan kabar kaka tersayang.
Lyly kembali mengingat cerita ayahnya...
Sejak kecil kakanya hidup susah, semua serba terbatas. Bahkan waktu itu mereka tak punya rumah, mereka hanya punya gubuk reot beratapkan jerami.
Namun kerja keras ayahnya membuahkan hasil, mereka akhirnya punya rumah yang layak untuk di huni walaupun sederhana dan sempit.
Lulus sekolah kakanya langsung bekerja di luar kota kemudian berkenalan dengan Hendi dan menikah, awal-awal kehidupan pernikahan mereka sangat sederhana namun berkat perjuangan dan doa yang tiada habisnya mereka meraih kesuksesan. Namun musibah terjadi dan merenggut segalanya.
Lyly menghubungi nomor sang Kaka.
Saat itu Layla sedang bekerja di pabrik..
Tiba-tiba ponsel Layla berdering. Ia meminta ijin kepada Supervisor untuk keluar sebentar dari area produksi agar ia bisa menerima telepon dari Lyly.
"Hallo, Kaka apa kabar?" ucap Lyly ceria.
Layla tersenyum mendengar suara adiknya yang di seberang telepon.
Ia menjawab pertanyaan Lyly dengan ceria.
"Hallo Cimit, aku baik kok. Senang deh bisa dengar suara kamu. Gimana kabar kalian semua?"
Lyly menggerutu protes.
"Ihhh Kaka, kok manggilanya masih kayak gitu sih? Aku kan bukan anak kecil lagi.''
Layla menggoda dan sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.
"Ya tapi bagi aku kamu itu masih cimit." ucap Layla.
"Kami semua baik kok, tapi sayang banget anak-anak udah pada tidur. Soalnya tadi abis belajar sama main. Kaka makasih ya kak, berkat Kaka kita semua disini keadaannya membaik," ucap Lyly.
Layla bernafas lega..
"Senang mendengar semua baik-baik aja. Aku di sini masih dalam kondisi penyesuaian. Kamu enggak perlu berterimakasih ini semua berkat usaha dan doa kita bersama," timpal Layla.
"Tahun baru ini Kaka pulang enggak?" tanya Lyly antusias.
"Kayaknya enggak bisa deh mit, aku masih baru di sini enggak berani ambil cuti. Lagi pula kalau mau ambil job tahun baru dapat uang lembur sama bonus yang lumayan gede lohh ehe, jadi aku enggak mau ngelewatin kesempatan itu," ujar Layla.
Lyly merasa sedikit kecewa.
"Ohh gitu ya, sayang banget,"
Dengan cerita Layla berpamitan kepada sang adik.
"Maaf cimitku sayang aku harus balik kerja, aku harus kasih kesan baik ke yang lain.''
Lyly tersenyum lalu berkata,
"Kalau gitu hati-hati ya kak.''
''Ok.." jawab Layla singkat.
Telepon terputus...
Layla menghela nafas panjang.
Ia berkata dalam hati yang perih.
"siapa sangka aku malah kerja di negara ini. Dulu aku pengen banget ke sini buat bulan madu. Tapi takdir berkata lain."
Tiba-tiba Alea menghampiri Layla dan menepuk pundaknya, menyadarkan Layla dari lamunannya.
"Ayo Layla kita harus cepat nanti kita di marahi leader,"
Layla tersenyum...
"Iya Alea," ucap Layla.
Saat bekerja di pabrik pun Layla juga bekerja part time di sebuah toko bunga. Lokasinya tak jauh dari pabrik. Mungkin butuh waktu 20 menit untuk berjalan.
Ia sengaja menambah jam kerjanya untuk tambah-tambah biaya pengobatan sang ayah.
...****************...
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️