NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

***

Pagi itu, udara di aula madrasah terasa jauh lebih sesak dari biasanya. Sinar matahari yang menembus celah-celah jendela kayu besar membiaskan cahaya debu halus yang menari-nari di udara. Naya, yang duduk di antara Sarah dan Aliyah, merasakan jantungnya berdegup tidak karuan. Hari ini adalah jadwal kelas mengaji gabungan antara santri baru dan santri senior, yang berarti satu ruangan dengan Fida dan gengnya.

Di depan sana, Ustadzah Maryam duduk dengan sebuah kitab kuning terbuka dan penggaris kayu yang siap mengetuk meja kapan saja. Wajahnya yang tegas tidak menunjukkan sedikit pun celah untuk bersenda gurau.

"Baik, sebelum kita masuk ke bab tajwid hari ini, saya ingin mengevaluasi bacaan santri baru," suara Ustadzah Maryam menggema, membuat suasana mendadak senyap.

 Matanya menyapu deretan santriwati, sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Fida yang sedang tersenyum miring.

"Ustadzah," Fida mengangkat tangan dengan gaya yang dibuat-buat sopan, "Bukankah Naya, si santri titipan itu, belum pernah setoran bacaan sama sekali? Mungkin ini saat yang tepat untuk mengetes kemampuannya di depan kita semua, agar kita tahu sampai di mana dasar ilmunya."

Bisik-bisik mulai terdengar di sekeliling aula.

 Sarah menyenggol lengan Naya, wajahnya pucat. "Mbak Nay, jangan diladeni. Bilang aja kalau belum siap," bisik Sarah cemas.

Naya menarik napas panjang. Ingatannya kembali pada pelukan hangat Bu Nyai Halimah dan percakapannya semalam dengan Gus Zayyan. Ia tidak ingin lagi menjadi Naya yang emosional dan destruktif. Ia berdiri, melangkah maju ke depan dengan kepala tegak, meskipun lututnya terasa agak lemas.

"Silakan, Naya. Baca surah Al-Baqarah ayat 153," perintah Ustadzah Maryam dengan nada datar.

Fida dan gengnya saling berpandangan, siap menahan tawa saat Naya mulai terbata-bata. "Mulai, Naya," desak Fida.

Naya memejamkan mata sejenak, membuang jauh-jauh rasa groginya. Ia membuka mushaf di hadapannya, lalu mulai melantunkan ayat tersebut. Namun, bukan suara terbata-bata yang terdengar.

"Yaa ayyuhalladzina amanu-sta'inu bish-shabri wash-shalah..."

Suaranya mengalun lembut, tajwidnya tepat, dan makharijul huruf-nya keluar dengan sangat fasih. Tidak ada kesan terbata-bata, tidak ada nada sumbang. Naya melantunkannya dengan irama tartil yang tenang namun sangat menyentuh hati. Setiap huruf disuarakan dengan presisi yang membuat aula madrasah yang tadinya bising menjadi sunyi senyap seketika.

Fida yang tadinya berniat menertawakan Naya, kini membeku dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak menyangka gadis yang ia anggap "santri titipan bar-bar" ini justru memiliki kemampuan bacaan yang melampaui santri senior lainnya.

Naya terus melantunkan ayat demi ayat dengan penuh penghayatan. Suaranya yang merdu dan jernih seolah memiliki magnet yang mengikat perhatian semua orang di aula tersebut. Bahkan, Ustadzah Maryam tampak terpana, tangannya yang memegang penggaris kayu perlahan turun. Ia menatap Naya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara kagum dan haru.

Setelah mencapai akhir ayat, Naya menghentikan bacaannya dan menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah.

Hening sejenak, lalu...

"Masya Allah..." bisik Aliyah takjub, hampir menjatuhkan kacamatanya. Sarah di sebelahnya sudah tersenyum bangga, air mata haru mulai menggenang di pelupis matanya.

"Naya," panggil Ustadzah Maryam dengan nada yang kini jauh lebih lembut, sangat kontras dengan saat beliau memanggil Fida tadi. "Di mana kamu belajar bacaan seperti itu? Tajwidmu sangat rapi. Itu jauh dari kesan seorang pemula."

