NovelToon NovelToon
Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Sharinn

Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Ingatan Mulai Kembali

Kalimat itu tinggal.

Kalau ada kehidupan berikutnya…

kau yang akan ingat duluan.

Ruangan tetap sama.

Meja tetap di tempatnya.

Lampu tetap menyala.

Tapi sesuatu terasa bergeser.

Aruna berdiri diam.

Menatap Adrian.

Lalu bertanya—

“…kenapa?”

Suara keluar lebih pelan dari yang ia kira.

Adrian tidak menjawab.

Ia hanya menatap.

Lama.

Lalu berkata—

“Karena waktu itu…”

ia berhenti.

“…kau nggak percaya aku bisa melepas.”

Sunyi.

Aruna diam.

Pria itu tersenyum kecil.

Tidak marah.

Tidak sedih.

Hanya seperti seseorang yang sedang menceritakan kesalahan lama.

“Aku juga nggak yakin.”

Jeda.

“Jadi kau bilang…”

Tatapannya turun.

Suaranya menjadi lebih pelan.

Kalau suatu hari kita ketemu lagi—

aku yang ingat duluan.

Aku yang pergi duluan.

Jadi kamu nggak perlu kehilangan siapa-siapa lagi.

Ruangan hening.

Jantung Aruna terasa berat.

Aruna menelan ludah.

Lalu bertanya—

“…dan itu berhasil?”

Adrian diam.

Sangat lama.

Lalu tertawa kecil.

Sangat kecil.

Dan menjawab—

“Tidak.”

Sunyi.

“Aku tetap ingat.”

Ruangan menjadi terlalu tenang.

Aruna diam.

Lalu bertanya—

“…dari awal?”

Pria itu menggeleng.

“Enggak.”

Jeda.

“Awalnya cuma perasaan.”

Tatapannya jauh.

“Aku selalu kenal tempat yang belum pernah aku datangi.”

“Aku selalu nunggu sesuatu yang nggak aku ngerti.”

“Aku selalu mimpi tentang seseorang…”

ia berhenti.

“…yang wajahnya nggak pernah jelas.”

Sunyi.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Dan waktu aku lihat kau…”

Jeda.

“…aku pikir aku sakit.”

Aruna diam.

Pria itu melanjutkan—

“Karena rasanya kayak ketemu orang yang udah dicari lama…”

Jeda.

“…tapi aku nggak tahu siapa.”

Ruangan hening.

Aruna menunduk.

Lalu bertanya pelan—

“…terus saya?”

Adrian diam.

Lalu menjawab—

“Kau lebih dulu.”

Jantung Aruna berdetak.

Pria itu berkata—

“Seperti yang kau janjikan.”

Sunyi.

Dan tepat saat itu—

sesuatu terasa bergerak.

Bukan di ruangan.

Di dalam dirinya.

Seperti pintu yang selama ini tertutup—

mulai terbuka.

Perlahan.

Lalu—

kilasan datang.

Hujan.

Kaca.

Tangan.

Dirinya.

Lebih muda.

Duduk di depan meja.

Menulis sesuatu.

Satu buku.

Hitam.

Halaman pertama.

Tulisan:

Kalau aku lupa lagi, mulai dari sini.

Dirinya membuka halaman berikut.

Menulis.

Menulis.

Menulis.

Dan menangis.

Suara dirinya sendiri—

pelan.

Kehidupan pertama.

Aku kehilangan dia.

Halaman dibalik.

Kehidupan kedua.

Aku mencoba lupa.

Halaman dibalik.

Kehidupan ketiga.

Aku bertemu dia lagi.

Halaman dibalik.

Tulisan mulai berantakan.

Kehidupan keempat.

Aku mulai ingat sebelum bertemu.

Halaman dibalik.

Tinta berantakan.

Kehidupan kelima.

Aku mulai takut.

Halaman dibalik.

Tulisan makin tidak stabil.

Kehidupan keenam.

Dia mulai ikut ingat.

Halaman dibalik.

Kosong.

Lalu tulisan kecil di bawah.

Jangan lanjut.

Tangannya bergerak.

Menulis lagi.

Aku gagal.

Halaman dibalik.

Dan Aruna membeku.

Karena halaman berikutnya—

hanya satu kalimat.

Tulisan yang sangat ditekan.

Sampai kertas hampir robek.

Jangan biarkan dia mencintaiku lagi.

Kilasan pecah.

Aruna langsung mundur.

Napas kacau.

Tangannya dingin.

Adrian langsung berdiri.

Tapi berhenti.

Tetap tidak menyentuh.

“Aruna?”

Aruna menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak melihat CEO.

Tidak melihat orang asing.

Ia melihat seseorang—

yang terlalu sering ditinggal.

Dan dirinya—

seseorang yang terlalu sering memilih pergi.

Aruna menutup mata.

Lalu bertanya—

pelan.

“…berapa kali?”

Ruangan diam.

Adrian tidak menjawab.

Aruna membuka mata.

Menatapnya.

“…berapa kali kita ketemu?”

Sunyi.

Pria itu diam.

Lalu menjawab—

“Lebih sedikit dari yang kau pikir.”

Jeda.

“Dan lebih banyak dari yang sehat.”

Aruna diam.

Lalu bertanya—

“…berapa kali saya pergi?”

Pria itu diam.

Sangat lama.

Lalu menjawab—

“Semuanya.”

Sunyi.

Jantung Aruna berhenti sesaat.

Adrian menatapnya.

Lalu berkata pelan—

“Kau selalu ingat duluan.”

Jeda.

“Dan setiap kali…”

tatapannya turun.

“…kau mulai takut.”

Ruangan sunyi.

Aruna menggenggam tangan.

Lalu bertanya—

“…takut apa?”

Pria itu diam.

Lalu menjawab—

“Takut suatu hari nanti…”

Jeda.

“…kau nggak lagi tahu mana cinta dan mana rasa bersalah.”

Ruangan menjadi terlalu tenang.

Dan entah kenapa—

Aruna merasa ingin menangis.

Karena untuk pertama kalinya—

ia mulai mengerti.

Mungkin selama ini—

yang berulang bukan kisah cinta.

Tapi seseorang—

yang terus mencoba menyelamatkan orang lain.

Dan lupa menyelamatkan dirinya sendiri.

Saat itu—

ponsel Aruna berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Satu pesan masuk.

Sudah sampai sini ya.

Aruna langsung membuka.

Pesan berikutnya masuk.

Sekarang cek buku hitam.

Jantung Aruna berdetak.

Pesan terakhir.

Halaman terakhir.

Yang belum pernah dibuka.

Aruna perlahan mengangkat kepala.

Tatapannya jatuh ke laci meja Adrian.

Dan untuk pertama kalinya—

wajah Adrian berubah.

Bukan takut.

Bukan panik.

Tapi seperti seseorang—

yang tahu rahasia terburuknya akhirnya datang.

Bersambung...

1
Allfa Rizky
apakah ada tragedi yang terus berulang ?
Sarin: Sesuai judul kak reinkarnasi tetapi ttep aku modif biar ga bosen bacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!