Naya mengangkat wajahnya perlahan. "Jujur, Ustadzah... waktu saya kecil, Mama pernah memanggil guru privat ke rumah. Tapi karena saya terlalu asyik dengan dunia balapan dan pergaulan malam di Jakarta, saya mengabaikan semuanya. Saya pikir saya sudah lupa... tapi mungkin, lantunan ini memang sudah tersimpan di hati, hanya menunggu saat yang tepat untuk dikeluarkan."

Ustadzah Maryam mengangguk pelan, lalu pandangannya beralih ke arah Fida. "Fida, apa yang kamu lihat barusan? Apakah bacaan Naya menunjukkan bahwa dia tidak punya dasar ilmu?"

Fida menunduk, wajahnya pucat pasi menahan malu. "Tidak, Ustadzah."

"Menjadi senior bukan berarti kamu boleh merendahkan santri lain dengan prasangka buruk," tegur Ustadzah Maryam tegas. "Naya, kamu telah membuktikan bahwa penilaian orang lain tidak selalu benar. Teruslah mengasah kemampuanmu. Saya sangat menantikan setoran hafalanmu berikutnya."

Naya kembali ke tempat duduknya dengan perasaan lega yang luar biasa. Sepanjang sisa kelas, Fida tidak berani lagi mengeluarkan suara.

Namun, tepat saat kelas berakhir dan santriwati mulai berhamburan keluar, seseorang berdiri di ambang pintu aula—Gus Zayyan. Pria itu tampak baru selesai memeriksa daftar hadir di kelas lain. Matanya yang tajam sempat beradu pandang dengan Naya selama beberapa detik.

Zayyan tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya mengangguk tipis—sebuah gestur apresiasi yang sangat jarang ia tunjukkan—sebelum akhirnya berbalik pergi dengan langkah tenang.

Naya tertegun. Ia memegang dadanya yang mendadak berdebar kencang. Ia tahu, mungkin Gus Zayyan baru saja mendengar bacaannya dari luar. Dan entah kenapa, bagi Naya, anggukan kecil itu terasa jauh lebih berharga daripada semua pujian yang ia terima dari teman-temannya di Jakarta dulu.

"Mbak Nay, kamu keren banget tadi!" seru Sarah heboh, mengguncang lengan Naya.

Naya tersenyum tipis, menatap ke arah pintu tempat Gus Zayyan menghilang tadi. "Ya... mungkin, tempat ini memang tempat yang tepat untuk 'membersihkan' permata ini, seperti kata Umi," gumamnya pelan.

"Apa, Mbak?" tanya Aliyah.

"Enggak, bukan apa-apa," jawab Naya ceria. Ia bangkit dari duduknya, merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling ringan yang pernah ia lalui di Al-Falah. "Ayo ke kantin, gue traktir es teh! Pakai jatah uang saku yang masih tersisa!"

Hari itu, Naya tidak hanya belajar mengaji. Ia belajar bahwa terkadang, untuk menjadi diri sendiri yang lebih baik, seseorang harus berani melepaskan topeng yang selama ini ia gunakan untuk menutupi luka-lukanya. Dan mungkin, Gus Zayyan juga mulai menyadari hal yang sama—bahwa di balik "ratu onar" itu, ada sosok yang jauh lebih berharga dari yang ia duga.

***

BERSAMBUNG

Gimana nih, Gaes? Siapa yang ikutan meleleh liat respons tersembunyinya Gus Zayyan? Menurut kalian, kira-kira gengsi siapa duluan yang bakal runtuh di bab selanjutnya? Yuk, tulis tebakan atau teori kalian di kolom komentar! Kritik, saran, dan masukan kalian selalu aku tunggu ya. Jangan lupa like dan vote-nya! ❤️

Langsung ketik di kolom komentar ya! Aku pengen banget berinteraksi dan tahu apa yang kalian harapkan di bab berikutnya. See you in the next chapter! 🥰

Atau kalian juga bisa baca karya karya author yang lain yaa, di tunggu teman teman 🫶🫶🫶😚

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!